Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 85


__ADS_3

KLAK! ... kotak itu terbuka.


Semua orang yang ada di ruangan itu menarik napasnya bersamaan. Tapi Sophie yang terlihat paling puas di antara semua orang.


"Apa kamu tahu apa isinya?," tanya Sophie dengan suaranya yang pelan.


Ana menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak pernah tahu isi di dalamnya. Bahkan selama yang dia tahu, Mama Agnes tidak pernah meletakkan apapun di dalamnya.


Sophie membuka penutup kotak itu lebih lebar lagi. Lalu dikeluarkan isinya, dan diletakkannya di atas telapak tangannya


"Ini adalah perhiasan peninggalan keluarga de Montague dari generasi ke generasi. Diturunkan oleh setiap ibu de Montague kepada anak-anaknya, agar bisa diturunkan kembali kepada anak mereka. Dan sekarang Agnes memberikannya untukmu."


Perhiasan yang dilihat Ana adalah perhiasan yang sangat cantik. Sebuah batu berwarna biru tua dengan banyak berlian yang mengelilinginya. Bentuknya yang sangat besar, karena ada tiga lapis berlian di sekelilingnya. Terlihat dengan jelas, perhiasan ini bukanlah sesuatu yang mudah ditemukan pada masa sekarang.


Ana merasa sangat berat ketika Sophie mengatakan bahwa itu diberikan untuknya. Bagaimana bisa dia menerima barang yang begitu berharga dengan mudahnya? Meskipun ini adalah pemberian, tapi apakah sudah cukup benar jika dia menerimanya begitu saja?


"Tidak ada satupun orang yang bisa membuka kotak itu selain orang yang memiliki kuncinya. Gadis ini tahu semua yang harus dilakukannya. Saya sangat yakin, dia adalah gadis yang Agnes maksud."


Sophie kemudian menyerahkan kotak yang berisi perhiasan pemberian Agnes untuk Ana. "Sekarang ini adalah milikmu," kata Sophie.


Kembali, suasana dalam ruangan itu riuh pecah karena perdebatan orang-orang di dalamnya. Beberapa dari mereka masih meragukan cerita itu, tapi sebagian besar sudah sangat yakin dengan yang dikatakan Sophie.


Suara di antara mereka kembali terpecah. Tapi Marius tetap pada diamnya. Dia tidak mengatakan satu katapun untuk menenangkan mereka. Seakan-akan dia sengaja melakukannya agar mereka semua terpecah belah.


Nora terlihat hampir putus asa dengan keadaan itu. Dia menatap ayahnya kembali memohon bantuannya. Meskipun Tuan Barnett memintanya untuk berhenti, tapi Nora lebih keras kepala darinya.


Tuan Barnett tidak bisa menolaknya. Dia menatap Tuan Hartono memohon dukungannya. Tapi Tuan Hartono dilanda kebingungan antara keuntungannya atau kehancurannya.


"Apakah kita perlu melanjutkan pernikahan ini?"


Marius akhirnya mengatakan sesuatu. Keriuhan di antara semua yang hadir kini semakin pecah dan berantakan. Sebagian besar adalah kemarahan mereka yang tidak setuju.


"T-tentu saja. Tuan Barnett banyak membantumu mengatasi masalah-masalahmu kemarin. Sudah saatnya kita berterima kasih padanya. Jangan khawatir tentang DYNE. Jika kita semua yang ada di sini saling membantu, kita pasti akan dapat mengatasinya," kata Tuan Hartono.


Marius tidak mengatakan apapun lagi. "Sebagai ahli waris, saya bisa menolaknya, kan?," tanya Marius pada pengacara yang masih berdiri di tempatnya.


"Itu adalah keputusan Tuan. Tapi sebagai pengacara mendiang Nyonya Agnes, maka saya akan terus membela hak klien saya," jawab pengacara itu.

__ADS_1


"Baiklah! Kita lanjutkan!," kata Marius.


Nora adalah yang paling senang dengan keputusan itu. Dia terlihat hampir tertawa karena kegirangan.


Marius dan Nora pun bersiap di depan mimbar. Pemimpin upacara kembali membacakan doanya.


Tapi kemudian ....


"Saham DYNE mulai menurun!"


Teriakan seseorang menghentikan prosesinya kembali. Semua orang bergegas mengambil ponselnya. Kepanikan mulai terjadi.


"Jangan ada yang jual!"


Di saat semua sedang panik, Tuan Hartono memerintahkan semuanya untuk tidak menjual saham mereka. Hampir semua orang terlihat khawatir dengan keputusan itu. Mereka terus menimbang apakah mereka harus mengikuti perintah itu atau tidak.


"Saya yakin ini semua adalah permainan Marius. Saya pastikan kalian akan menyesal jika menjualnya," teriak Tuan Hartono lagi.


Tapi kemudian, seseorang kembali berteriak ...


"Nilainya terus menurun. Pergerakannya sangat cepat."


"Jika kalian benar-benar merugi karena keputusan yang salah, ARK akan mengganti semua kerugian kalian," teriak Nora.


"Nora! Hentikan!" Tuan Barnett mulai tidak bisa mengendalikan Nora lagi. Nora sudah tidak dapat berpikir dengan jernih.


