
(flashback on)
#
"Aku menyewa rumah ini untuk kalian. Maaf, mungkin tidak terlalu besar, tapi bertahanlah sebentar. Saat aku sudah menjadi kepala keluarga, aku akan membawa kalian kembali ke rumah Hadinata," kata Tuan Muda Hadinata.
"Mengapa Tuan melakukan ini? Saya hanyalah pelayan biasa yang sudah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya," kata Eli.
"Kamu tahu kan, kami sudah lama tidak memiliki anak. Ketika kami mendengar cerita tentangmu, istriku terus memintaku untuk menolongmu. Dia sangat menghargai keputusanmu untuk mempertahankan anak ini, di saat kamu punya pilihan untuk tidak melakukannya."
Eli mulai menangis saat dia melihat Tuan Hadinata membelai lembut kepala anaknya.
"Selain itu ... anggap saja ini sebagai tanda baktiku untuk Ibu Pengasuhku yang memohon padaku untuk menyelamatkanmu."
Eli terkejut mendengar Tuan Hadinata mengatakan bahwa ini adalah permintaan ibunya.
#
"Ayo, Adam ... kita main kesana," panggil Leo kecil yang saat itu berumur 6 tahun.
"Sudah kubilang berkali-kali, jangan memanggil namanya saja. Panggil dia Tuan Adam," kata Eli sambil memukuli lengan Leo.
"Jangan panggil aku Tuan! Aku bosan semua orang memanggilku Tuan," kata Adam kecil kesal.
"Haha ... biarkan saja Eli. Biarkan mereka melakukan yang mereka mau," teriak Tuan Hadinata dari kejauhan.
#
"Sebentar lagi adikmu akan lahir. Kamu pasti akan banyak bermain dengannya," kata Leo kecil yang berumur 8 tahun.
"Marius akan menjadi adikku, tapi kamu tetap adalah kakakku," kata Adam kecil sambil memeluk Leo.
Lalu, mereka tertawa bersama.
#
"Apa kamu menyukainya?," tanya Leo yang berumur 32 tahun.
"Aku mencintainya, Leo," jawab Adam.
"Aku selalu mengalah untukmu. Tidak bisakah kamu mengalah untukku kali ini saja? Aku tidak akan menuntut apapun darimu."
__ADS_1
"Maafkan aku, Leo. Maafkan aku ... Tapi aku sangat mencintainya," tangis Adam.
#
"Jadi kalian akan benar-benar menikah?," tanya Leo.
"Ya, Leo. Rain butuh aku sebagai ayahnya. Dan aku akan menikahinya agar Rain bisa bersamaku. Maafkan aku ..."
#
(flashback off)
......................
Ana masih terdiam menatap Eli yang saat ini sudah kembali bersandar pada kursi sofanya. Eli kembali memandangi langit dari jendela kamar setelah dia meluapkan semua kemarahannya.
Dari kemarahan Eli, Ana jadi mengetahui ternyata memang benar apa yang dituduhkan Dara padanya.
"Sekarang aku memahami, mengapa semua pelayan di rumah ini selalu membicarakan hal-hal buruk tentang Rain. Ternyata, kamu membiarkan mereka melakukannya," kata Ana.
Eli tertawa sinis menanggapi ucapan Ana. "Aku melakukannya agar anak itu tidak akan pernah merasakan kebahagiaannya. Dia tidak berhak untuk bahagia di saat kedua putraku menderita karenanya."
"Aku tidak bisa melakukannya secara langsung, semua orang memperhatikanku. Tapi, jika Dara yang melakukannya, mereka hanya akan menganggapnya sama seperti mereka."
"Aku harus berterima kasih pada orang yang merencanakan penculikan itu. Karena dia membuatku tidak perlu repot memaksa pengasuh itu untuk keluar dari rumah ini."
Eli beralih menatap Ana. "Lalu, kamu datang. Kamu satu-satunya orang yang tidak bisa aku sentuh. Bahkan, Dara pun tidak. Aku tidak bisa melakukan apapun, bahkan ketika anak itu sudah mulai menyayangimu."
"Karena itu, kamu merencanakan mainan ular dan stroberi itu?," kata Ana.
Eli hanya tersenyum sinis tanpa memandangi Ana. Dia kembali menatap ke arah jendela.
"Tapi, menurutku, bukan kamu yang merencanakannya," kata Ana lagi.
Eli menghapus senyum sinisnya dari wajahnya. Dia menurunkan pandangannya untuk menatap Ana.
"Kamu memikirkan banyak hal hanya untuk menyiksa batin Rain, tapi bukan untuk melukai fisiknya. Kamu juga tidak merencanakan penculikan itu. Padahal kamu bisa melakukannya jika mau, dan kamu bisa dengan bebas melukainya di tempat lain tanpa perlu orang lain tahu."
"Jadi, aku percaya, jika kamu bukanlah orang yang memerintahkan Dara untuk meletakkan mainan ular itu di kamarku, begitu juga dengan stroberi itu."
