
Ana terbangun di tengah malam dengan air mata membasahi pipinya. Mimpi yang baru saja membangunkannya terlihat sangat nyata baginya hingga dia tidak kuasa menahan air matanya.
"Rain ...," panggil Ana lirih.
Dia baru saja memimpikannya. Gadis kecil itu sedang memeluknya, lalu memanggil namanya berkali-kali. Dan juga ... Marius. Ada Marius disana. Pria itu tersenyum padanya. Ana tidak bisa berhenti menatapnya meski itu hanya di dalam mimpi.
Ana terbangun karena rasa rindu yang tiba-tiba menyerangnya. Semua terlihat begitu nyata. Ana bahkan seperti merasakan sentuhan Rain saat dia memeluknya. Saat memikirkannya, bahkan air mata Ana tidak bisa berhenti mengalir.
Perlahan, Ana berdiri dari tempat tidurnya agar tidak membangunkan Naomi yang sedang tertidur di sampingnya. Dia berjalan menuju jendela kamarnya hanya untuk memandangi langit malam hari. Setiap kali dia melakukan itu, itu artinya hatinya tidak sedang baik-baik saja.
Ana menutup kedua matanya dan kembali dia mendapatkan bayangan wajah Marius. Senyumnya ... Dia masih ingat dengan jelas senyum Marius dalam mimpi itu. Tapi, mengapa? Mengapa dia bisa menatap Marius begitu lama di dalam mimpi, tapi begitu sulit saat dia menatapnya langsung?
Semenjak dia terbangun di rumah sakit, Ana mendapatkan semua ingatan masa kecilnya. Dia tidak pernah tahu bahwa ternyata masih ada ingatan lain yang bersembunyi di sela-sela otaknya. Dan sejak itu, dia ingat bagaimana dia dulu sangat memuja Marius.
Tidak, Ana tidak keberatan dengan semua itu. Ana tidak menyesali kenyataan bahwa mereka pernah saling mengenal. Yang Ana sesali adalah mengapa ingatannya tentang Marius dipulihkan, tapi memberinya ingatan lain yang membuatnya menghindari pria itu. Dia bahkan tidak bisa menatapnya dengan benar.
Ana hanya ingin bisa seperti dulu, saat dia tidak mengingat apapun. Dimana dia bisa menatapnya lebih lama sebanyak yang dia inginkan, tanpa harus takut kilasan itu muncul kembali.
Kilasan itu ... membayangkannya saja Ana sudah takut. Kadang Ana bisa melihat saat Marius meninggalkannya sendirian waktu itu. Kadang dia juga melihat seekor ular yang sedang berdiri di hadapannya seperti pada malam itu.
Meski hanya sekelebat saja kilasan itu muncul sudah bisa membuat kedua tangannya gemetar. Kejadian itu sudah lama, bukankah seharusnya dia sudah bisa melupakannya? Atau paling tidak mengurangi rasa takutnya.
"Baru mimpi buruk?"
Ana terkejut tiba-tiba tangan Naomi sudah menyentuh kedua pundaknya. Ternyata sahabatnya itu terbangun karena tidak melihat Ana di sampingnya.
"Atau kepalamu sakit lagi?," tanyanya lagi dengan nada panik.
Naomi memang sepanik itu jika Ana sedang sakit. Apalagi sekarang, saat kepalanya terluka, padahal hanya luka luar karena benturan waktu itu. Tapi paniknya Naomi seakan-akan luka Ana itu bisa menyebabkan Ana meninggal.
"Aku nggak apa-apa, Nao," kata Ana menenangkan Naomi. "Dokternya kan sudah bilang, ini cuma luka luar, lecet doang, Nao."
"Jangan remehkan lecet, Ana. Ini di kepala, lho. Kalau ternyata pendarahan gimana?"
"Ya paling cuma ...," jawab Ana sambil memeragakan gaya orang yang sudah meninggal, lalu tertawa.
Tentu saja, Naomi memukul lengannya. "Jangan bercanda, Ana!," bentaknya. Tapi, Ana masih terus tertawa.
Malam masih panjang, tapi Ana dan juga Naomi sudah tidak mengantuk lagi. Mereka akhirnya memutuskan membuka pintu kamar Ana yang menghadap ke teras rumahnya, lalu duduk bersama di sana sambil mengobrol. Ini adalah kebiasaan mereka sejak kecil.
