
Setelah Ana menceritakan kegundahannya semalam, Naomi merencanakan kejutan untuk Ana bersama Marius. Pagi-pagi dia sudah menghubungi Marius membicarakan hal ini. Dan dengan ijin Marius, Rain dibiarkan menginap di rumah Ana selama beberapa hari. Gadis kecil itu, tentu saja tidak keberatan.
Begitu tiba di rumah, Rain langsung berlari menuju kamar Ana setelah Doni memberitahunya dimana letak kamar Ana. Sementara itu, Ana yang tidak tahu menahu tentang kedatangan Rain langsung terkejut saat mendengar langkah kaki kecil Rain yang berlari di koridor depan kamarnya. Bahkan hanya dengan mendengarkannya saja, Ana tahu milik siapa suara langkah kaki itu.
Begitu Rain mulai melihat Ana di dalam kamarnya, dia langsung memeluk Ana dengan erat. Ana juga terlihat sangat bahagia sampai mengeluarkan air mata.
"Rain kesini sama siapa?," tanya Ana yang keheranan yang melihat Rain sendirian.
"Sama daddy ...," jawab Rain.
"Daddy?"
Tapi saat Ana melihat pintu kamarnya, dia tidak melihat siapapun disana. Tanpa disadarinya, raut wajah Ana menggambarkan kekecewaan.
Tapi yang sebenarnya adalah Marius hanya mengantarkan Rain hingga koridor depan kamarnya. Marius masih belum berani menemui Ana. Dia takut gadis itu masih membenci kehadirannya.
"Kamu tidak mau menemuinya?," tanya Naomi yang juga berada di koridor.
Marius hanya menggelengkan kepalanya. "Tolong berikan ini saja padanya," katanya sambil menyerahkan sebuah paperbag berisi ponsel baru. "HP nya rusak waktu kejadian itu."
Setelah Naomi menerima paperbag itu, Marius langsung turun ke bawah tanpa mengatakan apapun lagi.
Ana yang menerima paperbag itu dari Naomi hanya bisa memandanginya dengan tatapan sendu. "Dia pasti mengira aku membencinya," ucapnya lirih.
......................
Hari ini adalah jadwal Ana bertemu dengan psikiater yang Naomi janjikan kapan hari. Setelah Naomi menyarankan Ana waktu itu, keesokkan harinya Naomi sudah membuat janji untuk Ana. Dia bahkan memperkirakan waktu yang pas untuk konsultasi setelah Ana benar-benar sudah pulih.
Sebelumnya, Ana masih sempat mengantarkan Rain ke sekolah. Dia juga bertemu dengan David. Cukup lama Ana tidak bertemu dengannya.
Terakhir Ana bertemu David saat dia sedang bertarung dengan preman-preman itu. Ana tidak lagi mengetahui kabar David. Dan ketika bertemu dengannya tadi, berkali-kali Ana mengucapkan syukur ternyata dia baik-baik saja.
Berbeda lagi dengan David yang terus menerus minta maaf karena dia menganggap dirinya sudah gagal melindungi gadis kesayangan tuan majikannya itu.
Dan setelah mengantarkan Rain sampai ke kelasnya, Ana menitipkannya pada David, lalu berangkat menuju tempat psikiater itu.
"Tadi aku tawarin kamu ke kantor dulu, kamu menolak. Daripada kamu menunggu disana kelamaan. Aku bikin janjinya kan jam 11, sekarang masih jam setengah 10," kata Naomi dalam telepon.
"Nggak apa-apa, Nao. Lagian nanggung juga. Jaraknya sama saja," balas Ana.
"Terus kamu nunggu dimana?"
"Di coffee shop. Dekat tempat prakteknya ada coffee shop. Cake nya enak, Nao. Hehe ...," kata Ana yang selalu tidak tahan kalau bicara tentang makanan manis.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu. Kabari aku kalau dokternya datang, ya."
Setelah Naomi mengakhiri panggilannya, Ana kembali menikmati cake yang sangat disukainya itu.
"Ana?"
Ana baru akan menyendok cake yang ada di depannya itu saat dia mendengar suara seseorang memanggil namanya.
"Dokter Noel?," kata Ana yang terkejut melihat ternyata suara itu milik Noel.
"Kamu masih saja memanggilku dokter. Bukankah kamu sudah janji memanggilku Noel?," tanya Noel yang berpura-pura kesal untuk menggoda Ana.
