
"Maaf, Nona Ana. Tapi, Tuan Marius melarang saya membiarkan Nona meninggalkan rumah sendirian," kata David mencegah Ana yang akan melangkah keluar dari gerbang rumah Marius.
"Jangan katakan apapun pada Marius. Aku hanya ingin menemui Nora," kata Ana.
"Nona Nora? Maaf, Nona Ana. Saya tidak bisa membiarkan Nona Ana pergi, apalagi untuk menemui Nona Nora."
"Aku mohon, biarkan aku pergi," pinta Ana.
David sepertinya kesulitan menolak permintaan Ana di saat gadis itu menunjukkan tatapan memelas seperti itu.
"Hanya jika Nona Ana pergi dengan saya dan beberapa orang pengawal," kata David dengan tegas memberikan keputusannya.
"Kamu, kamu saja. Itu sudah cukup. Ya?," tawar Ana.
Ana tidak punya pilihan lain. Cara itu lebih baik daripada tidak sama sekali. David akhirnya menyetujuinya.
"Tolong minta mereka mencari tahu dimana Nora. Aku tahu Marius punya tim untuk itu," pinta Ana sekali lagi.
David segera melakukan apa yang diminta Ana sembari menyiapkan mobil yang akan membawa mereka. Tapi tanpa sepengetahuan Ana, David memberitahu Marius.
"Antarkan dia kemanapun yang dia inginkan. Tapi, apapun yang terjadi, lindungi dia, David." Begitu pesannya.
......................
Cukup lama Ana menunggu Nora untuk keluar dari rumah Tuan Barnett. Selama itu dia menunggu di dalam mobil sambil terus menatap lurus ke arah pintu gerbang rumah ayahnya Nora itu.
Ana berencana menunggu Nora keluar dari rumahnya, lalu menghalanginya tepat di saat itu. Dia tidak ingin menerjang masuk dan membuatnya terjebak di dalamnya bersama dengan pengawal-pengawal Nora.
Karena saat ini, hanya ada dirinya dan David. Jika dia memaksa masuk sekarang ke dalam rumah itu, akhirnya hanya akan membahayakan David.
Penantiannya ternyata tidak perlu menjadi terlalu lama lagi. Pintu gerbangnya akhirnya terbuka. Itu artinya akan ada seseorang yang keluar. Saat Ana melihat teras rumah itu, Nora sedang keluar dari rumahnya dan masuk ke dalam mobilnya. Ana langsung turun dari mobil.
Saat mobil yang Nora tumpangi akan melewati pintu gerbang, Ana segera berdiri di tengahnya lalu merentangkan kedua tangannya. Mobil itu berdecit, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan Ana.
Nora keluar dari mobilnya tanpa ekspresi apapun di wajahnya.
Kedua penjaga pintu gerbang akan menyentuh Ana untuk menyingkirkannya dari jalan, tapi kemudian David datang meraih tangan mereka dan menjauhkan mereka dari Ana, bahkan tanpa sempat bagi mereka untuk menyentuhnya.
Pertarungan kecil sempat terjadi di antara David dan kedua penjaga itu. Tetap saja, kemampuan mereka masih jauh di bawah David.
__ADS_1
Tak lama setelah itu, entah berapa banyak, tapi sepertinya hampir semua pengawal Nora keluar dan berdiri di belakang Nora. Beberapa dari mereka maju mengelilingi Ana dan David.
"Sekarang," kata David pelan.
Ana tidak tahu apa maksud David. Tapi, setelah David mengatakannya, ada banyak pengawal Marius datang yang entah dari mana, kemudian berdiri di belakang Ana.
Kini jumlah pengawal yang berdiri di belakang Nora dan juga Ana ada sama banyaknya. Pengawal Nora yang tadi mengelilingi Ana, terpaksa mundur beberapa langkah, karena pengawal Marius terus mendesak mereka untuk mundur.
"Maafkan saya, Nona Ana. Saya terpaksa melakukan ini," kata David.
Ana tidak bisa mengatakan apapun. David hanya melaksanakan tugasnya. Jika Marius akan memarahi David, Ana siap jika harus membelanya. Tapi, untuk saat ini, biarkan dia memuaskan hatinya untuk berbicara dengan Nora.
Ana mengeluarkan iPad dari dalam tasnya, lalu memainkan video itu.
"Kamu yang melakukannya, kan? Kamu yang menukar iPad ini dengan iPad milik Rain, kan?," bentak Ana.
Ana kemudian melemparkan iPad itu ke mobil Nora dengan keras. Dia tidak peduli jika Porsche hitam itu lecet karena lemparannya.
Nora tiba-tiba tertawa dengan kerasnya. Raut wajah Ana tidak berubah sedikitpun meski tawa Nora terdengar cukup mengerikan.
"Kamu hanya ingin menanyakan itu, Ana? Kamu datang kesini, dengan membawa banyak pengawal bersamamu, kukira kamu akan melakukan sesuatu yang luar biasa. Haha ... Tapi ternyata kamu masih terlalu naif, Ana."
