
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Rain berangkat ke sekolah dengan mobil yang sama dengan Ana. Lalu, mereka akan berhenti di suatu tempat terpencil untuk mengganti mobilnya.
"Rain, jangan khawatir, ya. Kak Ana akan tetap bisa dengerin Rain. Ini seperti permainan yang kita mainkan kemarin," kata Ana sambil memberinya sebuah headphone merah muda lucu di kepalanya menutupi kedua telinganya.
Sebelum Ana memainkan video kesukaan Rain yang sudah sebelumnya Ana simpan di ipad nya, Ana mengatakan sesuatu lagi, "Kalau Rain takut, gunakan ini untuk memanggil Kak Ana, seperti yang Kak Ana ajarkan kemarin."
Rain mencoba sekali lagi mainan walkie talkie yang baru saja dibelikan daddy nya itu. "Kak Ana ..." Lalu, dia tersenyum karena mendengar suaranya juga keluar di walkie talkie yang Ana pegang.
Ana tersenyum lega, karena sepertinya Rain bisa memahami apa yang sudah diajarkan kepadanya.
"Anak pintar," kata Ana sembari membelai lembut rambut Rain.
Setelah Ana memainkan videonya dan memberikannya teddy bear kesayangannya, Ana membuat Rain senyaman mungkin di dalam mobil, baru setelah itu dia meninggalkan Rain dan berpindah mobil.
Perjalanan yang panjang yang bisa Ana ingat, karena hanya rasa cemas dan gelisah memikirkan apakah Rain akan baik-baik saja di mobil itu tanpa dirinya.
Sesampainya di area sekolah, Ana melihat Rain diantarkan oleh seorang pengawal wanita. Ana memperhatikan sekelilingnya, belum ada banyak orang di sekitarnya.
Sesuai instruksi dari David, Ana turun beberapa menit setelah Rain masuk ke area sekolah.
......................
"Pantas saja, Ryu memintaku untuk datang ke sekolah. Ternyata ini jawabannya."
Ana tidak dapat menyembunyikan wajah gugupnya saat melihat Naomi sedang berdiri di depannya. Sedangkan Ryu berdiri di belakang Naomi sambil mengejek Ana dengan mengeluarkan lidahnya.
"Anak itu ...," geram Ana.
"Halo, Siska? Batalkan semua jadwal saya hari ini sampai nanti siang. Saya ada pertemuan sangat penting yang tidak bisa ditunda," kata Naomi pada sekretarisnya melalui ponselnya. Naomi tidak melepaskan pandangannya pada Ana sedikitpun. Dia benar-benar terlihat tidak senang.
Ana hanya tertawa gugup dan sesekali menelan ludahnya.
"Kamu dan aku, kita akan bicara sangaatt panjang, Ana," kata Naomi lagi.
Meski Ana sudah mengantarkannya hingga ke depan kelas, Rain sendiri masih belum mau melepaskan pegangan tangannya pada Ana. Ana merasa mungkin Rain takut Ana akan meninggalkannya.
Ana menurunkan tubuhnya agar bisa menatap mata Rain. "Jangan takut, ya. Kak Ana tetap disini sampai Rain pulang. Janji."
Ana mengeluarkan jari kelingkingnya, dan Rain menyambutnya. Berkat itu, Rain jadi lebih tenang saat memasuki kelasnya.
Dan sekarang, tinggal Ana dan juga Naomi. Ana meminta Naomi untuk bicara di satu tempat yang tidak jauh. Dia khawatir Rain akan mencarinya.
Naomi mengajak Ana untuk duduk di salah satu sudut ruang tunggu di dalam sekolah. Dari tempat mereka duduk, kelas Rain dan juga Ryu dapat terlihat. Naomi juga berpesan pada Ryu untuk segera mencarinya jika terjadi sesuatu.
__ADS_1
"Jadi, jelaskan, apa yang sedang kamu lakukan di rumah Marius?," tanya Naomi langsung.
"Kamu mengenalnya?," Ana bertanya heran.
"Tentu saja semua mengenalnya, Ana. Marius adalah presdir dari DYNE Group, grup raksasa paling kuat saat ini. Bahkan Ryu mengidolakannya."
Ryu sangat menyukai segala sesuatu yang ada di dalam dunia bisnis, seperti kakeknya. Dia bahkan tahu nama-nama perusahaan besar beserta pimpinannya.
"Jangan bilang kamu masuk ke rumahnya tanpa mengenalnya terlebih dahulu ..."
Ana melihat emosi Naomi semakin menaik. Ana rasa dia sedang membayangkan Marius menggodanya dengan sepotong tulang untuk menarik anak anjing masuk ke rumahnya.
"Tenang, Nao. Tenang ... aku jelaskan, aku jelaskan ..."
Lebih dari satu jam Ana duduk di depan Naomi menjelaskan semua yang terjadi pada dirinya selama minggu-minggu terakhir ini. Seraya dia bercerita, kepala Ana terus berusaha memikirkan kata-kata yang tepat agar emosi Naomi tidak menaik kembali.
"Jadi, mengapa kamu tidak menelponku saat rentenir itu datang?," tanya Naomi geram. "Atau paling tidak jawab pesanku atau panggilanku, Annaa ..."
"Aku ... aku nggak mau membebani kamu, Nao. Aku juga nggak tahu mau bilang apa kalau menjawab telepon darimu."
Naomi berusaha keras menahan emosinya naik lagi.
"Masalah ini disebabkan oleh papa. Aku nggak mau mengganggumu dengan ini, Nao ..."