Ana menjadi malu sendiri saat Noel menegurnya. "Ah, maaf ... Noel."
"Boleh duduk?," tanya Noel sambil menunjuk ke bangku kosong yang ada di depan Ana.
"Oh iya, boleh ..."
"Kamu sendirian?"
"Iya. Hari ini ada keperluan. Karena itu datang sendirian."
"Oh iya? Ada keperluan apa di dekat sini? Beberapa temanku sedang praktek disini."
Tapi ... "Dia dokter juga, kan? Harusnya dia bisa mengerti. Iya kan?," pikir Ana.
"Temanku membuat janji untukku dengan psikiater disini," jelas Ana yang terdengar tidak percaya diri.
Tapi, Noel justru memberikan reaksi yang justru tidak peduli dengan tujuan Ana ke psikiater. "Benarkah? Kamu mau ke psikiater? Siapa namanya? Mungkin aku kenal."
Ana mengecek ponselnya untuk memeriksa nama psikiater itu, lalu menunjukkannya pada Noel.
"Oh, Dokter Aris. Dia teman kuliahku. Jam berapa jadwal konsultasimu?"
"Jam 11."
"Oke, bentar ya," kata Noel sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Ana hanya memperhatikan Noel tanpa memahami apa yang akan dilakukan Noel.
Tak lama kemudian, panggilan itu terhubung.
"Halo, Ris. Kamu dimana? ... Kamu ada janji temu hari ini jam 11, kan? ... Nah, iya benar ... dia temanku ..."
__ADS_1
Ana berusaha memahami arah pembicaraan Noel dengan Dokter Aris. Saat Noel menyebut namanya, Ana segera memberinya isyarat agar tidak melakukan apapun untuknya. Tapi Noel malah mengatakan jangan khawatir dengan gerakan bibirnya.
"Iya, benar ... Jadi bisa dimajuin nggak nih? ... "
Ana semakin keras berusaha ketika Ana semakin paham maksud Noel menghubungi temannya itu. Dia semakin tidak enak jika Noel melakukan itu.
Tapi, kemudian sesuatu membuat Ana mengalihkan perhatiannya. Suara berita yang ditayangkan di TV yang ada di coffee shop itu.
#
"Baru-baru ini, artis papan atas Valerie Geraldine dikabarkan tengah menjalin hubungan dengan seorang pengusaha dari keluarga konglomerat ternama berinisial M. Beberapa foto yang beredar menggambarkan kedekatan mereka. Valerie bahkan diketahui sering pulang pergi ke rumah pengusaha tersebut.
Kabar lainnya mengatakan Valerie dan M telah memiliki seorang putri yang berinisial R yang saat ini berumur 4 tahun. Dari beberapa sumber menyebutkan putri mereka kini tengah bersekolah di sebuah pra-sekolah ternama yang ada di kota G.
Benarkah Valerie dan M pernah menikah? Mengapa tidak pernah ada pengumuman pesta pernikahan mereka?"
#
Ketika berita itu dibacakan, Ana langsung paham siapa yang mereka maksud. Dan yang ada di pikiran Ana saat ini hanyalah satu nama.
"Rain ..."
#
"Saat ini saya sedang berada di sebuah pre-school ternama yang diduga merupakan tempat anak Valerie dan pengusaha M bersekolah."
#
Ana langsung bergegas mengambil barang-barangnya. Dia ingin segera menemui Rain di sekolahnya.
"Maaf, aku harus pergi," kata Ana langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Noel.
"Aris, batalkan saja janji temu jam 11, nanti aku hubungi lagi," kata Noel lalu memutuskan panggilan teleponnya.
Segera setelah itu dia berlari menyusul Ana. Tangannya dengan sigap menggenggam lengan Ana agar gadis itu tidak lagi melangkah.
"Ana ... ayo aku antar kamu ..."
"Aku bawa mobil."
"Kamu sedang panik. Ayo, ikut mobilku saja. Aku yang nyetir," kata Noel sambil menarik lengan Ana, karena dia tidak ingin berdebat lagi dengan Ana.
Dan Ana akhirnya menuruti kemauan Noel. Yang dia inginkan sekarang dia bisa tiba di sekolah Rain dengan cepat. Perasaannya sudah mulai tidak nyaman membayangkan para wartawan itu mengerubungi Rain yang tidak tahu menahu soal ini.
__ADS_1