
Suasana rumah Marius pagi itu benar-benar sunyi. Meskipun ada banyak orang disana, tapi tidak ada yang mengatakan apapun atas apa yang terjadi kemarin. Semuanya memilih untuk diam tak bersuara.
Terutama ketika mereka mengetahui bahwa Miss Eli, kepala pelayan mereka membuat keputusan untuk pensiun dari pekerjaannya. Tidak ada satupun dari mereka yang berani berkomentar atas keputusan ini.
Marius memerintahkan Lucas untuk mempersiapkan keberangkatan Eli ke rumah peristirahatannya. Sedangkan Marius sendiri hanya menunggu di ruang kerjanya.
Sebelum Eli meninggalkan rumah, dia meminta untuk bertemu dengan Ana dan Rain. Lucas menanyakan hal ini pada Ana sebelum dia mengantarkannya. Dan karena Ana menyetujuinya, maka diantarkanlah Eli pada Ana.
"Kamu benar," kata Eli yang diucapkannya pertama kali saat dia duduk di hadapan Ana.
"Aku memang meragukan Rain adalah anak kandung Adam. Tapi saat kamu membuatnya tertawa, aku melihat tawa Adam disana. Hal itulah yang membuatku marah saat kamu melakukannya. Karena untuk pertama kalinya sejak aku bertekad untuk merusak kebahagiaannya, aku merasa, aku telah melakukan kesalahan."
Eli membungkukkan tubuhnya di hadapan Ana. "Terima kasih untuk semuanya."
Ana terkejut melihat Eli melakukan itu. Tapi, dia tidak tahu harus melakukan apa.
Ana menatap Lucas yang sedang berdiri di dekat pintu agar membantunya, tapi Lucas hanya menggelengkan kepalanya dengan lembut. "It's okay," bisiknya.
Pada akhirnya, Ana hanya menerima bentuk terima kasih itu dengan turut membungkuk di hadapan Eli.
Setelah menemui Ana, Eli meminta ijinnya untuk menemui Rain. Lucas menjelaskan, Marius berpesan bahwa itu adalah keputusan Ana apakah dia akan mengijinkan Eli untuk bisa bertemu dengan Rain atau tidak.
Ana tidak memahami maksud Marius menyerahkan keputusan itu padanya. Tapi, Ana sendiri tidak melihat ada yang salah dari permintaan itu. Karena itu, dia mengijinkan Eli bertemu dengan Rain yang saat itu sedang bermain di playroom.
Saat Rain bertemu dengan Eli, gadis kecil itu hanya merasa heran melihat Eli bersimpuh di hadapannya. Suatu hal yang jarang dia alami, karena Eli sendiri jarang memperlihatkan dirinya pada Rain, kecuali pada saat-saat tertentu.
Rain sempat melihat Ana, tapi Ana mengatakan padanya untuk jangan khawatir. Barulah Rain terlihat agak tenang.
"Ini adalah barang kesayangan seseorang saat dia masih kecil," kata Eli sembari mengeluarkan sebuah boneka kain buatan tangan dari dalam tasnya, lalu diserahkannya pada Rain.
"Kamu bisa melihat namanya disini," lanjut Eli sembari menunjukkan sebuah jahitan yang membentuk nama seseorang di balik boneka kain itu. "Suatu hari, saat kamu sudah bisa membaca, kamu akan mengetahui milik siapakah ini."
Kemudian Eli menegakkan tubuhnya, lalu memegangi bahu Rain agar gadis kecil itu ikut berdiri tegak.
"Seseorang menamaimu Rain Madeleine Hadinata . Itu artinya kamu adalah seorang Hadinata, maka berdirilah tegak, ...."
Kemudian Eli menyentuh dagu Rain dan menaikkannya ke atas perlahan.
"... tinggikan kepalamu. Tunjukkan pada mereka, kamu adalah seorang Hadinata yang pemberani."
