Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 65


__ADS_3

Marius dan Ana memasuki halaman sebuah rumah bersama-sama. Begitu memasukinya, Ana sudah terpukau dengan keindahan halaman rumah yang bergaya oriental itu. Tapi, tetap tidak bisa menghilangkan rasa gugupnya.


Malam ini, Marius mengajak Ana pada sebuah acara makan malam. Meski Marius bilang ini bukan acara resmi, tapi Ana tidak berhenti merasa gugup. Kegugupannya semakin bertambah, saat Ana mulai memasuki rumah itu.


"Marius, kamu yakin ini tidak apa-apa?," bisik Ana pada Marius yang ada di sampingnya saat ini. Tangan Marius yang digandengnya sedari tadi, digenggam erat hingga berkeringat.


Marius tersenyum memandangi Ana yang dari tadi tidak berhenti bertanya. "Jangan khawatir, dia pasti akan menyukaimu," katanya menenangkan Ana.


"Kalau nggak gimana?," bisik Ana lagi.


Marius menggerakkan punggung jari telunjuknya dengan lembut menuruni hidung Ana. "Kamu ini. Berhenti memikirkan hal yang aneh-aneh. Kalau aku sudah yakin berarti pasti tidak akan salah," kata Marius.


"Ya kan, aku cuma khawatir," rengut Ana lirih. Sekali lagi Marius tersenyum mendengarnya. Dia menggenggam tangan Ana sambil sesekali mengusapnya untuk menenangkannya.


Acara makan malam itu adalah undangan dari Mr. Wang. Ya, salah satu pejabat eksekutif DYNE itu pada akhirnya menghubungi Marius.


Mr. Wang sudah lama menjadi pejabat eksekutif dalam dewan komisaris DYNE. Semua orang menghormatinya, karena mereka menganggapnya sebagai tetua di DYNE. Karena pengaruh kuatnya itulah, Marius sangat membutuhkan bantuannya.


Tapi, pertemuan ini bukanlah pertemuan pertama Marius sejak Mr. Wang memanggilnya. Marius sudah menemuinya kemarin malam.


#


"Sekretarisku mengatakan kamu ingin menjelaskan sesuatu. Mengapa begitu seriusnya sampai harus menjelaskannya?," kata Mr. Wang.


Pria yang terlihat berumur 70 tahun itu berbicara dengan nada yang cukup pelan, tapi hanya dengan mendengarkannya saja bisa dengan mudah mengetahui bahwa Mr. Wang adalah sosok yang bijaksana dan memiliki pemikiran yang sangat dalam.


"Saya minta maaf karena tidak menjelaskan dengan baik sehingga terjadi kesalahpahaman dengan tindakan saya," kata Marius seraya membungkukkan tubuhnya.


"Apa yang sudah kamu lakukan? Apakah ada masalah?," tanya Mr. Wang lagi.


"Saya bisa memahami jika paman tidak menyetujui pertunangan ini, tapi saya punya alasan mengapa saya melakukannya," kata Marius lagi.


"Jadi, kamu masih memanggilku paman? Aku mengira kamu sudah melupakanku," sindir Mr. Wang.


"Saya tidak akan berani melakukannya. Paman adalah orang yang saya hormati selain kedua orang tua saya." Marius mengatakannya dengan sangat tegas.

__ADS_1


Mr. Wang terdiam memandangi Marius yang semakin dalam membungkuk di hadapannya. Dia dapat melihat kesungguhan Marius dari apa yang dilakukannya itu. Karena itulah, dia meminta Marius untuk berdiri dan duduk di dekatnya.


"Aku sangat dekat dengan Ernest dan juga Agnes. Kami sudah seperti saudara. Aku tahu Agnes punya menantu pilihannya sendiri. Dia sangat ingin melihat kalian menikah. Tapi ... kalau kamu tidak menyukainya, setidaknya janganlah kamu pilih dari keluarga Barnett itu. ARK bukanlah rekan bisnis yang baik untuk DYNE," kata Mr. Wang.


"Saya paham siapa yang paman maksud. Namanya Ana. Selama ini, dia tinggal di rumah saya untuk mengasuh Rain. Ada alasan mengapa saya melakukan itu. Dan karena itulah, saya akan membutuhkan bantuan paman."


Marius menjelaskan semua yang direncanakannya pada Mr. Wang. Sedangkan, Mr. Wang hanya mendengarkan semua yang dikatakan Marius tanpa menunjukkan perubahan apapun pada raut wajahnya. Dia hanya memejamkan kedua matanya, dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Anak itu ... Ana ... aku selalu mendengar Agnes menyebut namanya. Dia sangat menyukainya," kata Mr. Wang setelah Marius selesai menjelaskan semuanya. "Aku ingin bertemu dengannya."


Marius terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka Mr. Wang akan mengatakannya.


"Datanglah besok untuk makan malam di sini. Bawa dia bersamamu. Aku akan memastikannya sendiri, apakah dia adalah gadis yang Agnes maksud atau bukan."