"Baru mimpi apa? Buruk sekali? Sampai matamu membengkak," tanya Naomi sambil menyeruput susu coklat panas yang baru saja mereka buat .
Ana menekuk kedua lututnya lalu memeluknya. Dia meletakkan dagunya di atas lututnya itu. "Aku tidak bisa bilang itu mimpi buruk. Sebenarnya malah terlihat sangat indah," kata Ana yang wajahnya tiba-tiba terlihat tersipu.
"Aku berjalan di pantai bersama Rain, dan juga ... Marius. Kami ... menggandeng Rain."
Naomi langsung memahami perasaan apa yang sedang menggelayuti sahabatnya itu saat ini. Dengan menyeruput kembali susu coklatnya, dia berkata, "Kamu merindukan mereka."
Masih di antara kedua lututnya itu, Ana menganggukkan kepalanya, lalu menenggelamkannya di antaranya.
__ADS_1
"Tapi, aku tidak bisa bertemu Marius ..." Suara Ana bergetar saat mengatakannya. "Aku ingin bertemu mereka."
Meski Ana tidak memperlihatkan wajahnya, Naomi tahu saat ini Ana sedang menangis. Dia mendorong tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Ana. Secara perlahan, dia membelai lembut kepala Ana.
"Sebenarnya, ada apa kamu dengan Marius?," tanya Naomi. Saat di rumah sakit beberapa kali dia melihat Ana menghindari bertatapan dengan Marius. Setiap kali Ana melakukan itu, Naomi hampir mengira mereka sedang bertengkar. Tapi saat Naomi menanyakannya pada Marius, bahkan pria itu tidak tahu penyebab Ana bersikap seperti itu.
"Aku mengingat semuanya, Nao," jawab Ana yang masih bersembunyi di bawah lututnya itu.
"Maksudmu ingat semuanya?"
Ana menengadahkan kepalanya dan menatap kedua mata Naomi. "Aku ingat semua saat malam aku dan Marius dibawa ke hutan," katanya lirih.
"Bukankah itu bagus?," kata Naomi yang tidak memahami hubungan antara ingatan Ana dengan Marius. Jika ingat, bukankah seharusnya Ana bisa dengan bebas bersama dengan Marius. "Bocah tua itu juga tentu saja pasti akan sangat menyukainya," pikir Naomi.
"Setiap kali aku menatapnya, aku selalu ingat kejadian malam itu. Dan setiap kali aku mengingatnya, kedua tanganku gemetar. Jantungku seperti berdentum keras," kata Ana yang kembali menyandarkan kepalanya di atas lututnya.
"Tapi, kamu tidak histeris." Naomi tiba-tiba mengatakan kalimat yang tidak Ana mengerti. "Kamu hanya gemetar, iya kan?"
Ana menganggukkan kepalanya.
"Kamu juga tidak menunjukkan reaksi serangan panik atau ketakutan berlebihan, seperti waktu kamu melihat ular. Bisa jadi, kamu hanya terkejut, karena ingatanmu baru pulih."
"Begini saja. Setelah kamu sudah benar-benar sembuh, aku akan ajak kamu menemui psikiater."
"Apakah aku akan sembuh, Nao? Aku juga capek setiap kali harus merasa ketakutan," tanya Ana yang sudah merasa lemas membayangkannya.
"Semoga saja. Siapa tahu juga bisa mengatasi ophidiophobia mu itu. Karena semuanya berhubungan dengan ingatanmu. Kita berdoa saja."
"Nao ... Jangan beri tahu siapa pun soal ini. Setidaknya sampai aku benar-benar sembuh."
......................
"Hmm ... aku mengerti."
Marius berbicara dengan nada yang cukup serius di teleponnya. Setelah kalimatnya yang terakhir itu, dia menutup panggilan itu.
"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?," tanya Lucas yang sedari tadi berdiri di depannya.
"Tidak ada. Aku akan membawa Rain ke rumah Om Doni hari ini. Beritahu Tian untuk perintahkan pelayan menyiapkan beberapa pakaiannya. Rain akan menginap disana selama beberapa hari," jawab Marius.
"Apakah Ana memintanya?," tanya Lucas lagi.
