
"A,a ... ini sudah menyala, ya?"
Wanita dengan wajahnya yang ramah tiba-tiba muncul pada layar putih itu.
"Itu sudah menyala, Nyonya," kata suara pria yang ada di samping kamera.
"Oh, benarkah? Ahaha ... aku benar-benar bodoh soal ini."
"Nyonya ..."
"Ah, iya. Maaf, maaf ... Hai semua ...," kata Agnes dengan senyumnya yang lebar seraya melambaikan tangannya.
"Oke, serius. Selamat ... siang. Karena disini masih siang. Saya Agnes de Montague. Saya adalah ibu kandung dari Adam Desmond Hadinata dan Marius Edmond Hadinata."
"Mereka berdua ... adalah mutiara berhargaku. Aku sangat menyayangi mereka." Agnes menyeka air matanya.
"Ah, sayangnya aku tidak bisa memiliki anak perempuan. Padahal aku ingin anak perempuan." Agnes terlihat kesal karena itu.
"Tapi, ada satu anak perempuan yang aku sangat aku sukai. Dia putri dari sahabatku juga. Sejak aku melihatnya, aku tahu, kelak dia akan menjadi anakku juga. Dan ketika aku melihat salah satu putraku bertemu dengannya saat dia baru lahir, mereka terlihat sangat menggemaskan ketika bersama. Tangan mereka ... aahh ... aku langsung tahu mereka memang diciptakan untuk bersama."
"Beberapa hari terakhir ini, aku selalu merasa aku mungkin tidak akan bisa melihat mereka menikah. Karena itu, aku memutuskan untuk merekam ini semua."
Agnes kembali merapikan caranya duduk di depan kamera.
"Saya, Agnes de Montague, menginginkan Adriana Tanuwijaya, putri dari Doni Tanuwijaya dan Alyana Maharani sebagai menantuku untuk putra keduaku, Marius Edmond Hadinata. Aku ingin mereka menikah dan bahagia bersama sebagai bagian dari keluarga Hadinata."
"Tidak ada yang boleh menentang keputusan ini, ataupun merubah wasiatku ini, termasuk juga Ernest. Karena itu, jika suatu saat nanti mereka menikah, saham DYNE yang aku miliki sebesar 30% akan aku serahkan pada Adriana Tanuwijaya."
"Tapi, jika pada akhirnya mereka tidak menikah, seluruh aset dan anak perusahaan DYNE, termasuk saham Ernest dan milikku, akan didonasikan pada seluruh instansi kemanusiaan secara merata. Dengan demikian, DYNE tidak lagi akan menjadi sebuah grup perusahaan raksasa."
"Dokumen pengesahannya sudah disiapkan oleh pengacara dan ditandatangani olehku dan juga Ernest. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, tidak ada seorangpun yang akan bisa mengubah keputusanku ini."
"Untuk Ana ... sudah lama aku ingin mengatakan ini jika suatu saat nanti kamu datang ke rumah sebagai istri Marius. Tapi mungkin, aku tidak akan sempat mengatakannya."
Agnes menarik napasnya, lalu menghembuskannya perlahan.
"Selamat datang di keluarga Hadinata, Ana sayang ..."
"Sudah selesai? Matikan, matikan. Bye, semua ..."
................
Ana masih memperhatikan layar putih yang masih menggantung di atas langit meski video itu sudah tidak lagi terputar. Dia masih tidak percaya Mama Agnes yang dia kenal akan membuat wasiat seperti itu. Kedua tangannya menutupi bibirnya yang terus menganga karena rasa kagetnya itu.
__ADS_1
"Ini tidak mungkin! Bagaimana bisa Nyonya Agnes membuat keputusan seperti itu? Ini benar-benar konyol! Ini benar-benar gila," teriak Tuan Hartono mengungkapkan kekesalannya.
Tapi, kemudian ...
"Hahaha ..." Tawa Mr. Wang menutupi suara bisikan yang terdengar setelah video itu selesai diputar. "Ini benar-benar Agnes. Hanya Agnes yang bisa begitu. Bahkan Ernest tidak akan bisa melawannya. Kalian yang sudah cukup lama berada di DYNE, tentu tahu bagaimana Agnes. Hahaha ..."
Hampir semua orang menganggukkan kepalanya, menyetujui pernyataan Mr. Wang itu.
Ana dapat merasakan suasana di dalam ruangan itu sudah mulai memanas. Dia dapat merasakan semua mata yang ada di ruangan itu sedang menatap dirinya, mempertanyakan siapa dirinya, hingga bisa menjadikan raksasa DYNE berubah menjadi kertas yang dilumat kecil. Ana sudah ingin pergi dari situ rasanya.
"Hmm ... jadi menurutmu, jika kamu melakukan ini, aku akan membatalkan pernikahan ini? Hahaha ... Tentu saja tidak. Kita akan tetap menikah, Marius." Nora terus menatap tajam ke arah Marius.
"Nora! Tidak akan ada yang tersisa dari DYNE jika kalian menikah," teriak Tuan Barnett pada putri kesayangannya.
"Aku tidak akan kalah dengannya. Dia ingin mempermalukanku dengan pernikahan ini. Maka, aku tidak akan menyerah begitu saja hingga dia yang merasakan rasa malu itu," kata Nora yang semakin marah saat memandangi Marius.
Ruangan itu kini mulai riuh. Mereka yang pro dan juga kontra saling berteriak meneriakkan pendapat mereka. Tapi, Marius yang Ana lihat hanya berdiri di sana tanpa memberikan reaksi apapun. Dia tidak tersenyum ataupun marah.
