
"Marius ...," panggil Ana saat dia mengintip dari balik pintu kamar Marius. Tapi, tidak terlihat siapapun di dalam sana.
"Di mana dia?," tanyanya lirih.
Semenjak Ana bertunangan dengan Marius, Ana lebih sering tinggal di rumah Marius, di kamarnya yang biasa. Marius meminta sendiri pada Doni untuk membiarkan Ana tinggal di rumahnya. Doni, tentu saja menyetujuinya.
Tapi sesekali, dia akan menginap di rumahnya sendiri untuk dua atau tiga hari, ketika dia merindukan papanya itu. Sekaligus mengecek keadaannya, begitu pikir Ana. Dan Marius tidak keberatan dengan itu. Dia bahkan mengantarkan sendiri Ana untuk pulang.
Seperti yang dilakukan Marius semalam setelah mereka pulang dari undangan makan malam salah satu perusahan rekan bisnis DYNE. Sepulangnya dari acara itu, Marius meminta supir untuk mampir ke rumah Ana dan menurunkannya di sana.
Tapi kemudian, Marius menelpon. Ana mengira Marius menghubunginya untuk mengabari bahwa dirinya sudah tiba di rumah, tapi ternyata tidak.
"Ana ... uhuk ... sepertinya aku sakit ... uhuk ..."
Ana langsung mengendarai mobilnya dan meluncur ke rumah Marius setelah mencari obat untuk Marius.
Tapi, entah dimana pria itu sekarang? Tian mengatakan kalau Marius ada di kamarnya. Anehnya, Tian tidak tahu-menahu kalau Marius sedang sakit.
Ana meletakkan kantong obat yang dibawanya di atas meja. Dia mengira Marius mungkin sedang di kamar mandi, karena itu dia berencana menunggunya.
Saat dia akan duduk, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang, mendekapnya erat dengan lengannya yang kokoh itu.
"Marius ... katanya kamu sakit. Sekarang gimana?," tanya Ana khawatir.
Marius mendekapnya makin erat. Wajahnya dibenamkan di lekukan leher Ana dan menciuminya, membuat Ana merinding kegelian dibuatnya.
"Aku bohong," jawab Marius dengan suaranya yang serak dan dalam. "Kalau nggak begini, kamu nggak akan datang."
Ana menghela napasnya pelan. Kedua tangannya memeluk lengan Marius yang saat ini sedang melingkari tubuhnya.
"Katakan padaku, kamu kenapa? Semenjak pulang dari party, kamu selalu diam, tidak mau melihatku. Setiap kutanya, kamu selalu bilang tidak apa-apa. Tapi, yang kulihat tidak begitu. Apa aku melakukan kesalahan?"
Ana terkejut mendengar Marius mengatakan itu padanya. Padahal dia terus berusaha menyembunyikannya. Dia tidak menyangka Marius malah menyadarinya.
"T-tidak ada yang salah dari kamu, Marius."
Perlahan Marius melepaskan pelukannya, lalu menuntun Ana untuk berbalik menghadapnya. "Mengapa aku masih merasa kamu berbohong padaku? Katakan padaku, Ana. Apa aku membuatmu marah?"
"Tidak ada, Marius. Aku nggak bohong."
Ana masih melihat ketidakyakinan Marius dari raut wajahnya. Pria itu masih terus menatapnya curiga. Ana menjadi semakin serba salah karenanya. Ana tidak ingin mengatakannya, tapi Marius sepertinya tidak akan berhenti bertanya jika Ana tidak mengatakannya.
"Kamu nggak melakukan kesalahan apapun, Marius," kata Ana sekali lagi. Saat Ana ingin mengucapkan kalimat selanjutnya, perlahan Ana mengalihkan pandangannya dari Marius. "Masalahnya ada di aku sendiri."
Tangan Marius bergerak perlahan meraih wajah Ana, menuntunnya agar tetap menatapnya. "Ada apa?," tanyanya lembut.
