Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 78


__ADS_3

Dan seperti yang Valerie katakan sebelum dia pergi, "... aku akan memperbaikinya ..."


Dia memang memperbaiki semuanya ...


"Saya Valerie Geraldine meminta maaf karena sudah membuang-buang waktu kalian dengan membatalkan konferensi pers kemarin. Hari ini saya akan menebusnya," kata Valerie di depan semua wartawan.


"Seperti yang sudah katakan kemarin, tujuan saya mengadakan konferensi pers ini adalah untuk meluruskan rumor yang sempat beredar tentang saya beberapa waktu yang lalu."


"Saya, Valerie Geraldine sudah menikah 4 tahun yang lalu. Dari pernikahan ini, saya memiliki seorang anak. Dan mengenai hal ini, saya tegaskan sekali lagi, tidak ada hubungan dengan Marius Edmond Hadinata seperti yang dibicarakan beberapa waktu lalu oleh beberapa media. Karena suami saya yang sebenarnya ... sudah lama meninggal dunia."


Lampu blitz kamera tidak berhenti berkedip saat Valerie memberikan pernyataannya. Suara bisik-bisik para wartawan yang sudah tidak sabar ingin memberikan pertanyaan terus terdengar sepanjang diamnya Valerie.


"Dalam kesempatan ini juga saya ingin mengatakan bahwa saya tidak akan mempublikasikan identitas almarhum suami dan anak saya demi menjaga privasi mereka. Karena itu, saya tegaskan kembali, saya tidak akan segan-segan menuntut siapapun, baik itu media maupun individu yang dengan sengaja ataupun tidak sengaja membocorkan informasi ini ke ranah publik."


"Saya harap siapapun bisa memahami keinginan saya ini. Saya, Valerie sudah banyak melakukan kesalahan pada almarhum suami dan anak saya. Jadi, tolong ... berikan saya kesempatan untuk menebus kesalahan saya ini kepada mereka dengan melakukan ini semua."


"Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih pada almarhum suami saya untuk semua cinta yang sudah diberikannya untuk saya."


Valerie tertunduk menatap kedua tangannya. Suaranya terdengar lirih, tapi mikrofon yang ada di depannya dapat menangkap dengan jelas apa yang dikatakannya.


Kemudian, kepala Valerie terangkat kembali. Dengan sikap percaya dirinya, Valerie dengan lantang mengatakan keinginannya.


"Dan dengan demikian, terhitung mulai hari ini, saya menyatakan mengundurkan diri dari dunia hiburan. Beberapa kontrak yang tersisa sudah diselesaikan secara baik-baik oleh manajemen saya."


"Sebagai hadiah perpisahan, saya akan memberikan beberapa hal yang tentu akan menyenangkan kalian. Ini hanya sebagian kecil saja. Sisanya sudah saya serahkan pada pihak yang akan mengurus semuanya. Saya harap kalian bisa mengawal masalah ini agar tidak menghilang begitu saja. Semoga ini bisa menjadi penebusan kesalahan saya selama ini kepada kalian."


Begitu kata-kata yang diucapkan Valerie dalam konferensi pers itu yang ditunjukkan Naomi melalui video di ponselnya. Ana sedang bergantian jaga dengan Marius saat ini, karena itu Naomi mengajaknya keluar untuk beristirahat.


"Apa yang ditunjukkan Valerie pada semua orang, Nao?," tanya Ana.

__ADS_1


"Video asusilanya dengan beberapa wanita. Ada juga video percakapannya memanfaatkan artis baru untuk kesenangannya. Hmm ... yang paling parah, bisnis prostitusi yang berkedok agensi artis."


Ana tidak dapat menutupi rasa terkejutnya. Dia tidak menyangka Adam bisa mengumpulkan bukti-bukti sebanyak itu.


"Valerie beruntung bertemu Adam. Semua staff manajemennya diatur oleh Adam. Dia bahkan secara khusus membuatnya hanya untuk Valerie, tanpa ada artis lain. Karena itu Dylan hanya dapat memanfaatkannya untuk pemuasan nafsunya saja. Dia tidak dapat memasukkannya dalam daftar artisnya, karena Adam mengikat Valerie dengan sangat keras melalui kontrak ekslusif," jelas Naomi.


