
Beberapa hari ke depan dijalani Ana tanpa beban sama sekali. Dia sudah berhenti memikirkan percakapan antara dua pelayan itu sehari setelahnya. Menurutnya hanya akan buang-buang waktu memikirkan apa yang dikatakan mereka, jika Ana sendiri bahkan baru berada di rumah ini selama beberapa hari. Pasti ada alasan mengapa para pengasuh itu memilih berhenti ataupun dipecat. Yang jelas, untuk saat ini Ana belum memikirkan untuk mengundurkan diri.
Menjadi pengasuh dengan gaji 100 juta per bulan? Oh tidak, Ana tidak akan melepasnya. Meski Ana tidak memahami cara mengasuh anak, tapi pekerjaan ini sangat bagus untuk bisa cepat melunasi hutang-hutang papanya. Bahkan pekerjaan terdahulunya tidak bisa memberikan penawaran seperti itu.
Jika bukan Ana, maka satu-satunya alasan tinggalah Marius. Dan, Ana tahu benar, Marius tidak mungkin memecatnya. Justru Marius lah yang meminta Ana menjadi pengasuh anaknya. Jadi, untuk saat ini, apa yang mereka katakan bukan hal penting yang perlu Ana pikirkan.
Maka demikianlah, Ana mulai memikirkan cara untuk menjadi pengasuh 100 juta yang benar-benar bernilai sesuai dengan gajinya. Pasti ada alasan juga mengapa Marius memintanya untuk menjadi pengasuh. Dan Ana berusaha untuk tidak mengecewakannya. "Tunggu saja, pengasuh 100 jutamu ini pasti akan berguna," kata Ana dengan matanya yang berapi-api.
Rencana Ana selanjutnya adalah mencari tahu seperti apa Rain yang sesungguhnya. Dengan berbekal ilmu dari para dokter anak dan psikolog anak yang dibacanya dari internet, dia berusaha mencari tahu apa dan bagaimana karakter Rain yang sebenarnya.
Anak usia 4 tahun yang tidak suka bicara dan hanya bermain di kamarnya mungkin menjelaskan satu karakter. Tapi, saat Rain menari di depan TV dan memiliki rasa penasaran saat Ana melakukan sesuatu untuknya, Ana yakin Rain pasti punya sesuatu yang lain. Pertanyaannya, apa itu? Dengan keyakinan itu, Ana mulai menyusun rencananya.
Saat Rain bermain Play-Doh kesukaannya waktu mereka berada di playroom dekat kamar Rain, Ana mencoba membuat bermacam bentuk dengan itu. Rain memperhatikan Ana melakukannya dengan mata yang berbinar. Tiba-tiba, Ana memikirkan sesuatu yang tidak ada salahnya untuk dicoba.
"Mau bikin ini jadi bisa dimakan?"
Mata Rain seketika langsung berbinar dan mulutnya menganga lebar, seakan dia sedang berteriak, "Gimana, gimana, Kak Ana?."
Saat Ana membawanya ke dapur, dia memandangi seluruh bagian dapur seakan itu adalah pengalaman pertamanya mengunjungi ruangan itu. Dan saat Ana mengajaknya membuat cookies, dia membuat bermacam-macam bentuk seperti dia memainkan Play-Doh nya.
Di hari yang berbeda, Ana mencoba sesuatu yang lain. Saat Rain sedang menonton, sebuah karakter kucing kesayangannya sedang bermain layang-layang. Dan, Ana tiba-tiba memikirkan sebuah ide.
"Apakah Rain tahu cara membuat layang-layang?"
Rain menggelengkan kepalanya.
"Kak Ana tahu."
Dan sedetik kemudian, ada banyak bintang di mata Rain.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di halaman rumah sedang berusaha menerbangkan layangan yang baru saja mereka buat.
Dan seperti juga hari ini, saat Rain sedang bermain dengan boneka-boneka kesayangannya, muncul lagi sebuah ide di kepala Ana. "Bagaimana kalau kita ajak mereka jalan-jalan?"
__ADS_1
Meski menunjukkan rasa bingung di wajahnya, tetap saja Rain mengikuti apa yang direncanakan Ana.
Dan akhirnya, disinilah Ana, setelah Rain mandi sambil menanti makan malam, di bawah pohon besar yang cukup rindang yang ada di belakang rumah Marius. Ana sedang menemani Rain yang sedang mengadakan tea party bersama teman-teman bonekanya.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Sebuah suara mengagetkan Ana dan juga Rain. Tapi Rain langsung bersemangat menyambutnya saat dia melihat Marius.
"Daddy ..."
Marius langsung menggendong Rain yang berlari menghampirinya. Rupanya dia baru saja dari kamar Rain. Eli yang memberitahunya dimana mereka berada.
Rain menarik Marius untuk duduk di atas alas kain bersama teman-teman bonekanya. Meski heran melihatnya, Marius tetap mengikuti apa yang diinginkan putrinya.
