Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 68


__ADS_3

Selepas Valerie pergi meninggalkan kamar Rain, Ana masih terus memeluk Rain. Meskipun Ana mencoba membaringkannya di atas tempat tidur, Rain tetap tidak mau melepaskan pelukannya itu. Ana terpaksa duduk di atas tempat tidur sambil menggendongnya, dan menunggu Rain tertidur.


Tapi sepertinya, Rain tidur dengan perasaan waspada. Saat Ana mencoba membaringkannya setelah tertidur, Rain masih terbangun lalu memeluk Ana lagi.


"Ada apa dengan Rain?," tanya Ana dalam hatinya.


Marius yang masuk untuk memeriksa keadaan Rain dan juga Ana mencoba mengambil Rain dari gendongan Ana, tapi Rain semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan ketika Marius mencoba membujuknya, gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.


Marius merasa tidak berdaya, tapi dia juga tidak tega melihat Ana yang sepertinya mulai kelelahan. Akhirnya dia meminta Tian untuk meletakkan satu sofa santai di kamar Rain agar Ana bisa beristirahat.


Ana merasa pasti ada sesuatu yang gadis kecil ini pikirkan, sehingga Rain bersikap seperti itu. Karena itu, Ana mencoba untuk berbicara dengannya.


"Apakah Rain ingin mengatakan sesuatu pada Mommy?," tanya Ana dengan lembut pada Rain yang bersandar pada pundak Ana dan membelakangi wajah Ana.


Cukup lama Rain tidak memberikan reaksi apapun setelah Ana bertanya padanya. Tapi, Ana masih menunggunya dengan sabar. Dia masih terus membelai lembut kepala Rain, lalu turun mengusap punggungnya.


Perlahan, Rain menggeserkan kepalanya ke arah sebaliknya hingga wajahnya dapat dilihat oleh Ana.


"Aunty tadi ... mommy Rain, kan?"


Meski Ana tahu Rain sudah pasti mendengar perkataan Valerie tadi, tapi Ana tetap terkejut saat Rain menanyakannya. Dia tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menjelaskannya.


"Rain ...," panggil Ana lirih.


"Dulu Miss Eli sering mengatakannya," jawab Rain yang masih dengan nadanya yang lirih.


"R-rain sudah tahu?" Ana kali ini terkejut karena ternyata selama ini Rain sudah mengetahuinya.


Rain menganggukkan kepalanya.


"Katakan pada Mommy, apa yang Rain pikirkan?," tanya Ana dengan lembut.


Kali ini, Rain mengangkat wajahnya untuk menatap kedua mata Ana.


"Aunty itu ... akan membawa Rain, kan?"


Kedua mata Rain terlihat berkaca-kaca. Tak lama setelah itu, air mata Rain jatuh membasahi kedua sisi wajahnya.


"Tapi, Rain ... hanya ingin tinggal disini ... sama daddy ... sama mommy," kata Rain terisak.


Ana mengulurkan tangannya memegangi pipi Rain dan mengusap air mata itu.

__ADS_1


"Daddy dan Mommy ... juga ingin Rain tinggal disini," kata Ana. Air matanya kini ikut mengalir menemani Rain yang lebih dulu menangis.


Pada saat itu, Marius masuk ke dalam kamar Rain dan menghampiri gadis kecil itu yang sedang duduk di atas pangkuan Ana.


Dengan duduk di atas salah satu kakinya, Marius membelai lembut rambut Rain. Dan saat Rain menoleh padanya, tangan Marius menghapus air mata Rain yang kini mengalir cukup deras.


"Daddy ... tidak akan ... mengusir Rain, kan?," isak Rain tersedan-sedan. Ana yang melihat itu juga tidak dapat menahan isakannya.


"Ini rumah Rain juga. Mengapa daddy harus mengusir Rain?," kata Marius lembut.


"Daddy ... tidak akan membiarkan ... aunty itu ... membawa Rain, kan?"


"Daddy ... akan terus berjuang untuk mempertahankan Rain agar tetap disini," kata Marius.


Ana tahu Marius sedang menghibur Rain. Dia bisa melihat bagaimana Marius juga kesulitan menjelaskan pada Rain agar dia tidak salah paham.


"... Daddy promise? ..."


Dengan isakannya yang tidak juga reda, Rain mengeluarkan jari kelingkingnya. Marius menyambutnya kemudian.


"I promise ..."


Dan kali ini, mungkin karena kelelahan menangis dan menahan semua yang ada dalam pikirannya, Rain akhirnya bisa tidur dengan nyenyak di atas tempat tidurnya sendiri.


"Syukurlah, demamnya sudah turun," kata Ana saat memeriksa Rain sekali lagi dengan termometer. "37 derajat."


Marius yang juga sedang duduk di sisi lain tempat tidur Rain, terus memandanginya tanpa mengatakan apapun. Sesekali tangannya mengusap keringat Rain yang masih terus bercucuran.


"Kamu juga beristirahatlah, Ana. Jangan khawatirkan Rain. Ada pelayan yang akan bergantian jaga. Mereka akan membangunkanmu kalau terjadi sesuatu," kata Marius.


