Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 74


__ADS_3

Saat Ana terbangun, matahari sudah hampir tinggi. Dia merasakan sakit di seluruh tubuhnya, begitu juga kepalanya. Tidaklah heran jika mengingat semua yang dilakukannya kemarin.


Semenjak awal mula dia tinggal di rumah Marius, ini adalah kali pertama dia bangun sesiang ini. Ana yang biasanya bangun dengan banyak rencana kegiatan seharian itu bersama Rain, kini untuk pertama kalinya dia bangun dengan perasaan hampa. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan hari ini.


"Mungkin Marius sudah berangkat ...," katanya saat melihat jam dinding di kamar Rain menunjukkan pukul 9.48


Perlahan Ana turun dari tempat tidur. Dia bisa merasakan pergelangan kakinya kini tidak sesakit kemarin. Entah apa yang terjadi semalam.


"Apakah Marius mengobatinya? Tapi mengapa aku tidak merasakan apapun saat dia melakukannya?," tanyanya.


Dengan hati-hati, Ana berjalan keluar dari kamar Rain. Di luar kamar, dia mendapati beberapa pelayan sedang menunggu dirinya.


"Tuan Besar memerintahkan pelayan untuk berjaga disini menunggu Nona Ana bangun. Apakah Nona Ana membutuhkan sesuatu?," tanya seorang pelayan.


Ana menggelengkan kepalanya. "Apakah Marius sudah berangkat?," tanyanya.


"Tuan Besar sudah berangkat dari tadi pagi. Tapi, Tuan Besar mengatakan untuk menyampaikan pada Nona Ana bahwa Tuan akan kembali nanti siang."


Ana hanya menganggukkan kepalanya ketika pelayan itu menyampaikan pesan Marius. Dia kemudian masuk ke kamarnya sendiri.


Ana hanya berniat untuk duduk di dekat jendela sembari menikmati pemandangan di belakang rumah Marius begitu dia masuk ke kamar. Tapi kemudian perhatiannya teralihkan pada ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja.


Ana baru teringat, kemarin dia tertidur di mobil, dan Marius pasti yang membawanya ke kamar. Mungkin Marius atau seseorang meletakkannya di sana.


Ana membuka ponsel miliknya itu dan mendapati ada begitu banyak panggilan masuk dan juga pesan. Tapi perhatiannya tertuju pada satu pesan dari nomor yang tidak dikenalinya. Melihat kalimat awal yang ditunjukkan pada ringkasan pesan itu menyebutkan nama Rain, Ana tertarik untuk membukanya.


"Jika ingin menolong Rain, pergilah ke kamar penyimpanan dan carilah kotak peninggalan Adam. Dia pasti menyimpan sesuatu di sana yang bisa kamu jadikan petunjuk - Eli."


Serasa tidak percaya dengan apa yang dibacanya, Ana mengulang kembali membaca pesan itu. Semuanya masih sama. Dia tidak salah mengira dengan apa yang dibacanya.


"Kamar penyimpanan? Gudang kah?," tanyanya.


Ana bergegas keluar kamarnya. Para pelayan itu masih di sana.


"Tian ... dimana Tian?," tanya Ana.


Ana ingin mencari Tian, tapi pelayan itu menawarkan untuk memanggilkannya untuk Ana. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukannya. Karena tak lama setelah itu, Tian datang menemuinya.


"Kamar penyimpanan ya? Kamar itu untuk menyimpan barang-barang peninggalan keluarga Hadinata yang dianggap penting. Letaknya ada di bawah tanah. Kita bisa kesana melalui gudang. Tapi, mengapa Nona Ana ingin kesana?," jelas Tian begitu Ana bertanya padanya.


"Ada hal yang ingin saya cari disana. Apakah Marius melarang siapapun masuk ke sana?"


"Sebenarnya, tidak pernah ada larangan dari Tuan Besar untuk Nona Ana di rumah ini. Tapi ..." Tian terlihat ragu mengatakannya. Ana mengira Tian mungkin membutuhkan persetujuan Marius.