Tatapan mata Eli menunjukkan keraguan saat menatap Ana. Dia tidak dapat menolak ataupun menerima pernyataan Ana. Mulutnya tetap tertutup rapat.
__ADS_1
"Satu hal yang aku tahu, kamu tidak benar-benar meragukan Rain. Mungkin saat ini, kamu terus berpikiran bahwa Rain bukanlah anak Adam. Tapi dalam hatimu, ada sedikit keyakinan jika Rain adalah benar-benar anak Adam. Karena itu, kamu tidak pernah menyakitinya. Kamu khawatir, jika kamu akan benar-benar melukai anak Adam."
Eli semakin tidak bisa berkata-kata. Matanya terus terbuka dengan lebarnya, napasnya semakin cepat, dan tangannya terus memegangi lengannya dengan keras.
Ana berdiri meninggalkan Eli dengan keadaan yang seperti itu. Baginya, dia sudah cukup mendengarkan semuanya, dan kini saatnya untuk pergi. Tapi, saat Ana mencapai pintu dan memegang gagang pintu, dia berhenti sejenak untuk mengatakan sesuatu pada Eli.
"Aku mengerti kamu melakukan ini karena merasa ini semua tidak adil. Tapi ... saat kamu melakukan ini pada Rain ... bukankah itu artinya sama jahatnya dengan dia yang sudah melakukan ini pada Leo dan Adam? Aku yakin, jika Adam melihat semua ini, hatinya juga terasa sakit melihat Rain telah diperlakukan tidak adil oleh orang yang sangat dia sayangi."
Ana pergi meninggalkan ruangan itu, dan duduk berjongkok di depan kamar itu. Ana mulai mengeluarkan semua air mata yang sudah ditahannya sedari tadi.
Tak lama kemudian, suara tangis Eli yang meraung-raung terdengar hingga keluar kamar itu. Kini, Eli dan Ana, keduanya sama-sama menangisi orang yang mereka sayangi.
......................
"Kamu akhirnya menemuiku," kata Eli yang melihat Marius memasuki kamarnya.
Marius hanya terdiam menanggapi ucapan Eli. Dia memandangi Eli dengan perasaan tidak karuan. Ada perasaan marah dalam hatinya, tapi di saat yang bersamaan, dia merasa kasihan.
Marius meletakkan sebuah amplop coklat besar di atas nakas dekat Eli duduk. Eli memandangi amplop itu, lalu menatap Marius dengan heran.
"Adam ... dia berpesan padaku sebelum meninggal. Dia ingin aku memberikan ini untukmu," kata Marius.
Perlahan, Eli mengambil amplop itu, dan mengeluarkan isi di dalamnya.
"Dia membeli sebuah lahan yang luas di atas bukit. Disana dia sudah membangun sebuah rumah. Karena dia tahu, itu adalah keinginanmu untuk bisa hidup tenang dengan tinggal di atas bukit."
"Dia berpesan padaku untuk membawamu kesana saat kamu sudah memutuskan untuk pensiun, dengan beberapa pelayan agar bisa menemanimu tinggal disana dan melayanimu hingga tua."
Tangan Eli gemetaran memegangi dokumen yang ada di dalam amplop coklat itu, yang ternyata adalah sebuah surat kepemilikan lahan yang tertulis atas nama Elizabeth Gunadi.
"Dia ingin kamu tahu, sampai ..." Marius berusaha untuk tetap tegar, tapi ternyata dia tidak mampu menahan air matanya. Marius berusaha mengembalikan kekuatannya agar bisa menyampaikan pesan terakhir kakaknya itu.
"... sampai akhir hayatnya, dia terus merasa bersalah karena menyebabkan Leo memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Tapi ... dia tidak pernah menyesal melakukan ini demi Rain."
"Adam mengucapkan terima kasih .... untuk semua kasih sayang yang sudah kamu berikan selama merawatnya, dan ini adalah ucapan terima kasihnya padamu."
Marius masih terus berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk bisa berdiri tegak. Karena masih ada yang harus dia sampaikan pada Eli.
Sedangkan Eli, wanita itu masih terus menangis dengan dokumen di tangannya.
"Untukmu, aku akan menutup permasalahan ini, dan membiarkanmu beristirahat. Seseorang akan mengantarkanmu ke tempat itu besok pagi. Beberapa orang pelayan sudah menantimu disana dengan seorang kepala pelayan. Jangan khawatir, semua kebutuhanmu tetap menjadi tanggung jawab keluarga Hadinata," jelas Marius.
__ADS_1
"Untuk Dara, aku akan tetap menahannya disini hingga aku mendapatkan pelaku yang sebenarnya. Setelah itu ..."
"Lakukan apapun yang kamu mau pada dirinya sesuai aturan keluarga Hadinata. Pengkhianatan memang sepantasnya untuk dihukum," kata Eli memotong pembicaraan Marius. Bersamaan dengan itu, dia mengeluarkan sebuah memory card dan meletakkannya di atas nakas yang ada di dekatnya.