Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
Extra Story : Part 2


__ADS_3

[ Marius, 30 tahun ]


Marius menghela napasnya. Dia memandangi Ana yang sedang tidak sadarkan diri di dalam mobilnya. Ana yang sudah terikat dengan seatbelt terlihat tidur dengan tenang seperti tidak sedang terjadi apapun. Padahal Marius baru saja menyelamatkannya dari bosnya.


Setiap kali dirinya bertemu dengan Doni, pria itu selalu bercerita bagaimana khawatirnya melihat Ana yang terus menerus dimanfaatkan oleh bosnya itu. Beberapa kali bosnya memintanya untuk mengerjakan banyak hal.


Dan sekarang, dia sengaja mengajak Ana dalam pertemuan dengan klien di sebuah tempat hiburan, membuatnya mabuk hingga tak sadarkan diri seperti saat ini. Entah sudah berapa banyak pria itu memaksanya untuk minum.


Dengan perlahan, tangan Marius membelai lembut rambut Ana, menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajahnya, lalu menggantungnya di belakang daun telinganya. Ana kemudian menggeliat terhadap sentuhan Marius.


"Eng ..." Perlahan Ana membuka kedua matanya, menyipitkannya agar dia bisa melihat dengan jelas pria yang kini ada di hadapannya.


"Kamu? Kita ketemu lagi, ya," kata Ana seraya menunjuk Marius. Dia lalu tersenyum dengan polosnya, tanda-tanda efek dari minuman yang diminumnya sudah mulai mempengaruhinya.


Marius terlihat tidak heran dengan reaksi Ana itu. Ini sudah kesekian kalinya dia mendapati Ana seperti itu. Pada saat seperti ini, Ana dapat mengingat Marius dengan jelas. Tapi begitu efek minumannya hilang, Ana akan kembali pada dirinya yang semula. Dan Marius seperti dihapus dari ingatannya.


"Kamu seharusnya tolak saja permintaan bosmu itu," kata Marius setelah dia menghela napasnya kembali.


Ana menggelengkan kepalanya berulang kali dengan keras. "Ini untuk merayakan kerjasama kita. Jadi aku harus mau agar klien tidak kecewa."


"Lalu kalau kamu seperti ini apa mereka akan bertanggung jawab?"


Tiba-tiba, Ana mencubit kedua pipi Marius. "Kan ada kamu. Hehe ..."


Jantung Marius seketika berdegup kencang. Dia tidak menyangka Ana akan melakukan itu padanya.


Lalu, tiba-tiba Ana meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. "Sstt ... jangan beritahu Naomi, ya," katanya. "Dia akan memarahiku habis-habisan." Ana langsung merangkul tubuhnya sendiri, lalu wajahnya menunjukkan ketakutan.

__ADS_1


Marius mengusap wajahnya perlahan, menghilangkan rasa gugupnya, karena dia baru saja melihat Ana begitu manisnya dengan sikapnya itu.


Untuk kesekian kalinya, Marius kembali menghela napasnya. Kali ini cukup panjang dia melakukannya.


Tiba-tiba, kedua tangan Ana didaratkan di kedua sisi wajah Marius. Dia menatap kedua mata Marius dalam-dalam. Wajahnya menunjukkan kebingungan. Kepala Marius berulang kali digerakkan ke kanan lalu ke kiri lalu kembali lagi padanya.


Terakhir, dia memencet hidung Marius.


"Apa yang sedang kamu lakukan?"


Untung saja gadis yang ada di depannya itu adalah Ana. Jika itu adalah orang lain, mungkin saat ini dia sedang beradu otot dengannya.


"Aneh. Kamu bukan mimpi. Tapi mengapa aku selalu melupakanmu besok?" Ana mengerucutkan bibirnya. Tanda dia sedang kesal.


Dengan gerakan cepat dan tiba-tiba, Ana memaksakan wajah Marius menatap dirinya.


"Kita buktikan sekali lagi, ya."


"Buktikan a ..."


Sepersekian detik kemudian, bibir Ana sudah mendarat di atas bibir Marius.


Satu detik, dua detik, tiga detik kemudian, Ana menjauhkannya dari bibir Marius itu.


"Manis. Huehehe ... Berarti bukan mimpi."


Dun, dun, dun

__ADS_1


Jantung Marius tidak berhenti berdentum dengan keras. Dia mengatur napasnya dengan harapan dentuman itu bisa berkurang bunyinya, tapi tidak berhasil. Marius menelan ludahnya keras-keras.


"Sebaiknya kamu pilih salah satu, Ana. Kamu ingin membunuhku atau hanya ingin menyiksaku? Karena sekarang kamu sedang menyiksaku. Tapi kalau seperti ini terus, lama-lama aku bisa mati di tanganmu," pikirnya.


Marius mengatur napasnya perlahan-lahan, sebelum akhirnya dia memberikan sebotol minuman untuk Ana.


"Minum ini dulu."


"Apa ini?"


"Minumlah, agar kepalamu tidak sakit besok."


"Kalau aku minum ini, aku bisa ingat nggak besok?" Ana kembali mengerucutkan bibirnya, menambah beban ketahanan mental Marius saat melihatnya.


"Nggak mau," katanya lagi seraya melemparkan wajahnya ke arah lain. "Kalau nggak bisa bikin aku ingat, aku nggak mau."


Marius membukakan botol itu, lalu menawarkannya lagi pada Ana. "Masih tidak mau minum?," tanyanya.


Ana hanya menggelengkan kepalanya dengan keras.


Tanpa bertanya lagi, Marius menenggak minuman itu, lalu menahannya di dalam mulutnya. Tangan kanannya kemudian meraih wajah Ana yang sedang membelakanginya, memaksa gadis itu agar menghadap padanya, kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir Ana.


Tangannya yang lain bekerja membukakan bibir Ana untuk melebar agar cairan itu bisa sepenuhnya masuk ke dalam mulut Ana. Marius terus mengunci bibir Ana, dan memaksa gadis itu agar mau tidak mau menenggak cairan yang ditransfer Marius terus turun melintasi tenggorokannya.


Mata Ana terus terbuka lebar saat Marius melakukannya. Tapi lama kelamaan, kesadarannya mulai hilang. Kedua matanya terasa sangat berat, hingga akhirnya Ana tertidur.


Sebelum akhirnya Ana terjatuh, Marius menahannya dalam pelukannya. Dia kemudian menyandarkannya pada kursi penumpang yang ada di sebelahnya.

__ADS_1


Marius kembali membelai wajah Ana dan juga rambutnya. Untuk saat ini, energi Ana benar-benar habis. Bahkan sentuhan lembut dari Marius tidak akan dapat membangunkannya.


"Sebaiknya aku menyetujui ide Om Doni. Sebelum aku terlambat melindungimu dari bosmu yang akan melihatmu seperti ini di kemudian hari," pikirnya.


__ADS_2