
Sudah hampir 30 menit Ana duduk di dudukan toilet dengan gugupnya. Selama hampir 30 menit itu Ana terus memandangi meja wastafel yang ada di depannya.
Yang Ana perhatikan bukan mejanya, melainkan benda yang ada di atasnya. Sebuah benda kecil berbentuk memanjang sedang menunggu Ana untuk melihatnya. Tapi Ana terlalu takut untuk melakukannya.
Test pack namanya. Benda yang sedang dilihat Ana adalah benda yang akhir-akhir ini menjadi begitu akrab di telinganya. Entah sudah berapa kali dia membelinya. Dia sampai hafal nama-nama merknya.
Sudah hampir dua tahun Marius dan Ana menikah, dan hampir dua tahun itu Ana masih belum juga mendapatkan tanda-tanda kehamilan. Sejak pernikahan mereka menginjak usia 5 bulan, Ana mulai gelisah. Ana bertambah gelisah, ketika Naomi yang menikah 6 bulan setelah Ana, sudah dinyatakan hamil 3 bulan setelah menikah. Ana mulai berpikiran negatif pada dirinya sendiri.
Dia mulai rajin membeli test pack. Bahkan juga memaksa Marius agar mereka mengikuti program kehamilan yang disarankan dokter. Dan itupun masih belum menunjukkan hasilnya. Ana mulai khawatir.
Sama seperti saat ini, saat Ana terus memperhatikan benda kecil itu. Pikiran Ana terus memikirkan hal-hal yang membuatnya semakin khawatir. Karena itulah, semakin lama Ana hanya duduk dan memperhatikan benda itu, semakin berkurang keberanian Ana untuk melihat hasilnya. Yang akhirnya, membuat Marius yang menjadi khawatir.
Tok ... tok ... tok ...
"Ana ... kamu nggak apa-apa?," panggil Marius dari balik pintu.
"I-iya, aku nggak apa-apa," jawab Ana.
Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Marius juga tidak lagi bertanya. Dan Ana kembali mengkhawatirkan hasilnya.
Tok ... tok ... tok ...
"Ana ... aku masuk, ya," panggil Marius lagi.
"I-iya ..."
Ana tidak bisa menolaknya, atau Marius akan bertambah khawatir.
__ADS_1
Marius memasuki kamar mandi dengan hati-hati. Yang pertama kali dilihatnya adalah Ana yang terus memperhatikan meja wastafel. Marius pun meneruskan pengamatannya hingga ke tempat itu. Dan dia sudah tidak heran lagi ketika melihat sebuah test pack sedang terbaring di atasnya.
Marius berjalan menghampiri Ana, lalu berakhir dengan duduk di atas kedua lututnya. Tangannya kemudian meraih wajah Ana, dan memanggil nama istri yang sangat dicintainya itu.
"Aku terlalu takut untuk melihatnya, Marius," kata Ana menjawab panggilan Marius. "Bagaimana kalau hasilnya negatif lagi?"
Marius menggenggam jemari Ana dengan lembut. "Ana ... kamu ingin aku melihatnya lalu memberitahumu seperti biasa?"
Ana terdiam sesaat, lalu mengangguk kemudian. Dan beberapa saat kemudian, Marius sudah kembali dengan test pack itu di tangannya. Dia menggenggamnya, menutup bagian hasilnya, hanya agar Ana tidak bisa melihatnya, begitu juga dengan dirinya. Ya, karena Ana selalu meletakkannya terbalik sebelum dia melihatnya.
"Kita akan melihatnya bersama-sama. Tapi kali ini, aku ingin kamu berjanji padaku, Ana," ucap Marius setelah dia kembali duduk di hadapan Ana.
Tidak biasanya Marius menjadi seperti ini. Biasanya dia akan langsung memberitahu Ana hasilnya.
Tapi Ana sudah tidak sabar lagi, dia biarkan Marius dengan syaratnya.
Ana terdiam menatap Marius. Jika hasilnya positif tentu saja dia akan berhenti melakukannya. Tapi jika negatif ... mengapa dia harus berhenti?