Terakhir, Eli memegangi wajah mungil Rain, lalu menciumi kening Rain dengan lembut.
Ana yang melihat ini tidak kuasa menahan air matanya. Dia membalikkan tubuhnya menghadap pintu kamar, lalu mengusap air matanya.
__ADS_1
Lucas yang ada di sampingnya sedari tadi, meletakkan tangannya di atas bahu Ana dengan lembut.
Keberangkatan Eli diantarkan oleh pengawal yang ditugaskan David dengan mobil, tanpa disaksikan Marius dan juga Rain. Tapi Ana turut berdiri di depan mobil yang mengantarkan Eli dengan ditemani Lucas.
Ana mengingat kembali saat pertama kali dirinya datang ke rumah ini. Eli lah yang menyambutnya saat itu.
Meski selama ini mereka tidak memiliki hubungan yang dekat, tapi saat Ana mengantarkan Eli, dia memahami satu hal dari seorang Elizabeth Gunadi.
Bahwa seorang ibu yang menyayangi anaknya tidak harus selalu menjadi darah dagingnya, begitu juga sebaliknya.
......................
"Kamu minum?," kata Ana hampir berteriak melihat Marius sedang duduk di ruang duduk yang ada di lantai atas dekat kamar Rain. Yang membuat Ana terkejut adalah Marius sedang memegangi gelas whiskeynya.
Ana saat itu baru saja keluar dari kamar Rain setelah menidurkannya. Saat akan memasuki kamarnya, dia melihat Marius.
"Apa yang kamu lakukan disini? Rain bisa melihatmu," geram Ana.
"Ayo, aku antarkan kamu ke kamarmu di atas. Rain tidak boleh melihatmu seperti ini," kata Ana sambil mengangkat lengan Marius ke atas pundaknya.
Marius menarik kembali lengannya, dan sekarang dia menarik lengan Ana untuk duduk di sampingnya. Ana sudah akan berdiri, tapi kemudian Marius mendaratkan kepalanya di atas pangkuan Ana. Membuat Ana tidak hanya tidak bisa berdiri, tapi juga tidak berani untuk menggerakkan dirinya sendiri, karena takut Marius akan terjatuh.
Untuk kesekian kalinya, jantung Ana berdetak kencang saat Marius menyentuhnya.
Ana hanya bisa diam tanpa mengatakan apapun. Apa yang bisa dikatakannya? Marius sudah melakukannya sebelum Ana mengijinkannya. Dan Ana tidak dapat menemukan kata yang tepat untuk melarangnya, karena dia sendiri tidak mau Marius beranjak dari sana.
Cukup lama Ana dan Marius diam di posisi mereka masing-masing tanpa ada yang mulai bicara duluan. Ana mengira Marius mungkin tertidur, karena itu dia mengambil gelas whiskey dari tangan Marius secara perlahan, lalu meletakkannya di atas meja yang ada di depannya.
Setelah itu, Ana tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukannya. Ana juga takut untuk bergerak. Dia juga tidak bisa berdiri. Jadi, aku harus ngapain?, teriak Ana dalam hatinya.
Tapi, memandangi seperempat wajah Marius yang tidak tertutupi lengannya, bisa jadi kegiatan yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu seraya menunggu Marius terbangun.
Ana memandangi Marius sambil memikirkan banyak hal di dalam kepalanya. Melihat pria tampan itu yang mungkin sedang kelelahan membuat Ana teringat sesuatu.
Marius pernah melakukan hal ini pada Ana saat dia merasakan hal yang sama yang dirasakan Marius saat ini. Hasilnya, Ana merasa menjadi jauh lebih baik. Semua kegelisahan dan juga rasa lelahnya seketika menjadi hilang saat Marius melakukan itu.
"Mungkin jika aku melakukan itu, Marius akan menjadi lebih baik," kata Ana dalam hatinya.
