
"Nunuu ..."
Seorang pria menyambut Rain yang sedang berlari menghampirinya dan memanggil namanya. Pria itu adalah Lucas, tapi Rain memanggilnya Nunu. Cerita Lucas, dari sejak Rain mulai belajar bicara, Rain selalu memanggilnya Nunu, entah mengapa. Tapi, bagi Ana, ini sesuatu yang menggemaskan.
Lucas adalah sekretaris Marius. Dia seperti asisten bagi Marius. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan Marius, tapi jika bisa diwakilkan oleh Lucas, maka Marius akan menugaskannya.
Lucas baru saja kembali dari New York untuk mengurus sebuah anak perusahaan baru disana mewakili Marius. Jika bisa, Lucas kadang melakukan itu untuk membantu Marius. Terutama jika pekerjaan itu mengharuskan Marius tinggal di suatu tempat untuk waktu yang cukup lama. Pertimbangan Marius karena dia tidak ingin terlalu lama meninggalkan Rain di rumah sendirian tanpa dirinya.
Itulah alasannya mengapa Marius pulang cepat waktu itu. Karena jika Lucas bisa terlihat di rumah, itu artinya Marius punya banyak waktu untuk berada di rumah. Marius hanya tinggal melakukan janji temu dengan beberapa kliennya, atau menghadiri acara yang memang mengharuskannya untuk hadir. Sesekali dia hanya akan ke kantor untuk menyelesaikan meeting rutin dengan pegawainya.
"Kalian akan melakukan apa hari ini?," tanya Lucas setelah dia mencium pipi Rain yang ada di gendongannya.
Rain menunjuk sebuah bubble gun yang ada di tangan kanannya dengan penuh semangat. Ana meminta Marius untuk membelikan mainan itu kemarin. Dia benar-benar terkejut saat seorang pelayan mengantarkan ini setelah sarapan tadi. Rain yang melihatnya sudah bersemangat ingin mencobanya.
"Ah, Nunu juga ingin ikut," katanya sedih yang justru hanya mengundang tawa Rain.
Setelah mencium Lucas, Rain meminta turun dari gendongan Lucas dan berlari menuju halaman belakang.
"Dia jadi nggak sabaran," kata Lucas lagi.
"Dia selalu begitu jika akan bermain di halaman," kata Ana dengan tawa kecilnya.
"Semua karena idemu. Terima kasih, Ana."
Ana tidak menyangka saat Lucas mengatakannya. Dari tatapan matanya, Ana melihat ketulusan saat Lucas mengucapkan itu. Meskipun Lucas hanyalah sekretaris, tapi Ana bisa melihat kasih sayangnya yang besar pada Rain.
Ana terkejut lalu tertawa melihat Rain yang terus melompat memanggil Ana untuk segera menyusulnya. "Sepertinya dia memanggilmu. Semoga kamu tidak kewalahan bersamanya," kata Lucas lagi.
"Ah, tidak, tidak. Aku menikmatinya. Maaf aku tinggal dulu. Rain, tunggu ...," kata Ana sambil berlari mengejar Rain yang sudah jauh meninggalkan Ana.
......................
__ADS_1
Ana melepas lelahnya sebentar setelah seharian bermain dengan Rain. Sambil menunggu Rain selesai mandi, Ana duduk sebentar di atas kasurnya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Mengingat kembali saat-saat menyenangkan waktu bermain tadi membuat Ana tersenyum simpul. Rain terus menerus berlarian seakan rasa lelahnya tidak akan pernah habis. Dia tertawa keras sekali. Sekian lama Ana tinggal disini, baru hari ini Ana melihat Rain tertawa lepas seperti itu. "Ah, dia manis sekali," katanya lirih.
Ana tiba-tiba teringat dengan video yang tadi dia ambil waktu bermain bersama Rain. Dia berniat mengirimkannya untuk Marius, agar Marius juga bisa punya kenangan tentang Rain, pikirnya.
Meski Marius bekerja di rumah, Ana tidak melihatnya keluar dari ruang kerjanya hari ini. "Mungkin masih banyak yang harus diselesaikannya, meski Lucas sudah kembali," pikir Ana. Jadi, menurutnya, sedikit video siapa tahu bisa menjadi obat pelepas lelahnya saat dia sedang tidak sibuk nanti.
"Tapi, dimana aku meletakkan ponselku tadi?"
Ana membuka laci mejanya tempat biasanya dia meletakkan barang-barangnya. Tapi, dia tidak menemukannya. Dia juga mencarinya di dalam kamar mandi, tetap juga tidak ditemukan. "Aku taruh mana, ya?, tanyanya heran.