Ana terdiam untuk beberapa saat. "Maaf ...."
"Jadi, bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Aku terpaksa resign pada hari itu juga. Mereka marah banget waktu itu. Tapi ya mau gimana lagi?"
Naomi tidak berkomentar apapun.
"Kamu nggak marah?," tanya Ana melihat keanehan Naomi.
"Nggak. Sudah lama aku juga nggak suka dengan tempat kerjamu itu. Cuma kamu aja yang ngotot mau disitu."
"Apakah kamu akan memintaku keluar dari sana, Nao?," tanya Ana ragu. Meski dalam hatinya dia terus berteriak, please jangan Nao.
"Kalau aku memintanya, apa kamu akan keluar?"
Ana menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Sudah kuduga. Kamu dan Rain sepertinya sudah tidak bisa dipisahkan."
__ADS_1
Wajah Ana langsung bersinar.
"Jika Rain sudah masuk sekolah kembali, apa artinya Marius memberitahumu tentang penculikan itu?"
Ana menganggukkan kepalanya. "Karena itu, Marius menugaskan lebih banyak pengawal sekarang."
"Aku nggak peduli seberapa dekatnya kamu dengan Rain. Tapi jika Marius membuatmu dalam bahaya, aku yang akan menyeretmu keluar dari sana, Ana."
"Ahaha ... tenang, Nao. Marius sangat memperhatikan keselamatanku dan juga Rain."
Ana mulai gugup dengan reaksi Naomi soal penculikan Rain. Naomi tidak boleh tahu jika Ana juga mengenali para penculik itu.
"Menurutmu mengapa mereka mau menculik Rain?," tanya Ana.
"Ada banyak alasannya, Ana. Terutama jika itu soal Rain. Ada banyak rumor tentang Rain yang terus menerus menyerang mereka."
"Rumor ... apa?" Ana mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman dengan pernyataan Naomi.
"Beberapa mengatakan Rain adalah anak yang disembunyikan. Dia adalah anak hasil hubungan gelap Marius. Karena itu, kamu tidak akan menemukan foto Rain di media berita gosip atau media bisnis manapun."
"Hubungan gelap?"
"Dalam pandangan para pebisnis, jika seorang anak lahir tanpa pernah ada pernikahan dalam keluarga itu, maka hanya ada dua kesimpulannya. Anak itu adalah anak adopsi atau anak itu adalah anak dari hubungan gelapmu yang tidak pernah kamu publikasikan."
"Karena itu, kamu melakukan pernikahan kontrak waktu itu, Nao?," tanya Ana dengan sangat hati-hati. Dia sedang mengingat masa-masa saat dulu Nao mengandung Ryu.
Nao terpaksa harus melahirkan Ryu seorang diri karena kekasihnya tidak mau bertanggung jawab dengan kehamilannya. Bagi ayah Naomi, kehamilan putrinya itu adalah aib yang akan merusak reputasinya. Dan untuk menutupinya, dia mencarikan suami pengganti untuk putrinya dan mengikatnya dalam sebuah kontrak perjanjian. Setahun setelah Ryu lahir mereka bercerai begitu saja tanpa ada drama.
"Lalu, mengapa Rain sekolah di sekolah umum, bukan di rumah saja? Bukankah itu akan mengundang perhatian banyak orang?," tanya Ana.
"Karena Marius ingin menunjukkan pada semua orang bahwa tidak ada yang istimewa dari Rain selain dia adalah bagian dari keluarga Hadinata. Marius ingin menunjukkan bahwa Rain tidak disembunyikan. Hanya saja, Marius tetap mengontrol publikasi Rain agar tidak tersebar luas. Kalau soal ini wajar-wajar saja dilakukan para pebisnis. Mereka juga ingin menjaga privasi mereka."
"Keluarga Hadinata bukan keluarga konglomerat biasa, Ana. Keberadaan DYNE saja sudah mengundang kebencian orang-orang untuk menghancurkannya. Sahamnya bernilai tinggi dan diperkirakan akan terus menaik hingga bertahun-tahun ke depan. Tentu saja, akan ada banyak orang yang menunggu kehancuran DYNE dan juga keluarga Hadinata."
Ana hanya diam mendengarkan Naomi bercerita. Dia memikirkan bagaimana lelahnya Marius menghadapi ini semua. Di saat dia harus melindungi Rain, bersamaan dengan itu, dia juga harus melindungi perusahaannya. Bagaimana bisa satu orang melakukan semua itu?
"Ana!," Naomi menjentikkan jarinya di depan wajah Ana yang menyebabkan Ana kembali pada kesadarannya. "Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Hentikan! Jangan merasa iba! Sebelum aku benar-benar tahu siapa Marius, kamu dilarang bersimpati padanya, apalagi jatuh cinta."
"Aku tidak mungkin melakukannya!," Ana hampir berteriak mengatakan itu. Lalu kemudian dia merasa malu sendiri dengan kelakuannya, karena semua orang sekarang sedang memperhatikannya.
"Aku tidak tahu apa aku harus percaya dengan omonganmu jika melihat reaksimu seperti ini."
"Apa maksudmu? Aku tidak mungkin melakukan itu, Naomi. Dia, dia ...," kepala Ana terus berputar mencari sisi buruk Marius, tapi entah mengapa dia tidak dapat menemukannya. "Pokoknya dia bukan tipeku!"
__ADS_1
Naomi tiba-tiba sudah merasa seperti sedang membawa beban berat di punggungnya. "Melihatmu seperti ini, sepertinya aku harus cepat menyelesaikan ini."