#


Ana dan Marius masih menunggu Mr. Wang di ruang tamu. Seorang pelayan masuk dan mengantarkan mereka ke ruang makan. Tak lama setelah mereka duduk, Mr. Wang masuk ke ruangan itu. Marius dan Ana kembali berdiri menyapanya.


"Kamu pasti yang bernama Ana," kata Mr. Wang setelah mereka duduk. Dia tersenyum layaknya orang tua yang sedang tersenyum pada anaknya.


"Haha ... duduklah, tidak perlu gugup. Ini hanya makan malam biasa," kata Mr. Wang yang sepertinya bisa melihat kegugupan Ana.


Saat Ana kembali duduk, Mr. Wang melihat sesuatu di leher Ana. Sebuah kalung dengan liontin tumpukan lima buah berlian kecil yang disusun ke atas dan dijepit oleh dua logam kecil menyerupai pilar di kanan kirinya.


"Kalung itu ... apakah kamu membelinya?," tanya Mr. Wang.


Ana memegangi kalung miliknya itu. "Ini ... Seseorang memberikan ini untuk saya sudah lama."


"Bisakah kamu memberitahuku siapa yang memberikannya padamu?," tanya Mr. Wang lagi.


Dari Mr. Wang, Ana mengalihkan pandangannya ke Marius yang ada di sampingnya. Ana tidak yakin apakah dia boleh mengatakannya atau tidak. Tapi, saat Marius menganggukkan kepalanya, Ana kembali menatap Mr. Wang.


"Mama Agnes yang memberikannya untuk saya," jawab Ana.


Mr. Wang tersenyum lebar mendengar jawaban Ana. Lalu, kemudian dia bertanya, "Since I saw you, dazzled by the lightning, my eye is veiled with a mirage. Apakah kamu pernah mendengarnya?"

__ADS_1


Ana mengingatnya sebentar, lalu kemudian menganggukkan kepalanya.


"Apakah kamu tahu kelanjutannya?," tanyanya lagi.


"I look without seeing, or I do not see in the air. Float only a shape, your sweet image," kata Ana.


Mr. Wang kini tersenyum puas. "Itu adalah puisi kesukaan Agnes."


Selesai makan malam, Mr. Wang memanggil pelayannya untuk mengantarkan Ana berkeliling di sekitar rumahnya. Sedangkan Mr. Wang mengajak Marius untuk berbincang di ruang kerjanya.


"Ana ... untuk melindunginya, kamu butuh lebih dari sekedar suara. Apa kamu tahu itu?," tanya Mr. Wang.


"Saya tahu. Saya sedang mempersiapkannya," jawab Marius yakin.


"Rapat tahunan dewan komisaris akan diadakan dua bulan lagi. Jangan khawatirkan tentang dukungan dariku. Aku pastikan kamu akan mendapatkannya. Persiapkan saja senjata rahasiamu untuk melawan presdir TMN Corp. Kudengar dia akan membuat dewan komisaris menurunkanmu jika kamu menolak. Aku lebih suka kamu yang memimpin DYNE dari pada dia."


"Terima kasih, paman," kata Marius yang akhirnya bisa bernapas sedikit lega.


......................


"Jadi, bagaimana? Apakah berhasil?," tanya Ana begitu mereka sudah memasuki mobil. Supir yang bersama mereka sudah menjalankan mobil itu menuju rumah Marius.


Tapi, Marius tidak menjawab apapun. Dia hanya menatap Ana, lalu turun memandangi kalung yang dikenakan Ana. Dia tidak pernah menyangka bahwa kalung itu adalah pemberian mamanya.


Tangan Marius perlahan meraih liontin kalung itu. "Kapan mama memberikannya padamu?," tanyanya.


"Hhmm ... waktu ulang tahun ke-8 kalau tidak salah. Waktu itu Mama Agnes datang bersama Kak Adam," kata Ana sembari mengingat kembali waktu itu.


"Lalu ... puisi itu. Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?," tanya Marius lagi.


"Mama Agnes selalu membacakannya untukku setiap kali aku bermain ke rumahnya seingatku, dan sekali saat memberikan kalung ini. Itu puisi Perancis. Karena aku kesulitan, Mama Agnes membacakannya dalam Bahasa Inggris. Ada apa? Apakah ada masalah?"


Marius tersenyum memandangi wajah Ana yang kini berubah menjadi khawatir kembali. Ana tidak tahu bagaimana ingatannya itu baru saja membantu Marius. Diciumnya kening Ana, tanpa menjelaskan apapun padanya. Hanya tersenyum, hanya itu yang dilakukan Marius.


Mengingat semua yang terjadi malam itu, membuatnya serasa menjadi dekat dengan mamanya. Dia tidak akan pernah tahu, ada begitu banyak hal yang sudah mamanya lakukan untuk dirinya dan Ana jika hari ini tidak terjadi. Semua itu yang membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum saat memikirkannya.

__ADS_1


"Mama sangat menyayangi menantunya yang ini, ya," batin Marius berteriak kegirangan.


__ADS_2