Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 16


__ADS_3

Marius duduk memandangi Naomi yang ada di depannya dengan perasaannya yang tidak nyaman. Pagi ini, Naomi mengiriminya pesan untuk mengajaknya bertemu. Meski dia tahu apa tujuan Naomi menemuinya, tetap saja rasa tidak nyaman itu terus menerus menggelayuti perasaan Marius.


Dia tahu siapa Naomi. Putri satu-satunya Tuan Winata yang saat ini menjadi Chief Technology Officer atau CTO dari WINZ Group, sebuah grup perusahaan yang cukup besar yang bergerak di bidang teknologi informasi.


Marius juga tahu kalau Naomi adalah satu-satunya sahabat Ana sejak mereka masih kecil. Orang yang sangat menjaga Ana dimanapun dia berada, satu hal yang Marius sangat berterima kasih padanya karena sudah melakukan itu untuk Ana.


Marius bahkan juga tahu, alasan Naomi menemuinya pasti adalah karena Ana. Marius yakin ada hal yang sangat mengkhawatirkan Naomi sehingga dia memutuskan untuk menemuinya.


"Seratus juta per bulan untuk seorang pengasuh? Mungkin Ana bisa mempercayainya, tapi saya tidak."


Marius tidak bergeming mendengarkan tuduhan yang dilontarkan Naomi padanya. Tidak ada alasan baginya untuk mengelak, seratus juta itu memang hanya alasan agar Ana mau tinggal di rumahnya.


"Seorang Marius Edmond Hadinata, CEO paling kuat selama DYNE Group berdiri. Orang yang bahkan membatalkan kerja sama dari GDN Group hanya karena keuntungan yang diterima berkurang 1% dari kesepakatan awal, sekarang sedang mempekerjakan seorang pengasuh yang bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk itu dengan gaji seratus juta per bulan. Siapa yang tidak akan tertawa mendengar dongeng ini, Tuan Marius?"


"Langsung saja pada intinya, apa yang ingin kamu sampaikan, Nona Naomi?"


"Saya tahu apa yang terjadi pada Ana beberapa waktu lalu di rumah Anda, Tuan Marius. Saya juga tahu apa yang terjadi dengan Ana kemarin. Itu saja sudah cukup menjelaskan bagaimana bahayanya Ana jika terus bersama Anda. Saya akan mengganti semua kerugian yang disebabkan oleh Om Doni, asalkan Anda melepaskan Ana."


"Impressive! ... Julukan The Devil of Intelligence memang bukan omong kosong belaka. Kamu bahkan bisa mendapatkan informasi yang terjadi dari dalam kediamanku. Tapi sayangnya, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu."


Naomi menghela panjang napasnya menahan rasa kesalnya. Padahal dia tahu tidak akan semudah itu, tapi tetap saja, rasanya tidak menyenangkan untuk menerima sebuah penolakan.


"Saya tidak tahu apa yang sedang Anda rencanakan. Tapi, saya tidak akan membiarkan Anda melibatkan Ana dalam rencana Anda itu. Saya mungkin tidak akan pernah bisa menghancurkan DYNE, tapi saya bisa membuat Anda tidak akan pernah bisa merasakan kedamaian dalam hidup Anda selamanya."


"Aku suka semangat itu. Bagaimana jika aku menawarimu sebuah tawaran menarik, kudengar project peluncuran satelit barumu sedang bermasalah. Bagaimana jika aku berinvestasi dalam proyek itu?"


"Anda menyuap saya agar melepaskan Ana?"


"Aku tidak akan mengatakan demikian. Ini bisa jadi awal kerjasama kita."

__ADS_1


"Dan Anda berharap saya akan mengatakan iya begitu saja?"


"Atau mungkin aku perlu mengundangmu untuk bergabung dalam megaproject yang sedang DYNE kembangkan saat ini? Kamu boleh pilih yang mana saja."


"Anda tidak mendengarkan saya, Tuan Marius!," kata Naomi yang sudah mulai kesal.


"Kamu yang tidak memahaminya, Naomi!"


Naomi sedikit terkejut dengan reaksi yang diberikan Marius. Di ruangan VIP tempat mereka bertemu, suara Marius terdengar seperti memenuhi seluruh sudut ruangan.


"Aku tahu kamu akan melakukan apa saja untuk membawa Ana jauh dariku. Tapi aku akan memberikanmu apapun ... apapun ..., asalkan kamu biarkan Ana bersamaku ... Biarkan dia tetap bersamaku, Naomi."


