
Dari hari ke hari, kesehatan Rain semakin lama semakin membaik. Tidak ada keluhan mengenai rasa sakitnya ataupun munculnya gejala baru yang mengkhawatirkan akibat kecelakaan itu ataupun karena operasi yang baru dijalaninya. Noel juga mengatakan Rain termasuk beruntung karena bisa selamat dan kembali pulih setelah kecelakaan itu. Pada akhirnya, Ana kembali mengucapkan syukurnya berkali-kali.
Saat Ana sedang bersama dengan Rain, dia mendengar Rain bercerita tentang saat kecelakaan itu terjadi.
Saat Valerie membawanya ke convention hall waktu itu, Rain dibiarkan bermain di sebuah ruangan yang biasanya digunakan sebagai ruang ganti. Di sanalah Rain hanya ditemani oleh seorang staff asisten Valerie untuk menjaganya.
Gadis kecil itu berpikir cara untuk bisa pergi dari sana. Dia terlalu pintar hingga bisa mengelabui seorang staff yang usianya terpaut jauh di atasnya. Hanya dengan menyuruhnya mencarikannya minuman kesukaannya, Rain akhirnya ditinggal sendirian di dalam ruangan itu. Dan itulah saat Rain akhirnya bisa pergi.
Tujuannya sudah terpatri dengan jelas dalam benaknya. Dia ingin pergi mencari Ana dan Marius. Yang direncanakan dalam otak kecilnya adalah dia hanya perlu bertanya pada orang-orang yang dilewatinya. Dia yakin pasti akan ada yang mengenal mereka.
Tapi kenyataannya tidak. Dia sudah berjalan sangat jauh, bertanya kesana kemari, tapi tidak ada satupun yang mengenalnya. Dan tidak ada satupun orang yang mau repot membantunya ataupun membawanya ke kantor polisi.
Sekali lagi, gadis kecil itu terlalu cerdas. Usianya baru 4 tahun dan dia tahu apa yang harus dilakukannya. Ketika dia tidak dapat menemukan jawaban di satu tempat, maka dia harus mencari ke tempat lainnya. Itulah saat dimana dia berpikir untuk mencari jawabannya di seberang jalan yang terlihat ada begitu banyak orang. Harapannya masih sama, ada orang yang mungkin mengenal daddy dan mommy nya.
Saat semua orang sedang berdiri di ujung zebra cross sambil menanti traffic light berubah menjadi hijau untuk pejalan kaki, Rain juga ikut berkerumun di sana. Dan ketika sudah waktu baginya untuk menyebrang, dia ikut bergerak.
Tepat di saat itu, sebuah mobil Dylan tiba-tiba menancapkan gasnya dan melaju cepat. Di saat itu juga, Rain tidak punya keberanian bergerak meski semua orang berlarian menjauhi jalan raya itu. Karena itulah akhirnya mobil Dylan menghantamnya. Tubuh kecilnya terpelanting, dan cerita sisanya adalah cerita mengerikan bagi Ana.
Dylan yang dengan sengaja menabrak Rain. Karena itu dia menekan pedal gas keras-keras agar mobilnya bisa melaju sangat kencang. Agar dia bisa melampiaskan kemarahannya pada gadis kecil yang dianggapnya racun dalam hidupnya. Adalah keajaiban karena tubuh kecil Rain bisa bertahan dari rasa sakit yang hebat itu.
Keajaiban. Begitu Ana mendefinisikannya. Rain telah menerima banyak keajaiban dari kecelakaan itu.
"Jangan lakukan hal itu lagi, Rain. Jangan mencoba untuk berbohong pada Mommy agar Rain bisa pergi sendirian," kata Ana memarahi Rain.
Dan dengan selang infus yang masih terhubung pada punggung tangannya, Rain berdiri memeluk Ana. Dia menenggelamkan wajahnya pada bahu Ana. "I'm sorry, Mommy. Rain tidak akan melakukannya lagi."
Kalau sudah begini, bagaimana Ana akan tetap marah? Dia kemudian mengeratkan pelukannya.
Beberapa hari setelah itu, Rain akhirnya sudah diperbolehkan pulang. Dia terus berlarian ke sana kemari bersama Ryu dan Arsen yang datang menjemputnya. Meski Ana meminta Rain untuk berhenti, gadis kecil itu tetap tidak berhenti.
Hingga akhirnya Marius menggendongnya untuk menghentikannya, "Dengarkan Mommy, Rain," katanya tanpa bermaksud memarahinya.
Rain tertawa. Napasnya terengah-engah karena terlalu lelah. Lalu kemudian memeluk Marius. "I'm sorry, Daddy."
"Ingat, kan kata dokter Noel? Rain tidak boleh bermain terlalu capek dulu. Atau lukanya nanti bertambah parah. Rain dirawat lagi, deh. Rain mau begitu?," tanya Ana seraya mengelap keringat yang membasahi kening Rain.
__ADS_1
Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya. Wajahnya juga terlihat tidak senang membayangkan hal itu.
"Tapi, Mommy punya kejutan di rumah nanti," kata Ana lagi. Dan wajah Rain berubah sekaligus.
