Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 43


__ADS_3

Begitu mobil yang dikendarainya tiba di rumah, Marius segera turun dari mobilnya bahkan tidak menghiraukan para pelayan yang sudah bersiap menyambutnya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Rain. Meski Ana mengatakan untuk tidak khawatir, tapi tetap saja Marius tidak bisa berhenti memikirkannya, terutama ketika Ana menyebut nama Nora.


"Aku akan langsung pulang ke rumah, tidak apa-apa, kan?," pinta Ana dalam telepon.


"Ada apa? Apa kamu sakit?," tanya Marius khawatir.


"Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya saja Rain baru melihat Nora. Tubuhnya langsung kaku. Dia ketakutan."


"Bagaimana keadaan Rain sekarang?"


"Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Saat ini dia sedang tidur. Aku akan langsung pulang menidurkannya."


"Baiklah. Aku masih ada meeting jam 7 nanti. Aku akan langsung pulang begitu selesai."


Jika seandainya meeting itu bisa ditunda, dia tentu akan langsung pulang melihat Rain. Meskipun demikian, Marius tetap tidak bisa fokus sepanjang meeting.


"Marius ?"


Ana terkejut melihat Marius sudah berdiri di depannya saat dia baru saja membuka pintu kamar Rain dan berniat untuk keluar. Rasa lelah Marius bercampur jadi satu dengan rasa khawatirnya. Semuanya terlukis jelas di wajahnya.


"Bagaimana Rain?," tanyanya.


"Dia sedang tidur. Begitu pulang dia terbangun. Aku mandikan dia sebentar, lalu kuajak makan, tapi tidak banyak yang dimakannya. Akhirnya dia tertidur lagi," jelas Ana.


"Aku akan melihatnya sebentar."


Ana memberikan jalan untuk Marius agar dapat masuk ke kamar Rain. Dilihatnya pria itu memandangi Rain dengan penuh kasih sayangnya. Ana yang tidak ingin mengganggunya memutuskan untuk meninggalkan mereka dan turun ke bawah.


......................


"Masih belum tidur?"


Suara Marius dari belakangnya membuat Ana sedikit terkejut. Ana yang sedang duduk minum teh di dapur memutar tubuhnya sebentar hanya untuk melihat siapa yang datang berkunjung ke dapur itu.


"Masih ingin minum teh sebentar," kata Ana.


Ana melihat Marius sedang mengambil gelas alkoholnya, dia mengira Marius pasti ingin minum malam ini.


"Sudah, jangan minum lagi. Aku buatkan teh ya. Nanti kamu pasti akan tidur nyenyak," kata Ana sambil beranjak dari tempat duduknya dan mencari cangkir teh untuk Marius.


"Apakah Nora melihat kalian?," tanya Marius sambil terus memperhatikan Ana yang sedang membuatkannya secangkir teh hangat.


"Tidak. Dia tidak melihatnya. Dia hanya lewat begitu saja bersama para pengawalnya. Aku justru takut kalau Nora melihat kami. Aku takut akan ada keributan. Apalagi ada Rain disitu."

__ADS_1


Secangkir teh hangat sudah siap di depan Marius. Ana kembali duduk di tempatnya. Marius menghirup aroma yang keluar dari teh itu sebelum dia menyeruputnya. Dia menjadi sedikit rileks karenanya.


"Sebenarnya ada apa dengan Nora? Mengapa Rain begitu takut ketika melihatnya? Kukira waktu itu dia tidak ada hubungannya dengan Rain?," tanya Ana.


Marius menghela napasnya perlahan sebelum dia menjawab. "Aku lupa memberitahumu waktu itu. Nora bukan seorang pelayan."


Pelan-pelan, Marius menjelaskan semuanya pada Ana mengenai siapa Nora serta kecurigaannya pada Nora yang mungkin telah mengintimidasi Rain selama ini.


Ana menjadi marah saat mendengarnya. Berarti kecurigaannya waktu itu adalah benar.


Tidak heran bagi Marius jika Nora saat ini bisa bebas berkeliaran tanpa takut wartawan media mengejarnya ataupun polisi yang akan menangkapnya. Dengan uang dan kekuasaan yang dimiliki Tuan Barnett tentu saja dia bisa melakukan apapun untuk melindungi putri satu-satunya itu.


Dan yang bisa Marius lakukan saat ini hanyalah waspada, melindungi Rain dan mungkin juga Ana dari apapun yang akan melukai mereka, termasuk ... Nora.


"Tapi aku pastikan Nora tidak akan dapat masuk kembali ke rumah ini. Tian adalah kepala pelayan yang bisa kupercaya. Dia mempunyai integritas yang tinggi terhadap pekerjaannya, seperti kakeknya," kata Marius dengan penuh keyakinan.


"Berarti tugasku adalah membuat Rain percaya pada kita kalau dia akan dilindungi dengan baik."


"Kita?"