"Tidak, Naomi yang memintanya ... Ana menangis semalam karena merindukan Rain."
"Rain juga merindukan Ana. Mereka selalu bersama sepanjang waktu. Tapi, aku tidak menyangka mereka akan jadi sedekat ini," kata Lucas.
Tapi Marius berpikir hal yang berbeda. Tidak masalah jika Ana hanya merindukan Rain, yang terpenting sekarang, dirinya dan Ana tidak semakin menjauh. Karena Rain ada di antara mereka.
"Bagaimana dengan orang-orang yang ada di gudang tua itu? Apakah semuanya sudah selesai?," tanya Marius mengalihkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Preman-premannya sudah diserahkan ke polisi. Pengacara kita berada di sana untuk memastikan mereka hanya akan mengatakan seperti yang kita perintahkan. Jadi mereka tidak akan mengatakan tentang kita dan semua yang mereka dengar di sana. Rata-rata hukuman mereka hanya 1-2 bulan saja, karena kamu hanya memberikan mereka tuntutan kriminal ringan."
"Itu sudah cukup bagi mereka memikirkan kesalahan mereka di penjara. Bagaimana dengan Dylan dan Ted?"
"Bukti-bukti foto dan rekaman video sudah aku serahkan ke polisi. Sisanya terserah mereka dan pengacara mereka."
"Aku tidak akan heran jika mereka bebas beberapa hari lagi. Kita memang tidak memiliki banyak bukti yang kuat. Tapi setidaknya cukup untuk Dylan merasakan tidur di dalam sana. Perintahkan pengawal untuk memperketat penjagaan. Bagaimana dengan David? Apakah sudah keluar dari rumah sakit?"
"Sudah, kemarin siang. Mungkin sekarang dia akan kembali bekerja."
"Katakan padanya untuk tidak terlalu lama bekerja sementara ini. Dia harus banyak beristirahat"
"Satu lagi ..."
Marius menatap Lucas yang terlihat ragu mengatakan laporannya. "Ada apa?"
Lucas menyerahkan ipad miliknya yang memperlihatkan foto-foto dirinya dan beberapa headline berita.
"Tim kita sudah berusaha menanggulanginya. Tapi sepertinya mereka membaca gerakan kita. Ini adalah foto-fotomu saat kamu menemui Valerie kemarin."
Marius mengambil ipad itu dan membaca satu persatu berita itu. Lalu, dia menggeser berita ke berita lainnya. Tak lama kemudian, dia meletakkannya kembali.
"Tetap kerjakan seperti rencana. Bersihkan semua berita itu. Segera hubungi MSA Stars. Sepertinya MSA sedang menunggu waktu untuk menaikkan beritanya."
"Maksudmu mereka sudah punya beritanya? Dari mana kamu tahu?
"Aku pernah melihat orang MSA di sekitar stasiun TV waktu itu. MSA Stars bukan program TV itu. Kukira mereka hanya kebetulan berada disana. Tapi sekarang aku tahu kenapa."
"Aku mengerti. Aku akan membuat mereka membatalkan niatnya itu."
"Cari tahu juga siapa yang menyuruhnya. MSA Stars tiba-tiba ingin berhadapan denganku, itu artinya ada seseorang yang menjadi sandarannya agar bisa melawanku."
......................
Pesan Author :
*Halo, para pembaca yang kusayangi ... (◍•ᴗ•◍) #halah #plak
Nggak terasa sekarang sudah mencapai 50 episode. Panjang juga ya ternyata, hehe ...
Saya cuma ingin menyampaikan terima kasih banyak untuk semua dukungannya, mulai dari like, subscribe, komentar, gift, dan semuaanyyaa ....
Apapun bentuk dukungannya, saya sangat menghargainya. Karena ini adalah pengalaman pertama saya menulis di platform seperti ini, jadi semua hal yang menaikkan motivasi benar-benar membuat saya bersemangat.
Sekali lagi, saya masih mengharapkan semua bentuk dukungan dari semuanya. Beritahu jika ada yang kalian sukai ataupun tidak.
Semoga setiap karya bisa memberikan hal yang positif untuk semuanya.
PS :
__ADS_1
Sebentar lagi akan ada karya baru. Mohon dukungannya ya.
Sekali lagi terima kasih banyak ( ◜‿◝ )♡*