"... Benar-benar luar biasa ... Kak Adam telah memikirkan semuanya ...," ucap Ana lirih.


"Dengan semua ini, paling tidak Dylan akan merasakan dinginnya penjara hampir seluruh hidupnya. Dan ketika keluar, semua orang akan memandangnya berbeda."


Ana mengingat kembali saat terakhir dirinya bertemu dengan Valerie di rumah sakit. Valerie waktu itu sepertinya sudah benar-benar memikirkan keputusannya itu. Ana tidak menyangka Valerie akan benar-benar sesiap itu memutuskan hal sebesar ini.


"Semoga dia bahagia dengan keputusannya," kata Ana.


Beberapa hari setelah itu, kondisi Rain semakin membaik hingga Noel memutuskan untuk memindahkannya ke kamar rawat. Rain, tentu saja sangat senang bisa keluar dari ruangan itu. Dia terus tertawa dan memanggil Ana dan Marius sepanjang perjalanannya ke kamar rawatnya.


Selama beberapa hari itu juga, Valerie benar-benar menghilang dan tidak pernah muncul lagi di rumah sakit. Marius mengatakan bahwa Valerie sudah berangkat sehari setelah konferensi pers itu.


Sebelum meninggal, Adam sudah menyiapkan sebuah rumah untuk Valerie tinggali jika suatu saat dia sudah tidak ingin bekerja di dunia hiburan lagi. Rumah itu ada di sebuah negara yang menjadi impian Valerie sejak dulu. Marius memerintahkan Lucas untuk memberikan kuncinya untuk Valerie sebelum dia berangkat.


"Kak Adam pasti sangat mencintainya hingga dia bisa memikirkan sebanyak itu untuknya," kata Ana dalam hatinya.


Dia kemudian menatap Rain yang sedang tertidur. Melihat nyenyaknya Rain saat tidur, senyumnya mengembang. Dia rapikan selimut untuk Rain. Lalu mencium kening gadis kecil itu.


"Ternyata ada banyak orang yang menyayangimu, Rain ...," ucapnya lirih.


Ana hanya bisa berharap, setelah semua kesedihan yang sudah dilewati Rain, hanya kebahagiaan yang akan bersamanya ke depannya.


......................

__ADS_1


"Apakah sudah ada pergerakan?," tanya Marius yang sedang duduk di sebuah taman rumah sakit bersama Lucas yang sedang duduk di sebelahnya.


"Presdir TMN Corp mendesak pelaksanaan rapat dewan direksi dipercepat," lapor Lucas.


Marius tidak mengatakan apapun. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Sepertinya masalah Valerie membuat mereka semakin tidak sabaran," kata Marius.


"Apa yang akan kamu lakukan, Marius?"


"Tentu saja memberikan yang mereka inginkan. Tunggu aku kembali dari Perancis, aku akan memberi pengumuman," jawab Marius.


"Kamu akan ke Perancis!?"


Lucas sangat terkejut dengan rencana Marius itu.


"Tunggu Rain keluar dari rumah sakit. Aku akan segera berangkat setelah itu."


"Mengapa tidak menugaskanku saja untuk menjemputnya? Mengapa harus kamu sendiri yang kesana?," tanya Lucas lagi.


"Aku butuh kamu untuk tetap disini, Lucas. Tetap jalankan sesuai rencana. Dan juga perketat keamanan."


"Apakah kamu akan memberitahu Ana?," tanya Lucas.


Marius menggelengkan kepalanya. "Biarkan tetap begini. Ana tidak perlu tahu."


Lucas kemudian menyerahkan sebuah kotak kecil pada Marius.


"Seseorang tanpa sengaja menabrakku. Dia memberikan ini. Aku rasa kamu tahu dari siapa ini."

__ADS_1


Marius membuka kotak itu, dan dia melihat sebuah flashdisk di dalamnya. Wajahnya kini menyunggingkan senyum sinisnya.


"Ehm ... Mr. Wang ..."


__ADS_2