"Apa ini?," bisik Marius pada Ana saat menerima satu cangkir teh kosong dari Rain.
"Seperti yang terlihat, Rain sedang mengadakan tea party bersama Mr. Rabbit, Mrs. Potato, Miss Agnes, dan juga Miss Daisy," kata Ana sembari menunjuk satu-persatu boneka yang dia sebut namanya.
Ana mengangkat cangkir teh miliknya dan menunjukkannya ke Marius, seakan meminta Marius untuk juga mengincipi teh yang ada di tangannya. Tapi, Ana terpaksa menahan tawa gelinya saat dia melihat Marius ikut melakukan apa yang dilakukannya.
"Apakah ini idemu?," tanya Marius tiba-tiba.
"Iya," jawab Ana. Tapi kemudian, Ana mulai panik. "Apakah aku melakukan kesalahan?"
Marius menggelengkan kepalanya.
"Aku pikir Rain butuh sesuatu yang bisa membuatnya menyadari hal-hal baru selain yang ada di dalam kamarnya atau di playroom," jawab Ana.
"Apakah cookies itu juga idemu?"
"Cookies? Oh iya. Kami membuatnya bersama waktu itu. Tapi Rain yang memintaku untuk membungkusnya untukmu."
Ana teringat Rain meletakkan sebungkus cookies di atas nakasnya dengan selembar kertas yang ditulisi, "For Daddy" dan sebuah gambar lucu di sebelahnya.
__ADS_1
"Lucu, ya?," tanya Ana gemas.
Marius hanya terdiam melihat senyum Ana. Dia lalu memandangi Rain yang sedang bermain dengan boneka-bonekanya.
"Kukira kamu bilang, kamu tidak punya keahlian mengasuh anak?"
"Aku memang tidak punya. Tapi seperti yang kamu bilang, aku bisa mempelajarinya. Dan ternyata, menyenangkan."
Ana memandangi Rain yang sedang menikmati waktu bermainnya. Dengan melihatnya, Ana menyadari sesuatu. Dari hari ke hari, tanpa disadarinya dia telah mengikat perasaannya pada Rain. Ana yang awalnya hanya berpikir untuk menyelesaikan hutang-hutangnya dengan datang ke rumah Marius, sekarang malah memikirkan cara untuk membuat bidadari kecil ini bahagia.
"Aku tidak tahu apakah ini akan berhasil, tapi melihat Rain tersenyum setiap kali aku memberinya ide, itu membuatku semakin yakin, Rain akan baik-baik saja."
Ana selalu percaya, selalu ada tujuan di setiap pertemuan. Dan jika ini adalah tujuan Ana dipertemukan dengan Rain, maka Ana akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia.
"Aku melakukannya dengan sangat baik, kan? Kamu tidak akan menyesal menggajiku semahal itu," kata Ana melepas senyum bangganya ke Marius yang saat ini sedang memandangi Ana.
Ana yang mendapati mata Marius sedang menatapnya, tidak bisa mengalihkan pandangannya begitu saja. Marius seperti sedang menguncinya agar tidak melihat kemanapun. Tatapan mata Marius yang lembut membuatnya kehilangan kata-katanya. Ana seperti berada dalam kendalinya.
Ana terkejut saat melihat Rain sedang menarik lengan baju Marius. Jantungnya tiba-tiba berdegup keras. "Apa itu tadi?," teriaknya dalam hati.
Jika bukan karena Rain yang sudah capek bermain, entah berapa lama lagi mereka akan saling menatap. Ana yang masih mendengar degup jantungnya tidak bisa menghilangkan rasa gugupnya begitu saja. Dia berpura-pura membereskan mainan Rain saat Marius menggendong Rain kembali ke rumah.
"Tinggalkan saja itu disitu, biarkan para pelayan yang memberesinya," kata Marius. Ana spontan berdiri dan mengikutinya dari belakang.
"Aku menyukai idemu. Katakan pada Eli atau padaku jika kamu membutuhkan sesuatu," lanjutnya lagi.
Ana tersenyum bangga pada dirinya sendiri. "Jika Marius menyukai ideku, maka semuanya pasti akan baik-baik saja," pikirnya senang.
......................
Sementara itu, dari balik jendela, seseorang wanita sedang melihat Ana dan juga Marius sedang berbincang. Meski dari kejauhan, mereka terlihat cukup akrab untuk seorang majikan dan pengasuhnya.
Tangannya tergenggam cukup keras di depan dadanya, seperti sedang menahan rasa marahnya. Tapi, beberapa detik kemudian, dia menyadari bahwa dia sedang tidak sendirian di ruangan itu.
__ADS_1
"Siapkan makan malam. Tuan Marius dan Nona Rain akan segera menuju ruang makan," perintahnya.
"Baik, Miss Eli," para pelayan yang sedang berbaris di belakangnya serempak menjawab dan membungkukkan tubuh mereka.