Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 67


__ADS_3

"Kamu disini saja, biar aku urus Val dulu"


Begitu kata Marius, 10 menit yang lalu saat dia pergi meninggalkan Ana dan juga Rain di kamarnya. Selama 10 menit itu, hati Ana tidak tenang sedikitpun. Dia terus memikirkan apa yang disampaikan Lucas tadi.


"Hak asuh? Apa maksudnya? Apakah Valerie ingin hak asuh Rain?," tanya Ana dalam hatinya.


Dia memandangi Rain yang masih terbaring di atas tempat tidurnya. Wajahnya masih terlihat pucat, tapi keringat mulai keluar dengan derasnya.


"Sepertinya obatnya mulai bekerja," batin Ana sambil sesekali menyeka keringat Rain dengan handuk basah yang sedari tadi ada di nakas dekat tempat tidur Rain.


Dan 5 menit lainnya sudah berlalu, Marius masih juga belum kembali. Ana menjadi tidak sabaran. Pikirannya semakin kalut, perasaannya mulai terasa tidak nyaman. Akhirnya dia memutuskan untuk turun.


Setelah menitipkan Rain pada Tian dan pelayan yang bertugas di kamar Rain, Ana bergegas menuju ruang kerja Marius, begitulah yang dikatakan Tian tadi padanya.


Ana hanya berjarak beberapa langkah dari ruang kerja Marius, tapi teriakan Marius dan juga Valerie dapat terdengar olehnya. Pembicaraan mereka sepertinya tidak berjalan mulus.


......................


"Apa kamu sudah gila, Val?!," bentak Marius yang disertai dengan bantingan tangan di atas meja.


"Kamu bebas mengatakan apapun tentang aku. Tapi, aku hanya ingin hakku. Dia anakku, dan aku akan mengambilnya. Dia akan hidup bahagia bersama dengan ayah kandungnya," kata Valerie yang tidak kalah kerasnya dengan Marius.


"Pikirkan tentang Rain, Val." Bahkan Lucas yang selama ini hanya diam, kini ikut berbicara. "Dia tidak kenal siapapun selain kami."


"Dia akan belajar mengenalnya," jawab Valerie singkat.


"Aku sudah pernah mengatakannya, Val. Rain adalah anak kandung Adam. Titik," tegas Marius.


"Dan aku juga sudah pernah mengatakannya, Marius. Aku ibunya. Aku yang lebih tahu siapa ayah kandungnya. Aku akan membuktikannya untukmu."


"Apa yang akan kamu lakukan, Val?," tanya Marius. Suaranya hampir terdengar bergetar.


"Selama ini kamu selalu yakin dia adalah anaknya Adam. Tapi kamu belum pernah melakukan test DNA, kan? Kamu takut melakukannya karena kamu khawatir akan hasilnya. Benar, kan?"

__ADS_1


Marius tidak menjawab apapun. Dia menatap Valerie seakan-akan tidak percaya bahwa Valerie akan melakukannya.


"Aku adalah ibu kandungnya. Ada dokumen yang mengesahkan itu. Jadi aku berhak membawanya. Selama ini aku terlalu takut padamu karena itu aku hanya diam. Tapi sekarang tidak lagi. Aku akan membawanya. Pengacaraku akan mengirimkan surat peringatan untukmu."


Begitu kalimat terakhir terucap, Valerie langsung berjalan menuju pintu keluar ruang kerja Marius itu. Dan tepat di saat dia membuka pintu itu, dia melihat Ana sedang berdiri di depannya.


Ana dan Valerie saling menatap sebentar. Ana tidak tahu apa yang dipikirkan Valerie. Tapi, Valerie sepertinya juga tidak tidak peduli dengan apa yang dilakukan Ana di sana. Karena setelah itu, Valerie pergi meninggalkan Ana.


"Apa kamu tidak ingin bertanya pada Rain apa yang sebenarnya dia inginkan?," tanya Ana yang akhirnya menghentikan langkah Valerie.


Tanpa berbalik menghadap Ana, Valerie berkata, "Tidak perlu. Dia adalah anakku. Seorang anak harus tinggal bersama dengan ibunya."


Valerie kembali melangkahkan kakinya. Tapi Ana merasa dia harus tahu tentang kondisi Rain saat ini.


"Apa kamu tidak ingin melihatnya? Rain sedang sakit sekarang."


Dan langkah Valerie kembali terhenti. Kali ini dia berbalik menatap Ana.


