Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 23


__ADS_3

Saat Ana menemui Rain di kamarnya, wajah Rain masih terlihat lesu. Ana berusaha menahan tangisnya saat itu, meski sebenarnya dia sudah tidak tega melihat kondisi Rain yang seperti itu.


Tapi, saat Rain mengangkat kedua tangannya seakan meminta pelukan dari Ana, air mata Ana sudah tidak bisa dibendungnya lagi. Ana segera berlari memeluk Rain dan menangis di pelukan Rain.


Syukurlah, kondisi Rain berangsur-angsur membaik. Noel yang memeriksanya pun juga ikut memastikan bahwa Rain akan baik-baik saja.


"Keadaannya semakin membaik. Kita hanya perlu menunggu hasil tes nya keluar," kata Noel setelah dia selesai memeriksa Rain.


"Kalau hasil tesnya bagus, Rain sudah boleh pulang deh," kata Noel sambil menggoda Rain dengan menyentuh hidungnya. Rain cekikikan karena itu.


Setelah Marius dan juga Lucas mengucapkan terima kasih, Noel meninggalkan ruangan itu. Tapi kemudian, Ana teringat sesuatu. Dia pamit sebentar pada Rain dan juga Marius sebelum dia meninggalkan mereka, dan mengejar Noel.


"Dokter Noel," panggil Ana. Noel segera berbalik saat Ana memanggilnya.


"Saya belum mengucapkan terima kasih pada dokter karena sudah menolong Rain waktu itu," jelas Ana.


"Terima kasih banyak, dokter," katanya lagi sambil membungkukkan badannya.


"Aah ... tidak perlu seperti itu. Saya hanya kebetulan ada disana," kata Noel.


"Tapi, tetap saja, saya merasa saya harus mengucapkan terima kasih. Dokter membantu saya untuk tetap tegar saat itu. Saya akan membalas kebaikan dokter."


"Hmm ... bagaimana jika saya menagihnya sekarang?"


Ana terlihat bingung dengan pertanyaan Noel.


"Pertama, bisakah kamu memanggil saya Noel. Jangan pakai dokter. Noel. Hanya Noel."


"Tapi ..."


"Kedua, kuharap kamu tidak menolak saat kuajak minum kopi. Kamu suka kopi, kan? Atau teh?"


Ana tidak tahu bagaimana harus menjawab permintaan itu.

__ADS_1


"Soal yang pertama ... mungkin saya bisa ... melakukannya. Meskipun rasanya akan aneh."


"Aneh? Dimana anehnya?," tanya Noel heran.


"Saya hanya nanny. Saya rasa orang-orang akan menganggap saya tidak sopan saat melakukan itu, terutama ... ibu-ibu di sekolah."


Noel tertawa mendengarkan ucapan Ana. "Jangan dengarkan mereka. Ini hanya antara saya dan kamu saja. Jadi, yang kedua tidak masalah, kan?"


"Soal itu ... saya minta maaf, saya tidak bisa meninggalkan Rain terlalu lama. Saya akan menggantinya dengan yang lain."


"Hhmm ... tidak bisa, ya? Kalau begitu, biar saya yang bawakan untuk kamu. Jadi, kamu tidak boleh menolak, ya."


Kali ini, Noel tidak menunggu jawaban dari Ana.


"Mendingan kamu cepetan balik. Tuan majikan kamu dari tadi ngeliatinnya serem," kata Noel sambil menunjuk Marius yang sedang berdiri di depan ruangan tempat Rain dirawat. Tangannya terlipat dan tubuhnya tersandar pada dinding.


Dengan gugupnya, Ana sekali lagi mengucapkan terima kasih pada Noel, lalu berlari meninggalkan Noel.


Noel masih memperhatikan Ana pergi hingga gadis itu benar-benar menghilang dari lorong. Tapi Marius, dia masih saja berdiri di sana. Dengan tenangnya, Noel hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya berbalik pergi.


......................


Saat ini mereka sedang menyelidiki penyebab Rain yang alerginya tiba-tiba bereaksi karena bekal makanan yang dimakannya. Marius memanggil Ana untuk datang ke ruang kerjanya saat Rain sudah tidur, dan menggantikannya dengan pengawal untuk berjaga di depan kamar Rain, agar Ana bisa merasa tenang meninggalkan Rain sendirian di kamarnya.


