Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 59


__ADS_3

Ana tidak bisa berpikir dengan jernih saat Marius merebut semua kata yang ingin diucapkannya. Ketika bibirnya seakan dikunci oleh Marius, pria itu seperti menelan semua kata-kata yang siap untuk diutarakannya.


Sekali lagi, Marius melepaskan Ana dan bersandar pada keningnya. Saat itu juga, Ana mendorong Marius dengan keras.


"P-pertanggungjawaban a-apa? A-aku tidak punya k-kesalahan apapun yang harus dipertanggungjawabkan," bentak Ana. Dia masih mengatur napasnya yang sudah kocar-kacir karena ulah Marius tadi.


"Kamu baru saja mengutukku, Ana. Apa kamu lupa? Kamu mendoakan aku tidak menikah selamanya," kata Marius dengan santainya. Dia sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.


"B-bagaimana bisa itu jadi s-salahku?"


Marius menghela napasnya. Dia memperlihatkan raut wajahnya yang penuh dengan kesedihan.


"Kamu tahu kan, Ana? Kalau aku tidak menikah, bagaimana aku bisa memberikan adik untuk Rain? Istriku setidaknya harus bisa melahirkan se ..."


"AAAHHH .... Hentikan!"


Kedua tangan Ana seketika menutup mulut Marius untuk menghentikannya menyelesaikan kalimatnya itu. Akibatnya, Ana tidak bisa menyembunyikan wajahnya sendiri yang kini sudah sangat kemerahan.


"I-itu semua salahmu sendiri. K-kamu tahu Nora, tapi kamu malah bertunangan dengannya."


Marius melepaskan dirinya dari bekapan tangan Ana. Kemudian dia menyandarkan kepalanya di atas bahu Ana.


"Aku harus bagaimana, Ana? Aku maunya kamu, tapi kamu terus menolakku."


"S-siapa bilang?"


Marius langsung mengangkat kepalanya. "Jadi kamu mau?"


"A-aku ... aku ... aahh, kamu sengaja mengerjaiku, kan?"


Marius menangkap Ana yang terus menerus memukulnya. Dia mendekapkan Ana dalam pelukannya.


Ana merasa dirinya kembali terjebak dalam kehangatan yang diberikan Marius.


"Aku sangat senang kamu sudah tidak lagi menghindariku, Ana," kata Marius dengan suaranya yang dalam.


Mendengar Marius mengatakan itu, Ana tiba-tiba saja menyadari, sedari tadi tidak terjadi apapun padanya. Tidak ada kilasan memori yang muncul di kepalanya.


"B-benar juga ... Terapinya berhasil ...," kata Ana yang pasrah dalam pelukan Marius. Dia juga senang ketika menyadari hal itu. Tapi terlalu senang hingga dia tidak bisa mengungkapkannya.


"Tunggu ..." Ana kembali mendorong Marius untuk melepaskan dirinya dari pria itu. "Kamu belum menjelaskan mengapa kamu ada disini?

__ADS_1


"Menemui nyonya rumahku," jawab Marius dengan santainya.


"J-jangan bercanda, Marius!," bentak Ana kesal.


Kali ini Marius sadar sudah bukan waktunya lagi untuk bercanda, atau gadis yang ada di depannya ini akan benar-benar marah.


"Aku kemari karena aku ingin kemari. Memang seharusnya aku ada disini. Sudah terjawab?"


"Tidak! Bagaimana bisa kamu kemari? Kamu baru bertunangan."


"Pertunangan itu hanya sebuah perjanjian."


"P-perjanjian? Kamu bohong. Perjanjian apa?"


"Mengapa aku harus berbohong? Aku membutuhkan pertunangan itu untuk menghentikan semua rumor-rumor itu."


"T-tapi ... tapi mengapa Nora?"


"Karena ARK Group adalah grup perusahaan besar selain DYNE. Ada grup besar lainnya, tapi mereka tidak punya wanita yang bisa kuajak kerjasama. Jadi, hanya Nora satu-satunya pilihan. Jika kedua grup ini disatukan maka tidak akan ada yang bisa membantahnya. Rumor itu akan berhenti dengan sendirinya."


Marius kembali menyandarkan kepalanya di bahu Ana. "Aku inginnya kamu, Ana. Tapi, kamu sendiri sedang dalam posisi yang tidak aman. Kamu hanya akan semakin tidak aman jika aku paksa kita bertunangan."


"Semua ini untuk melindungimu. Agar mereka berhenti mengganggumu," kata Marius yang masih bersandar pada bahu kecil Ana.


Ana tidak tahu dia harus senang atau sedih. Tapi yang jelas, air mata yang sedari tadi tidak mau keluar meskipun dia memaksanya, kini keluar dengan sukarela bahkan Ana tidak menginginkannya keluar. Seketika itu juga, Ana meraung-raung dalam tangisnya.


