Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 64


__ADS_3

Ana baru saja memasuki ruang dapur, dan dia langsung terkejut melihat Marius sedang duduk di lantai dapur dengan bersandar pada island kitchen. Kedua mata pria itu sedang terpejam, karena itu dia tidak tahu saat Ana masuk ke ruangan itu.


Dengan berjalan perlahan, Ana berusaha agar langkahnya tidak mengeluarkan suara. Dia mendekati Marius yang terlihat baginya seperti sedang tertidur.


Dengan berjongkok, Ana memuaskan dirinya memperhatikan pria itu.


"Bahkan tidur pun terlihat tampan," katanya dalam hati.


Lalu tiba-tiba, dengan gerakannya yang cepat, Marius terbangun. Tangannya meraih tengkuk Ana, lalu kemudian dalam hitungan detik dia mendaratkan bibirnya di bibir Ana.


Ana terkejut bukan main dengan gerakan Marius yang tiba-tiba itu.


Hanya untuk sekian detik, Marius menjauhkan dirinya dari Ana sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Marius!," teriak Ana. Tangannya berkali-kali memukuli dada Marius.


Marius berpura-pura kesakitan. Dia memegangi dadanya. Tapi, Ana tidak peduli.


"Kamu mengagetkanku. Tahu nggak, sih?," bentak Ana kesal.


Marius tertawa puas. "Lagian kamu terlalu lama diam. Kukira kamu mau menciumku. Ya sudah aku percepat saja."


"Jangan alasan! Kamu sengaja, kan?" Ana melanjutkan memukuli Marius yang terus tertawa.


"Oke, oke. Maaf ... Maaf, ya ...," pinta Marius seraya memegangi kedua tangan Ana untuk menghentikannya memukulinya.


"Kamu juga, ngapain tidur di sini, sih?," tanya Ana.


"Aku terlalu capek untuk naik ke atas," jawabnya santai. "Sini, duduk sini."


Tangan Marius menepuk ubin yang ada di sampingnya. Dia meminta Ana untuk duduk di sana.


Ana menurutinya, dan sedetik kemudian, kepala Marius sudah bersandar di pangkuan Ana.


Meski kaget, tapi Ana tidak mengusirnya. Dia tidak keberatan Marius melakukan itu. Melihat Marius yang menutupi wajahnya dengan lengannya, Ana serasa ingin membelai rambutnya itu. Pelan-pelan, dia letakkan tangannya di atas kepala Marius.


Untuk beberapa detik, Marius tidak menunjukkan reaksi apapun. "Mungkin sudah tidur," pikir Ana. Dan dia pun terus melakukannya dengan lembut.


......................

__ADS_1


Tidak, Marius tidak tertidur. Dia sedang menikmati sentuhan Ana di atas kepalanya. Semua lelah di tubuh dan pikirannya seakan hilang perlahan setiap kali tangan Ana menyentuh kepalanya. Karena itu, Marius memilih untuk menutup matanya dan terdiam. Agar Ana mengira dirinya sudah tertidur. Dan agar Ana tidak berhenti melakukannya.


Meski kedua matanya terpejam, kepala Marius terus memutarkan gambaran pertemuan dirinya dengan Tuan Barnett tadi. Pertemuan yang membuatnya ingin membatalkan semua perjanjian itu. Tapi kemudian dia teringat Ana. Jika dia membatalkannya, bagaimana dengan Ana? Dia hampir menyesali keputusannya ini.


...****************...


"Bagaimana kabarmu, Tuan Marius? Kudengar kau mendapatkan banyak keuntungan dari pertunangan ini," tanya Tuan Barnett.


"Saya baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya. Tapi tentang keuntungan, saya rasa Tuan Barnett juga mendapatkan keuntungan yang sama. Setidaknya, begitu yang saya dengar," jawab Marius.


"Hahaha ... Memang tidak salah mereka menyebutmu yang terbaik. Aku akan sangat bangga sekali jika kau mau menjadi menantuku," kata Tuan Barnett seraya menghirup aroma wine dari gelas miliknya, lalu kemudian meminumnya.


Marius mulai tidak menyukai arah pembicaraan yang sedang dibahas Tuan Barnett itu. Dia sudah mulai bisa menebak ke mana arahnya.


"Kita sudah sepakat bahwa itu hanyalah status. Dan sebagai gantinya aku akan memberikan keuntungan besar untuk ARK Group selama setahun ini."


"Tentu, tentu, tentu ... Tapi, itu sebelum Nora memberitahuku bahwa dia menyukaimu." Tuan Barnett menunjukkan senyum palsunya pada Marius.


"Kau tahu bukan, Nora adalah putriku satu-satunya. Dia yang paling kusayangi. Aku akan memberikan apapun untuknya, termasuk dirimu."


