
"Datanglah ke ruang kerjaku jam 9 malam."
Begitu pesan yang Marius kirim untuk Ana melalui ponselnya. Pesan ini dikirimkan setelah mereka makan siang bersama. Bahkan hingga malam tiba, Ana masih belum bisa memberikan dirinya gambaran apa yang akan dibicarakan Marius dengannya.
Seperti yang sudah Ana sarankan kemarin, Rain akhirnya mengatakan sendiri kepada Marius tentang keinginannya kembali ke sekolah. Ana yang mengantarkannya menemui Marius hanya tersenyum memandangi Rain yang sedang berbisik di telinga daddy nya.
Marius sendiri tampak terkejut seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia menatap Ana seperti mencari konfirmasi. Dan setelah Ana menganggukkan kepalanya, Marius kembali menatap Rain dan mengabulkan keinginan putrinya itu.
Lalu, pesan ini muncul di ponselnya setelah Rain menemui Marius. "Apakah ada hubungannya?," pikir Ana.
Dan, menemui Marius hanyalah satu-satunya cara untuk bisa mendapatkan jawabannya. Setelah memastikan Rain tertidur pulas, Ana segera turun menemui Marius.
Dan seperti itulah, Ana saat ini berada di ruang kerja Marius yang ternyata dia tidak sendirian di dalam ruang kerjanya. Ada Lucas dan seorang pria yang ... entahlah ... Ana seperti pernah bertemu dengannya. Tapi, dimana?
"Maaf memanggilmu malam-malam kemari," kata Lucas yang mencoba membuka pertemuan mereka.
"Kita langsung saja. Mungkin kamu belum mengetahuinya, tapi seseorang pernah mencoba menculik Rain sebelumnya," lanjutnya.
"M-menculik?," Ana ingin mengkoreksi apa yang baru saja didengarnya, tapi memang seperti itu kata yang didengarnya, tepat seperti apa yang dibayangkannya.
"Saat pulang sekolah, mantan pengasuh sebelumnya, membawa Rain keluar dari sekolahnya dan jauh dari para pengawalnya. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang sudah memantau mereka. Dua orang pria dengan sepeda motornya berusaha menculik Rain. Selebihnya, kamu yang lebih tahu ceritanya."
"Aku?"
Ana mencoba mengingat kembali kejadian yang pernah terjadi seperti yang diceritakan oleh Lucas. Penculikan? Sepeda motor? Dua orang pria?
Mata Ana terbelalak lebar ketika dia mengingat kejadian waktu itu. Saat dia melempar penculik itu dengan sepatu dan memukulinya dengan tas miliknya.
Sedetik itu juga, Ana akhirnya mengingat pria asing yang ada di ruangan itu. Dialah pengawal yang meminta Ana untuk menemui tuannya, tapi Ana menolaknya saat itu.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sudah ingat," komentar Lucas saat melihat reaksi Ana. "Dia adalah David, kepala keamanan," lanjut Lucas mengenalkan pria yang ada di sampingnya.
"Jadi, maksudmu Rain adalah anak yang waktu itu," tanya Ana yang masih tidak percaya. Lucas memberikan tanda pada Ana bahwa apa yang dikatakannya benar.
"Tunggu, tapi waktu itu, wanita yang bersama Rain sepertinya ikut melawan waktu mereka akan membawa Rain. Mengapa kamu bilang pengasuhnya yang membawa Rain keluar dari sekolah seakan-akan pengasuhnya yang bekerja sama dengan para penculik itu?"
"Wanita itu adalah orang yang menolong Rain selain kamu. Dia yang merebut Rain dari pengasuh yang membawanya, dan membawa Rain menjauh dari para penculik itu. Sayangnya, wanita itu bisa terkejar oleh mereka yang bersepeda motor. Saat itulah kamu datang menolongnya. Dan ketika ada kesempatan, dia segera berlari dan bersembunyi."
"Rain ditemukan sedang menangis. David curiga wanita itu sengaja meninggalkan Rain di tempat terbuka saat dia melihat para pengawal berlarian, agar para pengawal bisa melihatnya."
"Apakah kalian menemukan wanita itu?"
"Tidak. Begitu melihat Rain, mereka fokus pada keselamatan Rain. Kita baru mengetahui bagaimana yang terjadi sebenarnya dari rekaman CCTV. Sayangnya, rekamannya terlalu jauh, jadi tidak dapat melihat dengan jelas siapa wanita itu."
"Jadi karena itu Marius memecat pengasuh yang terakhir," pikir Ana mengingat kembali pembicaraan dua pelayan waktu itu.
