
Saat Ana dan Marius kembali masuk ke dalam, Rain memang sudah membuka kedua matanya. Tapi, gadis kecil itu masih terbaring lemah. Dengan kekuatannya yang tidak seberapa, dia mengangkat kedua tangannya begitu dia melihat Ana memasuki ruangan itu.
"Mommy ...," bisiknya lemah. Suaranya semakin tidak terdengar karena masker ventilator yang menutupi mulut dan hidungnya.
Ana segera menghampiri Rain dan memeluknya pelan, sementara dia terus khawatir pelukannya akan menyentuh sesuatu dari alat-alat yang mengelilingi Rain.
"Tangannya jangan diangkat dulu, ya," bisik Ana pelan seraya memegangi tangan Rain yang terhubung dengan infus. Jarinya terus mengusap punggung tangan Rain.
Tidak banyak kalimat yang Ana dan Marius ucapkan di dalam sana, begitu juga dengan Rain. Noel hanya berkata Rain hanya akan terbangun sebentar saja, setelah itu dia akan kembali tidur karena pengaruh obat. Tapi, itu sudah cukup bagi Ana.
"Mommy ... Rain ... mau ... pulang."
Begitu kalimat terakhir yang diucapkan Rain sebelum dia kembali tertidur.
Ana mengusap air mata yang turun dari ujung matanya dan membasahi bantal yang memangku kepalanya.
"Kita pulang ... kita akan pulang, Rain ..."
Kali ini giliran Ana yang menghapus air matanya.
Begitu Ana dan Marius keluar, Naomi dan Lucas segera menyambut mereka. Ana tertawa bahagia menceritakan apa yang mereka bicarakan pada Rain di dalam sana, meski air matanya tidak berhenti mengalir. Dia menangis bahagia.
"Kata Noel, Rain akan baik-baik saja, Nao," kata Ana. "Dia tadi minta pulang."
Naomi segera memeluk Ana dan menenangkannya. Dia ikut bahagia.
"Aku harus memberitahu Valerie. Dimana dia?," tanya Ana.
"Dia tadi ... " Saat Naomi berbalik, Valerie yang tadi dilihatnya masih berdiri di ujung ruangan kini tidak terlihat lagi. "Dimana dia?"
Ana juga tidak menemukan siapapun di ruang tunggu.
"Apa dia pulang?," gumam Ana.
"Jangan khawatirkan dia."
Tangan Marius mendarat di atas kepalanya lalu membelainya, saat dia mengatakan itu.
"Dia sudah mendengarnya. Karena itu dia memilih pergi," lanjutnya.
Ana hanya terdiam mendengar ucapan Marius.
"Mungkinkah dia merasa malu dan bersalah?," pikirnya.
__ADS_1
Selama tiga hari, Rain masih berada di ruang PICU meskipun dia sudah sepenuhnya sadar. Noel mengatakan Rain masih butuh pengamatan intensif untuk komplikasi lain yang mungkin akan terjadi. Karena itulah, Ana dan Marius bergantian berada di dalam menemani Rain.
Tapi, pada hari ketiga setelah Rain sadar, Valerie datang kembali dan ingin bertemu dengan Ana dan juga Marius. Karena itulah, Lucas menggantikan Marius dan Ana menemani Rain di dalam.
"Aku menyerahkan kembali surat ini kepada kalian," kata Valerie seraya memberikan selembar kertas kepada Ana. Hanya dengan melihatnya, Ana tahu, itu adalah surat Adam yang Ana berikan untuk Valerie waktu itu.
"Tidak perlu lagi tes DNA. Rain memang benar putri Adam," katanya lagi.
"Golongan darahnya adalah AB. Sedangkan golongan darah Dylan adalah ... O ... Jelas tidak mungkin Rain adalah putrinya."
"Aku memang ibu yang buruk ...," kata Valerie. Dia menutupi tangisannya dengan kedua wajahnya. Hati Ana tidak tega melihatnya. Dia mencoba menenangkan Valerie dengan mengusap punggungnya.
"Aku yang bodoh. Dibutakan oleh keegoisanku, hingga aku tergoda oleh rayuan Nora. Dia datang menawarkan bantuan agar aku bisa bersama dengan Dylan asalkan aku membawa Rain bersamaku. Dia bahkan memberiku pengacara terbaik," kata Valerie lagi setelah dia menurunkan kedua tangannya.
"Maaf saja mungkin tidak akan cukup. Semua kekacauan ini ... aku akan memperbaikinya."
Valerie menatap kedua tangannya yang ada di atas pangkuannya. Saat dia mengatakan keinginannya, dia mengepalkannya dengan keras.
"Setelah ini, aku tidak akan muncul dalam kehidupan kalian dan juga Rain. Aku tidak akan mengganggunya lagi. Dia sudah bahagia bersama kalian. Dan aku ... hanya akan menyakitinya."
Valerie kini menatap kedua mata Ana dalam-dalam.
"Lucas sudah menceritakan padaku. Aku bukan membela diriku sendiri. Tapi, aku memang tidak tahu Nora akan menggunakan cara itu untuk membuat Rain mau ikut denganku. Meskipun demikian, kesalahan tetap adalah milikku. Jika aku tidak sebodoh itu ... mungkin semua ini ... "
Ana mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Valerie. Dia menggenggamnya.
Valerie terkejut mendengarnya. Begitu juga Marius.
