
"S-selamat pagi, Nona Ana. Saya adalah pelayan yang akan menemani Nona Muda Rain selama di sekolah mulai hari ini," kata seorang pelayan pada Ana sembari membungkukkan tubuhnya di hadapan Ana.
Ana yang baru saja keluar dari kamarnya menjadi terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Mulai hari ini Tuan Besar menugaskan pelayan untuk mengantarkan Nona Muda ke sekolah. Jadi, Nona Ana tidak perlu ikut bersamanya," jelas Tian yang ada di sebelahnya.
"K-kenapa tiba-tiba? Apakah terjadi sesuatu?," tanya Ana.
"Tidak terjadi apa-apa, Nona Ana. Mungkin Tuan Besar ingin Nona Ana lebih banyak beristirahat," jelas Tian lagi.
"Hhaahh?!"
Ana semakin tidak mengerti maksud Tian. Meski dia tahu ini adalah keputusan Marius, tapi tidak biasanya Marius melakukan itu.
Karena itu, Ana merasa dia ingin menanyakan langsung padanya. Tapi sayangnya, Marius tidak sarapan hari ini.
"Tumben dia tidak sarapan? Lucas juga tidak ada disini," batin Ana.
"Tuan Besar saat ini ada di ruang kerjanya. Dia berpesan agar Nona Ana dan juga Nona Muda untuk sarapan tanpa Tuan Besar dan Tuan Lucas hari ini," kata Tian seakan tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Apakah tidak apa-apa jika dia tidak sarapan?," pikir Ana yang khawatir.
Karena itu, Ana pergi menemuinya di ruang kerja setelah sarapan. Dia juga membawakan sarapan untuk Marius dan juga Lucas dalam sebuah kereta makanan.
Ana sudah bersiap di depan pintu dan akan mengetuk pintu, tapi tiba-tiba pintu itu terbuka dan Lucas terkejut melihat Ana.
"Ana? Apakah kamu perlu sesuatu?"
Ana yang gugup mencoba menenangkan dirinya. Dia mengintip sedikit dari balik pintu. Terlihat olehnya Marius sedang duduk di meja kerjanya dan berbicara dengan airpod di telinganya. Marius terdengar berbicara dengan menggunakan bahasa asing. Meski tidak memahaminya, tapi Ana rasa mereka sedang membicarakan hal yang serius.
"Apakah Marius sibuk?," tanya Ana setengah berbisik.
"Ehm ... dia sangat sibuk. Kamu mau lihat?," tanya Lucas.
"Eh? Apakah tidak apa-apa?," tanya Ana yang tidak menyangka bahwa Lucas akan menanyainya seperti itu.
"Aku rasa dia tidak akan keberatan," jawab Lucas seraya membukakan pintu untuknya.
Ana mendorong kereta makanannya ke dalam secara hati-hati, dan meletakkannya di dekat sofa yang ada di depan meja kerja Marius.
__ADS_1
"Kamu membawakan sarapan? Kamu tidak perlu melakukannya. Pelayan akan membawakannya," kata Lucas.
"Kebetulan aku akan kesini, jadi sekalian saja kubawa."
Ana bisa melihat bagaimana sibuknya Marius saat ini. Dia terus berbicara tanpa henti. Lucas hanya bisa membantu di sampingnya, tanpa bisa berbuat banyak. Beberapa lembar kertas tertumpuk di meja kerja. Sesekali Marius melihatnya sebelum dia akhirnya berbicara lagi.
Lucas bilang ini karena pembangunan pusat perdagangan baru sudah hampir selesai. Proyek ini direncanakan akan menjadi yang terbesar di Asia. Karena itu, Marius mulai sibuk untuk mengurus banyak hal.
Yang Ana khawatirkan adalah ketika dia tidak sengaja melihat sebuah lowball glass yang hampir kosong yang ada di atas meja kerjanya. Ana tidak tahu apa isi di dalamnya. Tapi yang jelas, bukanlah hal baik jika dia minum minuman itu saat dia belum sarapan, dan itu mengkhawatirkannya.
"Apakah dia sering minum?"
"Ehm ... kadang-kadang. Ketika tingkat stressnya mulai tinggi."
"Apakah seberat itu tekanannya?," pikir Ana.
Tapi kemudian Ana seperti menyadarkan dirinya sendiri. Dia segera mengalihkan perhatiannya dari Marius. "Siapa aku yang mengkhawatirkannya? Tidak, tidak ... Nanti akan salah paham jadinya," pikir Ana.
Melihat Marius yang sibuk, akhirnya dia memutuskan bertanya pada Lucas.