"Aku sendiri yang akan mengatakannya pada Marius. Tolong antarkan aku kesana."


Ana hanya mengirimkan pesan singkat pada Marius. Dia berharap Marius bisa memahaminya meski dia tidak menjelaskannya secara detail.

__ADS_1


"Aku akan menjelaskannya saat dia ada disini," pikir Ana.


......................


Sudah hampir satu jam Ana berada di kamar penyimpanan. Tidak seperti yang Ana bayangkan, barang-barang yang disimpan di kamar itu tersusun dengan rapi. Hanya saja, Ana harus mencari barang yang dia tidak tahu bagaimana bentuknya di antara banyaknya barang yang ada di kamar itu.


"Apa yang sebenarnya kamu cari?"


Suara Marius yang memecah keheningan dalam kamar itu. Ana hampir tersentak kaget mendengarnya.


"Kamu sudah pulang?," tanya Ana.


Ana menyerahkan ponsel miliknya pada Marius untuk menunjukkan pesan yang diterimanya.


"Pesan itu seharusnya aku baca kemarin. Tapi ... dengan semua hal yang terjadi kemarin, aku melewatkan banyak pesan masuk."


Ana terus mencari, sementara Marius membaca pesan itu.


"Jadi, apa yang kamu pikirkan bisa kamu temukan disini?," tanya Marius seraya meletakkan ponsel Ana di tempat yang aman, lalu menggulung lengan bajunya.


"Entahlah ... sesuatu yang mungkin akan membantu Rain. Mungkin ... yang bisa membuat Valerie berubah pikiran ... Apa yang kamu lakukan?"


"Membantumu ...," jawab Marius singkat sembari menurunkan kotak-kotak yang diletakkan di atas.


"Aku tidak apa-apa disini. Pergilah. Kamu pasti punya banyak hal yang harus kamu kerjakan," kata Ana.


Marius akan mengatakan sesuatu. Tapi kemudian Ana memotongnya.


Marius terdiam sejenak. Dia memandangi Ana untuk waktu yang cukup lama. Dia tahu benar bagaimana Ana. Jika sudah begini, tidak akan ada yang bisa menghentikannya, tak terkecuali Naomi sekalipun.


"Baiklah," kata Marius seraya beranjak dari tempatnya duduk. "Aku akan meminta Tian untuk menugaskan beberapa pelayan menunggu disini. Jangan ragu untuk meminta bantuan mereka. Dan ... berhati-hatilah dengan kakimu. Itu belum sembuh benar."


Setelah Marius pergi, Ana kembali pada kesibukannya. Dibukanya satu persatu kotak milik Adam. Eli hanya mengatakan kotak milik Adam, tapi tidak menjelaskan yang mana.


Ana yakin Eli juga tidak tahu yang mana. Dia hanya yakin Adam pasti menyimpan sesuatu yang menurutnya bisa membantu melindungi Rain dari Valerie. Adam bahkan membuat surat perjanjian itu. Dia benar-benar memikirkan segalanya.


Tiba-tiba perhatian Ana teralihkan oleh sebuah kotak kecil yang ada di tumpukan paling atas. Kotak kayu dengan ukiran yang sangat indah. Kotak kayu yang terkunci dengan enam buah angka yang ada di depannya. Kini Ana termenung memikirkan enam angka itu.


"Jika isinya memang benar, maka enam angka ini tidak akan salah," ucap Ana lirih.


Ana menghela napasnya perlahan untuk menghilangkan kegugupannya. Tepat setelah itu, dia mulai memutar kuncinya menjadi sederet angka yang akan membuka kotak itu.


020618


KLAK ...


Kotak itu terbuka.

__ADS_1


Yang Ana masukkan adalah sederet angka dari tanggal lahir Rain. Dia hanya bisa menebak isi di dalamnya dari angka yang dia masukkan. Jika memang kunci itu menggunakan tanggal lahir Rain, maka isinya pasti ada hubungannya dengan Rain. Dan ternyata, memang benar.


