
"Mommy, you're beautiful ..."
Mata Rain tidak berhenti menatap Ana dengan gaun pengantinnya. Gadis kecil itu terus duduk di samping Ana sambil memperhatikan perias yang mendandani Ana. Sembari menatap Ana tanpa henti, dia menyandarkan kepalanya di atas kedua tangannya.
Ana sedari tadi hanya tersenyum melihat Rain yang begitu imutnya dengan gaun dan rambutnya yang sudah selesai ditata oleh staff perias. Butuh kerja keras untuk membuatnya diam selama dirias. Ana bahkan harus menemaninya dulu sebelum dirinya sendiri yang dirias.
Waktu terasa berlalu begitu cepat. Dunia seperti dibalik dengan mudah oleh waktu. Setahun lalu, Ana masih menangisi Rain karena terbaring di rumah sakit, kini gadis kecil itu selalu membuatnya merasa yang terjadi waktu itu seperti sebuah mimpi. Rain seperti sedang membangunkannya dari tidur panjangnya.
"Kamu terlihat ...."
Naomi tidak dapat menyelesaikan kalimatnya saat dia masuk dan melihat Ana dengan veil yang sudah terpasang di atas kepalanya. Air matanya sudah terlanjur keluar ketika dia akan mengatakannya. Dia ingin memaksakan untuk tetap bicara, tapi air matanya malah semakin tidak terkendali.
Ana akhirnya juga tidak dapat mengalihkan pikirannya agar tidak menangis. Air mata Naomi seperti mengajak dirinya untuk ikut bergabung.
"Kenapa kamu jadi ikut menangis? Ini jadi sulit dihentikan, Ana," kata Naomi seraya menerima tisu yang diberikan salah satu staff perias untuk mereka.
"Ini salahmu, Nao. Kenapa jadi aku yang dimarahin?," kata Ana yang juga tidak mau kalah.
Keduanya berakhir dengan saling pandang, terdiam, lalu menertawakan kekonyolan mereka sendiri bersama-sama.
Rain dan Ryu memandangi mommy mereka dengan raut wajah keheranan. Tapi staff perias yang ada di sana, mereka telah menemui banyak orang yang telah menjadi klien mereka. Sehingga mereka mengerti bagaimana cara dua orang dewasa mengungkapkan kebahagiaan mereka.
"Terima kasih, Nao ...," kata Ana setelah tawa mereka mereda. Momen ini adalah momen terbaik bagi Ana untuk mengatakan hal-hal yang sudah lama ingin dikatakannya pada Nao.
"Untuk apa?"
"Karena mau tetap berteman dengan gadis kecil yang aneh dan payah," jawab Ana yang juga diselingi dengan tawa kecilnya.
"Pfft ... iya kamu memang aneh dan payah."
"Kamu juga berpikir gitu juga kan?"
Ana tidak keberatan sedikitpun jika memang Naomi merasa seperti itu. Dia masih mengingatnya dengan jelas, bagaimana dulu dia begitu tertutup sejak mamanya meninggal. Bahkan mungkin semenjak dia kehilangan ingatannya.
Jika bukan Naomi yang selalu menjaganya, yang terus menerus berada di sampingnya meskipun dirinya tidak memberikan tanggapan apapun padanya, mungkin Ana yang terbentuk saat ini tidak akan pernah ada.
"Setiap kali aku melihat Rain, lalu mengingat kembali masa-masa itu, aku semakin bersyukur karena bertemu denganmu. Kamu yang membuatku seperti ini, Nao."
Air mata Ana kembali jatuh. Sekarang Ana mengerti apa yang dikatakan perias tadi padanya, bahwa make up yang dia gunakan tahan air. Mungkin karena ini sebabnya.
Tapi, Ana tidak sendirian. Naomi kini juga sedang menghapus bulir air matanya kembali dengan tisu di tangannya.
"Kurasa ini semua karena aku yang keras kepala, atau karena kamu yang terlalu penurut," kata Naomi menahan tawanya.
"Ahaha ... Keras kepalaku juga karena kamu, Nao."
Ana selalu percaya, ada maksud dan tujuan saat Tuhan mempertemukan dirinya dengan seseorang. Dan dia yakin, untuk inilah Tuhan mempertemukan dirinya dengan Naomi. Untuk menjadi lebih kuat saat tiba waktunya dia bertemu dengan Marius dan juga Rain. Nyatanya, dia memang membutuhkan kekuatan itu.
Tok, tok ...
Pintu ruangan itu kembali diketok oleh seseorang. Naomi langsung bergerak untuk membukakan pintunya. Ketika dia sudah melihatnya, Naomi langsung keluar ruangan dan membiarkan orang itu masuk.
"Papa ..."
Doni masuk dengan terus menatap Ana. Dia tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun ke arah lainnya. Terlihat sekali, dia sedang menahan napasnya.
Sekali waktu Doni menghembuskan napasnya, dan di saat itu dia menangis. Lagi-lagi, Ana tidak bisa menahan air matanya sendiri.
