
Pernikahan Marius dan Nora tinggal 3 hari lagi. Dan Ana masih belum mendapatkan penjelasan apapun dari Marius.
Saat Ana menghubungi Lucas untuk menanyakan kabar Marius, jawaban yang dia dapat malah tidak menjelaskan apapun.
"Marius? Eer ... dia, dia baik-baik saja. Dia ... dia hanya sibuk beberapa hari ini ..."
Begitu kata Lucas ketika Ana menanyakan kabar Marius.
Ana mengira dengan menghubungi Lucas mungkin dia bisa mendapatkan jawabannya. Lucas adalah sekretarisnya. Meski Marius pergi ke New York tanpa Lucas, setidaknya di waktu-waktu tertentu, mereka pasti akan saling berhubungan. Seharusnya begitu, kan?
Ana mengambil ponselnya kembali. Dia mencoba menghubungi Marius lagi.
Masih sama ...
Hanya terdengar nada sambung, tapi Marius tidak menjawabnya.
Ana kembali menghela panjang napasnya, berharap semua beban di hatinya juga ikut keluar.
"Mommy ...," panggil Rain yang baru keluar dari kamarnya. Ana meninggalkannya di playroom bersama seorang pelayan.
"Rain ... Rain mau sesuatu?," tanya Ana.
Begitu Rain mendekatinya, Ana langsung menggendongnya. "Ada apa, Rain?"
"Mommy, Daddy masih lama ya pulangnya?"
Ana terdiam. Dia bingung bagaimana menjawabnya.
"Daddy ... mungkin agak lama ... pulangnya. Daddy ... masih banyak pekerjaan. Rain kangen daddy?," kata Ana.
Rain terlihat agak kecewa.
"Rain mau ... dibawakan oleh-oleh sama daddy?," tanya Ana lagi.
Kedua mata Rain mendadak menjadi berbinar saat Ana mengatakannya. Ana yakin Rain merindukan Marius, tapi oleh-oleh jauh lebih menggoda bagi Rain.
"Mommy punya ide," kata Ana. Dan Rain sudah bersiap mendengarkannya.
"Setiap hari, kalau daddy belum pulang, kita akan buat video. Nanti Rain bilang apa yang Rain mau dalam videonya. Lalu, kita kirim ke daddy, biar daddy tonton. Kita kirim yang banyak buat daddy. Bagaimana?"
Rain langsung menganggukkan kepalanya berulang-ulang.
"Setidaknya, dia tidak akan tidak peduli dengan Rain, kan?," pikir Ana.
Ana baru selesai mengirimkan 3 video yang baru saja dibuatnya bersama Rain, ketika Tian masuk untuk memberitahunya bahwa pengawal Nora datang untuk menjemputnya.
"Nora? Menjemputku? Untuk apa?," tanya Ana. Dia sama sekali tidak mengerti maksud Nora itu. Tapi Ana tetap menemuinya.
__ADS_1
Pengawal itu tidak banyak bicara. Dia hanya langsung memberikan ponsel kepada Ana. Yang ternyata sudah terhubung dengan Nora.
"Halo ..."
"Ikutlah dengan pengawalku. Jangan khawatir, mereka tidak akan melukaimu. Kamu akan menemaniku hari ini."
Tut ... Dan panggilan terputus.
Hanya itu. Nora bahkan tidak bertanya apakah Ana menyetujuinya atau tidak.
Ana menatap pengawal Nora yang sedang berdiri di hadapannya.
"Aku rasa Nora memerintahkanmu untuk menyeretku jika aku menolak. Benar, kan?"
Pengawal itu tidak memberikan jawabannya, baik itu dengan suaranya maupun dengan gerak tubuhnya.
"Aku rasa iya."
Ana baru akan melangkah pergi mengikuti pengawal Nora, saat David mencegahnya pergi.
"Nona Ana ... setidaknya ..."
Sebelum David menyelesaikan kalimatnya, Ana menghentikannya.
"David ... apa kamu tahu kalau Tuan Marius mu dan Nora sebentar lagi akan menikah? Akan sangat aneh kalau kamu ikut pergi bersamaku. Jadi ... tidak apa-apa, David. Lagipula Nora bilang dia hanya ingin aku menemaninya hari ini," kata Ana yang langsung pergi meninggalkan David, dan diikuti oleh para pengawal Nora di belakang Ana.
......................
Nora sedang berdiri dengan gaun pengantin yang menghiasi tubuh langsingnya. Dia memamerkan lekuk tubuhnya saat dibalut dengan gaun putih panjang itu.
"Ayo, kemarilah. Duduklah di sana," katanya lagi seraya menunjuk sofa yang ada di depannya.
Ana mengikuti arah yang ditunjuk Nora. Tapi dia tidak menduduki sofa itu. Dia masih berdiri, menunggu Nora mengatakan apa yang diinginkannya.
"Bagaimana? Bagus, kan? Aku suka gaun ini, karena memperlihatkan bentuk tubuhku dengan sempurna. Menurutmu bagaimana?," tanya Nora seraya bergaya saat mengatakannya. Dia melakukannya seakan-akan sedang memamerkan gaun pengantin itu pada Ana.