Ana mengeluarkan isi di dalamnya satu persatu. Ada surat, beberapa foto, beberapa helai rambut, sebuah kartu memori, dan sebuah kalung.


Ana membuka surat itu terlebih dahulu.


##


Aku tidak pernah berharap jika kotak ini akan terbuka dan surat ini akan ditemukan suatu hari nanti. Tapi jika ternyata terjadi, maka mungkin bukanlah kesalahan aku melakukan ini.


Aku mengenal Valerie sejak dia masih berusia 20 tahun . Waktu itu dia punya mimpi untuk menjadi seorang artis besar. Dan aku yang sudah mulai mencintainya berusaha semampuku untuk menjadikan mimpinya itu nyata.


Sayangnya, dia tidak mencintaiku. Meski kami selalu bersama, dan aku selalu memberikan semua yang dia inginkan, dia tetap tidak mencintaiku.


Aku tahu siapa yang dia cintai. Tapi dia tidak pernah tahu bahwa yang dia cintai tidak pernah mencintainya. Pria itu hanya ingin menjadikannya alat pemuas nafsunya. Dan aku tidak ingin Valerie menjadi salah satu korban dari pria itu seperti wanita lain yang akhirnya dia buang begitu saja.


Karena itu, tanpa sepengetahuan Valerie, aku memberinya pil kontrasepsi. Aku katakan padanya, itu adalah vitamin untuk menambah kecantikannya. Dan dia percaya.


Aku pastikan dia meminumnya setiap hari. Mudah bagiku untuk melakukannya, karena aku membuatnya harus menemuiku setiap hari.


Hingga suatu hari, aku melewatkannya.


Waktu itu, dia sedang memiliki jadwal syuting di luar kota, bersama dengan pria itu. Aku terpaksa mengejarnya.


Entah berapa banyak yang diminum Valerie malam itu. Tapi yang jelas, waktu aku menemukannya di bar, dia sudah hampir tidak sadarkan diri. Pria itu meninggalkannya sendirian di bar dan pergi dengan wanita lain.


Aku terpaksa membawanya kembali ke hotel. Disanalah kami melakukannya.


Tapi, meskipun tubuh kami bersatu, yang dia sebut selalu adalah nama pria itu. Aku melewatkan malam itu dengan perasaan bahagia sekaligus rasa sakit dalam hatiku.


Keesokan paginya, aku pergi sebelum Valerie terbangun. Karena itu Valerie tidak pernah tahu dengan siapa dia menghabiskan malam itu.


Dan karena itu juga dia selalu percaya bahwa anak yang dikandungnya adalah anaknya dengan pria itu. Meski aku sudah menjelaskannya berkali-kali, tapi dia tetap tidak mau mendengarkan. Kadang aku merasa dia hanya tidak ingin mendengarkan kebenaran lain selain kebenaran yang dia yakini dalam hatinya.


Aku pernah melakukan tes DNA pada Rain. Aku hanya belum sempat memberikannya pada Valerie, karena kesehatanku semakin menurun.


Di dalam kotak ini, aku menyimpan hasil tes DNA yang pernah aku lakukan. Jika Valerie khawatir aku memalsukannya, aku juga menyimpan beberapa helai rambutku di dalamnya.


Aku hanya berharap Valerie bisa menerima kenyataan bahwa Rain adalah putriku, putri kesayanganku. Aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi Valerie.


Adam


##


Ana langsung berlari begitu dia selesai memasukkan kembali semua isi kotak itu ke dalamnya. Dia terus berlari tanpa mempedulikan rasa sakit pada pergelangan kakinya, karena dia ingin segera menunjukkannya pada Marius.


"Ana ... mengapa kamu berlari? Kakimu ...," kata Marius yang khawatir melihat Ana yang sudah terengah-engah saat masuk ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Tapi Ana ... dia tidak mempedulikan perkataan Marius. Dia bahkan tidak membiarkan Marius menyelesaikan kalimatnya.


"Marius, hah hah, ... aku menemukannya, hah hah ...," katanya.


__ADS_2