"Iya, kita. Jangan menanggung semuanya sendirian, Marius. Libatkan aku untuk membantumu. Aku mungkin tidak pandai dalam banyak hal. Tapi, jika itu tentang Rain, aku masih sanggup mengatasinya. Bukankah kamu jadi bisa berlari lebih kencang saat beban yang kamu bawa berkurang? Jadi, berbagilah denganku. Aku akan membantumu."


Marius tidak pernah bisa berhenti mengagumi cara Ana membuatnya merasa tenang hanya dengan beberapa kata saja. Dan baru saja, dia melakukannya lagi. Hati Marius seketika merasa hangat.


Kruukk ... kruukk ...


Wajah Ana menjadi semakin memerah saat mendengar suara keras yang keluar dari dalam perutnya.


Kruukk ... kruukk ...


"Astaga ... kalian bikin malu saja," batin Ana geram yang menyalahkan cacing di perutnya karena menyebabkan bunyi yang memalukan itu.


Marius mengeluarkan tawa kecilnya melihat reaksi Ana dan langsung bisa memahami suara apa yang tadi dia dengar.


"Kamu belum makan?," tanya Marius.


Ana menggelengkan kepalanya dengan penuh rasa malu yang bertumpuk.


"Mengapa tidak makan tadi?," tanya Marius sambil melipat ke atas lengan kemejanya.


"Aku hanya menemani Rain makan, karena khawatir dia masih ketakutan," jawabnya lirih.


"Tunggu disitu. Aku akan memasakkannya untukmu."

__ADS_1


"Hah? Eh ... Tidak perlu."


Tapi, Marius tidak menghiraukan Ana. Dia terus saja berjalan menuju lemari pendingin mencari bahan makanan yang akan dia gunakan.


Tangannya yang memperlihatkan otot-ototnya itu bergerak dengan gesitnya saat memotong bahan makanan yang baru saja dia ambil. Punggungnya yang lebar terus diperlihatkan pada Ana saat dia sedang menggerakkan ke atas dan ke bawah wajan yang dia pegang.


Ana terus memandangi Marius kemanapun pria itu bergerak. Matanya bahkan tidak berkedip menatap Marius yang saat ini terlihat terlalu keren di matanya.


Saat makanan disajikan, mata Ana tidak bisa berhenti menatapnya. Dia bahkan mengeluarkan kamera untuk mengabadikannya.


"Aku tidak pernah menyangka kamu bisa memasak," kata Ana yang penuh semangat memfoto sepiring pasta dengan taburan keju di atasnya.


Marius yang baru saja kembali mengambilkan Ana segelas air hanya tersenyum melihat kelakuan Ana itu. "Cepatlah dimakan, keburu dingin," katanya.


"Apakah ... boleh dimakan?," tanya Ana.


"Aku memasaknya untukmu. Kalau kamu tidak boleh memakannya, terus siapa yang akan memakannya?"


Ana memberikan tawa canggungnya untuk menjawab pertanyaan Marius. Dia tahu dirinya sedang terlihat seperti orang bodoh saat ini.


"Apakah ada yang kurang?," tanya Marius saat melihat Ana sudah mulai menyantap hasil masakannya itu.


"Tidak, tidak ... rasanya enak. Tapi, mengapa rasanya seperti kukenal?," tanya Ana.


Marius hanya tersenyum. Diambilnya selembar tisu yang ada di ujung island kitchen, lalu dengan lembut menghapus sisa makanan yang menempel di ujung bibir Ana. "Pelan-pelan makannya ..."


Tiba-tiba, Ana berhenti makan. "Tunggu ... Mengapa rasanya seperti pasta yang sering aku makan di Lorenzo Vins?"


"Karena Lorenzo Vins adalah milikku."


Ana menatap curiga pada Marius. "Jangan-jangan ... selama ini ... kamu yang memasak, ya?"


Marius menganggukkan kepalanya. "Aku belajar memasak dulu saat di Perancis. Lorenzo adalah nama guruku."


Ana menjadi tercengang mendengar penjelasan Marius. Dia memang mencurigai restoran itu milik Marius, tapi dia tidak pernah menyangka bahwa Marius akan memasaknya sendiri. Bagaimana dia melakukan itu semua saat dia sendiri juga sibuk dengan perusahaannya?


"Aku hanya memasak saat ada reservasi," jelas Marius seakan tahu apa yang ada di dalam otak kecil Ana.


"Pantas saja ... restoran itu selalu terlihat sepi. Ternyata restoran itu dibuka bukan untuk mencari uang, tapi hanya untuk menyalurkan hobi. Dasar!," gumam Ana.


Marius tersenyum mendengar gumaman Ana itu. Dia mendaratkan tangannya di atas kepala Ana, lalu mengacak pelan rambut Ana. "Cepat habiskan, sebelum dingin," katanya.


Sepanjang waktu Ana menghabiskan makanannya, Marius hanya tersenyum memandangi Ana. Dulu, saat dia hanya bisa memandangnya dari kejauhan, tidak pernah terpikirkan olehnya dia akan punya momen seperti ini bersama Ana. Tapi, kini dia punya satu.

__ADS_1


__ADS_2