Marius kembali meraih wajah Ana dengan tangannya yang lain. "Aku sudah pernah mengatakannya, dan aku tidak akan pernah bosan untuk mengatakannya lagi sekarang."
"Kamu adalah istriku, dan selamanya akan tetap begitu, dengan ataupun tanpa anak yang lahir dari rahimmu. Aku tidak peduli apakah kamu bisa mengandung atau tidak."
"Aku tahu kamu sangat ingin untuk bisa mengandung. Setiap hari kamu menginginkannya lebih dari siapapun di rumah ini. Dan karena itu, setiap kamu kecewa, kamu menghancurkan dirimu sedikit demi sedikit. Setiap hari, aku dan Rain melihatmu hancur, dan itu sangat menyakitkan, Ana."
Ketika Marius menyebut nama Rain, tanpa disadarinya, Ana juga ikut memanggilnya dengan lirih. Dia lupa kalau dia masih punya Rain.
Ana mulai menitikkan air matanya. Dia mulai berpikir sedemikian egoisnya kah dia sampai-sampai tidak memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang ada di sekitarnya.
__ADS_1
"Aku juga sama inginnya denganmu. Aku juga ingin agar aku bisa memiliki anak darimu. Tapi, lebih menyakitkan melihatmu seperti ini daripada rasa kecewa setiap kali melihat hasil negatif pada test pack ini, Ana."
"Itulah mengapa, aku sudah tidak lagi memikirkan itu. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar aku bisa membuatmu melupakan rasa kecewamu itu dan hidup bahagia bersamaku tanpa harus khawatir apakah kamu hamil atau tidak."
Air mata Ana semakin deras mengalir. Rasa bersalah membuatnya tidak dapat menghentikan air matanya itu.
Berapa kali Ana memintanya untuk melihat hasilnya hanya karena dia tidak sanggup melihatnya? Selama itu, dia sama sekali tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Marius. Dan suaminya itu tidak pernah mengeluh sekalipun.
Marius tetap menghibur Ana, tidak membiarkannya sendirian menghadapi kekecewaan, dan selalu mengikuti setiap keinginan egois Ana hanya agar istrinya itu bisa benar-benar bahagia.
Dengan air matanya yang terus turun tanpa henti, Ana meraih test pack yang sedang dipegang Marius. Dia menggenggamnya erat sama seperti yang dilakukan Marius. Kemudian, membuangnya ke tempat sampah yang ada di sebelahnya.
Terakhir, dia memeluk Marius dengan sangat erat.
"Maaf. Maafkan aku, Marius. Maaf aku terlalu egois," isak Ana.
Marius tidak mengatakan apapun. Dia hanya memeluk Ana dan membelai rambutnya. Dia biarkan air mata Ana membasahi kemejanya. Dia berharap setelah Ana puas menangis, semua yang dirisaukan Ana menjadi sirna, dan Ana bisa melanjutkan hidupnya tanpa beban apapun tentang anak.
Cukup lama Marius menemani Ana di kamar mandi hingga istrinya itu benar-benar berhenti menangis. Mungkin karena kelelahan, Ana akhirnya tertidur dalam pelukannya. Dengan perlahan, Marius menggendongnya dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Air mata Ana masih membasahi wajahnya. Di antara kedua alisnya masih berkerut menyatu, menandakan bahwa Ana tertidur dengan rasa bersalahnya. Dengan lembut, Marius menghapus air mata Ana.
Marius memandangi Ana sejenak sebelum dia pergi bekerja. Semakin lama, semakin enggan dia pergi meninggalkan Ana dalam kondisi yang seperti ini. Jika bukan karena pertemuan pentingnya hari ini, Marius pasti akan tetap di rumah.
Tapi, Marius harus pergi. Karena itu, dia berniat untuk menyelesaikannya segera, lalu kembali setelah semuanya selesai. Perlahan, Marius mengecup kening Ana sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kamar tidurnya.
Dia hanya berpesan pada Tian untuk menyampaikan pesannya pada Ana, dan memberikannya teh chammomile ketika dia bangun nanti. Dia berharap Ana menjadi jauh lebih tenang setelah meminumnya.
__ADS_1