
Ruangan itu semakin lama semakin tidak terkendali kericuhannya. Semua orang mulai saling menyalahkan. Dan yang paling banyak mendapatkannya adalah Tuan Hartono.
"Terima kasih kepada dewan komisaris yang memberitahu saya, siapa saja mereka yang benar-benar setia pada DYNE, dan siapa yang tidak. Hari ini, saya rasa saya jadi banyak belajar bahwa ketidaksetiaan akan menghancurkanmu."
"Benar begitu, Tuan Hartono?"
Tidak ada jawaban dari Tuan Hartono. Saat ini, tuan yang tadinya angkuh itu terlihat seperti seekor rubah yang ketakutan saat berhadapan dengan seekor serigala.
"Jika saja Tuan bisa bersabar sedikit lebih lama saja, mungkin Tuan masih akan memiliki saham milik Tuan."
Gemuruh orang-orang yang terdengar lebih keras lagi. Mereka menatap Tuan Hartono serasa tidak dapat mempercayainya. Dia yang meminta semua orang untuk tidak menjualnya, tapi dia justru ikut menjualnya. Pandangan semua orang terhadapnya mulai berubah. Tuan Hartono mulai kehilangan rasa percaya dari semua pendukungnya.
"Tapi saya rasa kehilangan yang Tuan rasakan saat ini bisa jadi pelajaran yang sangat bagus."
Di antara kerumunan dewan komisaris, terlihat jelas yang mana yang sudah mengalami kerugian karena menjual terlalu cepat, dan yang mana yang masih tetap aman karena percaya pada kepemimpinan Marius. Senyum kepuasan tidak pernah lepas dari mereka yang percaya.
"Saham DYNE hari ini banyak yang dilepas dengan harga yang sangat bagus. Sebagai pembeli tentu saja kesempatan ini tidak bisa dilepaskan begitu saja. Karena hari ini adalah hari yang menyenangkan, saya akan membagikan semua saham DYNE yang terbeli hari ini kepada semua pemegang saham yang masih bertahan bersama DYNE."
"Anggap saja, ini adalah hadiah dari saya untuk kalian semua."
Tawa bahagia langsung terlihat di wajah beberapa orang, tapi tidak pada sebagian besar orang. Tidak ada lagi rasa marah, yang ada kini adalah rasa penyesalan.
Marius berjalan menuju Nora yang sedang terduduk di atas karpet ruangan itu. Dia kemudian duduk di atas salah satu lututnya. Dengan suara yang pelan, Marius berkata, " Sudah kukatakan. Aku akan membalas semuanya, sepuluh kali lipat. Kali ini, kamu bahkan tidak akan bisa keluar dari mimpi burukmu ini."
Nora terus menatap marah pada Marius.
"Tuan Barnett, ayahmu tidak akan bisa menolongmu. Jika dia bisa pun, dia tidak akan bisa menolongmu dari yang satu ini."
BAM!
Pintu ruangan itu kembali dibuka dengan kasar, dan orang-orang mulai menyeruduk masuk ke dalamnya. Orang-orang itu adalah orang-orang yang akan membawa Nora dan Tuan Barnett.
Nora akan berhadapan dengan kasus-kasus yang sudah lama tidak diselesaikan. Marius kini akan memastikan semua kasus itu berakhir hingga Nora mendapatkan hukumannya.
Sedangkan Tuan Barnett akan berhadapan dengan kasus-kasus yang melibatkan ARK Group, termasuk di antaranya kasus penggelapan pajak, penyuapan, dan perdagangan ilegal yang di dalamnya juga termasuk narkoba dan penjualan manusia.
Marius benar-benar menghabiskan semuanya yang berhubungan dengan Tuan Barnett dan Nora.
Saat mereka membawa Nora pergi, Ana langsung berlari menuju Marius. Dia sudah tidak sabar lagi menunggu semuanya hingga benar-benar selesai. Terlalu lama sudah, dia hanya berdiri melihat Marius menyelesaikan semuanya.
Marius menyambut kedatangan Ana ke dalam pelukannya. Dia memeluknya dengan sangat erat. Tidak peduli lagi pandangan semua orang yang tertuju padanya. Dia juga sudah terlalu lama menunggu agar dapat memeluk Ana seperti ini.
Ana melepaskan sebentar pelukan Marius, meraih jasnya dan menariknya agar bisa berada sangat dekat dengan wajahnya.
"Aku mencintaimu, Marius. Aku mencintaimu. Aku ... mencintaimu."
__ADS_1
Kedua tangan Ana menarik Marius lebih dekat lagi. Ana kemudian merekatkan bibirnya pada milik Marius, lalu membiarkannya berada cukup lama berada di sana.
Ana menutup kedua matanya. Tapi dia bisa merasakan kilatan lampu blitz menari-nari di dalam matanya.
Saat Ana melepaskan ciumannya sebentar saja, dia menatap Marius yang masih terkejut dengan apa yang dilakukan Ana.
"Tapi aku masih marah padamu, Marius," kata Ana memarahi Marius.
Marius hanya tertawa saat Ana mengatakan itu. Tangan kanannya segera meraih pinggang Ana agar mendekat padanya. Sedangkan tangan kirinya meraih tengkuk Ana.
"Aku tahu," katanya seraya menyunggingkan senyum kemenangannya.
Tepat di saat itu, Marius mendekatkan bibirnya pada bibir Ana, lalu menahan tengkuk Ana. Saat itu dia memuaskan dirinya dengan Ana.
Marius tidak peduli seluruh anggota dewan komisaris sedang memperhatikan dirinya. Dia juga tidak peduli dengan para wartawan yang sedang mengambil gambarnya bersama Ana saat ini. Yang dia pedulikan adalah Ana yang saat ini ada dalam pelukannya. Dia hanya ingin menikmati momen ini.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Marius!"
