
Ana sedang tertidur saat tiba-tiba dia merasakan adanya sentuhan lembut pada wajahnya. Dia membuka perlahan kedua matanya, dan dilihatnya Marius sedang terduduk di sampingnya.
Ana melihat sekelilingnya, dilihatnya dia sedang berada di samping tempat tidur Rain. Dia lalu teringat kalau dirinya baru saja tertidur saat Rain juga tertidur tadi.
"Apa aku membangunkanmu?," bisik Marius.
Ana menggelengkan kepalanya. "Aku belum lama tertidur."
"Kembalilah tidur. Aku akan berjaga disini. Rain juga sudah semakin membaik kata Noel. Seharusnya tidak akan ada apa-apa," kata Marius lagi.
Tapi Ana tidak menghiraukan permintaan Marius itu. Dia berdiri dari tempat duduknya lalu mengajak Marius untuk keluar.
"Naomi tadi kesini bawa makanan, kita makan di luar saja ya. Rain juga baru minum obat, dia pasti akan tertidur lama. Lagipula ada pelayan disini dan pengawal di luar sana. Mereka akan menghubungi kita, kan?" bisik Ana.
"Iya. Kalau gitu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," kata Marius seraya tersenyum menatap Ana.
Beberapa hari di rumah sakit, tidak banyak tempat yang bisa Ana kunjungi selama Rain dirawat. Karena Ana memintanya, Marius mengajaknya ke tempat di mana tadi dia bertemu dengan Lucas. Dia yakin Ana pasti akan menyukainya.
Taman terbuka yang ada di lantai atas rumah sakit itu benar-benar menenangkan. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan kota dari atas, ditambah dengan bunga-bunga yang ditanam di taman itu, suasananya benar-benar membuat hati tenang dan relaks.
"Wah ... dari mana kamu tahu tempat ini?," tanya Ana yang tidak bisa berhenti takjub dengan pemandangannya.
"Dari Lucas. Aku dan dia tadi baru saja di sini," katanya sambil mengeluarkan kotak makanan ke atas meja taman yang terbuat dari batu.
Ana masih berdiri di ujung dinding gedung untuk menikmati udara segar malam itu. Selama di rumah sakit, dia tidak pernah jauh dari Rain, sehingga membuatnya terus berada di dalam rumah sakit. Berada di luar dan menghirup udara bebas seperti ini, bagi Ana rasanya seperti memenangkan hadiah utama sebuah undian.
Tiba-tiba, Ana merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyelimuti tubuhnya. Saat Ana melihatnya, ternyata Marius menyelimutinya dengan jaket hitam yang dibawanya tadi dari kamar. Lalu kemudian, dari belakang, pria itu memeluknya.
"Kamu tidak kedinginan?," tanya Marius.
Ana menggelengkan kepalanya. Dia kemudian menyandarkannya pada Marius.
"Rasanya seperti mimpi, ya?," katanya.
"Mimpi?," tanya Marius.
"Ehm ... beberapa hari yang lalu, aku terus menangisi Rain. Tapi sekarang, aku malah memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah ini bersamanya. Rasanya seperti ... mimpi," kata Ana.
"Sekarang ... aku takut terbangun ..."
Marius mengeratkan pelukannya, menciumi rambutnya, lalu menyandarkan kepalanya pada kepala Ana.
"Mimpi tidak akan membuatmu kelaparan. Aku benar-benar lapar, Ana ...," kata Marius memelas.
Ana langsung berbalik menatap Marius dan tertawa. Marius benar, tujuan mereka kesini untuk makan. Tapi Ana malah keasyikan menikmati pemandangannya. Dia berulang kali meminta maaf pada Marius saat menarik tangan pria itu menuju meja tempat Marius meletakkan makanan mereka.
"Apa yang kalian bicarakan tadi? Apakah ada masalah? Lucas terlihat cukup serius tadi waktu mengajakmu keluar," tanya Ana setelah mereka selesai makan. Dia menerima sebotol minuman dari Marius yang baru saja dibukanya.
__ADS_1
"Masalah rapat dewan direksi. Seharusnya akan diadakan bulan depan. Tapi mereka minta dipercepat," jelas Marius setelah dia duduk di sebelah Ana, lalu bersandar pada meja batu yang ada di belakangnya.
"Apakah ... semua akan baik-baik saja?"
Marius tersenyum padanya. Tangannya mengusap lembut wajah Ana.
"Kamu tidak percaya aku bisa mengatasinya?"
"Aku percaya kamu bisa mengatasinya. Aku hanya ..." Ana tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Dia tahu masalah ini semakin rumit karena Nora dan keluarganya yang ada di balik semua ini.
Nora jugalah yang menyebabkan Rain dirawat di rumah sakit, dan Valerie semakin menjauh dari Rain. Dia khawatir Nora akan melakukan hal lain lagi setelah ini. Nora bahkan membuat Ana menjadi begitu rapuh saat dipisahkan dari Rain . Lalu sekarang ... apa lagi yang akan diperbuatnya?
Tangan Marius kini bersandar pada kepala Ana, lalu kemudian menuruni mengikuti gelombang rambut panjang Ana. Sangat lembut hingga Marius sangat menyukainya.
"Setelah ini, Nora tidak akan bisa mengganggu lagi. Aku janji," kata Marius.
Ana menatap kedua mata Marius. Dia bisa melihat keyakinan Marius dari keduanya. Bagaimana bisa dia seyakin itu?, pikirnya.
