Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 62


__ADS_3

(flashback on)


[dua tahun yang lalu]


"Kamu sudah makan?," tanya Ana yang sedang duduk di atas kedua lututnya dan berbicara dengan seorang gadis kecil yang berpenampilan kumuh.


Gadis kecil itu menjawab dengan sebuah gelengan kepala.


"Bawa ini, ya. Kakak baru dapat dari dalam. Kamu bagikan untuk orang di rumah juga, ya," kata Ana sembari menyerahkan paper bag dari tangannya yang berisi 3 kotak makanan.


Gadis kecil itu menerima paper bag dari tangan Ana dengan senyumnya yang lebar.


Sementara itu, dari kejauhan ...


"Itu bukannya paper bag yang tadi kamu suruh waiter kasihkan ke Ana?," tanya Lucas yang sekarang sedang berdiri di samping Marius.


Marius tidak menjawabnya. Dia hanya terus memandangi interaksi Ana dan gadis kecil itu dengan senyum tipis di wajahnya. Rasa bangga terpancar dari kedua matanya. Dia tidak bisa berhenti terpesona memandangi Ana yang kini sedang memasuki mobilnya.


(flashback off)


......................


Ana tiba-tiba merasakan dirinya seperti sedang terbang di udara. Dalam keadaan kedua matanya yang sedang tertutup, dia bisa merasakan seseorang sedang menggendongnya. Perlahan, Ana membuka kedua matanya, dan dada bidang Marius sudah berada di hadapannya. Dan ketika dia mengangkat wajahnya, wajah Marius sedang menatap dirinya.


"Kamu terbangun? Sebentar, aku turunkan kamu di tempat tidur," kata Marius sembari berjalan lagi menggendong Ana dengan kedua tangannya.


"Kamu baru datang?," tanya Ana setelah Marius menurunkannya. Kini pria itu tengah duduk di sampingnya.


"Ehm ... Begitu selesai aku langsung kesini. Mengapa sampai ketiduran sofa?," tanya Marius.


"Kamu bilang akan kesini. Jadi aku menunggu, ternyata malah ketiduran. Hehe ..."


Tiba-tiba tangan Marius menyentuh wajah Ana. Dia melihat mata Ana yang bengkak memerah. "Kamu baru menangis?"


"Ah, tidak apa-apa. Hanya tadi baru ngobrol sama papa. Terbawa suasana ...," kata Ana.


Ana tidak ingin Marius terlalu mengkhawatirkan mata bengkaknya itu. Dia segera mengalihkan pembicaraannya. "Apa kamu sudah makan? Tadi aku memasak, aku panaskan sebentar, ya."


Ana segera beranjak dari tempat tidur, tapi kemudian Marius meraih tangannya. Dia menghentikan Ana pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Ana. Aku sudah menyiapkan semuanya. Rumah, pelayan, pengawal, semuanya. Rumah itu ada di pinggir danau. Pemandangannya sangat bagus. Om Doni bisa memancing di sana," kata Marius. Dia seakan-akan tahu apa yang sedang dipikirkan gadis yang ada di hadapannya saat ini.


Ana menatap Marius dalam-dalam. Kedua manik mata milik Marius terlihat indah di matanya saat ini. "Mengapa kamu tidak mengatakannya tadi siang? Aku juga ingin mendengarnya langsung darimu," tanya Ana.


"Maafkan aku. Aku ... tidak sanggup mengatakannya," kata Marius seraya menundukkan kepalanya. Tangannya masih menggenggam tangan Ana yang sedang berdiri di depannya saat ini.


"Apa yang ingin kamu dengar?," tanya Marius. Dia meraih tangan Ana yang satunya lagi, dan membuat Ana sepenuhnya berhadapan dengannya.


"Aku ingin mendengar semua rencanamu, Marius. Aku ingin kamu sendiri yang menjelaskannya padaku. Kali ini, kamu melibatkan aku dalam rencanamu. Tapi aku adalah orang terakhir yang mengetahuinya. Tidakkah menurutmu itu tidak adil bagiku?"


Akhirnya, Ana menyampaikan semua yang mengganjal di hatinya. Dia masih menatap Marius yang masih terduduk di atas tempat tidurnya. Pria itu, tiba-tiba saja tersenyum.


Tangan Marius perlahan diangkat ke atas untuk meraih wajah Ana agar mendekati dirinya. Dengan lembut, Marius menciumnya. Sangat lembut, bahkan mengalahkan kelembutan kain sutra saat mengenai kulit.


Ana serasa hanyut terbawa air saat merasakan kelembutan itu. Berbeda dari ciuman yang mereka lakukan tadi siang, ciuman kali ini benar-benar membuat Ana tidak ingin terbangun dari sadarnya.


Saat Marius melepaskan Ana, dia membiarkan kening Ana bersandar di keningnya. Lalu, dia berkata, "Kamu tahu? Aku pernah menyukai seorang gadis kecil dari 20 tahun yang lalu. Tapi aku tidak pernah bisa berhenti mencintai gadis yang ada di hadapanku saat ini."


