Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 63


__ADS_3

Ana masih memeluk Rain dalam gendongannya saat Nora terus mendekatinya. Pengawal yang ada di sekitar Ana seperti sedang bersiap untuk menghadapi sesuatu yang tidak bisa Ana prediksikan apa yang akan terjadi. Para pelayan dan juga Tian masih berdiri di tempat mereka masing-masing dengan tatapan mereka yang tegang.


Lengan tangan kecil Rain terus mengalungi leher Ana. Rasanya seperti mengeluarkan seluruh tenaganya, hingga Ana hampir merasa kesulitan bernapas karena pelukannya yang cukup erat itu.


"Rain sayang ... main sama mommy, yuk ...," ajak Nora dengan gayanya yang centil. Dia menyodorkan tangannya ke depan seakan ingin menggendong Rain.


Tapi, gadis kecil itu enggan untuk melihatnya. Dia tidak peduli dengan Nora.


Otak Ana mulai berputar mencari cara untuk menghadapi Nora. Dia merasa harus melakukan sesuatu agar Nora tidak terus mengganggu Rain.


"Maaf, Nona Nora. Tapi sepertinya hari ini Rain sedang tidak enak badan. Saya akan mengantarkannya ke kamarnya untuk beristirahat," kata Ana seramah mungkin.


"Hhee ... sepertinya ada pengasuh baru. Atau bisa dibilang ... pengasuh lama yang direkrut kembali?," sindir Nora.


Ana hanya tersenyum datar mendengar itu. Dia tahu maksud Nora. Gadis itu sedang mengingatkan Ana tentang statusnya sebagai seorang pengasuh.


"Ah, iya. Aku baru mendengar kalau baru-baru ini kamu menjadi terkenal. Apa namanya? Itu lho, yang suka merebut laki-laki milik orang lain. Apa sih namanya? Kalian tahu?," tanyanya pada pengawalnya yang sedang berdiri di belakangnya.


"Pelakor, Nona," jawab salah satunya.


"Ah, iya iya itu ... Aku bahkan jijik menyebutnya," kata Nora seraya bergidik saat mengatakannya.


Ana tetap diam tidak menanggapinya.


"Valerie mungkin bukanlah siapa-siapa bagi Marius. Tapi, seluruh dunia tahu aku adalah tunangannya. Jadi, kuharap kamu tahu posisimu. Jadilah pengasuh yang baik tanpa harus menggoda majikannya," kata Nora yang kali ini dengan jelas semakin merendahkan Ana.


Ana tetap berdiri di tempatnya meskipun Nora terus mendekatinya. Dia terlihat tidak takut sama sekali meski Nora terus menekannya.


"Rain ke kamar dulu ya. Nanti Kak Ana menyusul. Tunggu Kak Ana," bisik Ana pada Rain, dan dijawab dengan anggukan, lalu menyerahkannya pada salah satu pelayan yang ada di dekatnya.


Setelah pelayan itu pergi membawa Rain, Ana kembali berhadapan dengan Nora. Kedua mata Ana memperlihatkan betapa dia meremehkan Nora.


"Seseorang menciptakan satu image yang buruk untukku. Aku dijadikan perusak atas hubungan orang lain, meskipun aku tidak melakukannya." Ana mendekatkan dirinya pada Nora.


"Sekarang ... bagaimana jika aku jadikan saja itu nyata? Karena aku sudah dianggap kotor, mengapa tidak aku kotori saja sekalian. Sayang kan, kalau hadiah dari seseorang tidak dimanfaatkan."


Ana melangkahkan kakinya ke depan, sedangkan Nora sebaliknya.


"Menurutmu, enaknya siapa ya kira-kira? Kalian? Sepertinya mudah. Berapa lama waktu yang kubutuhkan? Sebulan? Dua bulan?"

__ADS_1


Nora mulai terlihat cemas. "Hah! Kamu kira semudah itu merebut Marius dariku? Dia tidak akan bisa memutuskan hubungan ini."


"Benarkah? Mau kita buktikan? Menurutmu, siapa yang akan menang? Aku atau kamu?," tantang Ana.


Nora terdiam. Terlihat jelas dia sedang mencari kalimat yang pantas untuk membalas Ana. Tapi, tidak dia temukan.


Dengan harga dirinya yang masih tersisa, Nora kembali menegakkan tubuhnya saat berhadapan dengan Ana kembali. Dia meninggikan kepalanya dan menatap Ana kembali dengan tatapannya yang merendahkan.


"Kita akan lihat siapa yang akan tertawa paling akhir. Saat kamu menerima undangan pernikahan aku dan Marius, kamu akan tahu selemah apa dirimu. Jangan bermimpi untuk bisa merusak hubunganku dan Marius. Karena aku akan melakukan apapun untuk mempertahankannya," kata Nora pada Ana.


Nora sengaja menabrakkan dirinya pada Ana saat dia berjalan masuk ke dalam rumah. Tapi, kemudian Tian menghalanginya.


