Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 60


__ADS_3

Ana tidak tahu, apakah dia harus berterima kasih atau bersedih dengan semua yang dilakukan Marius untuknya. Baginya semua yang dilakukan Marius justru hanya menempatkan dirinya sendiri dalam posisi yang sulit.


Marius pernah bilang padanya bahwa Nora memiliki banyak masalah hukum yang belum diselesaikan. Media tidak banyak mempublikasikannya karena pengaruh kuat dari ayahnya. Oleh karena itu, penyelesaian kasusnya menjadi tidak diperhatikan. Sehingga lama kelamaan menjadi terlupakan dan tidak terurus.


Tapi, itu bukan berarti hilang begitu saja. Nora hanya menunggu masa berlaku kasus itu habis, maka dirinya bisa bebas dari segala tuntutan. Yang artinya, kasus ini bisa muncul kapan saja jika seseorang menginginkannya. Dan jika saat itu Marius memiliki hubungan dengan Nora, bukankah itu hanya akan menyeret Marius lebih dalam lagi?


"Mengapa jalan pikiranmu sangat rumit?," tanya Marius sembari menjentikkan jari telunjuknya ke kening Ana.


"Ouch! Sakit!," serunya sembari memegangi keningnya.


"Aku sudah memikirkan semuanya. Dan aku sudah mempersiapkan semuanya, kamu mengkhawatirkan apa lagi?," tanya Marius.


"Bagaimana aku tidak khawatir? Jika tahu kalian merencanakan ini, aku pasti akan menolaknya."


"Karena itu, aku tidak ingin kamu mengetahuinya."


Marius membelai rambut Ana, lalu mengambilnya sedikit untuk dia singsingkan ke belakang telinganya. Tapi, Ana malah membalasnya dengan tatapan tajam dari kedua matanya.


"Seberapa banyak kalian menyembunyikannya dariku?," tanyanya.


"Aku tidak menyembunyikan apapun, Ana. Aku sudah mengatakan semuanya padamu."


"Bohong! Tidak mungkin semudah itu. Hanya membantu project kerjasama? Aku juga tahu Tuan Barnett. Dia bukan orang yang semudah itu bekerja sama dengan orang lain, jika dirinya tidak untung banyak."


"Sepertinya ciuman saja tidak bisa membuatmu tenang, ya. Bagaimana kalau aku makan kamu saja?"


Marius langsung mendorong Ana hingga gadis terbaring di tempat tidurnya. Dari bawah, Ana bisa melihat kedua mata Marius yang sedang menatapnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Tatapan yang mengunci Ana hingga dirinya merasakan panas di sekujur tubuhnya. Ana dapat merasakan dirinya dibuat untuk pasrah agar diterkam oleh seekor serigala yang sedang lapar akan dirinya.


"Ana mau kamu apain?"


Suara Naomi yang terdengar menahan amarahnya tiba-tiba menghentikan niat serigala menerkam mangsanya. Mangsa kecil yang melihat adanya kesempatan segera mendorong serigala itu lalu bersembunyi di balik Naomi.


"Dia mau memakanku," katanya.


Naomi terlihat semakin kesal. "Kukira kamu bilang kamu ingin bicara dengannya."


"Aku sedang bicara dengannya. Lalu kamu tiba-tiba masuk," jawab Marius seraya beranjak dari tempat tidur Ana.


"Aku kesini itu juga karena kamu terlalu lama. Kamu kan masih harus pergi lagi," kata Naomi.

__ADS_1


"Kemana?" Kali ini Ana keluar dari balik Naomi. Dia baru saja bertemu dengan Marius dan kali ini akan pergi lagi. Tiba-tiba saja hatinya merasakan kekecewaan.


"Dia masih harus melakukan konferensi pers. Setelah itu melakukan pertunjukan di depan kamera," jelas Naomi.


"Pertunjukan? Pertunjukan apa?," tanya Ana yang semakin tidak mengerti maksud Naomi.


Tapi, Naomi tidak menjawab pertanyaan Ana. "Pergi saja sana. Lucas dari tadi menunggumu. Biar aku yang jelaskan sisanya."


Marius tidak menjawab apapun. Dia hanya mengeluarkan tangannya dari saku celananya, lalu berjalan menghampiri Ana. Dengan lembut, dia mengecup kening Ana.


"Aku akan kembali nanti malam. Tunggu aku, ya," katanya, lalu pergi meninggalkan Ana dan Naomi di kamar itu.


................


Seperginya Marius, Naomi menjelaskan semuanya pada Ana. Dari penjelasan itu, Ana jadi bisa memahami sepenuhnya yang sedang terjadi, termasuk juga rencana mereka.


"Marius melakukan ini semua karena memang hanya itu satu-satunya jalan keluar yang dia miliki saat ini. Nora menggunakan kamu agar Marius terpojok, lalu tidak punya pilihan lain selain mengikuti permainannya. Karena itu Marius membiarkan dirinya terjebak dalam permainan itu."


Mulai dari berita-berita tentang Rain dan Valerie hingga para fans yang menggila di depan rumah Ana, semuanya adalah ide dari Nora. Tujuannya cuma satu, mendapatkan Marius.


"Dia pernah berada di rumah Marius, dia tahu semua informasi Rain dari Eli dan juga Dara. Dia punya banyak keuntungan," kata Ana yang terlihat cemas.


"Dia hanya perlu menggiring pemikiran orang-orang agar bisa sama dengannya. Dengan begitu, dia akan mudah mengendalikan situasi. Karena itu, meskipun aku dan Marius sudah berusaha menghentikan semua pemberitaan itu, berita lain akan muncul di media yang berbeda. Pada akhirnya, semua usaha kita sia-sia."