Naomi terdiam mendengarkan Marius berbicara. Untuk pertama kalinya, dia bertemu pria yang tetap mau mempertahankan Ana meskipun dia sudah terpojok.


"Kamu bebas menyalahkanku karena kejadian-kejadian itu, dan aku tidak akan mengelaknya. Semua itu memang salahku. Aku salah karena aku tidak memprediksinya sehingga aku tidak mengantisipasinya. Tapi, apapun itu, tetap jangan bawa Ana jauh dariku, Naomi. Apapun akan kupertaruhkan untuk melindunginya."


Naomi kehilangan kata-katanya, tapi dia tidak mengalihkan pandangannya dari Marius. Naomi seakan sedang akan menguliti semua isi dalam hati Marius.


"Keduanya ..."


"Kamu tidak tahu apapun tentang Ana, kalian baru bertemu. Jangan gunakan Rain untuk memperdayainya, karena dia ..."


"Dia keras kepala. Aku tahu. Dia bisa menjadi sangat nekat, ... iya, aku juga tahu itu. Tapi, tetap saja, aku ingin dia tetap bersamaku. Karena itu, aku akan melindunginya."


"Siapa kamu sebenarnya? Apa hubunganmu dengan Ana?"


"Aku ... hanyalah orang dari masa lalunya ... yang tidak akan pernah dia ingat."


Cukup lama Naomi menatap kedua mata Marius yang saat ini juga sedang menatapnya. Dari kedua mata itu, Naomi bisa melihat kesungguhan Marius pada ucapannya sendiri. Tapi, dengan tetap mempertahankan Ana? Bukankah itu egois namanya, pikir Naomi.

__ADS_1


"Meskipun demikian, entah mengapa, aku tetap merasa Ana akan baik-baik saja bersamanya," pikir Naomi lagi.


Naomi akhirnya memilih untuk mengalah. Dia menyadari sesuatu. Ana mungkin akan menurutinya untuk keluar dari rumah Marius. Tapi, Naomi tidak bisa melakukan apapun untuk mengobati perasaan Ana yang terluka karena jauh dari Rain.


"Kurasa aku bisa memahami mengapa Ana bisa menjadi begitu dekat dengan Rain. Karena dia melihat dirinya sendiri dalam diri Rain. Hati mereka terhubung karena Ana memandang Rain seperti dirinya dulu."


Sekali lagi Naomi memandangi Marius dan mengingatkannya sebelum dia pergi. "Kamu adalah orang nomor satu yang akan aku salahkan jika terjadi sesuatu pada Ana," kata Naomi dengan tegas. Dia lalu meletakkan kartu namanya di atas meja, lalu mendorongnya ke hadapan Marius. "Ini, untuk kita bicarakan tentang bisnis."


Marius menyembunyikan senyumnya dari pandangan Naomi hingga wanita itu sudah benar-benar keluar dari ruangan tempat mereka bertemu.


......................


"Naomi? Apa yang ..."


Ana terkejut melihat Naomi tiba-tiba keluar dari salah satu ruangan di Lorenzo Vins. Pengawal yang bertugas hari ini diperintahkan oleh Marius untuk membawa Ana, Rain, dan juga Ryu kesana setelah mereka berjalan-jalan. Tak disangkanya, Ana malah bertemu Naomi.


Naomi yang melihat Ana segera menghampirinya dan memberinya sebuah sentilan kecil di dahi Ana.


"Aw ...," teriak Ana kesakitan.


"Ini untuk kebodohanmu kemarin. Aku sudah dengar ceritanya. Jangan lakukan itu lagi, Ana!," perintah Naomi yang sedang marah.


"Ish, Marius sudah memarahiku kemarin. Dan sekarang kamu lagi," kata Ana sambil memegangi dahinya.


Tapi, kemudian Naomi memeluk Ana dengan erat. "Hubungi aku jika kamu butuh sesuatu, ya," bisik Naomi di telinga Ana.


"Eh, Nao ... Kamu nggak apa-apa, kan?," tanya Ana cemas yang melihat Naomi kini sedang berjalan meninggalkannya.


Tanpa berbalik menghadap Ana, Naomi mengangkat tangan kanannya dan melambaikannya, "Aku nggak apa-apa. Ingat pesanku, Ana. Ayo Ryu, kita pulang."

__ADS_1


Ana memperhatikan sahabatnya itu dengan tatapan cemasnya. Ana dan Naomi sudah biasa saling berpelukan, tapi Naomi tidak pernah terlihat setenang itu setelah memarahi Ana. "Semoga dia beneran nggak apa-apa," ucap Ana lirih.


__ADS_2