Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 9


__ADS_3

Pagi ini, Ana terbangun dengan perasaan yang lebih baik dari kemarin. Meski Ana masih bisa mengingat perasaan takutnya setiap kali dia mengingat bagaimana ular itu ada di tangannya, tapi semua itu cepat pergi begitu saja. Dengan sekali fokus dan hembusan napas, Ana menjadi baik-baik saja.


Yang paling tidak bisa ditahannya adalah saat dia mengingat mimpinya tadi malam. Ana semalam bertemu dengan papanya melalui mimpinya. Ana menyebutnya mimpi, tapi sebenarnya Ana dapat mendengar dengan jelas ketika namanya dipanggil, merasakan sentuhan ketika tangannya dipegang, bahkan Ana juga merasakan saat papanya mencium keningnya, seperti bukan mimpi.


Terlepas dari semua masalah papanya yang harus dia selesaikan saat ini, papanya Ana tetap adalah papanya. Ana sangat merindukannya. Jika seandainya papanya tidak pergi, Ana ingin bisa mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja, dan Ana akan menemaninya untuk menghadapinya.


"Ada apa? Mengapa kamu menangis? Apa ada yang sakit?"


Ana terkejut mendengar suara Marius yang tiba-tiba terdengar di kamarnya di saat dia merasa dia sedang menangis sendirian. Segera diusapnya air mata itu.


"Apa yang kamu lakukan disini?," tanya Ana heran.


"Apa kamu kesakitan? Aku akan memanggil dokter."


"Tidak, tidak, aku tidak apa-apa. Tunggu ..."


Ana berusaha menghalangi Marius untuk pergi, tapi kemudian tiba-tiba pintu kamar Ana terbuka perlahan. Terlihat olehnya, Rain sedang mengintip dari balik pintu. Ana melambaikan tangannya, dan sedetik kemudian, Rain sudah berlari ke arahnya, "Kak Ana ..."


Ana terkejut gadis kecil itu tiba-tiba memeluknya erat. Melihat bagaimana Rain memeluknya, Ana langsung memahami rasa khawatir gadis kecil ini terhadapnya. Perasaan hangat tiba-tiba menyelimuti hatinya.


Ana ingin menebus waktu yang terbuang kemarin dengan mengajaknya bermain hari ini. Tapi, kemudian ...


"Tidak!"


Baik Ana maupun Rain, mereka sama-sama terkejut mendengar Marius setengah berteriak saat mengatakan itu.


"Kamu ... kamu libur hari ini. Gunakan itu untuk beristirahat," kata Marius. "Dan Rain, kamu akan main sama daddy."


Ana ingin menolak perintah Marius, tapi sebelum dia mengatakannya, Marius kembali mengatakan tidak dengan nada "tidak ingin dibantah"nya.


Baik Ana maupun Rain hanya bisa saling memandang dengan tatapan sendu mereka, lalu bersama-sama melemparkan pandangan mereka ke Marius.


"Pokoknya, tidak!"

__ADS_1


Dan begitulah Ana pada akhirnya terpaksa mematuhi perintah tuan majikannya itu. Meski sebenarnya dia tidak ingin melakukannya.


Dan selama seharian itu, Marius benar-benar melarang Ana untuk kembali beraktifitas bersama Rain. Dia bilang itu akan membuatnya kelelahan sehingga rasa sakitnya akan kembali lagi. Tapi, Ana merasa dia baik-baik saja.


"Dia benar-benar kejam. Membiarkanku sendirian disini dan tidak memperbolehkanku melakukan apapun. Dia bisa membunuhku lama-lama seperti ini," kata Ana kesal saat melihat Rain yang bermain di halaman belakang bersama Marius dari jendela kamarnya.


Tidak hanya sehari Marius mengurungnya di dalam kamar. Bahkan, keesokan harinya, dan besoknya, dan besoknya. Ana benar-benar kesal dibuatnya.


Meski demikian, perhatian Marius dan juga Rain benar-benar membuat Ana tidak bisa berkata-kata. Beberapa kali Rain membawakannya sesuatu yang dia buat sendiri di dapur bersama Marius.


Kadang dia juga membawa mainannya ke kamar Ana, membuat Ana bermain bersamanya. Meski Ana tahu yang dilakukan Rain untuk menghibur Ana agar tidak merasa sendirian di kamar, tapi tidak dengan Marius. Dia selalu menyuruh Rain untuk membawa kembali mainan-mainannya. Kadang Marius bisa jadi perusak kesenangan orang.


