
"Selamat malam, Nona Ana," sapa Ted dengan senyumnya yang membuat Ana tidak nyaman melihatnya.
"K-kamu .... apa maumu?," tanya Ana yang diselimuti rasa takut, tapi dia berusaha menutupinya.
"Jangan khawatir, Nona Ana. Kekasihmu akan datang kemari membawakan yang kami inginkan," jawab Ted. Jari telunjuknya sengaja dimainkan di sekitar wajah Ana, tapi dia tidak pernah berniat menyentuhnya. Ana bergerak mundur menghindari sentuhan itu.
"Marius? Dia bukan kekasihku. Kamu salah orang. Kamu tidak akan mendapatkan apapun darinya," bentak Ana.
"Benarkah? Tapi saya yakin dia punya yang kami mau," jawab Ted dengan sinis.
"Apa maksudmu?"
"Kamu akan melihatnya nanti," kata Ted dengan senyumnya yang sinis.
Ana masih belum bisa memahami apa yang mereka inginkan dari Marius. Mereka bahkan menjadikannya sandera untuk mengancam Marius.
"Jika ini tentang uang seharusnya bukan aku yang mereka jadikan sandera," pikir Ana.
Ted yang sudah berjalan menjauh meninggalkan Ana, mengambil ponselnya dari dalam sakunya. Beberapa detik kemudian, Ted sudah tersambung dengan seseorang.
"Halo," sapa Ted dengan suaranya yang sangat pelan.
"Sebentar lagi dia akan datang ... Iya, dia akan membawa anak itu ..."
"Anak itu?"
Saat Ana mendengar Ted menyebut kata 'anak itu', dia langsung memikirkan Rain.
"Yang kamu maksud Rain, kan?," teriak Ana
"Jangan coba-coba kamu sakiti Rain! Aku akan menghajar kalian!," teriak Ana yang mengamuk.
Ted langsung memberikan tanda pada rekannya yang lain untuk memegangi Ana. Dia masukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Lalu menghampiri Ana dengan sebuah selotip hitam.
"Dengar! Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti Rain. Kalian dengar itu?," teriak Ana terus menerus.
Tapi Ted tidak menghiraukannya. Dia menarik selotip hitam yang ada di tangannya, lalu merobeknya. Saat akan menempelkannya pada mulut Ana, dia berteriak kesakitan karena Ana baru saja menggigit pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Aaw ...," teriak Ted kesakitan. Dengan gerakan refleksnya, Ted langsung menampar Ana hingga mengenai kepalanya.
Ana yang sudah terdiam, langsung dibungkam oleh Ted dengan selotip hitam itu.
Pukulan Ted menyebabkan nyeri pada kepalanya. Ana menutup kedua matanya untuk menahan rasa sakit itu. Tapi, rasa nyeri itu tidak juga hilang.
Mungkin karena rasa nyeri di kepalanya, Ana mulai mendengar suara denging di telinganya. Suara itu tidak terlalu keras, tapi rasanya seperti sedang menusuk gendang telinganya. Pada saat itulah, Ana melihat sesuatu dalam ingatannya.
Sekilas Ana melihat dirinya bersama seorang anak laki-laki. "Siapa?," batin Ana.
Beberapa detik kemudian, dia melihat bayangan seseorang mendekatinya. Terlihat samar, tapi dia mendengar orang itu berkata, "Kalian akan bebas jika orang tua kalian memberikan apa yang kami mau."
Mata Ana terbuka dengan lebarnya secara tiba-tiba. Dia tidak dapat menahan rasa terkejutnya itu hingga membuat jantungnya berdentum keras seperti bunyi genderang yang ditabuhkan.
"Apa itu tadi? Siapa mereka?," teriak Ana dalam hatinya.
Saat itu juga, Ana mendengar seseorang berteriak. "Dia sudah datang."
"Mengapa dia datang? Dia seharusnya jangan datang. Jangan bawa Rain!."
"Bersiaplah semua!," perintah Ted yang suaranya bergaung hingga ke ujung gudang itu.
Tak lama setelah itu, Ana melihat dari kejauhan pintu gerbang gudang tua itu terbuka, dan sosok pria tinggi sedang berdiri di depannya. Ana langsung dapat mengenali sosok tinggi itu meski jaraknya jauh di ujung sana. "Marius ...," batin Ana memanggil namanya.
