
"Berikan kunci mobilmu. Aku akan menyuruh seseorang mengambilnya."
Ana menatap Marius yang ada di depannya saat ini. Dia sama sekali tidak menyadari kedatangan Marius.
"Marius ..."
Ana menatap Marius dan Noel secara bergantian. Keduanya sama-sama baik menawarkan bantuan untuknya. Tapi entah mengapa, perasaan Ana mengatakan dia tidak boleh memilih salah satu di antara mereka.
"Aku akan minta tolong Naomi nanti. Kamu pergilah ke atas, Rain ada di atas," kata Ana sambil memasukkan kunci mobilnya kembali ke dalam sakunya.
Cukup lama Marius terdiam menatap Ana. Selama itu pula, Ana tidak menghindar. Dia tetap berdiri di depan Marius, menatap Marius yang mungkin bertanya-tanya mengapa hari ini Ana tidak menghindarinya.
Meski demikian, Marius tidak banyak bertanya. Dia tetap melakukan apa yang diminta Ana. Setelah itu, Marius pergi meninggalkan Ana dan juga Noel menuju lantai atas.
Ana menunggu sampai Marius benar-benar tidak terlihat lagi. Tepat setelah Marius menghilang dari pandangannya, Ana langsung terduduk di atas kedua kakinya yang sudah lemas rasanya sedari tadi. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Saat Ana mendengar suara Marius, dia sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Marius. Dia berpikir untuk tidak menghindari menatap Marius hari ini. Ana takut jika dia menghindarinya lagi hari ini, Marius akan benar-benar berpikir jika dia sudah tidak ingin menemuinya. Padahal sebenarnya tidak.
Karena itu, meskipun Ana melihat semua kilasan ingatan itu saat melihat Marius. Meskipun kilasan itu terlihat seperti akan menyerangnya. Meskipun jantung Ana serasa sangat sakit karena terus berdentum dengan kerasnya. Dan meskipun kakinya sudah tidak kuat lagi menopangnya. Ana terus menahannya. Dia terus menatap Marius bahkan hingga Marius sudah tidak terlihat lagi.
"Ada apa? Apa kamu sakit?," tanya Noel yang ada di dekatnya. Begitu melihat Ana terduduk seperti itu, Noel langsung memeriksa Ana. Tangannya memegangi kening Ana untuk memeriksa apakah Ana demam atau tidak. Lalu, dengan sigap dia memegangi pergelangan tangan Ana untuk memeriksa denyut nadi Ana.
"Apakah dadamu terasa sakit? Detaknya cukup keras dan cepat," katanya lagi. "Ayo, kamu duduklah dulu. Aku akan ambilkan minum."
Noel memapah Ana untuk duduk di atas sofa sebelum dia pergi mengambilkan Ana segelas air. Ana ingin mencegahnya, tapi Noel bergerak lebih cepat.
Saat Noel kembali, sekali lagi dia memeriksa denyut nadi Ana setelah memberikan air pada Ana. Dia tidak berhenti menghitung denyut nadi Ana sambil memperhatikan jam tangannya.
"Aku tidak apa-apa," kata Ana sambil menarik tangannya untuk menghentikan apa yang dilakukan Noel.
__ADS_1
"Kamu yakin? Wajahmu terlihat pucat."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi aku benar-benar tidak apa-apa."
Noel tidak benar-benar percaya pada awalnya. Tapi Ana terus meyakinkan dia. Akhirnya, Noel sudah tidak mau memaksa lagi. Tapi Ana membiarkan Noel memeriksanya sekali lagi. Setelah dia merasa Ana semakin membaik, Noel pun pulang.
......................
Sepulangnya Noel, Ana pergi ke dapur menyiapkan beberapa minuman untuk dibawa ke atas. Tapi saat Ana membawanya, di kamar hanya ada Rain, Ryu, dan juga Lucas. Lagi-lagi, Ana menunjukkan raut wajah kekecewaannya.
Dari Lucas, Ana jadi tahu bahwa Marius hanya mampir untuk melihat Rain dan juga Ana. Dia pulang lebih dulu saat Ana sedang di dapur. Marius bahkan tidak mau menunggu Ana untuk mengatakan sesuatu.
"Apa yang kamu harapkan? Ucapan terima kasih? Jangan jadi orang yang perhitungan, Ana," bentak Ana pada dirinya sendiri.
