
Sehari setelah kepergian Eli, Marius mendatangkan seorang kepala pelayan. Kali ini, dia adalah seorang pria.
"Selamat pagi, Nona Ana, Nona Muda Rain ..."
Ana hampir teriak karena terkejut saat kepala pelayan itu menyapanya. Karena saat dia melakukannya, Ana baru saja keluar dari kamar Rain. Dan kepala pelayan itu sedang berdiri tepat di depan pintu kamar Rain, dengan beberapa orang pelayan di belakangnya.
"S-selamat pagi ...," kata Ana yang juga membungkukkan badannya untuk membalas sapaan kepala pelayan itu.
"Namanya Sebastian Abraham Montinawa. Kamu bisa memanggilnya Tian. Dia adalah cicit dari kepala pelayan terdahulu yang pernah melayani keluarga Hadinata," kata Lucas yang saat ini sedang menggendong Rain yang langsung berlari menghampirinya begitu melihat Lucas.
Ana menjadi terkesima dengan semua dedikasi itu. Ana menjadi lebih tidak bisa berkata-kata saat dia memandangi pria muda tampan yang ada di hadapannya saat ini. Dia bisa memperkirakan umur pria ini di kisaran 25 tahun ke atas.
"Dari kakek buyut hingga cicit, semuanya bekerja untuk keluarga Hadinata. Aku lebih penasaran berapa gajinya hingga mereka mau melakukannya di setiap generasi?," pikir Ana.
"Sebaiknya kamu berhenti menatapnya seperti itu, atau dia akan kehilangan pekerjaannya karena seseorang akan memecatnya di hari pertamanya bekerja," kata Lucas
"Hah?" Ana melongo mendengar pernyataan Lucas. "Apa maksudmu dipecat?"
Tapi, Lucas hanya tertawa, dan Ana hanya semakin penasaran dengan ucapan Lucas tadi.
"Marius memintanya untuk menemuimu dan juga Rain agar kalian bisa berkenalan. Ke depannya, dia yang akan menggantikan tugas Eli," jelas Lucas.
"Semoga saya bisa bekerja dengan baik untuk melayani Nona Ana dan juga Nona Muda Rain," kata Tian.
"Ahaha ... saya cuma pengasuh, Rain yang paling utama," jawab Ana gugup.
"Jika ada yang Nona Ana butuhkan, Nona bisa katakan pada saya," kata Tian lagi.
Masuknya Tian sebagai kepala pelayan membawa perubahan yang cukup besar di rumah Marius. Karena Marius memerintahkan Tian untuk melakukan banyak hal selain tugas-tugas Eli sebelumnya, termasuk mengganti semua pelayan yang berhubungan dengan masalah Eli.
Di hari pertamanya bekerja, Tian bertugas menyeleksi ulang semua pelayan dan mengeluarkan pelayan yang dianggap tidak lagi pantas. Hasilnya, lebih dari separuh pelayan dari total 130 pelayan terpaksa harus diganti.
"Ini harus dilakukan, agar tidak ada lagi benih perusak yang masih tersimpan," jelas Lucas.
Dan perubahan yang paling besar dirasakan Ana adalah bagaimana Tian dan para pelayan yang berada di bawah kepemimpinannya, memperlakukan Rain.
Ana melihat sendiri bagaimana Rain diperlakukan selayaknya putri seorang kepala keluarga. Mereka melayaninya dengan senyuman, mengajaknya bercanda, bermain, atau hanya sekedar mengobrol. Mereka berusaha menyenangkannya. Kini, Rain layaknya seorang putri di istananya sendiri.
"Selamat malam, Nona Ana, Nona Muda. Chef di dapur bertanya, apakah Nona Muda ingin makan sesuatu yang disukai?," tanya seorang pelayan.
Rain hanya terdiam memandangi dua orang pelayan yang ada di depannya.
"Hmm ... Rain pengen makan apa?," tanya Ana yang melihat Rain sepertinya masih belum terbiasa dengan perlakuan seperti ini.
Rain hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ehm ... gimana kalau baked salmon. Rain suka banget sama salmon, kan?," tanya Ana lagi.
Rain langsung menganggukkan kepalanya.
"Untuk dessertnya, Rain pengennya apa?," tanya Ana untuk memancing Rain berbicara.
Cukup lama anak itu merenung mencari jawaban. Tapi, Ana biarkan dia melakukan itu. Ana ingin Rain bisa mengemukakan sendiri apa yang dia sukai.
"... coklat ...," jawab Rain lirih.
"Ehm ... cake? mousse? atau pudding?,"
"... pudding ..."
Ana cukup puas dengan jawaban Rain, meski belum sempurna benar. "Tapi ini adalah permulaan yang bagus," pikir Ana.
"Bagaimana dengan Nona Ana?"
"Ah ... tidak perlu repot-repot. Saya akan makan apa saja yang dihidangkan chef malam ini."
"Baiklah, akan saya sampaikan pada chef," kata pelayan itu sambil mohon pamit untuk undur diri.
Selepas pelayan-pelayan itu pergi, Ana membelai lembut kepala Rain dan berkata, "Anak pintar."
......................
Saat jam makan siang di sebuah restoran, terlihat Marius sedang menanti seseorang bersama Lucas.
