
Ana sedang berdiri di balik pintu dapur. Napasnya tidak beraturan, karena dia baru saja berlari. Semua ini gara-gara Marius dan Valerie.
Cukup lama Marius di ruang kerja bersama Lucas dan juga Valerie. Karena itu, Ana memutuskan untuk mengantarkan sendiri sarapan dan juga obat untuk Marius. Ketika Ana sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Marius, Ana bisa mendengarkan teriakan Valerie di dalamnya. Saat itulah Ana mengetahui siapa Valerie.
Ana tahu dia seharusnya tidak mendengarkan hal itu. Tapi, bagaimana Ana bisa menghalanginya? Dia hanya berniat mengantarkan sarapan dan obat untuk Marius. Dan suara mereka tiba-tiba terdengar hingga keluar ruangan.
Ana hanya bisa berlari meninggalkan tempat itu ketika dia mendengar Valerie berteriak karena Marius mengusirnya. Itu lebih baik daripada mereka menemukannya sedang berdiri di sana.
Ana masih mengatur napasnya sambil memegangi tray yang berisi bubur dan obat di atasnya. Beberapa pelayan dan chef yang bertugas di dapur melihat Ana dengan tatapan bingung dan khawatir. "Mungkin mereka kira aku habis liat hantu", pikir Ana.
Sekilas Ana melihat Lucas sudah kembali ke ruang kerja Marius. Tapi bubur yang Ana bawa mungkin sudah mulai dingin. Ana memutuskan untuk memanaskannya sebentar sebelum dia mengantarkannya kembali pada Marius.
Kepala Ana terus memikirkan banyak hal saat dia sedang menunggu pelayan memanaskan bubur untuk Marius. Dia memikirkan hal-hal yang dia dengar tadi.
Ana tidak tahu banyak tentang Valerie, karena dia sendiri jarang mengikuti perkembangan berita dunia entertainment seperti itu. Tapi, dia sering mendengar teman sekantornya dulu membicarakan Valerie. Dari sanalah dia tahu berita tentang Valerie.
Valerie Geraldine, artis yang punya banyak bakat. Menyanyi, akting, model, dia bisa semuanya. Dia memulai karirnya sejak 8 tahun lalu, saat itu dia masih berumur 19 tahun.
Valerie selalu terlihat di media kabar entertainment nasional. Beritanya tidak jauh dari hubungan percintaan, pertengkaran dan percekcokan dengan lawan main, bahkan ada fans yang pernah menulis di sebuah forum yang menyebutkan Valerie itu angkuh dan kasar, tidak seperti ketika di layar TV yang mana dia terlihat anggun dan juga feminim.
Seperti misalnya, 3 tahun lalu, sempat menjadi pembicaraan nasional tentang hubungan Valerie dengan pria yang sudah beristri. Valerie bahkan sempat dilabrak oleh istri sah orang itu. Foto dan videonya sempat beredar luas di seluruh jaringan media sosial. Tapi kemudian, dia kembali muncul di layar TV tidak lama setelah itu, seakan ingin menunjukkan bahwa berita itu bohong. Dan, setelah itu tidak ada lagi pembicaraan mengenai hal itu di media apapun.
Semua berita-berita buruk tentang Valerie seakan-akan tidak pernah sampai ke telinga para pemilik perusahaan dan juga produk-produk yang memintanya menjadi BA. Karena wajah Valerie selalu muncul dimana saja. Sebut saja ada di sebuah videtron, bis, pembungkus makanan, perkantoran, bahkan sebuah rumah sakit pernah meletakkan standing banner bergambar dirinya di depan pintu masuknya.
Bagaimana bisa perusahaan menggunakan Valerie sebagai BA nya jika dia sendiri sering terlibat skandal bahkan hingga tingkat nasional. Ana tahu dengan benar hal-hal seperti itu adalah riskan dilakukan oleh sebuah perusahaan.
Dan, ketika Ana melihat sendiri apa yang terjadi hari ini, dia bisa mengerti mengapa Valerie selalu beruntung dengan semua pekerjaannya itu. Ternyata Marius selama ini yang selalu berada di belakangnya, dan sepertinya Adam juga.
__ADS_1
Marius hanya perlu menggunakan kekuatan pengaruh dan uangnya bersama dengan DYNE, maka semua perusahaan pasti akan tunduk dengan permintaannya. Rumor-rumor buruk tentang Valerie akan hilang dengan sendirinya, karena tertutupi oleh image positif yang didapat dari perusahaan-perusahaan itu.