"Sebenarnya apa isi perjanjian itu?," tanya Ana.


"Hanya perjanjian kerjasama biasa. Tidak ada masalah dengan perjanjian itu. Nora tahu Marius cerdas. Dia mengira Marius pasti akan dapat menebak dia adalah pelakunya. Dan Marius akan menemuinya untuk memohon padanya."


"Tapi, dia salah perhitungan. Marius langsung menemui ayahnya dan mengajukan kerjasama itu. Marius hanya menukarkan tawaran kerjasama beberapa project dengan status Nora sebagai tunangannya selama setahun. Dan Tuan Barnett menyetujuinya."


"Benar-benar semudah itukah?," tanya Ana. Sulit baginya untuk percaya bahwa ternyata yang dikatakan Marius benar.


"Tidak semudah itu, Ana. Semua karena kehebatan Marius bernegosiasi. Dia sudah menyiapkan semuanya. Tapi, jika melihat nilai saham kedua perusahaan setelah pengumuman itu menjadi meningkat tajam, aku yakin Tuan Barnett juga tidak akan merasa rugi dengan perjanjian itu."


"Lalu, Rain bagaimana setelah ini? Setelah mereka bertunangan, bukankah itu artinya Nora akan semakin bebas keluar masuk rumah Marius?," tanya Ana. Dia semakin cemas memikirkan bagaimana Rain akan sendirian di sana.


"Sepertinya pembicaraan kalian belum sampai kesana. Seharusnya dia memintamu untuk tinggal di rumahnya sementara ini."


"Aku?"

__ADS_1


"Untuk sementara ini, Om Doni akan dikirim ke luar negeri untuk menghindari ancaman Nora berikutnya. Soal perusahaan, Marius sudah menyiapkan seseorang untuk mewakilinya disini, sedangkan sisanya akan diurus jarak jauh."


"Dia juga akan butuh kamu untuk bersama Rain. Karena setelah perjanjian ini, Marius akan sangat sibuk dengan semua pekerjaannya. Dia juga mengkhawatirkan Rain. Dia takut pengawasannya akan lemah lagi seperti dulu. Dia belum bilang apapun soal ini?"


Ana menggelengkan kepalanya. "Dia tidak mengatakan apapun. Dia hanya sering menggodaku," omel Ana.


Naomi menghela napasnya. "Dia tidak tega mengajakmu kembali. Kamu dan Om Doni baru saja berkumpul. Bocah tua itu selalu mengatakan itu padaku saat merencanakan ini."


"Marius bodoh ...," ucap Ana lirih.


Ana menjadi kesal pada Marius karena dia harus mendengarkan hal ini bukan dari Marius sendiri. Dia kesal karena Marius masih saja memikirkan dirinya tapi justru tidak memikirkan dirinya sendiri. Bahkan jika dia ingin melindunginya, bukankah dia harus melindungi dirinya sendiri juga? Apakah dia menganggap dirinya pahlawan super?


......................


Sebuah ruangan yang sangat besar di sebuah hotel mewah kini sedang dipenuhi oleh orang. Ada yang membawa kameranya. Ada yang membawa peralatan tulisnya. Mereka semua sudah siap di posisinya masing-masing.


Kamera video tidak berhenti merekam, begitu juga dengan kamera foto. Suara kejapan lampu blitz terus menerus bersahutan tanpa henti. Mereka yang menggunakan kamera terus memberikan instruksi tanpa sungkan.


"Yak, senyum yang lebar, ya"


"Bisa tolong agak ke kiri sedikit?"


"Ya, benar. Tolong agak rapat, ya."


Marius dan Nora yang sedang berdiri di atas panggung hanya bisa menuruti semua instruksi itu. Nora terlihat sangat senang sekali, tapi Marius, dia sepertinya malas untuk melakukan ini semua.


"Tersenyumlah sedikit, sayang. Mereka butuh foto bagus untuk berita pertunangan kita," ucap Nora setengah berbisik agar hanya bisa didengar oleh Marius.


"Pertunangan ini hanya status. Setelah semuanya selesai, tidak ada pertunangan," jawab Marius ketus dengan nada yang sedikit pelan.


"Apakah kamu kira ayahku bodoh, Marius? Dia akhirnya tahu mengapa kamu melakukan ini. Dan dia memintaku untuk tetap menahanmu bersamaku bahkan hingga pernikahan. Dia terus memujiku karena sudah melakukan pekerjaan bagus untuknya. Aku tentu saja akan melakukannya dengan senang hati."


Marius menyembunyikan kepalan tangannya yang tergenggam sangat keras di balik tubuhnya dari kamera para wartawan. Dia tahu cepat atau lambat Tuan Barnett pasti akan mengetahui hal ini. Dia hanya tidak suka ketika Nora mengingatkannya. Saat Nora mengatakannya, dirinya seperti sedang ditodongkan dengan sebuah pedang tajam ke arah wajahnya.


"Aku pernah mengatakannya padamu. Aku akan membalas sepuluh kali lipat setiap kali dirimu menyentuh keluargaku."


"Hhmm ... aku tidak bisa bilang gadis itu keluargamu, sayang. Saat ini, jika dia ada di antara kita, orang-orang hanya akan menyebutnya pe la cur."


"Aku yang memutuskan siapa yang menjadi keluargaku, dan siapa yang hanya seorang pe la cur."

__ADS_1


__ADS_2