"Rain mengatakannya padaku. Setelah kamu datang menjenguknya, dia melihatmu, lalu menjadi ingat kembali," katanya lagi.
"Dia tahu itu aku?," tanya Valerie seakan tidak percaya.
"Rain adalah anak yang cerdas. Dia selalu ingat semua hal yang dia lihat, dengar, atau rasakan. Meskipun waktu itu kamu menutupinya dengan kacamata besar, syal, rambut palsu, dan lainnya, tapi dia mengingat suaramu," jelas Ana.
"Yang ingin aku sampaikan adalah ..."
Ana mengeratkan genggamannya dengan lembut.
"... Rain tidak pernah membencimu. Karena dia bukan pembenci. Meski dia hidup dikelilingi orang-orang yang tidak menyukainya, dia tidak pernah membenci mereka. Beri dia waktu untuk mengenalmu, Valerie. Aku yakin, dia pasti akan sangat menyukaimu," pinta Ana.
Wajah Valerie kini menyiratkan senyuman penuh sesal.
"Tidak heran. Dia sangat lengket denganmu. Kamu sangat mengenalnya. Dari ceritamu, aku tahu dari siapa dia mendapatkan sifat itu," kata Valerie seraya tersenyum menatap Marius.
__ADS_1
"Tapi ... aku terlalu malu untuk bertemu dengannya. Dari dia lahir, aku tidak pernah menjadi ibunya. Dan seharusnya aku tidak pernah menuntutnya menjadi anakku hanya karena dalam nadinya mengalir darahku," kata Valerie lagi. Kepalanya tertunduk sangat dalam menggambarkan semua yang dirasakannya saat dia mengatakan itu.
Kemudian, perlahan-lahan Valerie beranjak dari tempat duduknya dan melepaskan genggaman tangan Ana. Dia tersenyum menatap Ana.
"Terima kasih .... terima kasih sudah memberikan cinta untuk dia yang tidak bisa aku berikan."
Valerie tidak mengatakan apapun lagi setelah itu. Dia lalu berbalik meninggalkan Ana dan Marius.
"Valerie ...," kata Ana mengejar Valerie yang sudah hampir menjauh.
"Sampai kapanpun, Rain akan selalu ingat bahwa dia punya mama bernama Valerie."
Valerie hanya tersenyum tanpa membalikkan tubuhnya. Saat dia akan kembali melangkahkan kakinya, Marius memanggilnya.
"Val ..."
Pria itu dari tadi hanya diam, dan kini sedang memanggilnya. Valerie berbalik menghadap Marius yang sudah berjalan menghampirinya. Dia juga ingin tahu apa yang akan disampaikan Marius padanya.
Marius kemudian memberikannya sebuah kartu memori.
"Ini adalah peninggalan Adam. Di dalamnya berisi rekaman percakapan, video, dan foto-foto Dylan bersama korban-korbannya. Adam mungkin ingin Dylan merasakan hukumannya. Tapi kemudian, kesehatannya terus menurun. Sekarang ... aku berikan padamu," kata Marius.
Perlahan, Valerie mengambilnya. Dia terlihat ragu tentang apa yang harus dia lakukan dengan itu.
"Saat Dylan menabrak Rain, aku berhasil menghentikannya, dan menyerahkannya ke polisi. Aku akan memastikan dia mendekam cukup lama di dalam sana. Tapi akan menjadi sangat lama dengan itu ..."
Marius menekankan kata terakhirnya dengan menunjuk kartu memori yang dipegang Valerie.
"Kamu yang memutuskan apa yang akan kamu lakukan dengan kartu memori itu."
Valerie tersenyum menatap Marius. Seakan-akan dia memahami maksud Marius. Lalu kemudian, dia berbalik dan pergi menjauh meninggalkan Marius.
Ana masih berdiri memandangi lorong yang membawa Valerie pergi. Dia tidak bergerak meski Valerie sudah tidak terlihat lagi. Bahkan di saat Marius mengajaknya pergi, Ana tetap berdiri di sana.
"Menurutmu, apakah dia akan baik-baik saja?," tanya Ana.
"Dia orang yang keras kepala. Kemauannya kuat. Karena itulah dia bisa bertahan di dunia yang dia cintai. Beri dia waktu untuk merenungi semuanya. Suatu saat ketika dia sudah siap, dia pasti akan kembali," kata Marius.
Ana hanya berharap ada kesempatan lain untuk Valerie dan Rain. Setidaknya setelah mereka sama-sama belajar cara untuk membuka hati mereka untuk yang lainnya.
"Valerie bukanlah ibu yang buruk. Dia hanya ... tidak tahu bagaimana cara mencintai Rain. Jika seandainya dia diberi kesempatan itu lagi, aku yakin dia pasti menjadi lebih baik lagi," ucap Ana lirih.
Marius memandangi Ana dengan tatapan penuh rasa sayang dari dalam hatinya meski Ana hanya terus memandangi lorong. Memang seperti itulah Ana selama yang dia tahu tentang gadis itu. Dia lebih memikirkan perasaan orang lain daripada perasaannya sendiri.
__ADS_1
Pada satu titik, itu mungkin tidak baik untuk Ana hingga mengkhawatirkannya. Tapi di titik yang lain, pria itu tidak bisa berhenti mengaguminya.
Marius kini menggenggam tangan Ana. Bersama Ana, dia berdiri di sana, menemaninya hingga gadis itu siap beranjak pergi dari sana.