Valerie memasuki kamar Rain menyusul Ana yang sudah masuk terlebih dahulu. Marius dan Lucas juga mengikutinya. Tian dan beberapa pelayan yang tadi ada di dalam kini bergantian keluar kamar dan berdiri di depannya.


Rain mungkin terbangun saat Ana turun ke bawah tadi. Karena saat dia masuk, dia sedang terduduk di atas tempat tidurnya. Saat dia melihat Valerie, tampak raut wajahnya menunjukkan kebingungan.


Valerie yang duduk di bibir tempat tidur Rain, menyentuh kening gadis kecil itu dengan punggung tangannya. "Apa kamu sakit?," tanyanya.


Rain hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu sudah minum obat?," tanyanya lagi. Rain menganggukkan kepalanya kembali.


"Apa kamu tahu aku adalah ibumu?"


"Val!!"


Marius dan Lucas hampir bersamaan memanggil Valerie karena ketidaksetujuan mereka pada apa yang dilakukan Valerie. Tapi, meskipun suara mereka cukup keras, bahkan Rain pun ikut menoleh ke arah mereka, Valerie tetap tidak memperdulikannya. Dia tetap menatap Rain.

__ADS_1


Rain mulai tidak nyaman dengan cara Valerie menatap. Sebenarnya, dia mulai tidak nyaman sejak pertanyaan Valerie yang terakhir. Dia mulai mencari sosok Ana dalam ruangan itu. Saat menemukannya, dia ulurkan kedua tangannya ke arah Ana, lalu dengan suaranya yang lemah, Rain memanggilnya.


"Mommy ..."


Ana yang tadinya ingin memberikan waktu pada Valerie untuk bisa berbicara dengan Rain, kini seperti tidak memiliki pilihan lain saat Rain memanggilnya. Dia segera menghampiri Rain dan menyambut kedua tangan itu, lalu meraih tubuh mungilnya. Gadis kecil itu segera naik dalam gendongan Ana, dan memeluknya.


"Sebaiknya, beri dia sedikit waktu untuk bisa mengenalmu," pinta Ana. Tangan Ana tidak berhenti mengusap punggung Rain untuk menenangkannya.


Valerie langsung memberikan tatapannya yang tajam ke arah Ana. Dia benar-benar tidak menyukai apa yang dikatakan Ana barusan.


"Kamu tidak perlu mengajariku. Dia adalah anakku, dan dia akan menurutiku."


Melihat dirinya tidak dibutuhkan disana, Valerie beranjak dari tempat tidur Rain, lalu keluar dari kamar itu. Marius menyusulnya.


"Tidakkah kamu lihat bahkan Rain tidak ingin jauh dari Ana? Jika kamu ibunya, mengapa tidak kamu tanyakan saja apa keinginan Rain sebenarnya?," kata Marius setelah dia menutup pintu kamar Rain.


"Gadis itu ... dia hanya butuh beberapa bulan saja, dan anak itu sudah begitu dekat dengannya. Jika aku tidak diberi kesempatan yang sama, kita tidak akan pernah tahu bagaimana perasaannya terhadapku, kan? Aku hanya ingin dia bahagia bersama ayah kandungnya."


Marius menahan amarahnya saat Valerie kembali menyebut 'ayah kandung'. Dia tetap tidak terima penyangkalan Valerie terhadap Adam sebagai ayah kandung Rain.


"Bagaimana bisa dia begitu percaya diri jika Dylan adalah ayah kandungnya?," kata Marius geram dalam hatinya.


Valerie tidak melanjutkan lagi pembicaraan mereka. Karena setelah dia mengucapkan kalimat terakhirnya, dia langsung berbalik meninggalkan Marius yang masih menahan amarahnya.


Lucas yang baru saja keluar tepat setelah Valerie pergi, memandangi Marius yang mengepalkan kedua tangannya, dan perlahan mendekatinya.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang, Marius?," tanya Lucas.


"Persiapkan saja pengacara. Kita akan melakukan apa yang bisa kita lakukan," jawab Marius yang mencoba menurunkan tensi kemarahannya. Di tengah kemarahannya, dia tahu posisinya tidaklah kuat jika dibandingkan Valerie yang merupakan ibu kandung Rain.


"Apa kamu tidak curiga ada seseorang yang mendorongnya melakukan itu?"


"Aku juga berpikir begitu. Selidiki saja siapa pengacaranya. Jika dia tahu akan berhadapan denganku, seseorang pasti akan memberikan pengacara terbaiknya. Kita akan tahu siapa yang menyuruhnya."

__ADS_1


__ADS_2