
Katanya orang sedih itu harusnya menangis. Supaya bisa melampiaskan semua kesedihannya dalam bentuk air mata. Lalu, biarkan air matanya jatuh bersama dengan semua hal yang menyebabkan kesedihan itu.
"Tapi, mengapa aku tidak bisa menangis?," kata Ana dalam hatinya.
Ana terlalu larut dalam pikirannya sendiri, hingga dia tidak menyadari kedatangan Naomi di dalam kamarnya.
"Ana, kamu sudah dengar beritanya?," tanya Naomi. Dia berusaha mengatakannya dengan selembut mungkin. Naomi khawatir Ana masih belum bisa menerima berita itu.
"Iya, tadi pagi. Kamu kesini untuk menanyakan ini?," kata Ana sembari menunjukkan raut wajahnya yang seakan tidak terjadi apapun.
"Aku kesini untuk melihat kamu. Kamu nggak apa-apa, kan?"
"Nggak. Aku nggak apa-apa. Kamu ingin aku kenapa, Nao?," tanya Ana. Kali ini dia menunjukkan senyumnya yang paling manis.
Naomi semakin tidak memahami raut wajah sahabatnya ini. Kedua mata Ana memancarkan kesedihan, tapi raut wajahnya menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
"Kalau kamu mau menangis, mengapa tidak menangis saja? Jangan seperti ini. Kamu membuatku takut, Ana."
"Kalau dipikir-pikir, antara aku dan Marius sebenarnya juga tidak ada hubungan apa-apa. Tadinya dia memintaku untuk jadi pengasuhnya Rain. Lalu, ternyata dia kenal dengan papa. Aku juga kenal dengan keluarganya. Kalau dipikir lagi, dia sebenarnya cuma anak dari kenalan papa saja."
"Ana ...," panggil Naomi lirih. Dia tidak punya kata-kata yang sesuai untuk menanggapi ucapan Ana itu.
"Mereka mengira aku pelakor, tentu saja siapa yang tidak. Aku di rumahnya selama 24 jam, setiap hari. Meskipun tidak terjadi apa-apa di sana, tapi siapa yang mau percaya? Dia membiarkan aku melakukan apa saja yang aku mau selama di rumahnya. Bahkan aku sendiri hampir mengira aku adalah nyonya rumah."
__ADS_1
"Jika aku ingat kembali semua perhatian yang pernah dia berikan padaku, membuat aku menyadari ternyata aku sebodoh itu hingga semudah itu aku menjadi terlena. Aku rasa aku memang pelakornya. Bukankah biasanya pelakor itu dibujuk dulu pakai uang dan perhatian, ya? Aku melakukan kesalahan lagi, Nao. Kalau kamu mau marah, marahi saja aku."
"Mengapa aku harus memarahi kamu?," tanya Naomi yang sudah tidak tahan dengan tatapan Ana yang memelas itu.
"Karena lagi-lagi aku salah mengartikan kebaikan seseorang. Kamu dulu pernah memarahiku. Dan sekarang aku melakukannya lagi."
Ana terus menatap Naomi dengan tatapan matanya yang tidak bisa Naomi tolak. Tapi, Naomi sendiri sedari tadi berusaha keras menghindari menatap kedua mata Ana.
"Ana ... mengapa kamu tidak menelpon Marius untuk menanyakannya?," tanya Naomi.
"Kamu mau aku bilang apa? Halo, Marius. Kamu mau tunangan? Selamat, ya. Atau, Halo, Marius. Mengapa kamu tunangan sama dia? Kamu lupa dia adalah orang yang bikin Rain takut setengah mati? Atau ..." Ana menghentikan kalimatnya. Dia yang sedari tadi terlihat marah, kini terlihat sedang menahan dirinya untuk tidak menangis.
"Atau apa, Ana?," tanya Naomi yang mulai khawatir.
"... atau ... Hai, Marius ... apa kamu lupa janjimu ... 20 tahun yang lalu?"
