
Ana terbaring di atas tempat tidurnya. Marius baru saja bersamanya, begitu juga dengan Lucas. Tapi sekarang semua sudah pergi untuk melakukan pekerjaan mereka.
Suasana kamar Ana sepi dan gelap, karena Marius mematikan semua lampunya dan menutup gorden kamarnya, membuat kamar Ana serasa sunyi.
Perlahan pintu kamar Ana dibuka oleh seseorang, dan berjalan mendekati Ana. Dengan berdiri di dekat Ana, dia memandangi Ana yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Secara perlahan pula, orang itu menjulurkan tangannya untuk menyentuh Ana.
"Jadi kamu orang yang mengganggu Ana ku," teriak Naomi.
Naomi segera menyergap orang itu dari belakang, lalu menahan leher orang itu dengan lengannya. Naomi juga bahkan menarik rambut orang itu ke belakang. Orang itu terus berteriak kesakitan.
Ana segera bangun dan berusaha melerai Naomi dari orang itu. Tapi, kekuatan Naomi terlalu besar untuk Ana.
"Nao, sudah Nao. Sakit itu ....," kata Ana sambil meringis seakan merasakan sakit yang dialami orang yang rambutnya terus-menerus dijambak oleh Naomi.
Di saat yang bersamaan, lampu di kamar Ana tiba-tiba dinyalakan. Marius, Lucas, dan juga David serta beberapa orang pengawal masuk ke kamar Ana.
Marius hanya diam saja melihat Naomi yang mengamuk. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding, dan melipat kedua tangannya. Senyum sinis merekah di wajahnya.
"Iih ... jangan diem aja, bantuin ini ...," teriak Ana panik.
Marius lalu memberikan tanda pada David untuk menghentikan keributan itu. Bersama dengan pengawal lainnya, mereka berusaha mengatasi amukan Naomi yang terus menerus menghajar orang itu.
Melihat Ana yang terlalu dekat, Marius menariknya menjauh dari pergumulan itu. Sedangkan Lucas hanya tertawa di belakang.
......................
Marius menahan pelayan yang baru saja ditangkap di gudang penyimpanan. Dua orang pengawal ditugaskan untuk berjaga dan melarang siapapun untuk melihatnya.
"Aku sudah bilang nggak usah, tapi Naomi yang maksa," jelas Ana pada Marius dengan rasa bersalah karena tidak memberitahu Marius sebelumnya.
Marius hanya tahu Naomi dan Ryu menginap semalam, tapi dia tidak tahu jika mereka akan membuat rencana tanpa sepengetahuannya.
Marius baru tahu jika mereka sedang merencanakan sesuatu, saat dia tidak sengaja melihat Ana meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, waktu dia panik menggendong Ana yang pingsan ke tempat tidurnya. Meski Ana belum menceritakan apapun pada saat itu, tapi Marius menyadari sesuatu, dan membiarkan mereka menjalankan apapun yang mereka rencanakan itu.
Karena itu, Marius pergi dari kamar Ana dan seakan sedang meninggalkannya. Dia membuat situasi seakan-akan Ana sedang sakit di kamarnya.
"Jadi sebenarnya kamu sudah menonton video itu?," tanya Marius.
"Sudah, tapi tidak semuanya. Naomi yang menonton hampir semuanya, dan menemukan bagian itu. Jadi, dia yang memberitahuku," jelas Ana.
"Kalian juga sudah menemukan mainan itu?"
__ADS_1
Ana menganggukkan kepalanya. "Naomi yang menemukannya. Dia lalu mengembalikannya lagi di bawah tumpukan handuk bersih, takutnya orang itu balik lagi mau mengambil kembali mainan itu."
"Argh ... lagian, kenapa lama sekali baru menyadarinya? Kamu hampir merusak rencanaku. Untung saja, Ana cepat tanggap. Begitu kamu bilang ular, dia langsung pura-pura pingsan." kata Naomi kesal.
Naomi yang kesal, Ana yang merasa tidak enak dengan Marius, karena tidak memberitahunya soal ini. Dia hanya tertawa dengan gugupnya saat Naomi mengatakan itu pada Marius.
"Ahaha ... itu karena kita tidak memberitahunya, Nao."
Pada dasarnya, bukan Ana tidak ingin memberitahunya. Tapi, Naomi yang melarangnya. Dia bilang, "Mari kita lihat, sepintar apa Marius Edmond Hadinata itu." Lalu, dia tersenyum dengan senyumnya yang menakutkan itu.