"Apa yang sedang kamu pikirkan saat ini, Marius?," pikirnya cemas.
"Buktikan!," teriak Tuan Hartono. Semuanya mendadak menjadi tenang. Semuanya menatap Tuan Hartono.
"Buktikan dia adalah Adriana Tanuwijaya yang asli!"
"Untuk memastikan apakah benar dia adalah Nona Adriana Tanuwijaya yang disebutkan dalam wasiat Nyonya Agnes, maka seseorang yang sudah ditunjuk oleh Nyonya Agnes dapat memastikannya."
Setelah pengacara itu selesai berbicara, pintu ruangan itu kembali dibuka. Kembali, pandangan mata semua orang tertuju pada siapa yang ada di balik pintu kali ini.
Seorang wanita yang terlihat berusia sekitar 60 tahun dengan pakaiannya yang sederhana dan dibalut jaket sweater yang tidak terkancing, dan rok tiga perempat berbunganya.
Caranya berjalan memperlihatkan kelembutan seorang ibu dan ketegasan seorang wanita yang kuat di saat yang bersamaan. Ana dapat merasakan wanita itu bukanlah wanita yang biasa.
Dengan dibantu oleh seorang pelayan di sampingnya, wanita itu berjalan perlahan melewati pintu ruangan hingga akhirnya tertutup kembali.
Saat wanita itu menoleh ke arah Ana, dia kemudian berjalan menghampiri Ana. Tangannya berkeriput, tapi saat menyentuh wajah Ana, dia tidak merasakan sesuatu yang kasar darinya.
"Que c'est beau. Comme tu es belle," katanya lembut.
Tangannya kemudian menuruni wajah Ana. Dia melihat kalung yang yang dikenakan Ana. Lalu kemudian, dia tersenyum.
"C'est vraiment la préférée d'Agnes," katanya lagi.
Wanita itu kini berdiri tegak di hadapan Ana. Dia menatap semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Saya adalah Sophie," katanya dalam gaya bahasa yang tidak fasih.
"Marius selalu memanggil saya dengan Grand-mère Sophie atau dalam bahasa kalian, Nenek Sophie. Saya adalah ibu dari Agnes de Montague. Oui, nama saya adalah Sophie de Montague."
Terlihat jelas di wajah Ana jika dia benar-benar terkejut. Dia tidak pernah tahu keluarga Marius yang lain selain Mama Agnes dan Papa Ernest. Marius juga tidak pernah bercerita tentang itu.
Seketika itu juga, Ana merasa gugup. Dia takut telah melakukan kesalahan.
Suasana di ruangan itu juga mendadak menjadi riuh. Semua orang kembali berbisik satu dengan yang lainnya. Mereka mungkin sama terkejutnya dengan Ana.
"Kalian mungkin sulit mempercayai wanita tua seperti saya. Tapi, saya punya foto-foto yang bisa saya bagikan untuk kalian."
Sophie memberikannya pada pengawal yang ada di dekatnya saat ini. "Jangan lupa kembalikan padaku lagi. Ini adalah harta berhargaku," katanya. Ana tersenyum mendengarnya.
Tak lama kemudian, layar putih kembali menampilkan gambar secara bergantian. Kali ini adalah gambar dari foto-foto yang diberikan Sophie.
Ana melihat ada Marius kecil di sana. Dia ingat wajah mungil itu pernah dia temui 20 tahun yang lalu. Di antara banyak gambar yang dipertunjukkan, hanya Marius yang selalu dicarinya dalam setiap potongan gambar itu.
Kenangan masa lalunya kembali muncul. Kali ini, tidak ada ingatan buruk dalam kepalanya. Dia tidak lagi mengingat masa lalunya bersama Marius sebagai sesuatu yang buruk hingga membuatnya trauma. Ana tersenyum setiap kali melihat gambar-gambar itu.
Dan, gambar-gambar selesai diperlihatkan.
"Agnes pernah bercerita dia sangat menyukai seorang anak perempuan, dan ingin menjadikannya menantu. Sebelum meninggal, dia menitipkan sesuatu padaku. Dia berkata bahwa jika suatu saat nanti ada yang meragukannya, dia memintaku untuk membawakannya ke hadapan anak itu," kata Sophie.
Pelayan yang ada di sampingnya, kemudian mengeluarkan sebuah kotak kayu berukir dari dalam tas yang dibawanya. Kotak itu diserahkannya pada Sophie.
"Jika dia adalah Adriana Tanuwijaya yang selalu disebut-sebut oleh Agnes, maka seharusnya dia bisa membuka kotak ini," katanya lagi.
Ana kenal kotak kayu itu. Kotak yang sering ditunjukkan oleh Mama Agnes padanya. Dulu Mama Agnes selalu membiarkannya bermain dengan ini, tapi dia tidak pernah tahu bahwa hari ini Mama Agnes menggunakannya untuk membuktikan sesuatu.
Ana memegangi bandul kalung miliknya. Dia kemudian menatap Sophie. Wanita itu tersenyum padanya, lalu menganggukkan kepalanya.
Ana melepaskan kalung miliknya, lalu memasukkan bandulnya ke dalam lubang kunci kotak kayu itu. Dia memutarnya ke kanan sekali, kemudian ke kiri dua kali, dan setelah itu ...
KLAK! ... kotak itu terbuka.
......................
Author's note :
Que c'est beau. Comme tu es belle \= Sangat cantik. Betapa cantiknya dirimu.
C'est vraiment la préférée d'Agnes \= Dia benar-benar kesayangannya Agnes.
__ADS_1
Oui \= Ya