
Ana langsung keluar dari mobil Noel begitu mobil itu tiba di sekolah Rain. Dia langsung berlari masuk ke dalam sekolah. Dari luar, dia sudah bisa melihat ada banyak orang yang sedang berkerumun di dalam sekolah. Tapi Ana tidak tahu apa yang mereka lakukan.
Semakin Ana mendekati kerumunan itu, terdengar suara teriakan orang-orang yang berebut untuk mengatakan sesuatu.
"Jadi ini anak haramnya si artis besar itu?"
"Apakah benar anak ini adalah anaknya Valerie?"
"Jadi suami Valerie adalah Marius?"
"Tapi mereka tidak pernah menikah, kan?"
Ana semakin keras berusaha menerobos kerumunan orang-orang yang egois itu. Dia tidak peduli dorongannya akan melukai mereka. Dia hanya memikirkan Rain yang saat ini mungkin sedang menangis.
Semakin keras Ana berusaha, tapi kerumunan itu tidak juga menyingkir. Ana sudah tidak tahan lagi.
"HENTIKKKAANN ... !!!," teriak Ana sejadi-jadinya.
Seketika itu juga suasana sekolah menjadi hening. Semua kepala menoleh menatap Ana. Sedangkan Ana tidak peduli dengan tatapan mereka. Ana terus mendorong mereka menjauh.
Ana terus berjalan dan mendorong orang-orang yang menghalangi jalannya. Dia masih mendengar orang-orang mulai berbisik satu dengan yang lainnya.
"Siapa dia? Siapa gadis itu?"
"Mereka bilang itu pengasuhnya."
"Benarkah? Yakin pengasuh?"
"Mengapa dia semarah itu?"
Dengan mudahnya Ana menerobos kerumunan orang-orang yang menutupi jalannya menuju Rain. HIngga akhirnya, Ana melihat David, pengawal lainnya, dan juga beberapa satpam sekolah sedang memblokade jalan, Ana tahu dia semakin dekat dengan Rain.
"Nona Ana ...," panggil David yang terdengar tidak berdaya. Ana bisa memahami mengapa David seperti itu. Jumlah mereka tidak banyak. Mereka masih harus berhadapan dengan para wartawan dan juga orangtua murid yang penasaran. Sedangkan Rain .... ya Rain. Dimana dia?
Tepat di belakang David, anak itu sedang berdiri dengan wajah ketakutan. Ana juga melihat Ryu yang sedang berada di sebelahnya menutupinya dengan tubuh kecilnya.
"Rain ...," panggil Ana lirih menerobos masuk blokade yang dibuat David dan rekan-rekannya.
Rain yang melihat Ana langsung mengurai air matanya, lalu berdiri memeluk Ana. "Kak Ana ...," panggilnya dengan suara yang bergetar.
"Sshh ... Rain jangan takut, ya. Ada Kak Ana," kata Ana menenangkannya.
__ADS_1
Ana lalu membuka tasnya, mengeluarkan earpod yang selalu dia bawa dari dalam tasnya, lalu memasangkannya ke telinga Rain. Dia memainkan lagu kesukaan Rain.
Setelah itu, Ana mengangkat tubuh kecil Rain, lalu menggendongnya. Dia menyembunyikan wajah Rain dengan tubuhnya.
"David ...," panggil Ana. "Pinjami aku jasmu."
David langsung melakukan perintah Ana. Dia melepaskan jasnya lalu meletakkannya di atas kepala Rain untuk menutupinya.
"Kalian semua minggir!! Atau pengawal ini tidak akan segan-segan bersikap kasar pada kalian!," bentak Ana dengan suaranya yang lantang.
"Kalian semua tahu keluarga Hadinata, kan? Siapapun yang berani menghalangi kami pergi, saya pastikan kalian tidak akan pernah hidup tenang sepanjang umur kalian."
Dan ... sedetik kemudian, jalan untuk mereka lewati terbuka lebar. David dan pengawal lainnya yang ada di depan Ana segera melakukan tugas mereka untuk memberi jalan pada Ana.
"Ayo, Ryu ... kita pulang," kata Ana pada Ryu yang ada di belakangnya. Ryu segera mengikuti Ana dengan berjalan di sampingnya sambil membawa tas miliknya dan juga Rain.
Saat Ana berhasil mencapai gerbang sekolah, mobil Noel ternyata masih berada di sana. Dari dalam mobil, Noel berteriak memanggil Ana. "Ana, ayo ... aku akan antarkan kalian."
Ana melihat itu lebih baik daripada masih harus berjalan ke mobil yang biasanya Rain tumpangi. Dia lalu memerintahkan David yang ada di depannya.
"David, kalian ikuti saja mobil ini. Kita ke rumahku."
Di dalam mobil, ternyata Arsen sudah siap di kursi penumpang yang ada di belakang. Entah sejak kapan dia sudah berada di sana.
"Kita mau kemana?," tanya Noel yang meski sudah menjalankan mobilnya tapi dia tidak tahu arah tujuannya.
Setelah Ana memberi tahu tujuannya, Noel langsung dengan sigap mengendarai mobilnya kesana.