"Ya, kamu benar. Aku yang memerintahkan pengacaraku untuk menukar iPad bocah itu dengan iPad ini, agar aku bisa menyampaikan pesanku. Dia memang anak yang cerdas. Bahkan dengan potongan gambar itu, dia bisa dengan baik memahami maksudku. Hahaha ...."
PLAK!
Sebuah tamparan dari telapak tangan Ana mengenai pipi Nora.
PLAK!
Tamparan lainnya berhasil mendarat di pipi Nora yang lain. Mata Nora terus melotot ke arah Ana sambil memegangi pipinya yang terkena tamparan oleh Ana.
Pengawal dari Nora langsung bereaksi ketika majikan mereka disakiti. Mereka sudah siap akan menyerang Ana. Tapi, pengawal Marius tidak mau mereka mendekati Ana. Mereka terus mendorong mundur pengawal Nora.
"Siapa bilang hanya itu tujuanku kesini? Aku masih tidak puas hanya dengan tamparan itu, Nora. Jika aku bisa menghajarmu, maka aku akan menghajarmu sekarang juga."
"Apa kalian akan membiarkan dia menyakitiku? Kalian semua mau dipecat?," teriak Nora.
Pengawal Nora semakin kuat mendorong. Situasi di antara mereka kini mulai memanas.
__ADS_1
"Nona Ana, sebaiknya kita pergi dari sini," bisik David.
"Dengar, Nora. Aku tidak akan pernah memaafkan semua perbuatanmu pada Rain, baik itu dulu maupun sekarang. Aku akan pastikan hidupmu sama rendahnya dengan dirimu saat ini. Karena itulah kamu, tidak jauh berbeda dengan wanita kelas rendah, meski dirimu tinggal di rumah mewah dan memiliki nama keluarga terpandang."
"AAARRGGHHH ..." Nora berteriak sangat keras melampiaskan semua kemarahannya. "AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Tatapan tajam dari kedua mata Ana sama sekali tidak berubah meski Nora mengancamnya. Bahkan ketika David mendorong mundur Ana menjauhi Nora, Ana masih terus menatapnya.
Saat David dan Ana mundur perlahan-lahan, pengawal Marius bergerak maju melindungi David yang membawa Ana pergi dari sana. Dorong-mendorong akhirnya terjadi. Tapi, kemudian pengawal Marius lainnya berdatangan lagi dan memberi bantuan pada mereka yang sedang berhadapan dengan pengawal Nora.
Kini, gerbang rumah Nora penuh dengan orang-orang Marius yang menutupi akses keluar masuk rumah itu. Dan saat Ana sudah memasuki mobil, Ana dapat mendengar teriakan kemarahan Nora bahkan dari dalam mobil.
David memerintahkan supir melajukan mobil yang mereka tumpangi lebih dulu agar segera meninggalkan tempat itu. Tapi, yang Ana pikirkan adalah mereka yang masih di sana.
"Bagaimana dengan yang lainnya? Apakah mereka akan baik-baik saja?," tanyanya.
"Jangan khawatir, Nona Ana. Ada wakil saya di sana. Dia tahu apa yang harus dilakukannya," jelas David.
"Mereka ... tidak akan terluka, kan?"
"Tidak akan ada pertempuran, Nona Ana. Jumlah mereka kalah banyak."
"Maafkan aku telah membuat kalian berada dalam situasi ini," kata Ana menyesali melibatkan begitu banyak pengawal Marius.
"Nona Ana hanya perlu melakukan apapun yang ingin Nona Ana lakukan, tugas kami adalah melindungi Nona Ana. Dan saya pastikan tidak akan ada orang yang akan menyakiti Nona Ana selama Nona bersama kami."
Ya, Ana percaya, mereka akan melakukan apapun untuk melindunginya. Ana melihatnya sendiri hari ini. Bahkan ketika dia berhadapan dengan Nora dan pengawal-pengawalnya, tidak ada sedikitpun rasa takut di dalam hatinya.
"Marius tahu soal ini, kan?," tanya Ana pada David. Melihat begitu banyaknya pengawal yang bersamanya tadi, Ana yakin benar dengan apa yang dipikirkannya.
"Maafkan saya, Nona Ana. Saya terpaksa memberitahu Tuan Marius."
"Jangan minta maaf, David. Ini bukan salahmu. Kamu hanya melakukan apa yang harus kamu lakukan. Salahku yang begitu egois ..."
"Nona Ana ..."
Ana bisa memahami tugas dan tanggung jawab David pada Marius sebagai kepala keamanan. Meski dia tidak melakukan permintaan Ana, tapi dia tidak menyesalinya. Yang dilakukannya adalah memang seharusnya dia lakukan. Begitu juga dengan Ana.
Mungkin karena itu juga, Marius membiarkan Ana melakukan apapun yang diinginkannya. Dia tidak mencegah ataupun melarangnya. Yang bisa dia lakukan adalah melindunginya. Karena itu, dia membiarkan David memerintahkan begitu banyak pengawal hari ini.
__ADS_1
"David ... tolong antarkan aku ke rumah Valerie. Aku ingin bertemu dengan Rain," kata Ana.
"Baik, Nona Ana."