"Maaf, Nona Nora. Tuan Besar Marius sudah berangkat ke kantor sedari tadi," kata Tian.


Nora mendengus kasar. Dia terlihat semakin kesal. "Kita pergi!," katanya pada pengawalnya.


Ana terus memperhatikan Nora dan para pengawalnya berjalan menuju mobilnya. "Sekarang aku benar-benar terlihat seperti perusak hubungan orang ...," katanya seraya menghela napasnya.


"Tapi menurut saya, Nona Ana terlihat luar biasa," kata Tian dari belakang Ana.


"Tidak ada yang hebat dari orang yang merendahkan orang lain hanya untuk meninggikan dirinya sendiri," ucap Ana lirih. Pandangan matanya masih mengantarkan mobil yang membawa Nora keluar melewati gerbang rumah Marius.


"Ah, tidak, tidak ... Maaf, maaf ... abaikan saja," kata Ana. Dia terkejut ternyata Tian masih ada di belakangnya.


Setelah Nora pergi, Ana dan Rain menghabiskan waktu mereka bersama membongkar semua isi dalam koper yang dibawanya. Barang-barang itu dibelinya saat dia sedang berjalan-jalan.


Entah apapun itu, setiap kali dia melihat sesuatu yang lucu, yang dia ingat hanyalah Rain. Pada akhirnya, tanpa dia sadari, dia sudah membeli banyak barang untuk Rain. Sebut saja, baju, alat menggambar, mainan, bahkan mantel.


"Aahh lucunya," teriak Ana sambil memeluk Rain yang terlihat menggemaskan mengenakan mantel bulu bergaya lucu. Dia menggosokkan pipinya pada Rain. Gadis kecil itu tertawa geli karenanya.


......................


"Apakah ada kabar terbaru?," tanya Marius pada Lucas di ruang kantornya. Mereka baru saja masuk setelah menyelesaikan meeting mereka hari ini.


"Minggu depan hotel baru milik GA Group akan diresmikan. Mereka mengundangmu untuk datang bersama tunanganmu," kata Lucas sembari mengecek catatannya di dalam ipad yang dipegangnya.


"Nora?"


"Kamu punya berapa tunangan?," tanya Lucas.

__ADS_1


"Katakan saja aku ada jadwal ke luar negeri pada waktu itu. Atau kirim saja perwakilan."


Lucas hanya menghela napasnya, karena itu artinya dia yang harus pergi.


"Mr. Wang belum ada kabar. Tapi Tuan Barnett mengajakmu makan malam besok."


"Barnett? Mau apa dia?," tanya Marius heran.


"Mungkin ada hubungannya dengan kedatangan Nora ke rumah pagi ini ."


"Nora? Kenapa tidak bilang dari tadi?" Marius hampir saja akan memarahi Lucas.


"Tenang. Ana dan Rain baik-baik saja. Yang tidak baik justru adalah Nora."


"Apa yang terjadi?," tanya Marius.


"Ana menantangnya, akhirnya Nora kesal dan pergi. Aku baru bertanya pada Tian."


"Benarkah?" Marius menyunggingkan senyumnya.


Lucas menceritakan semua yang dia dengar dari Tian. Senyum Marius terlihat semakin melebar.


"Tuan Barnett sepertinya sudah mendapatkan dukungan dari TMN Corp. Setidaknya bersama dengan pengikutnya, mereka punya sepuluh persen suara. Jadikan itu dua puluh persen jika dia bisa mendekati LKM Corp. Karena TMN dan LKM selalu satu suara," kata Lucas.


"Aku tahu. Presdir TMN tidak menyukaiku dari dulu. Dia lebih menyukai Adam karena lebih mudah mengendalikannya daripada aku. Jika Barnett meminta untuk bekerjasama melawanku, sudah jelas dia akan menyetujuinya."


"Jadi, apa rencanamu?," tanya Lucas.


"Kirim pesan lagi ke sekretaris Mr. Wang. Katakan padanya aku ingin meluruskan sesuatu. Aku rasa Mr. Wang sedang marah karena tidak menyetujui pertunangan ini," jelas Marius.


"Baiklah, aku akan menghubunginya."


"Dan juga hubungi Tuan Fernando untuk janji temu. Dia kakeknya Noel. Meski pengikutnya tidak banyak, tapi jika dia mau berada di pihakku, aku akan bisa menyamai suara Barnett," jelas Marius.


"Sisanya lima persen suara milik pemegang saham minor. Mereka hanya akan mengikuti suara terbanyak. Bagaimana kamu merebutnya?"


"Aku akan memecahnya. Mereka akan berpihak pada yang kuat. Pada saat itu, pihak dengan pengaruh yang kuat yang akan menang," kata Marius. Terlihat jelas di matanya, dia memiliki keyakinan akan menang.


"Lalu, akan kamu apakan suara-suara itu?"

__ADS_1


"Saat Barnett meminta pernikahan, aku akan membuat mereka menyetujui pembatalan pertunangan ini."


__ADS_2