
Begitu Ana menunjukkan kotak itu, Marius langsung membaca surat yang ada di dalamnya. Dia masih memandangi surat itu meski sudah selesai membacanya. Marius mungkin masih meyakinkan dirinya sendiri dengan semua yang dibacanya dalam surat itu.
Marius juga melihat barang-barang lainnya yang ada di dalam. Ana tidak tahu untuk apa, tapi Marius mengeluarkan beberapa barang yang ada di dalamnya, lalu menyimpannya. Tapi surat dari Adam, diberikan kepada Ana setelah dia membuat salinan surat itu.
"Aku tahu, kamu pasti ingin menemui Valerie saat ini. Pergilah. Aku akan memberitahu David untuk pergi bersamamu. Aku akan menyusulmu segera bersama pengacara," kata Marius.
Dan Ana pun segera pergi menemui Valerie.
Mobil yang Ana tumpangi sudah melaju cukup kencang. Tapi perjalanan tetap terasa lambat bagi Ana. Selama perjalanan itu, Ana sudah tidak sabar untuk memberitahu Valerie tentang apa yang sudah dia temukan hari ini. Dia terus berharap kali ini Valerie bisa menerima semua kebenaran bahwa Rain adalah benar anak Adam.
"Tunggu Mommy, Rain. Tunggu Mommy ..."
Ketika Ana tiba di depan rumah Valerie, dia tidak dapat menemukan Valerie. Asisten Valerie mengatakan bahwa Valerie akan mengadakan konferensi pers untuk memberitahukan mengenai putrinya dan ayah kandung sang putri.
Valerie ternyata sudah bersiap untuk meninggalkan dunia hiburan. Karena itu dia akan melakukan konferensi pers ini. Dia bahkan juga sudah menolak semua tawaran yang masuk hanya agar dia dapat mundur lebih cepat.
Dada Ana rasanya seperti dihantam oleh palu yang sangat besar ketika mendengarnya. Marius pernah bilang bahwa Valerie adalah orang yang nekat, dan pada saat itu dia merasakannya sendiri senekat apa Valerie itu. Demi agar bisa bersama dengan Dylan, Valerie bahkan bisa melakukan semua ini.
Ana tidak mau berpikir panjang lagi, terutama ketika dia tahu Valerie juga membawa Rain bersamanya dan akan mengenalkannya pada publik. Dia segera menarik asistennya itu untuk ikut bersamanya ke tempat Valerie berada.
......................
Saat mobil yang membawa mereka berhenti di lobi depan sebuah gedung convention hall, Ana langsung berlari mengejar asisten Valerie yang akan membawa Ana ke ruang ganti, tempat Valerie dan kemungkinan juga Rain berada.
Para wartawan sudah banyak yang berdatangan. Beberapa di antara mereka sudah siap dengan peralatan mereka. Beberapa lagi sedang membicarakan Valerie dan alasan konferensi pers hari itu. Meski sedang berlari, Ana dapat mendengar mereka masih menyebut nama Marius.
Suara-suara itu semakin menghilang saat Ana sudah berbelok menuju sebuah lorong yang membawanya ke ruang ganti Valerie. Dan pada ujung lorong, asisten Valerie segera membuka pintu sebuah ruangan. Di sanalah kamar ganti Valerie.
Begitu pintu itu terbuka, Ana langsung dapat melihat Valerie sedang berdiri menatapnya. Dan sedetik kemudian, Valerie mulai menunjukkan kemarahannya.
"Mau apa kamu kesini? Mengapa kamu membawanya kemari? Dimana sekuritinya? Usir cepat!," teriak Valerie dalam ruangan yang tidaklah besar itu.
"Hentikan semua ini, Valerie. Kamu tidak bisa melakukan konferensi pers itu. Rain benar- benar anak kandung Adam," kata Ana dengan nada meminta.
"Cukup! Cukup!! Cukup!!!," teriak Valerie. "Kalian selalu memaksakan keinginan kalian padaku. Dylan ayahnya! Kalian semua tidak tahu, tapi aku tahu!"
"Aku punya buktinya, Valerie. Aku menemukan bukti yang ditinggalkan Adam," kata Ana seraya menunjukkan surat dari Adam dan juga hasil tes yang dilakukan Adam.
Valerie merebut surat itu dengan kasar. Matanya terus mendelik saat membacanya. Tapi kemudian semuanya berubah.
__ADS_1
Kedua mata Valerie mulai menunjukkan ketidakpercayaannya. Tangannya terlihat bergetar.
"Bohong! Ini siasat busuk kalian, kan? Kalian melakukan ini agar aku menghentikan konferensi pers ini, kan? Kalian benar-benar keterlaluan," kata Valerie yang masih berteriak.
Valerie melempar surat itu di depan wajah Ana, lalu pergi keluar dari ruangan itu. Tapi, sebelum Valerie mencapai pintu, Ana meraih tangannya.
"Kumohon, Valerie. Jangan lakukan ini. Pikirkan perasaan Rain. Dia pasti akan sangat sedih."
Ana terus memohon meski Valerie memandangnya dengan rasa jijik pada raut wajahnya. Dia tidak peduli jika Valerie akan memukulnya. Selama itu bisa menghentikan Valerie, Ana akan melakukan apapun.
"Valerie!"
Seseorang baru saja masuk ke ruangan itu dan berteriak memanggil nama Valerie. Wajahnya terlihat sangat panik.
"Anak itu hilang."