"Tapi sayangnya, saya bukan hadiah," jawab Marius. Kini, giliran Marius yang menenggak wine dari gelasnya.


"Hahaha ... saya tidak akan mengatakan demikian. Kamu bukanlah hadiah, tapi anugerah. Hahaha ...."


Tepat seperti yang Marius pikirkan. Akhirnya Tuan Barnett mengatakan apa yang sudah dia duga sebelumnya.


"Saya tidak akan melakukan itu. Carikan saja suami yang lain untuk Nora. Tapi, bukan saya. Perjanjian itu tetap akan saya lakukan dan akan saya pastikan selesai sebelum setahun."


"Apakah penolakanmu ini karena pengasuhmu?," tanya Tuan Barnett.


Marius masih berusaha untuk tetap tenang saat dia mulai menyeret Ana dalam pembicaraan mereka.


"Karena Nora sangat tidak menyukai pengasuhmu itu," jelas Tuan Barnett.


Marius menahan dirinya agar tidak membuka status Ana di depan Tuan Barnett sebelum dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria tua itu.


"Kudengar dia sangat cantik. Jika bukan karena dia, bagaimana jika berikan dia untukku, agar bisa kujadikan istri?," tanya Tuan Barnett.


Marius masih menahan amarahnya. Di bawah meja makan, tangannya terus tergenggam sangat keras.

__ADS_1


"Dia punya kekasih dan akan segera menikah," jawab Marius datar.


"Oh, benarkah? Sayang sekali ..."


"Sepertinya pertemuan ini tentang pernikahan antara saya dan Nora. Sudah saya katakan dari awal, saya tidak menginginkan pernikahan. Jadi, urungkan saja niat itu, atau saya akan membatalkan semuanya dan membayar kompensasinya. Tentu saja, itu bukan hal yang sulit bagi saya."


"Hahaha .... tentu saja, tentu saja. Kita semua tahu seperti apa Hadinata itu. Oke, oke ... nikmati saja makan malammu, karena memang untuk itu aku mengundangmu."


...****************...


Bahkan setelah lebih dari dua jam pertemuan itu dilakukan, kemarahan Marius belum juga reda setiap kali dia mengingat Tuan Barnett menyeret Ana dalam pembicaraan mereka.


Marius merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan Tuan Barnett. Tapi apa? Mengapa melibatkan Ana di dalamnya? Apa yang sebenarnya Tuan Barnett lakukan tadi?


Apakah dia hanya sekedar memancing kemarahan Marius untuk melihat kebenaran dari ucapannya? Atau tua bangka itu benar-benar menyukai Ana?


Apapun itu alasannya, Marius tidak menyukai semuanya.


Marius merasakan tangan Ana yang membelai kepalanya. Dari balik lengan tangan yang menutupi wajahnya, dia juga mengintip Ana yang sedang duduk bersandar pada island kitchen seperti yang dia lakukan tadi.


"Kuharap aku tetap bisa melindungimu terus, Ana," kata Marius dalam hatinya.


Perlahan dia turunkan tangannya itu, lalu menatap Ana yang sudah berhenti membelai kepalanya. "Ana ... aku lapar," katanya sendu.


"Haaahh?? Kamu bilang kamu ada janji makan malam. Karena itu kamu memintaku untuk tidak usah menyiapkan makanan."


Memang benar. Sejak Ana tinggal kembali di rumahnya, setiap malam dia tinggalkan makanan di pemanas agar bisa dimakan oleh Marius saat dia pulang. Tapi karena janji temunya dengan Tuan Barnett, dia meminta Ana untuk tidak perlu melakukannya.


Dan sekarang, dia merasa lapar karena terlalu marah tadi hingga tidak ingin makan apapun disana.


"Acaranya batal ...," katanya berbohong.


Marius seketika bangun dan duduk di samping Ana. "Aku yang masak. Kamu bantu aku, ya ..."


"Katanya tadi capek?"


"Sudah hilang. Kamu juga lapar, kan? Aku dengar cacing di perutmu protes tadi," goda Marius.


"Bohong lagi, kan?," seru Ana sambil memukuli lengan Marius. Sedangkan Marius terus tertawa.

__ADS_1


Satu hal yang Marius sukai ketika Ana kembali ke rumahnya adalah dia menjadi lebih banyak tertawa. Hatinya tidak bisa berhenti senang saat dia bersamanya.


Kembalinya Ana saat ini justru adalah yang paling menggembirakan baginya. Karena kali ini, tidak ada batasan antara dirinya dengan Ana. Karena kali ini, dia bisa dengan bebas mengungkapkan rasa cintanya pada Ana, tanpa khawatir Ana lupa tentang siapa dirinya.


__ADS_2