Suara langkah kaki Marius terdengar hingga ke tempat Ana berada. Bersamaan dengan itu, Ana terus berontak melepaskan dirinya dari ikatan yang membelenggunya. Tapi, seseorang yang ada di dekatnya terus menahannya agar tidak banyak bergerak.
Pada akhirnya, suara langkah Marius terhenti tepat setelah dia berdiri di depan Ted. Ana menatap Marius, dia mencoba berontak dan bersuara kembali. Dengan gelengan kepalanya dan tatapan mata yang memohon padanya, Ana berharap Marius memahami maksudnya.
"Jangan, Marius! Jangan serahkan Rain pada mereka!," teriak Ana terus-menerus meski mulutnya tertutup rapat.
"Jadi, dimana anak itu, Tuan Marius?," tanya Ted pada Marius untuk mengalihkan perhatian Marius hanya pada dirinya.
"Lepaskan dia, dan aku akan menyerahkan anak itu."
"Tuan pasti menganggap saya orang bodoh, benar kan Tuan Marius? Saya tidak melihat Tuan membawanya. Apakah Tuan mengira saya buta?"
"Dia ada di dalam mobil. Aku akan menyerahkan anak itu, jika kamu melepaskannya."
__ADS_1
Ted tersenyum sinis mendengar ucapan Marius. Dia merasa sedang dipermainkan. Tapi, tetap saja, dia memerintahkan seorang anak buahnya untuk memeriksa.
Melihat hal itu, Marius berjalan menghampiri Ana tanpa mempedulikan Ted.
Dengan lengan tangannya yang direntangkan, Ted menghalangi langkah Marius. "Apa maksudmu, Tuan Marius?"
"Anak buahmu sedang memeriksa mobilku. Dan aku akan memeriksanya. Bukankah itu adil?," tanya Marius tanpa takut sedikitpun. Dia terus melangkah tanpa menunggu jawaban dari Ted. Bahkan Ted juga tidak menghalanginya lagi. Pria yang ada di samping Ana sedari tadi juga kini menjauh dari Ana.
Marius segera melepaskan selotip hitam dari mulut Ana begitu dia mencapainya. Dia lalu memeriksa keadaan Ana tanpa mempedulikan Ana yang dari tadi terus bertanya padanya.
"Kamu tidak membawa Rain, kan? Jangan bawa Rain kemari, Marius," kata Ana berulang-ulang.
Saat Marius melihat wajah Ana, dia melihat ada bekas luka yang memerah di wajah sampingnya.
"Kalian memukulnya?," tanya Marius menatap Ted dengan amarah yang sudah tersulut. "Sekarang!"
Sedetik setelah Marius mengatakannya, gemuruh suara orang-orang yang berteriak mulai memenuhi seluruh sudut gedung tua itu. Pria-pria berjas hitam yang entah berapa jumlahnya sudah menyerbu masuk ke dalamnya. Ana mengenalinya, mereka adalah para pengawal Marius.
Marius masih sibuk menghajar pria yang ada di dekat Ana. Dia menyerang Marius begitu para pengawal itu masuk ke dalam. Setelah dirinya selesai, segera dia melepaskan Ana dari ikatan tali itu.
"Cepat bawa Ana keluar dari sini!," teriak Lucas yang sedang bertarung melawan Ted.
"Bawa mereka semua tanpa terkecuali, aku tidak mau ada yang lolos," teriak Marius memberikan perintahnya. Bahkan di saat semuanya sedang sibuk berkelahi, mereka masih bisa serentak menjawab Marius.
"Siap!"
"Ayo Ana, kita keluar dari sini," ajak Marius.
Tepat saat Marius akan menggendong Ana, Ana melihat seseorang sudah siap dengan sebuah kotak palet kayu di atas kepalanya. Orang itu akan melemparkannya tepat di atas kepala Marius.
Melihat hal itu, kepala Ana terus memberikan perintah pada Ana untuk bergerak. Dengan segera dia memeluk Marius dan mendorongnya ke belakang. "Marius, awas ...," teriak Ana.
Tepat di saat Marius dan Ana terjatuh ke belakang, pria itu berhasil menghantamkan kotak itu dan mendarat tepat mengenai Ana.
Marius tidak dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi. Dia bisa melihat wajah Ana yang berada sangat dekat dengan dirinya. Gadis itu sedang menahan rasa sakit dengan darah yang mengalir turun perlahan dari keningnya. Tak lama kemudian, Ana menjadi tidak sadarkan diri.
"Ana!!," teriak Marius.
__ADS_1