"Apa ... yang akan kamu lakukan pada Nora?," tanya Ana yang masih belum bisa lepas dari kedua mata Marius itu.
Tangan Marius kini berpindah. Dia menyandarkan kepalanya ke tangannya itu.
"Kamu ingin aku melakukan apa?," tanyanya dengan nada menggoda.
"Ish ..." Ana tersenyum memainkan bibirnya. Dia tahu Marius sedang menggodanya.
"Aku tahu kamu pasti sudah merencanakan semuanya," kata Ana.
Tawa yang tadi sempat terlukis di wajah Ana kini perlahan menghilang.
"Sejak aku tau Nora yang menyebabkan semua kesusahan bagi Rain, aku sudah membencinya. Lalu kemudian kejadian kemarin, aku semakin membencinya. Aku sudah sangat ingin menghukumnya," kata Ana geram.
"Memikirkan kamu sudah merencanakan banyak hal untuk membalasnya, aku malah semakin senang. Aku rasa ... aku sejahat itu."
Ana menghela napasnya cukup panjang. "Kurasa Rain masih lebih baik dari aku soal ini"
"Kamu bebas menjadi sejahat apapun selama bersamaku."
Ana terkejut mendengar Marius mengatakan itu. Dia tidak percaya, Marius akan bisa mengatakannya tanpa merasa canggung sedikitpun.
"D-dari mana kamu belajar kalimat itu?," tanya Ana.
"Dari drama kesukaanmu."
"T-tapi ... aneh rasanya kalau kamu yang mengatakannya. Hentikan, Marius ..." Ana menatap aneh ke arah Marius.
"Benarkah? Padahal aku punya lagi ..."
__ADS_1
Ana langsung menutup mulut Marius dengan kedua tangannya begitu pria itu membuka mulutnya. Marius sendiri hanya tertawa saat Ana melakukannya. Dia sangat menyukai reaksi Ana saat dia menggodanya.
Marius kini meraih kedua tangan Ana yang sedang menutupi mulutnya.
"Begini saja ...," kata Marius. "Kalau aku bisa membuatmu puas dengan semua balasanku untuk Nora, aku ingin kamu melakukan sesuatu untukku."
"Melakukan sesuatu? Apa itu?," kata Ana. Dia cukup terkejut dengan permintaan Marius itu.
"Aku ingin kamu mengatakan ... kamu mencintaiku. Tiga kali."
Wajah Ana mendadak memerah tersipu karenanya.
"Kamu tahu? Aku belum pernah mendengar kamu mengatakannya," kata Marius lagi.
"A-aku, aku ..." Ana memalingkan wajahnya, menghindari kedua matanya bertemu dengan milik Marius.
"... a-aku pernah melakukannya ...," kata Ana. Suaranya kini menjadi lebih pelan lagi. "... saat kamu ... tidur ..."
"Itu tidak bisa masuk hitungan, Ana," protes Marius. "Aku tidak mendengarnya."
"T-tentu saja itu masuk, Marius. S-salah kamu sendiri kamu tidak m-mendengarnya," bantah Ana yang tidak mau kalah.
"L-lagian kenapa t-tiga kali?"
Marius mendekatkan dirinya pada Ana. Sangat dekat hingga dia yakin Ana akan bisa mendengar suaranya.
"Karena aku yakin, aku pasti tidak akan puas kalau hanya sekali," bisik Marius dengan suaranya yang dalam tepat di telinga Ana.
Wajah Ana kini terasa semakin panas. Kemerahan pada wajahnya membuatnya yakin dia semakin mirip dengan tomat. Ana ingin menutupinya dengan kedua tangannya, tapi Marius memegangnya sangat erat. Begitu Ana gerakkan, Marius segera menahannya sambil tertawa menggodanya.
Semakin malam, udara semakin dingin. Marius juga bisa merasakan kedua tangan Ana yang dipegangnya mengigil karenanya. Dia tiupkan kedua tangan itu, lalu menggosoknya, memberikan rasa hangat pada keduanya. Baru setelah itu, Marius mengajaknya kembali.
"Ana ...," panggil Marius saat mereka hampir mendekati kamar rawat Rain.
Ana berbalik menghadap Marius. Tepat di saat itu, Marius mendekatkan dirinya pada Ana, lalu meraih wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut. Sangat lembut.
Ana terkejut pada awalnya, tapi kemudian dia dibuat tenggelam dalam kelembutan itu. Marius selalu bisa membuatnya terbuai karenanya.
"Berjanjilah padaku," bisiknya."Apapun yang terjadi, kamu akan tetap mempercayaiku."
Ana menatap kembali kedua mata Marius yang juga menatapnya dengan penuh rasa cinta. Marius menatapnya seakan-akan dia takut kehilangan Ana. Entah apa yang akan dilakukan Marius hingga dia terlihat begitu khawatir. Tapi, Ana ingin memercayainya. Karena itu, Ana menganggukkan kepalanya.
"Aku mencintaimu, Ana. Sangat mencintaimu."
Ana kembali dibuat tenggelam oleh Marius karena kata-katanya itu.
"Aku ju..."
__ADS_1
Saat Ana akan membalas ungkapan perasaan Marius, pria itu membekapnya lagi dengan bibirnya. Kali ini, lebih dalam dan semakin membuat Ana tenggelam lebih dalam lagi.
Tapi entah mengapa, Ana tidak takut. Karena dia tahu, Marius sedang menahannya dalam pelukannya.