Ana masih bersabar menghadapi sikap kekanakan Nora itu. Dia tahu Nora hanya ingin membuatnya marah dan kesal. Nora sengaja melakukan itu.
"Kamu menyuruhku ke sini tentunya bukan untuk menilai gaunmu, kan? Katakan saja apa yang kamu inginkan, jadi aku bisa segera pergi dari sini."
Nora mencebikkan bibirnya. "Sedikit." Dia menunjukkan tanda dengan jarinya untuk menggambarkan kata yang diucapkannya itu.
"Aku sedikit ingin tahu pendapatmu tentang gaun ini. Tapi, sebagian besar dari itu, aku ingin melihat kamu menahan rasa marah dan kesedihanmu yang tidak berguna itu karena membayangkan sebuah pernikahan dimana bukan kamu pengantinnya."
Ana masih terlihat tetap tenang.
"Jadi, itu yang kamu bayangkan saat melihat aku bersama Marius? Kamu selalu membayangkan Marius di depan altar pernikahan, tapi kamu takut kalau bukan kamu pengantinnya."
__ADS_1
Tawa Nora terdengar memenuhi seluruh sudut ruangan itu. Tapi Ana tetap bergeming memandangi Nora.
"Itu yang aku suka dari kamu. Rasa percaya dirimu itu. Tapi di saat yang bersamaan, aku sangat membencinya."
Nora turun dari podium yang menjadi tempatnya memamerkan gaun pengantinnya itu. Dia berjalan turun menghampiri Ana yang tidak jauh darinya. Semua staff toko segera menyingkir setelah melihat itu, seakan-akan mereka tahu apa yang akan terjadi.
Ana melihat Nora yang berdiri terlalu dekat dengannya dengan tatapan yang cukup membuat orang merasa rendah di hadapannya. Ana yakin, Nora ingin dirinya menjadi lemah saat dia melakukan itu.
"Jangan mengira aku sudah melupakan kejadian waktu itu," kata Nora dengan suaranya yang rendah. "Ini adalah bagian dari pembalasanku. Sedikit demi sedikit aku akan menghancurkanmu. Bahkan Marius tidak akan datang menolongmu. Karena dia sendiri yang mengatakan, aku bebas melakukan apapun padamu."
DEG!
Kali ini, Ana tidak bergeming. Dia menunjukkan rasa terkejutnya pada Nora. Benarkah Marius mengatakan itu?
Tiba-tiba, seorang pengawal masuk mendekati Nora.
"Tuan Barnett ingin Nona membawa teman Nona untuk menemuinya," kata pengawal itu.
"Dia? Untuk apa?"
Pengawalnya kini mendekat, lalu berbisik pada Nora. Dan Nora langsung tersenyum saat menatap Ana.
Apapun itu yang dibisikkan oleh pengawalnya itu, Ana yakin itu bukan hal yang baik. Karena Ana merasa sangat tidak nyaman saat Nora menatapnya.
......................
"Papi ...," panggil Nora menyapa ayahnya yang sudah menunggunya di sebuah ruangan VIP dalam restoran mewah.
"Nora sayang ..."
Begitu Nora masuk ke dalam ruangan itu, Tuan Barnett langsung menyambut putri kesayangannya itu dengan sebuah pelukan dan ciuman di kedua pipi Nora. Tapi, saat Tuan Barnett melihat Ana masih berdiri di luar ruangan dengan dua pengawal yang mengapitnya, Tuan Barnett berhenti memeluk putrinya. Dia terpesona memandangi Ana.
"Dia pasti Ana yang selama ini selalu disebut-sebut. Cantik, benar-benar cantik. Haha ... Benar begitu, Tuan Marius?"
Ana terkejut saat Tuan Barnett menyebut nama Marius. Tak lama kemudian, seorang pria yang sedari tadi terus duduk membelakanginya di salah satu kursi, kini beranjak dari tempat duduknya, lalu berbalik menghadap Ana.
"Marius ...," panggil Ana lirih.
Ana mengenali sosok pria tinggi itu. Dia benar-benar Marius.
"Dia hari ini menemaniku fitting gaun pengantin. Karena Papi memanggilku, jadi aku bawa saja dia sekalian biar ikut makan siang bersama kita," kata Nora.
Bohong. Begitu pikir Ana. Dia yakin Nora dan Tuan Barnett sengaja membawanya kemari agar bisa bertemu dengan Marius. Tapi Ana tidak yakin apakah hanya itu alasannya? Agar mereka bertemu? Untuk apa?
"Hai, sayang."
Kali ini Nora menghampiri Marius yang sedang berdiri tanpa mempedulikan Ana. Dia meraih wajah Marius, lalu mencium pipinya.
__ADS_1
Nora sengaja melakukannya. Dia tersenyum senang sekali pada Ana setelahnya.
Dengan semua penampilan drama yang ada di hadapannya saat ini, yang dipikirkan Ana justru adalah apa yang Marius lakukan di sana? Kapan dia kembali dari New York? Apakah karena itu dia tidak menjawab semua panggilan Ana?