......................
Begitu tiba di rumah, Ana langsung membawa Rain ke kamarnya. Dia membiarkan Rain bermain bersama Ryu dan Arsen. Ana memandangi Rain cukup lama hanya untuk mengamati kondisi psikis anak itu.
"Jangan khawatir. Rain terlihat baik-baik saja. Dia cepat melupakan kejadian tadi setelah bermain dengan Ryu dan Arsen. Sepertinya, dia bisa tenang, karena ada kamu yang datang menyelamatkannya."
"Benarkah? Kamu bisa mengetahuinya?." Ana cukup terkejut melihat Noel bisa memberitahunya sebanyak itu. Padahal setahu Ana, dia hanyalah seorang dokter anak. Dia berpikir apakah dokter anak juga mempelajari tentang psikologi anak.
"Sudah kubilang, aku punya banyak kenalan dokter. Kami sering berdiskusi. Terlebih lagi, sejak ibunya Arsen meninggal. Aku harus banyak belajar mengenal Arsen luar dan dalam," kata Noel. Dia terlihat sedang mengenang masa-masa itu.
"Maaf ... bukan maksudku mengingatkanmu ..."
"Ah, jangan khawatir. Kejadian itu sudah lama. Aku baik-baik saja. Jangan merasa bersalah," kata Noel menenangkan Ana yang sudah terlihat penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"I-intinya ... Jangan khawatir. Rain terlihat berbeda dari sebelum dia mengenalmu. Dia jauh lebih kuat setelah bertemu denganmu. Percayalah ..."
Ana memandangi Rain dalam-dalam. Anak itu saat ini sedang bercanda dengan Ryu dan juga Arsen. Dia terlihat berbeda daripada tadi saat Ana menemukannya di sekolah. Dia terlihat ... bahagia.
"Benarkah yang dikatakan Noel? Rain tidak bersembunyi di balik senyumannya itu, kan?," batin Ana.
"Rain hanyalah anak berumur 4 tahun. Anak-anak tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya," kata Noel lagi. Dia seperti baru saja mendengarkan apa yang dikatakan pikiran Ana.
"Ketika dia bahagia, dia akan tertawa. Ketika dia bersedih, dia akan menangis. Itulah anak-anak. Perasaan mereka mudah dan tidak serumit orang dewasa. Tapi juga bisa jadi rumit karena hal yang mudah. Saat dia bersedih, kita bisa membujuknya dengan sebuah permen, dan dia akan tertawa kembali. Dan ketika permen itu diambil, dia akan menangis. Semudah itu."
"Mereka punya sesuatu di hati mereka yang kita sebut harapan. Selama harapan mereka tidak hancur, perasaan mereka akan tetap mudah. Dan ketika harapan mereka dihancurkan, saat itulah perasaan mereka menjadi rumit untuk kita pahami."
"Bagi Rain, kamulah harapannya. Dia pasti sudah melewati banyak hal sebelum mengenalmu. Karena itu, ketika dia mengenalmu, dia seperti memiliki sebuah harapan baru. "
Kembali Ana memandangi Rain. Dia akhirnya bisa melihat bagaimana Rain yang sebenarnya secara utuh.
"Ternyata seperti itu. Pantas saja dulu dia selalu terlihat sendiri dan tidak banyak bicara. Ternyata dia merasa harapannya tidak akan pernah terwujud," kata Ana lirih.
"Jika saja aku bertemu dengannya lebih awal ..."
Tiba-tiba saja, Arsen berlari menghampiri Noel. "Papa, Arsen lapar," katanya.
"Astaga ... Maaf, kalian tentu saja pasti lapar. Bentar ya, aku akan pesankan sesuatu ..."
Ana mulai panik memesankan makanan untuk mereka semua. Dia juga teringat David dan pengawal lainnya yang juga pasti sudah lapar.
"Ah, bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting ini," pikir Ana.
Karena sudah terlalu sore, Arsen merengek pada Noel untuk pulang. Mau tidak mau, Noel akhirnya menyerah. Dia berpamitan pada Ana untuk pulang. Tapi, sebelum pulang, Noel meminta sesuatu dari Ana.
"Berikan kunci mobilmu. Aku akan mengambil besok untukmu," kata Noel.
"Eh, tidak perlu. Terlalu merepotkan nanti," tolak Ana. Dia merasa dia sudah banyak merepotkan Noel hari ini. Ditambah lagi dengan mengambil mobilnya yang tadi dia tinggal. Oh, tidak, tidak ...
"Tidak apa-apa. Kebetulan aku harus ke tempat dokter Aris. Jadi sekalian saja, kan?," kata Noel lagi meyakinkan Ana.
Noel terus membujuk Ana agar menyetujui sarannya. Ana hampir tidak punya alasan lagi untuk menolak. Dia sudah mengambil kunci mobilnya dan memberikannya pada Noel, saat tiba-tiba seseorang melarangnya.
"Berikan kunci mobilmu. Aku akan menyuruh seseorang mengambilnya."
"Marius ..."
__ADS_1