Saat Ana mendengarnya, Ana terus menatap kedua mata Marius yang berada sangat dekat dengan kedua matanya. Wajahnya kini sangat kemerahan. Tapi, Ana tidak berusaha menutupinya. Kali ini, Ana terhanyut dalam kata-kata Marius.


Setelah Ana kembali pada kesadarannya, dia dan Marius menghabiskan waktu sepanjang malam untuk berbicara. Marius membiarkan Ana banyak bertanya, dan dia menjawab semua pertanyaannya.


......................


"Kalau ada apa-apa ... nggak, nggak ... Papa telepon Ana juga meskipun juga kalau tidak ada apa-apa. Ya pa, ya?"


Ana masih mengingatkan Doni banyak hal saat dia mengantarkannya ke bandara. Saat ini mereka sedang berdiri di depan pintu masuk sebelum Doni melakukan check-in terakhir.


"Sudah, jangan khawatir. Marius juga sudah bilang berkali-kali, semua sudah diatur sama Marius disana," kata Doni santai. Dia memeluk Ana dengan erat.


"Kamu dengerin kata Marius, ya. Jangan bertindak gegabah. Jangan keras kepala. Kalian bekerjasamalah dengan baik," kata Doni lagi mengingatkan Ana yang ada dalam pelukannya.


Ana berusaha sebaik mungkin menahan air matanya. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri agar tidak menangisi keberangkatan papanya itu. Papa cuma pergi berlibur, begitu katanya menghibur dirinya sendiri berkali-kali.


"Om titip Ana, ya," kata Doni pada Marius yang sedang berdiri di belakang Ana. "Maklumi dia jika dia masih kekanakan."


"Papa! Iih ...," seru Ana.


Marius hanya tersenyum. "Om jangan khawatir. Saya akan selalu menjaga Ana," katanya. "Sesampai disana akan ada yang datang menjemput. Saya sudah mengirimkan kontak dan fotonya melalui pesan."

__ADS_1


Dan beberapa saat setelah itu, saat Doni sudah hilang dari pandangan mereka. Marius menarik Ana perlahan dan memeluknya, membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.


Pagi itu, Marius sengaja mengantarkan sendiri Doni ke bandara bersama Ana, tanpa siapapun bersama mereka. Dia bahkan menyetir mobilnya sendiri. Dia khusus meluangkan waktunya pada hari itu hanya untuk menemani Ana.


Setelah mengantarkan Doni, Marius membawa Ana ke rumahnya, bersama dengan sebuah koper besar yang Marius sendiri tidak tahu apa isinya. Dia mengira itu pakaian dan keperluan Ana, tapi Ana bilang bukan. Selanjutnya, Marius tidak mau bertanya lagi.


Sesampainya di rumah, tentu saja, Rain langsung berlari memeluk Ana.


"Awas, hati-hati, Rain. Nanti jatuh," teriak Ana yang khawatir melihat Rain yang berlari menuruni tangga dengan sangat kencang.


"Kak Ana, Rain kangen ....," kata Rain yang langsung memeluk Ana.


"Kak Ana juga kaangeen banget sama Rain."


Mereka saling memeluk dengan erat tanpa memperhatikan para pelayan dan juga Tian yang sudah tersenyum sedari tadi melihat mereka berdua. Pemandangan yang sudah lama tidak mereka lihat ini, tentu saja menjadi pemandangan yang indah untuk hari ini.


"Kak Ana punya baannyyaak oleh-oleh untuk Rain," kata Ana pada Rain yang saat ini ada dalam gendongannya sambil menunjuk koper besar yang dia bawa hari ini. Bahkan Tian harus turun tangan membantu pelayan membawanya hingga ke depan pintu rumah.


"Ada Mr. Bear?," tanya Rain dengan polosnya.


"Tentu saja ada!," seru Ana sambil menciumi gadis kecil itu.


Tak lama kemudian, Ana melihat Marius sudah siap dengan setelan kerjanya sambil berjalan menuju ke arahnya.


"Kamu akan berangkat kerja?," tanya Ana pada Marius yang saat ini sedang mencium pipi Rain.


"Iya. Lucas hanya bisa menggantikanku sementara aku pergi," jawab Marius. Sekarang, dia mencium kening Ana.


Ana terkejut melihat Marius melakukan itu padanya. "Marius! Ada banyak orang disini," bisik Ana dengan keras. Wajahnya sedikit kemerahan karena ulah Marius itu.


Marius hanya tersenyum. Dia mencium pipi Ana sekali lagi. "Tidak masalah. Mereka tahu siapa nyonya besar mereka," katanya santai sembari pergi menuruni tangga dan masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di carport.


Tian hanya tersenyum melihat kelakukan tuan besarnya. Sedangkan para pelayan dan pengawal yang sedang berdiri di sana, mereka menyembunyikan tawa cekikikan mereka.


Ana baru akan masuk ke dalam setelah Rain terus meminta Ana untuk membuka kopernya, saat kemudian sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Halo, Rain sayang. Mommy disini ..."


Ana membalikkan tubuhnya hanya untuk memastikan kembali bahwa kecurigaannya itu benar. "Nora ...," ucap Ana lirih.

__ADS_1


Rain yang melihat Nora seketika itu juga langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ana. Dan Ana langsung memeluknya dalam gendongannya.


__ADS_2