"Dimana orang itu sekarang? Biar kuhajar dia."
Ana kembali panik menenangkan Naomi.
"Kita masih butuh dia untuk bicara. Jika kamu mau menghajarnya, lakukan saja pada orang yang menyuruhnya," kata Marius.
"Maksudmu, ada orang lain lagi?," tanya Ana.
Marius menganggukkan kepalanya. "Hampir semua orang di rumah ini melakukan hal yang sama. Mereka sedang menyebarkan kebencian pada semua pelayan untuk menyerang Rain dan juga kamu, Ana. Itu artinya, tidak mungkin mereka bekerja sendiri. Pasti ada orang yang merencanakan semuanya."
"Hmm ... Marius benar. Kunyuk seperti mereka nggak mungkin memikirkan hal serumit ini jika tidak ada otak di balik ini semua," kata Naomi yang terlihat lebih tenang sekarang.
"J-jadi mereka sudah meletakkannya saat malam hari, sebelum semua pelayan selesai bekerja jam 10?," tanya Ana yang mulai merinding mendengar penjelasan Marius.
"Hmm ... mereka tahu kamarmu pasti kosong pada saat itu, karena kamu ada di kamar Rain. Sedangkan para pengawal masih belum waktunya untuk berjaga di sana. Jadi itu adalah kesempatan yang bagus untuk masuk dan meletakkan mainannya."
"Bagaimana jika aku menemukannya saat malam hari? Bukankah berarti rencana itu akan gagal?"
"Kamu tidak akan melihatnya sebelum pagi. Mereka tahu kebiasaanmu. Karena mereka sudah lama memantaumu."
"A-apa maksudmu?"
Tiba-tiba ponsel Marius berbunyi. Marius segera mengangkatnya, dan tidak lama kemudian dia menutupnya.
"David sudah menemukan kamera kecil di kamarmu."
Ana menjadi sangat terkejut mendengar itu.
"Itu artinya, sebaiknya kita berhenti membicarakan hal ini disini," kata Naomi sambil menatap tajam ke arah Marius.
......................
__ADS_1
Side Story :
Ryu terbangun dari tidurnya karena suara teriakan. Dia menggosok matanya untuk menghilangkan rasa kantuknya.
"Apakah sudah dimulai?," tanya Ryu lirih.
"Ryu ..."
Tiba-tiba, Ryu mendengar Rain memanggil namanya dari tempat tidurnya. Ternyata, Rain juga terbangun karena suara gedoran itu.
Ryu turun dari tempat tidurnya dan mendatangi Rain. Dia merapikan selimut Rain.
"Kembalilah tidur, Rain. Aku akan berjaga disini," kata Ryu.
Lalu, dia menghadap pintu dan memasang kuda-kudanya. "Aku akan menghajar orang itu jika dia berani masuk kesini."
Tak lama kemudian, pintu kamar Rain terbuka. Di saat Ryu sudah siap untuk menyerang, dia melihat Lucas memasuki kamar Rain. Tiba-tiba, Ryu menjadi gugup.
"Kamu pasti kaget, ya?," tanya Lucas sambil mengacak rambut Ryu. Sedangkan, Ryu yang mendapatkan serangan itu mendadak menjadi tersipu.
Lucas berjalan menghampiri tempat tidur Rain, dan duduk di sampingnya.
"Nunu ..."
Lucas mencium kening Rain, lalu berkata, "Jangan khawatir, ya. Rain tidur saja. Pengawal akan berjaga di luar."
"Kak Ana ..."
"Kak Ana baik-baik saja. Besok dia akan menemui Rain. Kalian bisa bermain bersama," kata Lucas sambil kembali mencium keningnya.
Rain menganggukkan kepalanya, lalu kembali tidur.
Lucas menatap Ryu yang masih berdiri di depannya dengan wajah tersipunya. Dia mengacak rambut anak itu kembali.
"Kerja bagus. Kamu juga sebaiknya tidur," kata Lucas dengan senyumnya yang mempesona. Ryu tidak bisa berkata-kata menatap Lucas, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya berulang-ulang.
Lucas baru akan pergi keluar dari kamar Rain, sebelum dia teringat sesuatu. Dia berbalik menatap Ryu yang sudah duduk di atas kasur tidurnya.
"Mommy nya Ryu benar-benar keren," kata Lucas sembari menunjukkan ibu jarinya pada Ryu.
Ryu yang mendapatkan pujian itu, langsung menunjukkan wajah bangganya pada Lucas.
__ADS_1