Sekali lagi, Ana hanya dapat diam terpaku sambil menatapi satu persatu wajah orang-orang yang ketakutan karena rencana Marius itu. Hanya ada segelintir orang yang tetap terlihat tenang. Dan Ana yakin, mereka adalah orang-orang yakin pada Marius.


Mr. Wang salah satunya. Dia terlihat tetap tenang dengan duduk memegangi tongkatnya dan terus menatap podium.


"Jadi ini rencana yang selama ini kamu bicarakan, Marius," kata Ana dalam hatinya. Dia memandangi Marius di depan sana yang masih terlihat tenang.


"HAHAHA ...."


Tawa Nora kembali menggelegar di setiap sudut ruangan itu. Dering telepon masih berdering, tapi tidak ada satupun yang menjawabnya. Mereka memandangi Nora yang entah kerasukan apa.


"Kamu memang adalah Marius. Hanya Marius yang bisa menciptakan kegaduhan ini. Tapi siapa yang sedang kamu tipu, Marius? Kamu salah besar jika kamu mengira bisa melakukan ini padaku?"

__ADS_1


Marius tersenyum sinis padanya. "Benarkah? Tapi pertunjukan belum selesai."


Ana melihat Lucas yang ada sedari tadi berdiri di belakang Marius, kini maju mendekati Marius dan berbisik padanya.


Setelah itu, untuk pertama kalinya, Ana melihat Marius seperti sedang melepas topengnya. Dia bisa melihat, Marius kini sedang tersenyum sinis pada Nora.


"Kukira aku masih harus melakukan voting, tapi ternyata tidak perlu lagi kulakukan."


Marius kini berdiri menghadap ke semua orang yang sedang menatapnya.


"Ada hal yang seharusnya diluruskan sejak dulu, tapi tidak bisa dilakukan. Dan kini, pada kesempatan ini, saya akan meluruskan kembali mengenai status Rain Madelaine Hadinata dan Valerie Geraldine."


"Rain Madelaine Hadinata adalah putri tunggal Adam Desmond Hadinata dan Valerie Geraldine. Seperti yang sudah dikatakan oleh Valerie sendiri, mereka sudah menikah 4 tahun yang lalu, baik itu secara agama dan hukum."


"Tidak ada pernikahan rahasia. Yang benar adalah resepsi itu tidak pernah bisa dilakukan karena masalah kesehatan yang diderita almarhum Adam dan juga kesibukan Valerie."


"Rain juga tidak dirahasiakan dari publik. Seperti permintaan Valerie sendiri, dia ingin Rain tumbuh menjadi anak yang normal yang jauh dari publisitas dan konsumsi publik yang tidak perlu. Karena itu, keluarga Hadinata akan melindungi hak Rain dan Valerie sebagai bagian dari keluarga Hadinata. Siapapun yang berani mempublikasikan foto atau gambar dan juga berita mengenai Rain, pengacara kami akan melakukan tugasnya."


Dari tempatnya berdiri, Ana memandangi Marius yang terlihat begitu berkharisma di matanya. Dia sangat menyukai tindakan Marius yang masih melindungi Valerie hingga akhir.


Mengingat terakhir kali Valerie mengadakan konferensi persnya, dia menolak mengatakan siapa putri dan suaminya, dan kini Marius menyebutkan nama Valerie secara jelas dan lantang. Ana yakin, Marius dan Valerie sudah membicarakan hal ini.


Wartawan seperti biasa, mereka sibuk menulis berita penting hari ini. Melihat semua yang terjadi hari ini, bisa jadi ini adalah hari terbaik mereka. Ada begitu banyak berita yang bisa mereka tulis hari ini.


Mendengar Marius memberikan pernyataannya, Tuan Hartono mulai terlihat sangat pucat. Begitu juga mereka yang tadinya mendukung Tuan Barnett.


"Pernikahan ini tidak bisa saya lanjutkan lagi. Alasannya, sudah sangat jelas. Saya tidak menikahi orang yang sudah menginjak-injak nama Hadinata."


Tak lama kemudian, mereka yang sedang mengecek dengan ponsel mereka, mendapati berita terbaru tentang Nora, beserta foto-foto mesranya.


"Hubungan Rahasia antara Putri Tuan Barnett dan Pamannya Sendiri"


Tuan Barnett adalah langsung bereaksi setelah membaca berita itu. Matanya terus melotot memandangi Nora yang tidak tahu menahu mengenai apa yang sedang diperbincangkan.


Nora berjalan ke salah satu orang yang ada di dekatnya. Dia rebut ponsel orang itu untuk mencari tahu. Nora menjadi lemas lunglai. Dia tidak berani lagi menatap ayahnya sendiri.


"Selamat, Tuan Barnett! Sebentar lagi, akan lahir seorang cucu dalam keluarga Barnett. Ah ... atau mungkin seorang keponakan?"

__ADS_1


Marius sepertinya masih belum selesai menyerang. Ana bisa merasakan kemarahan Marius yang masih belum juga sirna.


Ana terus menatap Marius yang saat ini sedang memandangi dirinya. Senyumnya menggambarkan kepuasan seorang panglima perang yang sedang membawa pulang trofi kemenangannya. Marius seperti sedang menyerahkan trofi itu padanya.


__ADS_2