Maka, diangkatlah tangannya, lalu dengan lembutnya dia membelai kepala Marius. "Kamu sudah melakukan kerja bagus hari ini, Marius," kata Ana. "Semua akan baik-baik saja."
Marius terdiam cukup lama. Tentu saja, dia kan sudah tidur, pikir Ana.
Tapi kemudian, dengan gerakan tiba-tiba, Marius menangkap tangan Ana yang mendarat di kepalanya. Lalu, mengunci Ana dengan tatapannya.
__ADS_1
Untuk waktu yang lama, Ana menatap Marius dalam-dalam. Jantungnya yang sedari tadi terus berdetak kencang, sekarang rasanya seperti akan meledak. Ana tidak tahu bagaimana dia harus bereaksi saat Marius melakukan itu.
Marius mengangkat tubuhnya sambil tetap memegangi tangan Ana. Lalu, tiba-tiba, Marius terjatuh dengan lemahnya dan melepaskan pegangannya.
"Aku nggak kuat. Tolong papah aku ke kamarku," kata Marius sambil meletakkan tangannya ke atas bahu Ana.
"Hah?" Setelah jantungnya dibuat berdetak tidak karuan, sekarang Marius membuat Ana terbengong karena permintaannya yang tiba-tiba itu.
"Aduh, pusing," kata Marius lagi sambil memegangi pelipis matanya dengan tangannya yang lain.
Ana yang melihat itu menjadi khawatir. Jelas tidak mungkin Marius kembali ke kamarnya dengan kondisi yang seperti itu. Maka, dibantulah Marius berdiri dan berjalan menuju kamar atas. Tidak lupa, Ana membawa juga gelas whiskey milik Marius.
"Nanti kelihatan Rain," ucap Ana lirih.
Marius mengambil gelas whiskey yang dipegang Ana, lalu membiarkan Ana membawanya ke atas. Sekilas, terlihat bibir Marius terangkat sedikit ke atas. Tapi, kemudian menghilang berganti dengan wajah penuh kesakitan.
"Sudah sampai, pintunya juga sudah kebuka, kamu bisa masuk sendiri, kan?," tanya Ana yang masih terlihat khawatir.
Marius menganggukkan kepalanya, lalu berjalan memasuki kamarnya. Tapi kemudian, dia terjatuh mengenai Ana.
Ana dengan cepat menangkap Marius. "Sepertinya tidak bisa berjalan," pikir Ana.
Dengan demikian, Ana mengantarkan Marius hingga berbaring di atas tempat tidurnya. Diletakkannya gelas whiskey yang dipegang Marius di atas nakas, lalu merapikan selimut untuknya.
Dia baru akan beranjak meninggalkan Marius yang terlihat sudah lebih tenang, tiba-tiba tangan Marius menariknya hingga terjatuh berbaring di samping Marius.
Ana mencoba untuk bangun, tapi tangan Marius menahannya untuk tetap berbaring. Sekali lagi Ana mencoba untuk bangun, dan Marius semakin mengeratkan pelukannya. Ana semakin tidak bisa bergerak.
"Kamu pura-pura tidur, ya?," tanya Ana.
Marius tidak menjawab.
Jantung Ana semakin tidak menentu bunyinya. Detaknya sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan jantungku," batin Ana.
Terlalu lama, Marius menahan Ana bersamanya. Hingga Ana sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya. Ana mencoba untuk tetap terbangun, tapi sepertinya semua usahanya itu sia-sia. Ana terlelap dalam pelukan Marius.
Marius terus memperhatikan Ana yang sudah tertidur. Dia tersenyum melihat gadis itu ada di pelukannya. Diciumnya rambut gadis itu. Lalu, dia semakin merekatkan dirinya pada Ana.
"Tidurlah disini malam ini, Ana. Biarkan aku memelukmu," batin Marius.
Dan malam itu adalah malam yang paling membahagiakan bagi Marius setelah sekian lama dia merindukan gadis itu.
__ADS_1