
Sepulangnya Rain dari rumah sakit, Marius melarangnya untuk sekolah dulu. Dia ingin Rain bisa istirahat beberapa hari di rumah, meski Marius tidak benar-benar melarang Rain untuk bermain bersama Ana di rumah. Dia hanya mengingatkan untuk tidak terlalu lama atau lelah bermain.
Ana sendiri juga setuju dengan keputusan Marius. Dia juga ingin Rain lebih banyak istirahat. Jadi, dia tidak banyak memberikan ide untuk Rain bermain yang menguras banyak energinya. Paling sering, Ana hanya mengajaknya bermain di playroom, menonton TV, atau membuat sesuatu di dapur.
Meski Rain sudah baik-baik saja, tapi beberapa orang teman sekolahnya masih datang menjenguknya, termasuk Ryu dan juga Arsen. Tentu saja, Naomi dan Noel yang mengantarkan mereka, meski mereka datang di waktu yang berbeda.
Entah Naomi hanya alasan saja atau memang dia benar-benar berniat mengantarkan Ryu, tapi yang jelas selama Naomi disana dia hanya meninggalkan Ryu dan Rain bermain di playroom, lalu menarik Ana untuk melihat-lihat dan ... banyak tanya.
"Hmm ... oke, kamar bagus. Dia benar-benar memanjakanmu," gumam Naomi. Tapi Ana dapat mendengarnya.
"Apa maksudmu dengan memanjakanku?," tanya Ana.
Naomi mengabaikannya dengan tidak menjawab pertanyaan Ana.
"Jadi, apa yang kamu lakukan setiap hari?," tanya Naomi saat dia sudah duduk di atas tempat tidur Ana.
"Tidak banyak ... aku hanya menemani Rain. Kadang aku membantu membuat snack nya atau bekal sekolahnya. Aku rasa semua yang berhubungan dengan Rain. Kalau Rain tidur, ya aku cari-cari informasi di internet."
"Hmm ... Marius tidak pernah menyuruhmu melakukan tugas pelayan, kan?," tanya Naomi lagi.
Ana menggelengkan kepalanya. "Para pelayan justru yang selalu melayaniku. Marius selalu bilang untuk mengatakan padanya jika butuh sesuatu. Tapi ... selama ini aku memikirkan sesuatu yang aneh?"
"Apa yang aneh?"
"Marius pernah melarangku untuk makan di ruang pelayan. Dia memintaku untuk duduk satu meja bersamanya dan juga Rain. Dia juga tidak memberiku seragam pengasuh. Kukira biasanya pengasuh akan diberi seragam."
Ana mendekatkan dirinya pada Naomi dan berbisik, " Apakah itu normal, Nao?"
"Jangan pikirkan soal itu. Khusus untuk soal itu, turuti saja Marius, jangan membantahnya. Lalu, dia tidak pernah masuk ke kamar ini, kan? Atau menyeretmu ke kamarnya?"
"Tidak pernah! ... eh ... aku rasa pernah, sekali. Saat aku sakit. Tapi selain itu tidak pernah! Dan dia tidak pernah memintaku ke kamarnya!"
"Hmm ... bagus!"
__ADS_1
Beda lagi, saat Arsen dan Noel yang datang. Mereka datang bersama dengan teman-teman Rain yang lain. Jadi, suasana bertambah ramai saat itu.
Karena terlalu banyak anak, Ana mengajak mereka untuk bermain di halaman belakang. Eli sampai harus memerintahkan pelayan untuk mengeluarkan banyak meja dan kursi taman. Dan koki di dapur harus membuat banyak camilan untuk anak-anak. Pada hari itu, semua menjadi sangat sibuk.
Tapi, mungkin Marius yang tidak sibuk. Karena pada hari itu, dia selalu duduk bersama Noel di saat anak-anak sedang bermain. Ana yang juga menemani Noel juga ikut heran melihat Marius.
"Tumben hari ini, Marius sepertinya sedang agak senggang, ya?," tanya Ana pada Lucas yang ada di sampingnya. Dari atas beranda, mereka sedang mengamati Marius dan juga Noel di kejauhan sana, yang sedang duduk bersama dalam satu meja di bawah sebuah payung besar yang menaungi mereka dari panas matahari.
Lucas hanya tertawa, tapi dia juga menahannya agar Marius tidak mendengarnya. "Saat ini juga sebenarnya dia sedang sibuk."
"Hah?" Ana terbengong mendengar jawaban Lucas.
"Sibuk menjadi German Shepherd, hahaha ..."