"Kamu mirip sekali dengan mama. Sangat cantik," kata Doni seraya menghapus air matanya dengan tisu yang ada di dekat Ana.
Ketika Doni menyebut kata 'mama' dalam ucapannya, Ana menjadi semakin tidak terkendali lagi. Air matanya turun dengan derasnya. Entah apa yang akan terjadi dengan kedua matanya nanti.
"Kita harus berhenti menangis, Ana. Atau Marius tidak akan bisa mengenali istrinya nanti ..."
__ADS_1
Ucapan Doni membuat Ana tidak kuasa untuk tertawa meski air matanya baru saja turun.
Perlahan Doni meraih kedua tangan Ana. Dia memandangi kedua mata Ana yang mengingatkannya pada almarhum istrinya.
"Sebentar lagi, Papa akan mengantarkanmu pada Marius," kata Doni.
Setiap dia berbicara, dia tahu dirinya akan menangis. Tapi, dia ingin mengatakannya pada Ana saat ini. Karena itu, dia berusaha dengan sangat keras untuk tidak menangis.
"Saat Papa menyerahkan kedua tanganmu ini padanya, itu artinya, setelah ini, sebagian besar orang akan menyebutmu dengan 'istri Marius'."
Doni mengambil napasnya sebentar, lalu menghembuskannya perlahan.
"Pesan papa, nikmati kebahagiaanmu, apapun bentuknya. Papa akan selalu mendoakanmu."
Ana langsung memeluk Doni. Dia tidak mempedulikan orang-orang yang sedang melepaskan veil di kepalanya. Dia juga sudah tidak peduli dengan matanya yang bengkak. Hatinya sudah tidak kuat lagi menerima momen-momen yang mengharukan seperti ini.
Perlu waktu yang cukup lama baginya untuk dirias kembali setelah itu. Para perias kemudian sibuk mencari es batu untuk meredakan bengkak di kedua mata Ana.
Tapi, tidak ada yang meminta mereka untuk terburu-buru selesai. Panitia datang hanya untuk menyampaikan pesan bahwa mereka memiliki waktu sebanyak yang mereka minta. Pernikahan akan dilaksanakan ketika pengantin wanitanya sudah benar-benar siap. Ana yakin Marius lah yang memintanya untuk menyampaikan itu.
Hatinya seketika terasa hangat saat dirinya memikirkan Marius yang melakukan itu untuk dirinya. "Kurasa aku akan menikah dengan seorang pria yang luar biasa," begitu yang dipikirkannya.
......................
Marius sudah siap berdiri di depan mimbar dengan seorang yang akan memimpin upacara pernikahannya. Kali ini, orang itu bukan lagi pengawalnya yang sedang menyamar. Dan upacara pernikahan itu juga bukan upacara rekayasa seperti yang dilakukannya terakhir kali.
Rasanya seperti mimpi, itu yang Marius rasakan. Berdiri di depan semua orang, menunggu pengantin yang sudah lama ditunggunya selama bertahun-tahun, momen ini rasanya terlalu indah untuk menjadi nyata.
Halaman belakang rumahnya yang luas biasanya digunakan Rain untuk bermain, kini penuh dengan kursi dan para tamu yang sudah menunggu untuk menyaksikan dirinya mengikrarkan janjinya. Dia berharap cuaca akan tetap cerah seperti ini hingga acara selesai.
Di antara semua tempat yang Marius berikan dalam daftar, Ana justru meminta padanya satu tempat yang tidak ada dalam daftar itu.
"Aku hanya ingin pernikahan yang sederhana. Dihadiri oleh keluarga dekat saja, dan beberapa kenalan. Untuk yang lainnya, kita bisa mengirimi mereka bingkisan. Boleh, kan?," begitu katanya.
"Aku bisa apa kalau aku sendiri sudah lama jatuh pada seorang gadis yang luar biasa," begitu pikirnya.
Lalu tiba-tiba, musik pengiring mulai dimainkan. Itu adalah tanda bahwa pengantinnya sudah datang.
Rain berjalan di atas karpet dengan keranjang bunga di tangannya. Dengan tangannya yang lain, Rain menebarkan bunga di sekelilingnya, sedikit demi sedikit.
Sedangkan Ryu, dia menemani setiap langkah Rain dengan berjalan di sampingnya sembari membawa sebuah keranjang yang berisi bantal mungil di dalamnya. Dua cincin yang berbeda ukuran disematkan di atasnya.
Tak lama kemudian, Marius melihat Ana sedang berjalan ke arahnya. Dengan veil di atas kepalanya yang menutupi wajahnya, Marius masih dapat melihat Ana tersenyum padanya. Seketika itu juga, Marius merasakan gugup yang sangat hebat hingga membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Air matanya hampir jatuh karenanya.
Lucas segera menawarinya kota tisu. Dia tahu pria gagah itu sebentar lagi akan menitikkan air matanya. Dan Marius tidak menolaknya. Untuk pertama kalinya, Lucas melihat sisi lembut seorang Marius.