Teriakan Nora di luar ruangan terdengar hingga ke dalam ruangan itu, bahkan semakin mendekat dan mendekat.
Nora berlari dengan pisau di tangan kanannya. Orang-orang yang berada di jalurnya segera menyingkir ketika melihat itu.
"Aku akan membunuh gadis itu!!"
Marius segera memeluk Ana untuk melindunginya dari Nora yang semakin mendekat. Tapi kemudian David datang menarik Nora dan merebut pisau di tangannya.
David melihat akibat dari tindakan Nora itu, dia segera bertindak melumpuhkannya. Kini David tidak peduli lagi dengan Nora yang adalah seorang perempuan. Dengan menarik tangan Nora ke belakang, pisau yang digenggamnya berhasil dilepaskan. Lalu, menyerahkan Nora kembali pada polisi dengan memerintahkan anak buahnya untuk mendampinginya hingga mereka benar-benar pergi.
"Marius!," teriak Ana saat dia melihat luka Marius.
"Kamu tidak apa-apa? Apa dia mengenaimu?" Marius yang terluka, tapi Marius juga yang paling banyak bertanya.
"Lukamu ...," kata Ana cemas melihat luka di lengan Marius hingga merobek tuxedo mahalnya. Untungnya, tidak banyak darah yang keluar. Tapi, tetap saja, Ana seperti merasakan rasa perihnya hingga menembus kulitnya.
"Ini hanya luka kecil. Jangan khawatir," kata Marius. Tangannya tidak lepas dari wajah Ana. "Katakan, apakah dia mengenaimu?"
Ana menggelengkan kepalanya. "Lukamu harus diobati."
"Permisi, permisi ..."
Ana melihat Noel sedang menerobos orang-orang untuk bisa mendekati Marius. "Noel?"
"Biar kulihat," katanya sambil memeriksa lengan Marius. "Kita cari tempat yang sepi untuk mengobatimu."
David segera memimpin mereka menuju tempat yang aman untuk Noel menangani luka Marius. Noel adalah seorang dokter, karena itulah dia selalu membawa peralatannya di dalam mobilnya. Begitu juga pada hari ini.
__ADS_1
"Syukurlah, lukanya tidak terlalu dalam," kata Noel setelah dia selesai merawat luka Marius.
"Terima kasih sudah merawatnya, Noel," kata Ana. Dia masih terlihat khawatir. Ana kemungkinan masih kaget dengan kejadian tadi.
"Ah, tidak perlu berterima kasih. Aku hanya kebetulan berada di sini." Noel terlihat cukup sungkan ketika Ana berterima kasih padanya.
"Hahaha ..."
Suasana yang tenang dikagetkan dengan tawa Mr. Wang yang tiba-tiba muncul. Dia terlihat sangat bahagia.
"Pertunjukan luar biasa yang kamu tampilkan hari ini, Marius. Hahaha ...," katanya lagi.
Marius berdiri untuk menyambutnya, tapi Mr. Wang melarangnya, memintanya agar tetap duduk. Meski demikian, Marius tetap berdiri untuk menghormatinya.
"Duduk saja. Kamu terluka. Jangan khawatirkan tentangku. Aku akan segera pulang. Terlalu bahagia hingga kelelahan dengan semua penampilan hari ini. Hahaha ..."
Marius hanya tersenyum mendapatkan pujian itu darinya. "Semuanya berkat bantuan Paman."
"Tidak, tidak .... kamu memang luar biasa. Karena itu, aku akan selalu mendukungmu."
Mr. Wang pergi setelah mereka mengobrol sebentar. Noel pun juga ikut bersamanya. Dan tepat setelah itu, suara Sophie mulai mengisi ruangan itu.
"Oh mon dieu ...," teriaknya. Dia terlihat begitu panik saat melihat lengan kemeja Marius yang robek karena sayatan pisau dan dikelilingi oleh noda darah.
Yang terjadi setelah itu adalah obrolan antara Sophie dan Marius. Meski Ana tidak memahami bahasa yang mereka gunakan, tapi Ana bisa melihat kekhawatiran Sophie, dan Marius yang berusaha menenangkannya. Sophie sama saja dengan nenek manapun di dunia.
Senyum Ana tidak dapat disembunyikan saat dia melihat interaksi keduanya. Marius yang tadi terlihat begitu berwibawa di depan semua anggota dewan komisaris, kini terlihat seperti bayi besar kesayangan neneknya.
"Grand-mère Sophie ..."
Suara Lucas yang memanggil Sophie dengan hangat membuat Ana terkejut. Untuk pertama kalinya dia mendengar Lucas berbicara dengan bahasa asing. Dia tidak pernah tahu ternyata Lucas bisa sefasih itu berbahasa Perancis.
Yang juga mengejutkan adalah kedekatan Lucas dengan Sophie. Saat mereka bertiga mengobrol, Ana melihat kehangatan mereka seperti sebuah keluarga.
"Kamu tidak tahu? Marius tidak cerita?," tanya Naomi saat Ana bercerita padanya tentang pendapatnya mengenai mereka.
"Cerita tentang apa?"
"Lucas kan diadopsi oleh Ernest dan Agnes. Saat Marius berangkat ke Perancis, Lucas ikut bersamanya. Mereka bersekolah bersama-sama sejak mereka masih kecil," jelas Naomi.
"... Hah?!"
Dan sekarang, obrolan Marius, Lucas, dan juga Sophie terhenti, karena terkejut oleh Ana.
......................
__ADS_1
Author's Note :
Oh mon dieu \= Ya Tuhanku