Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
Extra Story : Part 3


__ADS_3

Sudah kesekian kalinya, Marius melirik ponselnya yang sedang dalam keadaan stand by. Sesekali dia mengetuk ponselnya agar menyala untuk memastikan bahwa ponselnya masih berfungsi.


Dia tidak dapat fokus pada penjelasan Lucas yang saat ini ada sedang berdiri di depannya. Berkas laporan yang dipegangnya dengan tangan kiri seakan tidak ada artinya. Padahal, Lucas sedang meringkas laporan itu dengan menyampaikannya pada Marius secara lisan.


Hari ini, Ana mulai pindah ke rumahnya. Marius sudah menyiapkan kamar untuknya setelah dia menyetujui ide Doni tanpa tahu apakah Ana akan mempercayai kebohongan mereka atau tidak. Dia bahkan menyewa seseorang untuk mendesain kamar itu agar sesuai dengan keinginan Ana.


Marius sudah banyak bertanya pada Doni tentang apa saja yang disukai Ana, bagaimana kamarnya yang biasanya dia tempati, seperti apa ruangan yang diinginkan Ana, tapi tetap saja, dia masih merasa khawatir.


"Jadi untuk rencana selanjutnya bagaimana?," tanya Lucas tiba-tiba.


Marius terkejut dengan pertanyaan Lucas. Dia langsung melihat laporan yang ada di tangannya, membacanya sebentar.


"Sudah bagus, lanjutkan saja," katanya.


"Kamu masih memegang laporan itu? Aku baru selesai melaporkan yang di map kuning."


"Oh, iya. Aku lihat sebentar." Marius langsung mencari map kuning yang dimaksud Lucas. "Tidak ada map kuning."

__ADS_1


"Memang tidak ada. Aku cuma bercanda," jawab Lucas seraya tersenyum tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Marius langsung memelototinya. Senyum Lucas semakin lebar.


Lucas menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.


"Ini seharusnya aku yang marah. Tapi karena aku masih ingat cicilan rumahku masih ada 2 tahun lagi, aku memilih bersabar," kata Lucas lagi, lalu memamerkan senyum terpaksanya.


Marius tidak menggubrisnya. Dia melemparkan penanya ke atas meja. "Itu salah kamu sendiri. Kenapa tidak tinggal di rumah saja?"


"Kamu kan sudah tahu. Aku bermimpi punya rumah sendiri."


"Hubungi saja dia. Tanya dia apakah dia menyukai kamarnya atau tidak," kata Lucas seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Marius.


Marius hanya terdiam. Dia sudah meminta Ana untuk menghubunginya jika membutuhkan sesuatu atau ingin menanyakan sesuatu. Jika hingga saat ini Ana belum menghubunginya, apakah itu berarti dia menyukai kamarnya? Benar seperti itukah?


Marius kembali ragu. Dia kembali memikirkan kemungkinan Ana tidak betah berada di rumahnya. Rasa kecewa muncul menggelayuti hatinya.

__ADS_1


"Aargh ... aku saja yang menelpon."


Lucas sudah mulai kehilangan kesabarannya. Dia semakin tidak tahan melihat raut wajah Marius yang berubah setiap 15 detik. Senang, kecewa, cemas, lalu kembali kecewa.


"Lama-lama CEO DYNE bisa gila kalau seperti ini terus," katanya.


Diambilnya ponsel miliknya, lalu mulai mencari sebuah nama dalam daftar kontaknya.


"Apa yang sedang kamu lakukan?," tanya Marius keheranan.


"Menelpon David. Ah, tidak, tidak ... Eli lebih baik."


Marius langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu merebut ponsel Lucas. Dia memelototi Lucas kembali.


"Kamu mau kupindahkan ke bagian umum atau potong gaji?"


Lucas tertawa untuk menutupi kepanikannya. Pelan-pelan dia menarik ponselnya kembali.

__ADS_1


"... Ahaha ... Sudah siang, ya. Aku harus segera bandara sebelum ketinggalan pesawat," kata Lucas seraya pergi keluar dari kantor Marius.


Pada akhirnya, Marius tidak melakukan apapun. Untuk beberapa hari dia masih berpikir kemungkinan Ana tidak menyukai kamarnya. Tapi beberapa hari berikutnya dia mulai tenang, karena melihat Ana dan Rain terlihat bahagia saat bersama.


__ADS_2