Ana memandangi terus wajah Marius, menggigit bagian bawah bibirnya yang mungil itu sembari menimbang-nimbang apakah dia akan mengatakannya atau tidak.
"Atau ... kamu ingin aku menciummu, sampai kamu mau mengatakannya?"
Marius sudah bergerak maju mendekati wajah Ana, tapi kemudian Ana menahannya dengan kedua tangannya.
"Iya, iya ... aku cerita."
Ana sudah tidak dapat mundur lagi. Marius memberinya tidak banyak pilihan atau alasan untuk menolak. Meski terasa berat, perlahan Ana mengatakannya.
"Kamu ... masih ingat ... saat di party, kamu bertemu temanmu saat di Perancis?"
Marius menganggukkan kepalanya.
"Apakah ... menurutmu dia cantik?"
Marius mengenyitkan dahinya. Dia sepertinya masih belum memahami arah pembicaraan Ana.
__ADS_1
"Biasa saja. Kenapa?"
"Menurutku dia ... cantik." Ana kembali menggigit bibir bawahnya.
Marius seketika menghela napasnya. Cukup keras hingga Ana mendengarnya. Saat Ana melihatnya, salah satu sudut bibir pria itu sedang terangkat membentuk sebuah senyuman.
"Kamu cemburu?," tanya Marius.
"Sedikit ..." Ana mungkin menundukkan kepalanya, tapi kedua mata masih menatap Marius, meski beberapa detik kemudian Ana kembali mengalihkan pandangannya.
"Tapi, aku lebih ... iri padanya ... daripada cemburu ..."
"Iri?," tanya Marius mengernyitkan dahinya kembali.
"Saat kamu mengobrol dengannya, kalian terlihat ... cocok ... sangat serasi. Saat aku berada di antara kalian, aku seperti berada di dunia yang berbeda. Saat aku melihatnya, aku terus berpikir seharusnya seperti ini pendamping untuk seorang Marius Edmond Hadinata. Kuat, berkharisma, pintar, dan penuh percaya diri. Dan saat aku melihat kembali ke diriku sendiri, aku merasa jauh berada di bawahnya. Aku merasa ... tidak pantas."
Marius tiba-tiba menjentikkan jari telunjuknya ke dahi Ana.
"Aw ..."
"Apakah seberat itu menjadi pasanganku sampai-sampai kamu berpikir seperti itu?," tanya Marius.
Ana tidak berani menjawab apapun. Dia hanya menundukkan kepalanya.
Marius menghela napasnya. Dia kembali mengangkat wajah Ana untuk menatapnya dengan kedua tangannya.
"Semua yang kamu katakan. Kuat, berkharisma, pintar, penuh percaya diri ... aku juga melihatnya di kamu," kata Marius. Keyakinan terpancar dari kedua matanya hingga Ana mempercayai kata-kata Marius itu.
"Di mataku, kamu lebih bersinar dibandingkan wanita lainnya, Ana. Karena itu aku mencintaimu."
Ana dibuat tersipu oleh kata-kata Marius itu. Ana bisa merasakan wajahnya perlahan menghangat.
"Dan, karena itu juga aku ingin membanggakannya ke semua orang. Itulah mengapa aku pergi menghadiri undangan itu bersamamu. Kamu tahu kan aku jarang pergi ke acara seperti itu."
"Tapi, aku tetap harus memantaskan diriku, Marius. Aku juga nggak mau semua orang menertawakanmu karena bernasib buruk dijodohkan dengan istri sepertiku," kata Ana.
Marius perlahan menjauhkan tangannya dari wajah Ana. Dia terlihat cukup bingung dengan ucapan Ana. Sekilas dia terlihat yakin, tapi kemudian menjadi ragu.
"Maksudmu ...," tanya Marius yang tidak berani menyelesaikan kalimatnya karena ketidakyakinannya itu.