Marius terkejut melihat Ana yang sudah beruraian air mata, terutama ketika tangisnya semakin pecah dan keras. Meski Marius memanggil namanya, Ana terus saja menangis tanpa mempedulikan apapun.


"Itu artinya ... sekarang aku resmi menjadi pelakor ...," raung Ana.


Marius hanya tertawa mendengar Ana mengatakan itu. Perlahan dia menarik Ana dalam pelukannya dan membiarkan Ana menangis di atas dadanya yang bidang itu. Di dalam pelukan hangatnya itu, Marius terus membelai lembut kepala Ana, lalu menciuminya dengan lembut.


Perlahan-lahan, tangisan Ana mulai mereda. Sedikit demi sedikit, dia mulai memikirkan kembali apa yang sudah disampaikan Marius padanya. Beberapa hal bisa dia pahami, tapi beberapa lagi membuatnya semakin tidak tenang.


"Tapi, tapi ... itu artinya kalian akan menikah, kan?," kata Ana yang masih terisak menahan tangisnya. Dia melepaskan pelukan Marius dan kembali menatap pria itu.


"Kenapa? Kamu takut aku akan menikahinya?," goda Marius.


Ana memukuli Marius lagi. "Aku serius bertanya." Dia menatap kesal pada Marius yang bahkan di saat seperti ini pria itu tidak berhenti menggodanya.


"Status ini hanya untuk setahun. Setelah aku membantu mereka dalam beberapa proyek kerjasama, meskipun tidak sampai setahun, perjanjian itu akan dianggap selesai. Dan pertunangan itu akan dibatalkan."

__ADS_1


Kedua tangan Marius memegangi wajah Ana yang sudah basah dengan air matanya sendiri. Dia menghapus air mata itu dengan penuh kelembutan. Marius menatap Ana dengan tatapannya yang penuh cinta. Ana dibuat terbuai oleh kedua mata itu.


"Bagaimana bisa aku menikahi orang lain, Ana? Aku terus ingat ada gadis kecil yang selalu mengatakan ingin menikah denganku suatu hari nanti."


"K-kamu ..."


"Kamu mengira aku melupakannya? Lalu, untuk apa aku kembali kesini dari Perancis? Tentu saja, untuk menagih janji gadis itu. Aku juga khawatir dia tidak menikah karena menungguku. Tapi, ternyata ... dia malah melupakannya. Seharusnya aku memang jangan percaya dengan ucapan anak umur 4 tahun," kata Marius yang masih saja belum bosan menggoda Ana.


"Aku tidak lupa. Aku hanya tidak ingat," omel Ana lirih sembari mengalihkan pandangannya dari Marius.


Marius hanya tersenyum memandangi raut wajah Ana yang saat ini terlihat begitu menggemaskan di matanya. Entah itu saat gadis itu sedang marah ataupun kesal, Marius tidak pernah bosan berhenti menatapnya.


......................


(flashback on)


#


"Kenapa sih kamu selalu mengikutiku?," kata Marius kecil kesal.


"Mama Agnes bilang, aku dan kamu akan menikah di masa depan. Jadi, aku harus mengikutimu," ucap Ana dengan polosnya.


"Dengar, ya. Siapa yang bilang aku mau nikah sama kamu? Berhenti mengikutiku. Aku tidak akan menikahi orang jelek seperti kamu."


"Kata Mama, aku cantik, kok. Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Nanti aku yang akan menikahimu. Kamu tetap adalah pangeranku."


#


"Lepaskan aku! Aku mau ketemu Ana! Aku sudah janji padanya!," teriak Marius. Dia terus berontak melepaskan dirinya dari pegangan semua orang yang ingin menahannya.


"Jangan, Marius. Kamu tidak bisa menemuinya saat ini. Ana masih histeris mengingat kejadian itu. Kalau kamu menemuinya, dia akan semakin histeris," kata Ernest, ayahnya.


"Tapi, tapi ... Aku sudah berjanji padanya, Pa. Aku janji ... kalau kita keluar dari sana ... aku akan menikahinya suatu hari nanti," tangis Marius.


"Maafkan mama, sayang," isak Agnes memeluk putranya itu. "Maafkan mama ... tapi saat ini kalian tidak bisa bertemu. Bahkan mama juga tidak bisa menemuinya."


"Pergilah ke Perancis, Marius. Setelah kamu menyelesaikan pendidikanmu, kamu bisa kembali kesini. Berdoalah, mungkin setelah itu, Ana sudah baik-baik saja. Dan kalian pasti akan bertemu kembali."


#


(flashback off)

__ADS_1


__ADS_2