Ana semakin tidak memahami maksud Lucas. Tapi tiba-tiba, tawa Lucas terhenti.
"Gawat! Halo selamat siang ... Baiklah, Tuan Marius akan segera menghubungi Anda," kata Lucas sembari pergi meninggalkan Ana karena telepon masuk yang Ana sendiri tidak yakin apakah memang ponselnya berbunyi atau tidak.
Tapi, saat berbalik, Ana bisa melihat tatapan tajam Marius ke arahnya. Sekarang Ana yakin bahwa telepon Lucas memang tidak berbunyi sedari tadi.
......................
Ana meletakkan sebuah flashdisk di atas meja kerja Marius.
"Ini adalah rekaman video dari kamar Rain. Aku menyembunyikan kameranya dan mengarahkan ke tempat tidur Rain," jelas Ana pada Marius yang tidak paham dengan maksud Ana menyerahkan flashdisk itu kepadanya.
"Sejak kapan kamu melakukannya? Dan dari mana kamu mendapatkan alatnya? Kamu tidak pernah meminta apapun padaku soal ini," tanya Marius setelah dia mengambil flashdisk itu dari atas mejanya.
"Sejak 3 hari lalu aku rasa. Semua kejadian mengindikasikan ada orang lain di rumah ini yang melakukannya. Tapi rekaman CCTV mengatakan sebaliknya. Aku rasa aku tidak bisa mempercayai semua orang disini. Jadi aku memasang CCTV ku sendiri. Aku minta tolong Naomi untuk membelikannya," jelas Ana.
"Jadi maksudmu, kamu tidak mempercayaiku?"
"B-bukan itu maksudku, aku ..."
__ADS_1
"Aku mengerti maksudmu, aku hanya menggodamu. Aku akan menyuruh David ..."
"Marius ..."
Marius menghentikan menyelesaikan kalimatnya saat dia mendengar Ana memanggil namanya dengan tatapannya yang serius itu.
"Bisakah ... maksudku ... seperti yang kubilang tadi, aku tidak mempercayai semua orang ... kecuali ... kamu. Bisakah kamu ... memeriksanya lebih dulu sebelum orang lain?"
Marius terdiam untuk memproses ucapan Ana. Sepertinya Marius juga memahami maksud Ana, karena setelah itu dia menganggukkan kepalanya. "Aku akan memeriksanya. Jangan khawatir."
Yang tidak Ana ketahui adalah sebelum Ana memintanya, Marius juga memiliki perasaan yang sama dengan gadis itu. Sejak Ana menyebut sebuah nama salah satu pelayan, Marius juga tidak dapat mempercayai semua pelayan yang ada di rumahnya sendiri, bahkan itu termasuk Eli, kepala pelayan yang sudah melayani keluarga Hadinata jauh sebelum dia lahir.
......................
Side Story :
"Kamu sudah menghubungi Mr. Carlson?," tanya Marius pada Lucas saat mereka memasuki ruang kerjanya.
"Sudah. Sekretarisnya mengatakan mereka akan melakukan teleconference jam 10 pagi waktu setempat ... disini berarti jam 10 malam nanti," jelas Lucas.
"Kalau begitu, siapkan ..."
Marius berhenti bicara saat dia melihat sebuah saputangan miliknya yang sudah terlipat rapi dengan sebuah cookies besar di atasnya. Cookies itu dibungkus dengan sebuah plastik berwarna lucu dengan tulisan "Thank You".
Senyum Marius mengembang sempurna di wajahnya. Hatinya menjadi berbunga-bunga. Dia tahu siapa yang mengirimkan ini. Tentu saja itu Ana, karena dia sempat meminjamkan sapu tangan miliknya saat mereka di rumah sakit waktu itu.
"Mengapa cookies yang diberikan Rain untukku tidak sebesar itu?," tanya Lucas yang mengintip dari balik tubuh Marius. Lucas lalu mengambil cookies itu perlahan untuk sekedar melihat-lihat.
Marius yang kesal segera menyerang Lucas dengan tatapan tajamnya. Tangannya segera merebut cookies yang ada di tangan Lucas.
"Jangan coba-coba menyentuhnya," ancam Marius.
"Tapi itu besar sekali, beri aku setengahnya," pinta Lucas.
__ADS_1
Marius segera memasukkannya ke dalam sakunya, dan tidak membiarkan Lucas menyentuhnya.
Lucas, tentu saja dia tahu dari siapa cookies itu. Dia hanya suka melihat reaksi Marius saat dia sedang kesal.