"Aku merasa PR ku sangat banyak agar aku bisa melampaui temanmu itu. Atau setidaknya, aku harus menyamainya. Aku hanya tidak tahu dari mana aku memulainya," jelas Ana panjang lebar.
"Jadi, sedari tadi ... itu yang kamu pikirkan?"
Ana menganggukkan kepalanya. "Ehm ... kamu ngiranya apa?"
Marius kini tertawa dengan kerasnya seperti sedang menertawakan kebodohannya sendiri. Kemudian kembali dia meletakkan kedua tangannya di samping wajah Ana, mendekatkan Ana padanya, menyandarkan keningnya pada kening Ana.
"Aku mengira kamu menyesal bersamaku," ucap Marius lirih.
"Aku? Menyesal?," tanya Ana.
"Apa kamu tahu berapa banyak wanita yang ngantri untuk bisa bersamamu? Mama Agnes memberikanku golden ticketnya, nggak mungkin aku melepasnya."
"Aku hanya takut ... mereka meremehkanmu karena aku," kata Ana lagi yang kini suaranya berubah menjadi cukup pelan. Dalam jarak mereka yang sangat dekat, Ana menatap kedua mata Marius itu.
Marius lagi-lagi tertawa mendengar ucapan Ana. Tapi tawanya kini tidak sekeras tadi.
"Kamu tidak perlu berubah menjadi seperti mereka, Ana. Aku tidak akan melarangmu untuk melakukan apapun yang kamu pikirkan, tapi ... aku tidak ingin kamu berubah. Kamu adalah kamu, mereka adalah mereka. Dan aku mencintai kamu yang ada di hadapanku saat ini."
Wajah Ana kembali tersipu karena kata-kata Marius. Ana tidak hanya dibuat hanyut oleh kata-kata Marius, tapi tatapan mata Marius seakan-akan sedang membuainya hingga membuatnya tidak berdaya.
Marius menjauhkan keningnya dari Ana. Kedua tangannya masih bersandar pada kedua sisi wajah Ana. Marius menatapnya sekali lagi, kemudian berkata, "Jangan khawatirkan tentangku, Ana. Kamu hanya cukup menjadi dirimu sendiri. Dan aku yakin, tidak akan terjadi apapun seperti yang kamu pikirkan itu. Kalaupun memang terjadi, percayalah aku bisa mengatasinya."
__ADS_1
Semua keraguan yang tadi membebani pikirannya, kini seakan hilang tidak berbekas. Saat Ana memandangi kedua mata Marius, entah bagaimana caranya dia jadi punya kepercayaannya yang tinggi terhadap Marius.
"Bagaimana bisa aku meragukan Marius? Aku justru meremehkannya jika aku mengatakannya seperti itu. Dia adalah Marius. Kekuatan apa yang tidak dia miliki?," pikir Ana.
Marius kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir Ana, mencumbunya dengan lembut, pelan-pelan.
Semakin lama, ciuman Marius semakin dalam dan menuntut. Ana mulai kehilangan akal dan pikirannya. Dia mulai lupa caranya untuk bernapas.
Marius melepaskan cumbuannya sebentar, menatap Ana dengan tatapannya yang tidak biasa. Tatapan yang seakan sedang memaku Ana agar tidak dapat menolaknya.
"Bagaimana keadaan Om Doni?," tanya Marius setengah berbisik.
"Papa ... dia baik-baik saja. Aku tadi bilang akan kesini," jawab Ana yang napasnya kini terasa berat.
"Menginaplah disini malam ini, Ana. Aku akan mengantarkanmu besok," pinta Marius.
"Aku ... aku ..."
Seakan-akan tahu apa yang akan dijawab Ana, Marius kembali menenggelamkan Ana dalam ciumannya. Kali ini, tangan Marius mulai bergerak menyentuh semuanya yang Ana miliki. Malam ini, sepertinya akan menjadi malam yang panjang bagi Marius dan juga Ana.
......................