Bahkan ketika dia sudah berusaha untuk bertahan menatap Marius lebih lama, tetap saja Ana merasa begitu jauh dengan Marius.
Sebelum Lucas pulang membawa Rain, dia sempat bercerita tentang kejadian waktu itu, tentang siapa Dylan dan alasannya mengapa dia melakukan itu.
Dari cerita itu Ana memikirkan bagaimana perasaan Rain jika dia mengetahui semua itu. "Apakah Valerie tidak pernah memikirkan perasaan Rain? Apakah Rain bisa mengatasinya?"
Lalu kemudian, Ana teringat kembali kata-kata Naomi tadi sewaktu dia menjemput Ryu.
"Ada banyak hal yang terjadi saat ini, Ana. Gosip-gosip itu sepertinya benar-benar menggoyangkan DYNE. Untuk pertama kalinya setelah 10 tahun lebih, nilai saham DYNE turun. Meski tidak terlalu besar, tapi itu cukup bagi semua orang untuk tahu bahwa DYNE tidak baik-baik saja."
"Apakah Marius bisa mengatasinya?," tanya Ana yang terlihat khawatir.
"Jika itu Marius, aku yakin dia pasti bisa. Semua orang tahu kemampuannya. Karena itu dia bisa membawa DYNE ke puncak kejayaannya. Tapi ... itu jika gosip-gosip itu tidak ada."
"Maksudmu ... "
__ADS_1
"Jika gosip tentang Rain dan Valerie masih terus muncul, Marius akan benar-benar kesulitan. Tidak ada pernikahan antara dia dan Valerie. Lalu sekarang ada Rain. Ini baru awal, Ana. Mereka pasti akan terus membuat gosip ini semakin panas. Terutama jika melihat reaksinya sebesar ini. Bahkan nilai saham DYNE ikut terpengaruh."
"Bagaimana bisa sebuah gosip menyebabkan itu semua?"
"Bukan gosipnya. Tapi Valerie."
"Valerie?"
"Dia adalah skandal terbesar dalam dunia hiburan. Semua yang berhubungan dengannya pasti akan menjadi terkenal, tapi karena skandal. Ini baru gosip. Dan jika gosip itu ternyata benar, Rain adalah anak Marius, maka Marius akan terjebak dalam skandal itu. Dan semua yang ada di sekitarnya akan terseret ke dalamnya, termasuk juga DYNE. Lalu, lama kelamaan akan hancur secara perlahan."
"Tapi, Rain bukan anak Marius. Apakah itu akan tetap mempengaruhinya?"
"Jika Marius bisa membuktikannya, mungkin masih bisa diperbaiki. Tergantung bagaimana Marius mengatasinya."
"Apa yang sudah Marius lakukan?"
"Secara publik? Tidak ada. Tapi di belakang semua orang, dia sedang berusaha memadamkan apinya. Kamu bisa lihat sendiri tadi siang. Semua wartawan itu ... itu belum semuanya."
"Sebegitu banyaknya ... belum semua?," tanya Ana yang terkejut tidak percaya mendengar penjelasan Naomi. "Seberapa banyak jika semuanya ikut turun?"
"Beberapa perusahaan yang masih bisa dikontrol Marius, pasti tidak akan gegabah mengeluarkan berita tentang DYNE. Tapi meskipun begitu, tidak bisa terlalu lama. Karena jika ini menjadi terlalu panas, mau tidak mau mereka pasti akan melakukannya juga. Terutama jika bukti-bukti sudah dikeluarkan. Mereka tidak akan punya pilihan lain."
"Termasuk ... WINZ?"
"Jangan khawatir, Ana. WINZ berada di bawah kepemimpinanku. Jika hal itu terjadi, aku akan melakukan segala cara untuk membantu Marius. Aku akan menjadi pendukung Marius mu dari belakang," kata Naomi seraya menepuk pundak Ana.
Dari Naomi, Ana jadi tahu seberapa besar beban yang harus ditanggung Marius saat ini. Dan perasaan bersalah itu muncul saat dia memikirkannya. Bagaimana tidak? Jika seandainya Ana berada di rumah Marius saat ini, mungkin Marius akan punya seseorang untuk berbagi. Tapi sekarang ... Ana berada di rumahnya sendiri. Bagaimana dia membantunya?
"Marius ... Rain ... mengapa kalian harus menghadapi ini semua? Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian?"
__ADS_1