"Tuan Barnett benar-benar orang yang gigih," kata Naomi kesal yang langsung duduk di sofa yang ada di depan Marius. Siska, sekretarisnya menyusul Naomi dengan duduk di sebelahnya.
"Dia menelponku 145 kali!," gerutu Naomi.
Lucas yang ada di sebelah Marius hanya tertawa mendengarkan Naomi bercerita. Sedangkan Marius hanya memamerkan senyum seringainya.
"Bagaimana dengan Tuan Winata? Apakah dia tidak keberatan?," tanya Marius.
"Antara kamu dan Tuan Barnett? Tentu saja dia akan memilihmu. Selebihnya adalah keputusanku," jawab Naomi dengan senyum sinisnya.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Apa kamu akan menarik semua berita itu?"
Senyum Naomi menjadi semakin menyeramkan. Bahkan Siska pun takut dibuatnya. "Kamu kira aku sebodoh itu? Aku tidak akan melepaskan orang yang berani mengganggu Ana ku. Aku akan membuat berita itu semakin panas. Terlalu panas hingga sulit untuk dipadamkan."
Marius terlihat sangat puas dengan jawaban Naomi.
"Minggu depan akan ada pertemuan untuk semua investor yang bergabung dalam AWP Projects. Project baru dari DYNE Group untuk pembangunan sebuah hotel dan apartemen baru di New York. Kuharap kamu akan datang. Lucas akan memberitahu waktu dan tempatnya."
__ADS_1
Lucas dan Siska segera melakukan tugas mereka untuk para atasan mereka masing-masing.
Sedangkan Marius dan Naomi, mereka masih terus membicarakan soal kerjasama bisnis mereka. Sejak mereka bertemu pertama kali di Lorenzo Vinz, pertemuan mereka selanjutnya lebih sering membicarakan tentang bisnis.
Bagi Marius, baik itu tentang Ana maupun tentang bisnis, Naomi adalah orang yang paling bisa diandalkan. Salah satunya adalah ketika dia harus menangani Nora. Naomi dan WINZ Group lah yang paling banyak berperan. Memiliki dukungan dari satu-satunya grup perusahaan teknologi informasi terkuat memang sangat menguntungkan, pikir Marius.
Sudah dua jam lebih, mereka duduk bersama dan melakukan pembicaraan yang sangat panjang. Marius dan Lucas juga sudah mengakhiri pertemuan mereka untuk pertemuan berikutnya. Tapi, saat Marius baru akan beranjak dari tempat duduknya, Naomi menahannya.
"Hampir saja lupa. Ini ...," kata Naomi sambil meletakkan sebuah amplop coklat di atas meja yang ada di tengah-tengah kursi sofa mereka.
"Ini adalah informasi tentang Noel yang kamu minta tempo hari," lanjut Naomi.
Lucas terlihat tidak memahami topik pembicaraan mereka. "Noel?," tanyanya heran.
Marius yang akan beranjak akhirnya tidak jadi, dan malah tertarik dengan topik yang akan dibahasnya dengan Naomi selanjutnya.
"Noel Putra Fernando, putra pertama dari Tuan Fernando, satu-satunya pewaris OASIS Group, grup perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan."
"Dia adalah seorang dokter anak, dan memiliki beberapa rumah sakit, salah satunya, tempat Rain dirawat kemarin."
"Duda, 32 tahun, punya satu putra, dikenal sebagai penggoda wanita. Ada banyak rumor yang beredar tentang dia dengan beberapa wanita. Tapi, sepertinya tidak ada yang benar. Karena rumor berikutnya mengatakan dia masih sangat mencintai almarhum istrinya. Dia meninggal saat melahirkan Arsen."
"Menurutku, dia orang baik," kata Naomi sambil memegangi dagunya.
"Orang baik?," tanya Marius serasa tidak percaya mendengar seorang Naomi mengatakan hal itu.
"Hmm ... orang baik. Tampan, pintar, kaya, semua bibit, bebet, dan bobotnya sudah tidak perlu diragukan lagi."
"Jadi maksudmu kamu akan membiarkan dia mendekati Ana?," tanya Marius lagi.
Naomi menganggukkan kepalanya."Tentu saja. Tidak masalah kalau dia menyukainya."
Marius mulai terlihat kesal. "Lucas!," panggil Marius hingga membuat Lucas terkejut.
"Beri tahu Tian untuk mencari pelayan yang akan menunggu Rain di sekolah. Mulai besok Ana tidak perlu mengantarkan Rain ke sekolah!," perintah Marius kesal lalu beranjak pergi meninggalkan Naomi.
Naomi hanya tersenyum bangga dengan apa yang sudah diperbuatnya. Dia merasa seperti sedang memegang trofi kemenangannya.
"Kamu sengaja melakukannya, kan?," tanya Lucas.
Naomi malah memamerkan senyum seringainya. "Ana ku memang luar biasa. Rasanya menyenangkan melihat seorang Marius yang kesal karena Ana."
Lucas tertawa geli melihat hal itu. Untuk pertama kalinya dia menemukan seseorang yang sama dengannya, yaitu senang melihat wajah Marius saat kesal.
Tapi Lucas tidak bisa berlama-lama menertawakan Marius, karena saat ini Marius benar-benar kesal memanggil dirinya, yang bahkan hampir berteriak.
__ADS_1