
Perjalanan menuju rumah sakit bukanlah perjalanan yang singkat, meskipun mobil yang Ana tumpangi sudah dilajukan sangat kencang oleh Marius.
Mereka mengikuti ambulans yang membawa Rain. Suara sirine ambulans terus meraung selama perjalanannya hingga membelah jalan menjadi dua, agar ambulans itu bisa terus melaju melewati para pengendara lainnya.
Ana yang biasanya sangat takut jika berada dalam kendaraan yang melaju kencang, tapi kali ini dia tidak menghiraukan itu semua. Matanya terus mengunci ambulans kemana pun dia bergerak. Marius bahkan tidak membiarkan ambulans itu hilang dari pandangannya.
Ana langsung turun dan berlari mengejar Rain yang akan dibawa entah kemana. Dalam kerumunan orang-orang berjas putih, Ana melihat sosok Noel.
"Aku kebetulan ada disini, jadi aku akan menangani Rain. Kita akan melakukan pemeriksaan dulu, baru nanti akan diputuskan tindakan selanjutnya. Kalian tunggulah disini. Aku akan segera kembali."
Begitu kata Noel sebelum akhirnya dia menghilang dalam lorong panjang bersama dengan para dokter dan perawat yang membawa Rain bersama mereka.
Marius yang datang setelahnya langsung memeluk Ana yang sudah terduduk di atas kedua kakinya. Bayangan terburuk saat melihat Rain dibawa pergi membuatnya sulit menahan air matanya meski dia terus memaksanya agar tidak turun. Seketika itulah, kedua kakinya kehilangan tenaganya.
Tak lama kemudian, Naomi dan Lucas datang bersamaan. Melihat Naomi yang datang, Marius beranjak dari tempat duduknya dan membiarkan Naomi bersama Ana.
Di saat mereka menunggu Noel atau siapapun itu yang akan keluar memberikan kabar untuk mereka yang menunggu, Ana melihat Valerie sedang berdiri terpaku dengan raut wajah yang tidak Ana pahami.
"Apakah dia bersedih? Seharusnya tidak, kan? Mengapa dia peduli jika terjadi sesuatu pada Rain? Dia bahkan tidak peduli jika Rain bersedih", pikir Ana.
Ana beranjak dari tempat duduknya. Dengan langkah gontainya, dia berjalan menghampiri Valerie.
"Mengapa tatapanmu seperti itu? Mengapa kamu terkejut?," tanya Ana. Kedua tangannya meraih baju Valerie, lalu menariknya.
"Ini kan yang kamu mau? Ini kan yang kamu inginkan? Kamu hanya ingin Dylan, kan?," teriak Ana yang kembali menangis.
Valerie hanya diam menerima semua kemarahan Ana. Dia tidak lagi terlihat pintar berkata-kata seperti dulu saat Ana memintanya untuk berhenti menyakiti Rain.
Lalu, Marius mendatangi Ana. Dia memeluknya dan memintanya untuk melepaskan Valerie. Bukan untuk melindungi Valerie dari Ana, tapi untuk melindungi Ana dari rasa marah yang akan membuatnya semakin hancur.
Tepat di saat itu, dengan pakaian scrub birunya, Noel keluar menemui Ana dan juga Marius.
"Kondisinya saat ini benar-benar kritis. Ada pendarahan yang parah di bagian dada dan perut. Kita harus melakukan operasi secepatnya sebelum menggumpal dan membuatnya semakin parah."
Ana menarik napasnya sekaligus saat mendengar penjelasan Noel. Dia tidak dapat membayangkan rasa sakit yang harus diterima Rain saat ini.
__ADS_1
"Lakukan. Lakukan apa saja untuk menyelamatkannya," kata Marius yang mungkin terlihat tenang, tapi suaranya terdengar sebaliknya.
"Tapi kita akan membutuhkan banyak darah selama proses operasi ini. Dan saat ini ..."
"Aku AB positif!," seru Ana, tanpa menunggu Noel menyelesaikan kalimatnya itu. Dia masih ingat golongan darah Rain dari file yang pernah Marius kirimkan padanya saat pertama kali dia menjadi pengasuh Rain.
"A-aku A," kata Valerie tiba-tiba. "B-bisa, kan?"
"Kita akan periksa lebih dulu," kata Noel seraya memerintahkan perawat untuk membawa Ana dan Valerie.
Marius yang ternyata bergolongan darah B, menyusul mereka kemudian.
"Aku akan mencari pendonor lain. Mungkin kita akan membutuhkan lebih dari ini," kata Lucas sebelum Marius pergi.
"Aku juga," sahut Naomi.
Marius hanya menganggukkan kepalanya. Tapi, dalam hatinya, dia sangat berterimakasih dengan semua yang dilakukan oleh Lucas dan Naomi.
Setelah lima jam proses operasi dilakukan, Noel keluar lagi menemui Ana dan Marius yang sudah kembali menunggu setelah mendonorkan darah mereka.