Ana terbangun karena cahaya matahari yang masuk melalui sela tirai kamar mengenai kedua matanya. Silaunya matahari terlalu menyengat hingga Ana kesulitan membuka kedua matanya. Tapi tiba-tiba, cahaya itu tidak lagi menyilaukan. Sesuatu yang teduh seperti sedang menghalanginya.
Perlahan, Ana membuka kedua matanya. Dilihatnya Marius sedang berbaring di sampingnya dengan salah satu tangannya sedang menghalangi sinar matahari mengenai Ana.
"Bonjour, chéri," sapa Marius dengan suaranya yang dalam.
Ana memandangi tubuh Marius yang terlihat kekar dan kuat. Dia kemudian menyadari dirinya juga sedang tidak berpakaian.
Ana kemudian teringat kembali malam panas yang baru saja dilaluinya bersama Marius. Rasa nyeri di sekujur tubuhnya dan juga di bagian intinya memberikannya tanda bahwa apa yang terjadi semalam adalah nyata.
Seketika itu juga, wajah Ana kemerahan menahan semua rasa malunya. Selimut yang hanya menutupi tubuhnya, kini dinaikkan lebih ke atas lagi hingga menutupi wajahnya.
Ana dapat mendengar Marius sedang menertawakannya. Sedetik kemudian, Marius sudah memeluknya dengan erat.
"Kamu tidak semalu ini semalam," goda Marius.
Ana ingin membantah perkataan Marius itu. Dia segera mengeluarkan wajahnya dari persembunyiannya dan menatap Marius. Tapi kemudian, tanpa Ana bisa menduganya, Marius sudah menangkap wajahnya, lalu menciumnya dengan sangat dalam.
Ana kembali merasakan apa yang dirasakannya semalam. Dia seperti sedang diingatkan lagi oleh Marius, apa yang dia rasakan semalam melalui ciumannya itu. Detakan jantungnya yang tak karuan, napasnya yang terengah, dan rasa yang aneh yang menghujani seluruh tubuhnya. Marius seperti sedang menyedot semua energinya yang tersisa.
Saat Marius melepaskannya, napas Ana sudah begitu beratnya. Ana sudah tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang. Tapi dia yakin, dia pasti terlihat jelek sekarang. Tangan Ana segera menutupinya.
Tapi Marius merebutnya, dia tidak mengijinkan Ana menyembunyikan wajah Ana yang saat ini sangat disukainya. Sisi lain Ana yang hanya dia saja yang tahu.
"Apa yang sedang kamu sembunyikan, Ana? Biar aku melihatnya," ucapnya lirih.
Marius memandangi wajah Ana dengan senyumnya, lalu kemudian dia kembali merebut bibir Ana, dan menciumnya dalam-dalam, sangat dalam hingga napas Ana menjadi tidak beraturan lagi.
"Marius ..."
Perlahan Marius menuruni leher jenjang Ana, menyapu bersih di setiap bagian yang dilewatinya. Dan berakhir dengan menambahkan lukisan indah di tubuh putih mulus Ana, setelah semalam entah sudah berapa banyak lukisan yang sudah dia buat.
Saat Marius sudah puas dengan hasil karyanya, Marius memandangi Ana kembali. Wajah kemerahan Ana membuatnya semakin menyukai pemandangan indah yang dilihatnya saat ini.
"Kamu terlihat sangat cantik, Ana," bisiknya.
"B-bohong ...," seru Ana dengan suaranya yang lirih dan berat. Dia hampir menutupi kembali wajahnya, tapi kemudian Marius merebutnya lagi.
"Biar aku melihatnya, Ana. Ekspresi itu, milikku, biar aku melihatnya."
Ana hanya bisa pasrah bagaimanapun Marius mengarahkannya. Rasa nyeri yang tadi dirasakannya kini tidak terasa lagi. Ana menikmati semua waktu yang dihabiskannya bersama Marius. Entah berapa kali lagi mereka akan melakukannya, jika itu bersama Marius, Ana akan bersamanya hingga akhir.
__ADS_1