Ana mulai berpindah ke tempat tidurnya. Digesernya bantal yang sudah tertata rapi. Tangannya juga mencoba meraba permukaan bed covernya, takutnya ponsel itu ada di bawahnya. Tetap saja, Ana tidak menemukannya.
Terakhir, Ana melihat handuk yang tadi dilemparnya sembarangan ke atas kasur saat dia akan mencari ponselnya. "Mungkinkah disitu?," pikirnya. Meski ragu, Ana tetap mencobanya.
Ana mencoba meraba permukaannya dulu, dan ternyata benar, ada sesuatu di bawahnya. Dengan cepat Ana memegangi selimut itu sekaligus benda yang ada di baliknya. "Ha, akhirnya ketemu," katanya puas.
Mata Ana tiba-tiba terbelalak lebar, napasnya memburu cepat, wajahnya menjadi pucat. Ana dapat merasakan jantungnya berdegup sangat cepat, seketika tangannya bergetar hebat.
Gemetar di tangannya membuat tubuh Ana seketika lemas dan menjatuhkan benda itu dari tangannya.
Ana menjadi sesak napas saat mendengar bunyi keras dari ponselnya yang baru saja menghantam ubin lantai. Ana pun terjatuh ke lantai dengan rasa sakit di dadanya. Kepalanya mulai berputar cepat, dan matanya terasa berat.
Sebelum Ana menutup matanya, dia masih melihat Rain masuk ke kamarnya dengan gaun lucu kesukaannya. Dengan senyumnya yang indah, Rain memanggil namanya. Rasanya terdengar menenangkan, tapi rasa sakit di kepalanya tidak bisa membuat perasaan Ana membaik.
Sedetik kemudian, Ana mendengar suara teriakan Rain memanggil namanya berkali-kali. Ana ingin mengatakan sesuatu agar dia tidak mengkhawatirkannya. Tapi, matanya sudah terlalu berat. Samar-samar, Ana melihat Rain berlari meninggalkannya, lalu kemudian pandangannya menjadi gelap. Ana tidak tahu lagi apa yang terjadi.
......................
Side Story :
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Rain punya energi sebesar itu," kata Lucas yang baru saja memasuki ruang kerja Marius.
Marius hanya diam mendengar pernyataan Lucas. Tapi memang, bahkan Marius juga tidak pernah menyangka jika Rain bisa seceria itu.
Lucas menghampiri Marius yang sedang berdiri di depan jendela besar, dimana dia bisa melihat halaman belakang rumahnya dengan jelas. Disanalah dia melihat Ana dan Rain sedang berlarian mengejar bubble yang mereka tembakan.
"Jadi, kekhawatiranmu berkurang sedikit, kan?," tanya Lucas dengan nada menggoda. Marius menatapnya heran.
"Kamu takut Ana tidak betah disini," jelasnya yang disambut dengan tatapan tajam Marius. Lucas hanya tertawa.
"Kalau dipikir-pikir, sifat pendiamnya Rain itu sebenarnya dari kamu," kata Lucas kesal. "Dari tadi aku bicara, kamu bahkan tidak mengatakan apapun."
"Aku tidak memintamu bicara," kata Marius sembari berjalan meninggalkan Lucas menuju meja kerjanya.
Lucas terlihat sangat kesal.
"Apa sudah ada kabar tentang para penculik itu?," tanya Marius tiba-tiba.
Cukup lama Marius menunggu jawaban Lucas, tapi Lucas tetap diam dan tidak menjawab pertanyaannya. Saat Marius melihatnya, Lucas hanya mengangkat kedua bahunya.
"Aku bertanya padamu, itu artinya aku memintamu bicara," kata Marius dengan sangat kesal.
Lucas tersenyum penuh kemenangan. Dia segera menyudahi bercandanya atau Marius akan benar-benar sangat marah.
"Masih belum ada titik terang. Plat nomornya juga ternyata palsu.Polisi juga masih mempelajari rekaman CCTV nya. Karena beberapa rekaman terlihat tidak jelas. Jadi, mereka akan mencari rekaman lain," jelas Lucas sambil menyerahkan amplop coklat yang berisi setumpuk dokumen di dalamnya.
"Lakukan sesuatu agar mereka mempercepat penyidikannya," perintah Marius.
Lucas memberikan tanda dengan jarinya bahwa dia memahami perintah Marius.
"Apakah Rain masih tetap tidak mau sekolah?," tanya Lucas.
__ADS_1
"Dia tidak mengatakan apapun lagi setelah itu," jawab Marius.
Keduanya terdiam dan tidak mengatakan apapun.