"Operasinya bisa dibilang berhasil. Jantungnya sempat berhenti sekali. Tapi syukurlah, dia bisa kembali. Saat ini kita hanya bisa menunggunya melewati masa kritisnya. Jika dia bisa melewatinya, semuanya akan baik-baik saja," jelas Noel.
Dan sekarang, masa kritis yang harus dihadapi Rain. Setelah melewati semua itu di atas meja operasi, apakah kini dia bisa melewatinya?
Noel sepertinya memahami apa yang dipikirkan Ana. Dia memegang kedua bahu Ana, membuatnya berdiri tegak untuk menatapnya.
"Rain adalah anak yang kuat. Dia punya semangat hidup. Tidak mudah membawanya kembali. Tapi, dia kembali. Dan saat kembali, dia memanggil Mommy. Kamu yang tahu siapa yang dia maksud. Dan aku yakin, itulah alasannya kembali. Jadi ... percayalah padanya."
Kedua mata Ana kembali bersinar bukan karena air matanya, tapi karena rasa percayanya pada Rain. Ana mulai punya keyakinan bahwa Rain akan melewatinya.
Noel pun tersenyum melihat perubahan itu. Dia melepaskan pegangannya dan membiarkan Ana berbagi rasa percayanya pada Marius yang ada di sampingnya.
"Aku akan memberitahu perawat untuk mengijinkan kalian masuk sebentar saja. Katakan sesuatu padanya, meski dia belum membuka matanya. Dia pasti akan mendengarnya," kata Noel untuk terakhir kalinya sebelum dia kembali masuk ke dalam.
......................
__ADS_1
Tit ... tit ... tit ...
Suara mesin monitor mendominasi seluruh ruangan itu. Ana yang sudah mengenakan pakaian khusus saat memasuki ruangan berjalan perlahan menghampiri Rain yang kini tengah berbaring tidak berdaya.
Kedua matanya tertutup. Mulut dan hidungnya tertutupi masker ventilator. Infus mengalir melalui selang kecil yang menusuk punggung tangan mungilnya.
Air mata Ana turun perlahan, tapi dia hapus segera. Ana tidak ingin dirinya menjadi lemah untuk saat ini. Kembali dia kuatkan dirinya.
Perlahan, Ana mendekati Rain. Meraih tangan mungilnya, lalu memeganginya. Dengan lembut, dia mengusap tempat dimana jarum infus menusuknya. Berharap rasa sakitnya akan berkurang ketika dia melakukan itu.
"Cepatlah sadar, Rain ... Kita akan pulang ke rumah setelah ini," ucap Ana lirih.
Air mata Ana lagi-lagi turun membasahi wajahnya. Tapi kemudian dia segera menghapusnya. Marius yang berada di belakangnya memegangi kedua sisi bahu Ana seakan sedang memberinya kekuatan. Ana kembali menegakkan tubuhnya.
Setelah beberapa saat berada di dalam, Ana dan Marius akhirnya keluar dan menunggu di ruang tunggu. Naomi dan Lucas masih di sana. Begitu juga dengan Valerie.
Naomi memberikan segelas susu dan sekotak makanan untuk Ana. Rupanya dia pergi membeli makanan saat Ana dan Marius masuk ke dalam.
Ana memperhatikan kotak makanan yang diberikan Naomi itu. Dia lalu memperhatikan Valerie yang sedang duduk sendiri di ujung lain ruang tunggu itu.
Tiba-tiba Ana merasakan tangan Naomi mengusap punggungnya. Naomi hanya menganggukkan kepalanya, Ana dapat memahami maksud Naomi itu.
Ana lalu berdiri menghampiri Valerie dengan kotak makan dan minuman yang diberikan Naomi tadi. Dia berdiri di hadapan Valerie hingga Valerie menatapnya, kemudian dia sodorkan makanan dan minuman itu.
Valerie yang hanya memandangi Ana, tidak tahu harus menerima atau menolak pemberian itu. Tapi Ana tidak menunggunya menjawab. Dia hanya meletakkannya di atas pangkuan Valerie, lalu pergi meninggalkannya, tanpa mengatakan apapun.
Valerie lalu meneteskan air matanya saat Ana pergi. Dia buka kotak makan itu, lalu menyuapi dirinya sendiri dengan air mata yang masih berlinang.
Dari kejauhan, Ana hanya tersenyum melihat Valerie yang sedang menyantap makanannya. Lalu kemudian menikmati makanannya sendiri.
......................
Beberapa jam kemudian, Ana yang tertidur di pangkuan Marius menjadi terbangun karena Noel kembali datang memberikan kabar terbarunya.
"Rain sudah sadar," kata Noel dengan wajah sumringahnya.
__ADS_1
Ana bahagia mendengarnya. Dia hampir melompat kegirangan karena kabar ini.
"Dan dia ingin bertemu mommy dan juga daddy nya."