"Terima kasih, Marius ...," bisik Ana padanya, saat mereka sedang berdiri berdampingan di depan mimbar dan pemimpin upacara pernikahan mereka. Pemimpin upacara mulai membacakan doa-doa untuk mereka. Tapi keduanya masih saja sibuk berbisik.
"Untuk apa?"
"Karena mau menunggu lebih lama sampai semuanya selesai."
Ana melirik Marius sebentar dan mendapati pria itu sedang tersenyum. "Ah, senyumnya ...," pujinya dalam hati.
"Aku sudah menunggumu bertahun-tahun, masih harus dipaksa untuk tidak bertemu selama seminggu. Aku rasa aku masih bisa tahan untuk menunggu beberapa menit."
Dari balik veil nya, kedua pipi Ana mulai merona. Tapi senyumnya menambah kadar gula di wajah Ana. Marius sudah tidak tahan ingin memakan Ana rasanya.
"... apakah Tuan Marius bersedia?"
"Saya bersedia."
"... apakah Nyonya Adriana bersedia?"
__ADS_1
"Saya bersedia."
"Dengan ini, saya persembahkan pada kalian Tuan dan Nyonya Hadinata. Silahkan mencium pengantinnya wanitanya."
Sorak sorai orang-orang yang bersiul, bertepuk tangan, dan meneriakkan kegembiraan seakan tidak terdengar oleh Marius. Tangannya dengan segera menarik Ana ke dalam pelukannya setelah dia membuka veil nya, dan melihat wajah cantik Ana yang kini sangat bersinar di matanya.
"Setelah ini, kamu tidak akan aku ijinkan untuk menyesal menikah denganku, Ana."
Ana mendengar sesuatu yang lucu dari mulut Marius hingga membuatnya mengeluarkan tawa kecilnya, tapi juga membuatnya begitu malu hingga menyebabkannya tersipu.
"Aku takutnya kamu yang akan menyesal, Marius."
Ana langsung menarik bagian lapel dari jas tuxedo Marius. "Karena kalau kamu berani menyesal, aku akan culik Rain dan bawa kabur dia."
Dalam hitungan detik, sebuah ciuman sudah mendarat di bibir Marius. Lagi-lagi, gadis yang ada di depannya ini membuatnya terkejut dengan sikap agresifnya itu. Meski demikian, Marius sangat menyukai sikapnya itu.
Lengan kanannya yang sudah berada di pinggang Ana, mendorong Ana agar mendekat padanya. Dengan tangan kirinya, dia menahan tengkuk Ana agar tidak dapat menjauh darinya. Marius semakin memperdalam ciuman yang diberikan Ana padanya. Di depan banyak orang, gadis itu dibuat kehilangan napasnya.
Ana mengingat semua yang dikatakan Doni padanya. Kehidupannya sebagai putri kesayangan papanya itu mungkin baru saja berakhir, tapi kehidupannya sebagai istri Marius baru saja dimulai.
Jika itu artinya dia akan menghabiskan sisa hidupnya bersama pria yang dicintainya itu dan juga Rain, yang akan menjadi putri cantik mereka, maka Ana siap menghadapi semuanya tanpa mengeluh sedikitpun.
#
Sebuah pertemuan walaupun hanya sementara, adalah awal dari pelbagai kemungkinan - Herjuno Tisnoaji
##
"Jika bertemu denganmu adalah awal dibukanya sebuah pintu, maka aku tidak pernah menyesali pertemuan kita waktu itu meski kalian harus membohongiku, Marius."
"Kalau kamu tidak menyesalinya, maka aku pun juga tidak, Ana. Aku tidak pernah menyesal memutuskan untuk setuju, agar bisa membawamu padaku."
#
......................
...FIN...
......................
Author's Note :
Akhirnya ... setelah melewati 5 purnama (halah!), cerita ini akhirnya bisa diselesaikan.
Sekali lagi, terima kasih untuk semua yang sudah membaca mulai dari awal dan bertahan hingga akhir.
Saya akui, karya ini belum sempurna. Dan pastinya akan ada yang suka maupun yang tidak. Itu sudah biasa terjadi, dan saya tidak keberatan dengan itu.
Tapi, melalui karya ini saya jadi banyak belajar. Dan saya harap teman-teman lain yang sedang melakukan hal yang sama juga bisa banyak belajar dari karya-karyanya.
Selama saya masih punya semangat untuk berkarya, harapan saya adalah saya bisa menjadi lebih baik di setiap karya saya.
Salam kenal untuk semuanya, dan sekali lagi terima kasih untuk semua dukungannya. Kalian semua adalah yang terbaik.
Untuk selanjutnya, novel "Pengasuh Untuk Rain" masih terus berlanjut dengan extra story, baik itu kehidupan sebelum maupun sesudah mereka menikah.
Beberapa cerita pendek sempat terpikirkan tapi tidak sempat/tidak bisa dimasukkan karena takutnya akan melenceng jauh dari garis ceritanya. Maka dari itu, saya akan membuka chapter baru yang dikhususkan untuk extra story.
Sekali lagi, terima kasih banyak ya.
Cygni
(人*´∀`)。*゚+
__ADS_1