Tapi sayangnya Valerie terus berulah, sehingga image positif itu tidak bisa sepenuhnya menutupi borok yang dimiliki Valerie. Dan akibatnya perusahaan juga yang akan terkena imbasnya.
Pembicaraan Valerie dan juga Marius tadi pasti adalah soal perusahaan yang tidak mau lagi menggunakan Valerie sebagai BA nya.
"Apakah bubur ini untuk Tuan Besar, Nona Ana?"
Suara seorang pelayan mengagetkan Ana yang sedang melamun. Pelayan itu sudah menyajikan bubur panas di depannya.
"Ah iya, ini untuk Marius. Terima kasih banyak sudah membantu memanaskannya," ucap Ana pada pelayan itu.
"Sama-sama, Nona Ana. Tapi, Tuan Besar baru saja kembali ke atas bersama Tuan Lucas," kata pelayan itu lagi.
"Oh ya? Kalau begitu, saya akan antarkan ke atas. Terima kasih, ya."
"Mengenai akuisisi PT. GHM, suruh mereka untuk segera mengirimkan laporan keuangan mereka. Kita harus memeriksa dulu apakah perusahaan mereka masih sehat atau tidak."
Pintu kamar Marius tidak tertutup saat Ana memasukinya. Karena itu, dari luar sudah terdengar suara Marius dan juga Lucas.
Marius sedang duduk di atas tempat tidurnya, sedangkan Lucas sedang berdiri di depannya dengan ipad di tangannya. Lucas sepertinya sedang melaporkan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan.
"Ini sih namanya cuma pindah ruang kerja," gerutu Ana dalam hatinya.
Ana langsung berbalik membawa tray itu meninggalkan Marius dan juga Lucas. Tapi, sepertinya Marius memperhatikan perginya Ana.
"Ana ... mau kamu bawa kemana itu?," panggil Marius.
__ADS_1
Dengan tatapan marahnya, Ana berbalik dan berkata pada Marius. "Mau kuberikan ke pelayan. Karena sepertinya Tuan Besar Marius sudah sembuh."
Ana tidak mau menunggu jawaban dari Marius. Dia langsung saja berbalik dan pergi meninggalkan kamar Marius.
Marius seakan melupakan sakit kepalanya, dia dengan cepat bangkit dari tempat tidurnya, meninggalkan Lucas yang menahan tawanya, lalu pergi mengejar Ana.
Marius segera merebut tray yang dipegang Ana. "Aku yang makan," katanya.
Ana masih melemparkan tatapan kemarahannya pada Marius. Sedangkan Marius sudah merasa bersalah. "Maaf. Aku yang salah," katanya lagi.
Marius tahu, penyebab gadis itu kesal karena melihat dirinya masih bekerja meski Valerie sudah pulang. Dia bisa melihat kekhawatiran Ana sejak semalam dia menunggui dirinya di samping tempat tidurnya. Marius menyukai bentuk perhatian itu. Tapi, ternyata dia juga yang membuat gadis itu marah.
Setelah meminta Lucas untuk pergi dan menyelesaikan pekerjaan yang dimintanya tadi, Marius segera duduk menyantap bubur yang dibawa Ana. Sedangkan Ana menunggu Marius di sampingnya sambil menyiapkan air dan obat untuk Marius.
Saat Marius sudah berada di atas tempat tidurnya, Ana sedang membersihkan meja dan bersiap akan membawa tray ke bawah. Dia berniat meninggalkan Marius agar bisa beristirahat.
"Kamu tidak ingin bertanya tentang Valerie?," tanya Marius tiba-tiba sebelum Ana melangkahkan kakinya.
Ana menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu tidak mau cerita, aku tidak akan menanyakan apapun."
"Kalau aku mau bercerita, apa kamu mau mendengarnya?"
"Akan kudengar. Tapi setelah kamu beristirahat. Aku bisa melihatnya dengan jelas, kamu menahan semua rasa sakitmu untuk mendengarkan Valerie. Jadi, beristirahatlah. Kamu butuh banyak istirahat. Dokter juga mengatakan demikian."
Marius memandangi Ana yang pergi meninggalkan dirinya dan menghilang dari balik pintu. Ada perasaan kecewa dan sedih saat Ana pergi.
"Tapi, aku kan maunya kamu disini," ucap Marius lirih usai menghela napasnya dengan berat. Dia merobohkan tubuhnya ke samping di atas kasur empuknya. Kedua matanya terus menatap ke arah pintu dengan tatapan sedih. Dia berharap dia bisa mengatakannya pada Ana secara langsung.
__ADS_1