Saat semua sedang fokus dengan Rain di rumah sakit, David menyuruh salah seorang anak buahnya untuk mengambil tas sekolah beserta kota bekal milik Rain yang masih tertinggal di sekolah. Dari itulah, David segera memeriksa kotak bekal itu, dan akhirnya ditemukan ada ekstrak stroberi yang diteteskan di beberapa makanan yang ada di dalamnya.


David juga sudah memeriksa rekaman CCTV yang memperlihatkan aktifitas Ana di dapur saat mempersiapkan bekal Rain. Ana memang keluar dari dapur waktu itu untuk kembali ke lantai atas saat dia sudah selesai mempersiapkan bekal Rain. Seharusnya, kesempatan pelaku untuk memasukkan ekstrak stroberi adalah pada saat itu. Tapi, rekaman CCTV tidak memperlihatkan itu.


"Dan sekarang, lagi-lagi jalan buntu?," tanya Lucas yang sudah berada di perbatasan antara terus berjuang atau menyerah saja.


Wajah Marius, Lucas, dan juga David terlihat begitu keras memikirkan sesuatu.


Bagaimana tidak? Darimana asal ekstrak stroberi dalam bekal Rain jika Marius melarang buah stroberi termasuk semua bahan makanan yang berperasa stroberi disimpan di dapur? Tidak mungkin bahan seperti itu tiba-tiba muncul di dapur seperti sulap.

__ADS_1


Para koki di dapur dan juga para pelayan, termasuk juga Eli, sudah diberitahu tentang alergi Rain dan mereka seharusnya tahu apa yang tidak boleh mereka lakukan. Jadi, sangatlah jelas orang yang memasukkan ekstrak itu ke dalam bekal makanan Rain adalah orang yang memang sengaja melakukannya.


Pertanyaannya sekarang, siapa? Siapa yang begitu tega melakukan itu pada anak berusia 4 tahun?


"Nggak, aku nggak mau kalau cuma begini saja. Kalau dari CCTV nggak bisa ngasih jawaban, aku akan cari jawabannya sendiri," kata Ana tiba-tiba di saat semua orang sudah tidak tahu harus melakukan apa.


"Dia melakukan ini bukan cuma untuk melukai Rain, tapi juga ingin membuatku terlihat seperti tersangkanya. Dan aku nggak akan membiarkannya terus menerus menginjakku dan juga Rain," kata Ana penuh semangat.


Marius memandangi Ana dengan senyum seringainya. Matanya memperlihatkan betapa bangganya dia dengan gadis yang ada di hadapannya saat ini.


"That's my girl," kata Marius dalam hatinya.


......................


Side Story :


Naomi sedang membaca beberapa lembar laporan di atas mejanya saat ponselnya berbunyi karena sebuah panggilan masuk. Naomi memperhatikan nama yang tertera di layar ponselnya dengan tatapan aneh.


Meski demikian, Naomi tetap mengangkat panggilan itu.


"Selamat sore, Tuan Marius ...," sapanya.


"Apa yang kamu tahu tentang dokter Noel? Dia orang tua salah satu teman sekelas putramu juga," kata Marius yang terdengar oleh Naomi.


"Apa? Tunggu ..."


Naomi memastikan kembali nama yang tertera di layar ponselnya. "Bener, kok?," pikir Naomi.


Naomi menahan semua emosinya dengan meremas kertas yang ada di hadapannya. Bahkan pena yang dia pegang pun ikut diremasnya.


"Dengar, Tuan Marius yang terhormat ... Hanya karena Anda dan saya memiliki hubungan kerjasama, bukan berarti Anda bisa seenaknya ..."


"Dia mengajak Ana minum kopi."

__ADS_1


Naomi terdiam sesaat. Emosi yang tadinya memanas, kini mulai mendidih. "Berani- beraninya ...," pikir Naomi.


"... tunggu beberapa hari lagi, aku akan cari tahu ...," kata Naomi lalu mematikan teleponnya.


__ADS_2