Beda lagi dengan Marius, setiap jam makan, Marius akan membawakan makanannya ke kamar, memastikan Ana minum obatnya tepat waktu, bahkan tetap di kamarnya hingga Ana benar-benar terlelap.


"Apa dia melakukan ini pada pengasuhnya yang lain?," tanya Ana dalam hatinya. Tapi, sedetik kemudian, Ana memilih untuk tidak membiarkannya terlena dengan perhatiannya itu.


Ana menyadari posisinya sebagai pihak yang memiliki hutang dan juga sebagai pengasuh anaknya. Lagipula, meski Ana tidak pernah menanyakannya dan Marius tidak pernah membahasnya, Ana tahu, istrinya mungkin sedang berada di suatu tempat. Jelas tidak mungkin perhatian Marius lebih dari seorang tuan majikan.


Hampir satu jam Ana meyakinkan Marius bahwa dirinya baik-baik saja. Bahkan Rain ikut membantu.


"Aku lebih baik mati kelelahan karena bermain bersama Rain daripada mati kebosanan di dalam kamar," Ana mengatakannya dengan lantang.


"Kamu ..." Bahkan Marius hanya bisa membelalakkan matanya pada Ana tanpa bisa mengatakan apapun.


Pada akhirnya, Marius mengijinkannya, meski dengan syarat-syarat tertentu. Dan keduanya bersorak meninggalkan Marius di ruang kerjanya.


"Aku sebenarnya mempekerjakan pengasuh, tapi mengapa sepertinya aku sedang mengurus dua balita," kata Marius sambil memijat dahinya.


Lucas hanya bisa tertawa mendengar keluhan Marius.


......................


Side Story :

__ADS_1


"Ana ... ini papa," kata Doni sambil memegangi tangan Ana yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya.


Perlahan-lahan Ana membuka kedua matanya meski terlihat sangat berat. Pandangannya masih kabur, tapi dia mengenali pria yang ada di dekatnya saat ini, "Papa ..."


Tiba-tiba, Ana menangis. "Papa ... Ana kangen," isaknya.


"Maafkan papa, sayang. Maafkan papa," katanya berulang sambil menciumi tangan putrinya itu.


"Papa pulang, ya ..."


"Bertahanlah sedikit lagi, ya ... Papa akan datang ...," Doni mencium kening putrinya itu. "Maafkan papa ..."


"Ana ... kangen ... pa ..."


Mata Ana kembali berat. Energinya yang hanya seujung kuku sudah terkuras habis karena tangisannya. Ana kembali terlelap.


"Mungkin efek obat penenangnya," kata Marius yang sedari tadi berada disana.


Melihat Ana yang seperti itu, rasa bersalah Doni terus muncul. Dia tidak ingin menjadi sejahat itu dengan membiarkan putri kesayangannya masuk ke dalam kandang singa. Tapi, hanya itu satu-satunya rencana yang bisa mereka jalani untuk bisa mencari pelaku yang mereka inginkan, dan Ana adalah satu-satunya kandidat yang bisa mereka percayai.


Doni tidak menyalahkan Marius atas apa yang terjadi hari ini. Dia memahami anak itu sudah cukup menderita dengan semua rasa bersalahnya. Marius pasti juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan Ana. Karena Doni tahu benar bagaimana perasaan Marius yang sebenarnya terhadap Ana.


Pada akhirnya,setelah melihat kondisi Ana, bahkan Doni masih tetap mempercayakannya pada Marius. Sementara Marius sendiri sudah merasa tidak berdaya setelah dia melihat sendiri bagaimana histerisnya Ana tadi.


"Maafkan saya, Om. Saya yang membuat Ana ..."


"Kita sama-sama tahu seperti apa rencana ini. Om tahu Ana. Dia akan baik-baik saja. Percayalah."


"Apa kita masih perlu melanjutkannya? Saya hanya merasa Ana perlu tahu soal ini," kata Marius.


"Sebentar lagi. Tunggulah sebentar lagi. Yah?"


Marius memandangi Ana yang sedang terbaring. Melihatnya seperti itu membuatnya ingin segera memulangkan Ana dan mengakhiri rencana konyolnya ini. Tapi, setengah hatinya yang lain justru ingin Ana tetap tinggal bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2