"Apa tidak ada rekaman CCTV lain? Bukankah disana adalah tempat umum, seharusnya ada banyak yang bisa dijadikan petunjuk."
"Tidak ada. Kemungkinan ada orang lain yang sudah memanipulasi rekamannya."
"Mengapa seseorang ingin menculik Rain?"
"Belum diketahui. Ini adalah kejadian pertama. Rain juga baru 3 bulan bersekolah. Setelah ini terjadi, Rain menolak untuk bersekolah. Marius juga sudah mendatangkan psikiater untuk menghilangkan trauma Rain. Dan, seperti yang kamu tahu, Rain tetap tidak mau sekolah .... sampai tadi siang."
"Ternyata itu alasannya", pikir Ana.
"Rain juga tidak mau bicara tentang wanita yang menolongnya. Jadi, kita tidak bisa menanyai wanita itu dan hanya bisa mengandalkan informasi yang didapat dari kamu dan juga CCTV di sekitarnya." Lucas mengingatkan Ana kembali tentang informasi yang Ana tuliskan di selembar kertas. Dia letakkan potongan kertas itu di depan Ana.
"Jadi, penculiknya belum tertangkap?," tanya Ana mengambil kesimpulannya.
__ADS_1
"Belum. Nomer plat kendaraan yang kamu berikan ternyata palsu. Polisi juga masih kesulitan menyelidikinya. Jadi, kami berusaha menyelidikinya sendiri."
"Mereka sudah gagal sebelumnya, apakah mereka akan mencoba menculik Rain lagi?"
"Kita juga tidak yakin pada awalnya. Tapi, David pernah menugaskan orang untuk mengawasi keadaan sekitar sekolah dalam waktu yang berbeda. Dan mereka mengambil foto orang-orang yang mencurigakan di dekat sekolah Rain," kata Lucas sembari menjejerkan lima lembar foto wajah beberapa orang.
Ana mengenali salah satu di antaranya. "Dia, orang yang bermotor," kata Ana sambil menunjuk salah satu foto itu. Lucas mengambilnya dan menyerahkannya ke David.
"David curiga, mereka sedang memantau apakah Rain ada di sekolah atau tidak. Dan jika kecurigaan itu benar, itu artinya mereka akan mencobanya lagi," lanjut Lucas.
"Apakah aman bagi Rain untuk kembali ke sekolah?," Ana mulai menyalahkan dirinya sendiri karena memberi Rain ide bodohnya untuk kembali ke sekolah.
"Serahkan urusan keamanan pada kami, Nona Ana. Selama Nona Rain dan juga Nona Ana masih dalam pantauan kami, saya pastikan kalian akan baik-baik saja," kata David.
"Apakah mereka akan melakukannya lagi jika mereka melihatku? Aku yakin orang itu pasti masih ingat dengan wajahku," tanya Ana ragu.
"Karena itu, kamu akan memantau dari mobil yang berbeda. Rain akan bersama pengawal wanita yang menyamar," kata Lucas.
"Rain pasti ketakutan," kata Ana lirih.
"Karena itu juga, kita butuh bantuanmu, Ana. Kamu yang bisa menenangkan Rain, dan Rain mau menuruti kamu. David akan mengatur agar kamu tetap bisa turun dan mengantar Rain sampai di kelasnya."
Ana memperhatikan mereka satu persatu. Di pikirannya saat ini selain keselamatan Rain juga adalah kebahagiaan Rain. Jika penculik ini tidak tertangkap, Rain akan selamanya berada dalam bayang-bayang ketakutan. Dan satu-satunya cara agar Rain bisa terbebas dari rasa takut itu adalah dengan menangkap para penculiknya.
"Aku bisa mengerti jika kamu tidak mau melakukannya, Ana. Aku akan mencari cara lain," kata Marius melihat Ana yang terlihat jelas sedang berperang dalam hatinya.
"Tidak. Aku akan melakukannya," kata Ana yakin. "Beri aku waktu dua hari untuk menyiapkan Rain. Saat aku sudah siap, aku akan mengabari kalian. Aku akan butuh beberapa barang, jadi tolong sediakan untukku."
Ana sudah menetapkan hatinya untuk membantu Rain melewati itu semua. Dia pernah berhadapan dengan para penculik itu, jadi tidaklah sulit menghadapi mereka untuk yang kedua kalinya. "Mereka pasti akan menyesal telah mengganggu Rain," kata Ana geram dalam hatinya.
__ADS_1