"Apakah kamu mengetahui mengapa Marius memintaku untuk tidak mengantarkan Rain ke sekolah?," tanya Ana.
"Iya, Marius yang memintanya kemarin."
"Apa kamu tahu alasannya? Maksudku, bukan aku menentang keputusannya. Aku hanya bertanya-tanya alasannya yang tiba-tiba itu. Apakah ada masalah?"
Lucas terlihat menahan tawanya sebelum akan menjawab pertanyaan Ana.
"Tidak ada. Tidak ada masalah apapun. Dia ..."
Pembicaraan Lucas terputus saat tiba-tiba Marius datang dan menyerahkan setumpuk buku dengan sampul warna warni di atas meja yang ada di dekatnya.
Ana terkejut melihat Marius tiba-tiba melakukan itu. Dia lebih terkejut lagi melihat tumpukan tinggi buku-buku itu.
"Aku dengar ... dulu kamu mengurus beberapa profil perusahaan. Jadi, i-itu ... aku ingin kamu membuatkannya untuk mereka," kata Marius seraya menunjuk tumpukan buku itu.
"Hah?," Ana menjadi semakin tidak paham.
"Tugasmu sekarang ... membantuku disini selama Rain sekolah. Meja kerjamu disana," kata Marius lagi menunjuk meja kerja kecil di dekat meja kerja Marius. Dia atasnya sudah tersedia banyak hal layaknya sebuah meja kerja, termasuk juga laptop.
__ADS_1
Yang membuat Ana heran, dia tidak pernah melihat itu sebelumnya. Sejak kapan meja kerja itu ada disana?
"Kamu tidak pernah menyuruhku melakukan ini sebelumnya."
"Ya ... itu dimulai sekarang."
Lucas hanya bisa menahan tawanya di belakang Ana. Dia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kamu bilang aku hanya perlu jadi pengasuh?"
"Aku bilang kamu harus bekerja padaku. Jadi itu artinya kamu akan mengerjakan apa saja yang aku perintahkan."
Ana tidak bisa lagi berkata-kata. Apa yang dikatakan Marius tidak salah, tapi ... mengapa rasanya terdengar aneh, pikir Ana.
Meski banyak pertanyaan di kepala Ana, tetap saja Ana mengerjakan apa yang diminta Marius. Bukan pekerjaan sulit sebenarnya bagi Ana, karena ini adalah apa yang biasanya dia lakukan sebelum Ana masuk ke rumah Marius. Ana hanya memikirkan apa yang sebenarnya terjadi disini.
Beberapa hari ke depan, Ana terus melakukan hal yang sama yang diminta Marius. Setelah Rain berangkat sekolah, Ana harus menemui Marius di ruang kerjanya. Selama beberapa hari itu juga, Ana melihat Marius semakin sering membawa lowball glass nya itu.
Ana tidak ingin banyak bertanya. Dia khawatir Marius akan mengiranya terlalu ikut campur. Tapi sesekali dia membawakannya makanan atau minuman dan meletakkannya di samping meja kerjanya. Untungnya, Marius tidak pernah marah soal ini. Dia terlihat menikmatinya. Dan hal itu melegakan Ana.
......................
Malam hari saat Ana selesai menidurkan Rain, Ana keluar dari kamar Rain dan kembali ke kamarnya. Saat itulah, dia melihat Marius berbaring di sofa yang ada di ruang duduk.
"Apakah dia mabuk lagi?," tanya Ana lirih.
Ana mendekati Marius pelan-pelan. Dilihatnya, seperti biasa, Marius sedang memegangi lowball glass yang sudah kosong. Ana mendenguskan napasnya melihat hal ini. Lagi-lagi, Marius melakukan ini disini, pikirnya.
Dengan jari telunjuknya, Ana mendorong Marius. "Kamu mabuk lagi, kan? Dengar, aku sudah bilang, aku nggak mau nganterin kamu ke kamarmu lagi," kata Ana kesal. Tapi, Marius tidak bereaksi apapun.
Ana memperhatikan wajah Marius yang terlihat tidak biasanya.
"Apakah dia baik-baik saja?," katanya lagi.
Ana memanggil nama Marius berkali-kali sambil menggoyangkan tubuhnya perlahan. Tapi, Marius seperti menahan rasa sakit.
Ana mulai curiga jika Marius tidak baik-baik saja. Dia segera memegangi kening Marius.
"Astaga, kamu demam?," tanya Ana yang hampir berteriak.
__ADS_1
Ana segera menarik lengan Marius dan meletakkannya di atas bahunya. Sendirian, dia membawa Marius ke kamarnya, baru setelah itu, dia menghubungi Lucas.