"Iya, aku akan keluar sebentar lagi," jawab Ana.


Setelah Marius keluar dari kamar Rain, Ana menyusulnya. Tapi sepertinya Marius masih membawa banyak hal dalam pikirannya. Karena saat Ana keluar, dia melihat Marius tengah duduk di ruang duduk sembari menyandarkan kepalanya pada salah satu tangannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Marius?," tanya Ana dengan lembut saat dia menghampiri pria itu.


Marius perlahan menengadahkan kepalanya untuk menatap Ana lalu meraih tangan Ana untuk dia genggam. Dia menariknya perlahan agar duduk di pangkuannya, lalu bersandar pada bahu gadis itu.


Ana dapat merasakan jantungnya berdegup cukup kencang. Tapi perhatiannya saat ini bukanlah itu. Dia sedang memikirkan Marius dan juga ... Rain. Dan Ana yakin, Marius saat ini juga sedang memikirkannya.


"... apakah ... begitu sulit?," tanya Ana. Tangannya membelai lembut rambut kecoklatan milik Marius.

__ADS_1


Marius hanya menganggukkan kepalanya saat menjawab pertanyaan Ana. Dan Ana mengulurkan tangannya yang lain untuk memeluk pria itu.


Ana tahu benar kesulitan yang sedang Marius hadapi. Karena itu, dia hanya berani berjanji pada gadis kecil kesayangannya bahwa dia tidak akan berhenti berjuang. Karena untuk menghalangi Valerie membawanya pergi tidak akan mudah dilakukan.


Tapi, Ana juga tidak mau bertanya lebih dulu sebelum Marius sendiri yang akan mengatakannya. Ana yakin Marius butuh ketenangan untuk berpikir saat ini. Dan dia akan memberikannya dengan tetap berada di sampingnya.


"... Jika Valerie melakukan tes DNA itu ... menurutmu apa yang harus aku lakukan ... jika ternyata Rain ... bukanlah anak Adam?," tanya Marius tiba-tiba. Dia masih tetap bersandar pada Ana saat menanyakan itu.


"Karena itu kamu tidak melakukannya? Karena kamu takut akan hasilnya?," tanya Ana dengan lembut. Dia tidak melepaskan pelukannya pada Marius.


"Aku hanya takut aku kecewa pada Adam. Karena rasa cintanya pada Valerie membuatnya buta."


"Tapi, untuk seseorang yang ragu, kamu membesarkan Rain dengan sangat baik, Marius. Kamu juga menyayanginya, kan?"


Tangan Ana kini meraih wajah Marius agar pria itu menatapnya. "Kamu juga tidak percaya kan kalau Rain bukan anak Kak Adam?"


Marius menatap Ana dalam-dalam. Dia memikirkan ucapan Ana, tapi kemudian matanya memperlihatkan keraguan. Marius mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Entahlah, Ana ... Bagaimana jika keyakinanku salah?"


Ana kemudian meraih kembali wajah Marius agar tetap menatapnya.


"Tidak ada yang namanya jika, Marius. Kalau kamu sendiri ragu pada dirimu sendiri, bagaimana kamu akan melindungi Rain? Bagaimana kamu akan menepati janjimu pada Rain kalau kamu akan berusaha memperjuangkannya?"


Marius teringat kata-kata itu. Kata-kata yang dia ucapkan sendiri pada Ana saat mereka di rumah sakit. Ana kembali mengingatkannya.


Marius meraih tangan Ana yang sedang memegangi sisi wajahnya. Dia kecup tangan Ana dan membiarkannya tetap begitu untuk waktu yang cukup lama.


"Aku pernah melihat foto Kak Adam di kamarmu. Kamu tahu? Saat Kak Adam tertawa, kedua matanya akan membentuk bulan sabit, persis seperti Rain saat tertawa. Eli juga mengatakan, dia melihat Kak Adam saat Rain tertawa. Bahkan tanpa tes itu, aku yakin Rain adalah putrinya," jelas Ana penuh keyakinan.


Marius kembali menatap Ana. Keraguan yang tadi menyelimuti kedua matanya kini seakan hilang. Keyakinannya kini kembali bersinar. Ana dapat melihat Marius kini menemukan jawaban atas apa yang dia yakini.


Tapi, kemudian ponsel Marius berbunyi, menghentikan semua pembicaraan mereka.


"Hmm ... Minta mereka menemuiku besok pagi di rumah," kata Marius menjawab panggilan itu sebelum akhirnya dia putuskan.


"Lucas ... dia mengabarkan, pengacara sudah menemukan cara menghalangi Valerie membawa Rain," jelas Marius pada Ana.


Wajah Ana langsung menjadi penuh kebahagiaan. "Benarkah?"


Marius menganggukkan kepalanya. Lalu tangannya meraih wajah Ana. "Ehm ... Besok aku akan memanggilmu untuk ikut mendengarkan," kata Marius.

__ADS_1


__ADS_2