"Tapi, aku rasa aku adalah orang yang paling konyol sedunia. Mungkin cuma aku satu-satunya orang yang masih ingat janji anak 9 tahun selama 20 tahun. Hmm ... bukan 20 tahun aku rasa, aku baru ingat beberapa hari yang lalu."
"Ana ... aku lebih baik melihat kamu menangis daripada kamu yang begini," kata Naomi.
"Aku juga tidak tahu mengapa aku tidak bisa menangis."
Ana memeluk kedua kakinya kembali. Baginya ini bukan kebodohannya yang pertama, tapi rasanya seperti baru pertama kali mengalaminya. Dia ingin menangis, tapi justru air matanya menolak untuk turun.
__ADS_1
Ana merasakan kemarahan di dalam hatinya. Tapi justru dia marah pada dirinya sendiri. Dia marah karena terlalu bodoh menganggap dirinya sudah di atas segalanya karena cerita masa lalu.
"Yang bikin aku tidak habis pikir, mengapa Nora? Apakah tidak ada orang lain yang bisa dia nikahi?," geram Ana.
"Itu ... itu ... mengapa kamu tidak tanyakan ke Marius saja, Ana?"
"Ya ngapain aku nanya ke Marius, Nao. Itu urusannya dia. Aku cuma khawatir sama Rain. Kalau Rain diapa-apain sama Nora gimana?" Ana semakin marah jika mengingat apa yang sudah dilakukan Nora pada Rain.
"Kalau sampai Rain kenapa-kenapa, aku doain dia nggak bakalan nikah selamanya!," rutuk Ana.
"Kalau begitu, aku akan setiap hari kesini meminta kamu menikahiku."
Sebuah suara yang Ana kenali tiba-tiba mengagetkannya. Dia tidak bisa mempercayai kedua matanya sendiri. Dia hampir mengira dirinya sedang berhalusinasi. Bagaimana bisa dia melihat Marius saat ini?
Pria itu dengan santainya bersandar pada dinding kamarnya dengan kedua tangannya yang terlipat. Dengan pakaian yang biasanya dia kenakan saat bekerja, Ana masih melihat pesona Marius yang memukau di matanya, bahkan di saat dia tahu pria itu sudah bertunangan. Seketika itu juga Ana benar-benar membenci otaknya.
"Lama banget, sih? Aku sudah hampir mau membawanya menemuimu," kata Naomi yang terlihat kesal. Begitu melihat Marius, sahabatnya itu langsung berdiri menghampiri Marius, lalu pergi meninggalkan Ana dan Marius sendirian di dalam kamar.
"K-kamu ngapain d-disini?" Ana tidak tahu harus mengatakan apa. Di kepalanya saat ini cuma itu saja yang dipikirkannya. Apa yang pria itu lakukan di kamarnya saat ini?
"Mau meminta pertanggungjawabanmu."
Dalam hitungan detik, Marius sudah merekatkan bibirnya pada bibir mungil milik Ana. Tangan kanannya sudah berada di tengkuk Ana untuk menahannya agar gadis itu tidak bisa menolaknya. Marius tidak membiarkan Ana melepaskan diri darinya.
__ADS_1
Sedangkan Ana yang masih tidak bisa memproses apa yang sedang terjadi pada dirinya, hanya bisa melayangkan pukulan berulang kali dari tangannya ke dada bidang milik Marius. Tapi kemudian, tangan Marius menangkap tangannya itu. Ana semakin terjebak dalam kenikmatan yang diberikan Marius melalui ciumannya itu. Dia semakin tidak berdaya.
Marius berhenti sejenak dengan menyandarkan keningnya di atas kening Ana. Dia membiarkan gadis itu untuk bernapas. Setelah beberapa saat, Marius kembali mencium Ana. Kali ini, lebih dalam dari yang tadi. Bahkan Ana semakin kesulitan untuk bernapas.