Ana memang menyiapkan sebuah kejutan untuk Rain. Dia meminta tolong Naomi untuk membelikan gaun cantik dan sebuah boneka yang pernah dia lihat, lalu meletakkannya di rumah agar bisa menjadi kejutan selamat datang saat dia keluar dari rumah sakit.
Meski Ana tidak menyebutkan apa kejutannya, Rain terlihat sangat antusias menantinya.
Marius kemudian menurunkannya. Gadis kecil itu kini terlihat tenang mengobrol bersama kedua temannya itu.
Kepulangan Rain sudah dinantikan semua orang di rumah. Lucas sudah membuatkan kejutan kecil untuk Rain di rumah. Dia bahkan menghias kamar Rain dengan beberapa balon dan tulisan selamat datang. Hadiah kejutan dari Ana ternyata sudah dibungkus cantik oleh Naomi dan diletakkan di atas tempat tidurnya.
Rain terlihat sangat senang sekali dengan kejutan itu. Dia membuka satu persatu hadiah yang sudah dipersiapkan oleh Lucas dan Naomi sebelumnya. Tapi kemudian, dia datang ke Ana lalu memeluknya. Rain mulai menangis.
Semua orang yang ada di kamarnya mulai khawatir melihat hal ini, termasuk juga Marius.
"Rain ... ada apa?," tanya Ana khawatir.
Rain hanya menggelengkan kepalanya tanpa memperlihatkan wajahnya pada Ana.
Rain kembali menggelengkan kepalanya.
Ana mencurigai sesuatu tapi dia ragu untuk menanyakannya. Perlahan dia mencoba bertanya.
"Apakah Rain .... terlalu senang .... karena pulang ke rumah?"
Rain menganggukkan kepalanya.
Semua orang tersenyum dan mengeluarkan kelegaannya, termasuk juga Ana.
Tiba-tiba, Rain memperlihatkan wajahnya, menghapus air matanya, lalu dia meminta sesuatu.
"Nanti malam, Rain boleh bobo sama mommy sama daddy?"
Ana terdiam memandangi Rain yang juga menatap Ana dengan tatapan penuh harapan. Dia kehilangan kata-katanya karena permintaan Rain itu. Wajahnya sedikit memerah karena membayangkan mereka bertiga tidur di tempat tidur yang sama.
__ADS_1
Marius sepertinya tahu Ana sedang memikirkan apa, dia lalu mengambil Rain dari gendongan Ana.
"Tentu saja," katanya setelah dia menciumi Rain. "Nanti malam kita bertiga akan tidur disini. Kalau Mommy tidak mau, Daddy yang akan gendong Mommy."
Ana yang melotot ke arah Marius. "Siapa yang bilang tidak mau?"
"Bagian yang mana? Tidur bersama Rain atau yang akan ku gendong?"
Ana langsung mencubit pinggang Marius. Pria itu meringis menahan rasa sakitnya. Sedangkan Rain, dia tertawa cekikikan melihat mommy dan daddy nya itu. Begitu juga dengan Lucas dan semua orang yang melihat mereka di ruangan itu.
......................
"Buka dan bacalah baik-baik," perintah Nora seraya memberikan sesuatu pada Ana. Sesuatu yang terlihat mirip dengan sebuah undangan.
Memang benar, itu adalah sebuah undangan pernikahan. Nama yang tertulis di dalamnya hampir membuat Ana menganga karena mengira Nora sedang berbohong.
Tentu saja, Ana tidak bisa begitu saja percaya padanya. Di antara semua hari yang ada dalam seminggu, mengapa Nora memilih hari itu? Hari di saat Marius sedang melakukan perjalanan bisnisnya ke New York seminggu ke depan.
Tapi, mengapa justru Marius tidak dapat dihubungi? Biasanya saat Ana mengiriminya pesan, Marius akan menghubunginya kembali. Sedangkan ini sudah lebih dari sehari sejak terakhir dia mengiriminya pesan, Marius tetap belum menghubunginya kembali.
Ana mengira ini adalah salah satu rencana Marius. Karena itu dia mencoba menanyakannya pada Naomi. Tapi sahabatnya tidak tahu menahu soal itu.
Saat Ana bertanya pada Lucas, sekretaris Marius itu tidak mengelaknya.
"Memang benar itu undangan pernikahan mereka. Minggu depan mereka akan menikah," jelas Lucas.
Rasa percaya Ana mulai goyah, namun belum runtuh.
"Tapi ... Marius belum menjelaskan apapun," begitu pikirnya. Dia terus menyakinkan dirinya sendiri untuk menunggu Marius menjelaskannya sendiri padanya.
Ana teringat kembali kata-kata Nora sebelum dia pergi.
"Sudah kukatakan padamu. Aku dan Marius akan tetap bersama. Dan kamu tidak akan bisa memisahkan kami. Aku tidak akan mengusirmu sekarang. Aku akan membuatmu tetap datang ke pernikahanku. Agar kamu dapat melihatnya sendiri, apakah aku hanya membual atau undangan ini memang nyata."
Ana mulai resah.
__ADS_1