"Apa?! Bagaimana bisa dia menghilang? Sudah kusuruh kalian menjaganya," kata Valerie geram.
"Siapa yang menghilang? Apakah Rain? Kemana dia? Katakan, Valerie!"
Ana memegangi kedua sisi lengan atas Valerie. Dia terus memaksa Valerie memberinya jawaban. Tapi, bahkan Valerie sendiri tidak tahu kemana Rain pergi, lalu bagaimana dia akan memberikan Ana jawaban yang dia mau?
Sebelum Valerie menyelesaikannya, orang lain lagi masuk ke dalam ruang ganti.
"Ayo, Valerie. Para wartawan sudah menunggu."
"Kalian segera cari anak itu. Aku akan temui ...."
Ana tidak menunggu lagi. Bukan hal yang aneh jika Valerie begitu keras kepala bahkan ketika anak kandungnya sendiri dikabarkan hilang. Karena itu, Ana tidak mau membuang-buang waktunya dengan membujuk Valerie lagi.
"David, perintahkan anak buahmu untuk mencari Rain. Dia pasti masih ada di sekitar sini. Kita akan temui pihak keamanan untuk melihat rekaman CCTV."
Beruntungnya, Rain tertangkap oleh kamera CCTV. Dalam rekaman itu Rain terlihat sedang berjalan sendirian menuju keluar gedung. Dan itulah berita buruknya.
David langsung memerintahkan anak buahnya untuk bergerak keluar gedung mencari Rain. Sedangkan Ana sudah berlari lagi keluar gedung seperti yang dilakukan Rain.
Ana terus berlari sambil bertanya pada setiap orang yang dia lewati. Dia tunjukkan foto Rain yang dia simpan dalam ponselnya. Tapi tidak seorang pun melihatnya.
Dia berteriak memanggil nama Rain, berharap anak itu bisa mendengarnya. Tapi tidak ada sahutan yang menjawab panggilannya. Ana hampir putus asa. Dia terduduk di atas kedua kakinya.
__ADS_1
Saat dia membayangkan Rain yang sedang ketakutan sendirian di jalanan, Ana kembali bangkit. Dia kembali berlari dan bertanya pada semua orang. Tidak peduli berapa orang yang terus mengatakan tidak, Ana tetap mencari.
Tepat di saat itu ...
CIIITT .... BRAK!!
Suara decit mobil dengan rem panjangnya tiba-tiba menabrak sesuatu. Meski terdengar cukup jauh, tapi suara itu bisa terdengar hingga ke tempat Ana berdiri, sepertinya mobil itu baru saja menabrak sesuatu dengan cukup keras.
Tiba-tiba Ana merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke ulu hatinya.
"Mommy ..."
Ana mendengar dengan jelas suara Rain memanggilnya. Tapi saat Ana mencarinya, tidak ada Rain di mana pun dia melihatnya. "Rain ...," panggilnya lirih.
Orang-orang yang berkumpul di tempat kecelakaan itu terjadi menjadi semakin banyak. Hanya dengan melihat kerumunan orang-orang itu, Ana merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam hatinya.
Tak lama kemudian, dari arah kerumunan orang-orang itu, Ana melihat sebuah mobil merah melaju melewatinya. Di dalamnya, dia melihat sosok orang yang pernah dia lihat sebelumnya di rumah Valerie.
"Dylan ..."
Kini, perasaan Ana semakin tidak karuan. Dia langsung melihat ke arah kerumunan orang-orang itu, lalu berlari ke arah mereka.
BRAK!!!
Sebelum Ana mencapai kerumunan itu, suara tabrakan terdengar lagi. Ana langsung berbalik dan melihat mobil Marius menabrak mobil Dylan hingga keduanya hancur.
Tapi, bukan itu yang ingin Ana lihat sekarang. Dia berbalik lagi, dan berlari ke arah kerumunan itu dimana orang-orang menjadi semakin banyak.
Ana harus menyingkirkan semua orang agar dia bisa melihat siapa yang sedang mereka lihat saat ini. Darah segar tergenang cukup banyak pada saat Ana berhasil masuk dan mendekat. Dan terakhir yang Ana lihat adalah tubuh gadis kecil yang dengan mudah Ana kenali meski ada banyak darah yang membasahi wajah dan juga tubuhnya.
"Rain!!!"
Teriakan Ana membuat orang-orang menyingkir menjauh dari Ana dan juga Rain. Mereka memberikan ruang untuk Ana dan Rain.
Ana mendekati tubuh Rain yang tergeletak tanpa berani menggerakkannya. Dia hanya memegangi wajah mungil gadis kecil itu dengan air mata yang membasahi wajahnya. Dia tidak peduli tangannya kini penuh dengan noda darah. Ana terus memanggil nama Rain.
Marius datang langsung memeluknya dari belakang bersamaan dengan petugas ambulans yang langsung menangani Rain. Marius terus berbisik pada Ana untuk menenangkannya. Meski Ana terus berontak untuk bisa lepas dari pelukan Marius, tapi Marius tetap tidak melepaskannya.
"Rain akan baik-baik saja, Ana. Dia akan baik-baik saja."
__ADS_1
Dalam teriakan dan tangisannya, Ana tidak tahu apakah dia harus mempercayai Marius atau tidak. Rain yang tergeletak di atas aspal panas dengan tidak sadarkan diri. Darah mengalir keluar dari kepala dan luka di tubuhnya. Dia terus berpikir, apakah dia harus mempercayai ucapan Marius itu?