
(flashback on)
#
"Lakukan apapun yang kamu mau pada dirinya sesuai aturan keluarga Hadinata. Pengkhianatan memang sepantasnya untuk dihukum," kata Eli pada Marius. Bersamaan dengan itu, dia mengeluarkan sebuah memory card dan meletakkannya di atas nakas yang ada di dekatnya.
"Aku yang membawa Dara masuk ke rumah ini untuk membantu rencanaku. Tapi suatu hari dia membawa seorang wanita bersamanya untuk menemuiku."
"Tujuan kami berbeda, tapi dia mau membantuku. Jadi kubiarkan dia masuk ke dalam rumah tanpa tahu bagaimana dia yang sebenarnya."
"Berbeda?," tanya Marius.
"Dia menginginkanmu. Dia terobsesi akan dirimu. Sesekali dia akan datang hanya untuk melihatmu."
"Karena itu, saat dia melihat Nona Ana, dia berkata dia ingin menemuinya dan melihatnya sendiri. Itulah saat dia meletakkan sendiri ular mainan itu di kamar Nona Ana."
"Kecemburuannya semakin memuncak saat dia melihatmu dan juga Nona Ana semakin dekat. Saat itulah, dia dan Dara merencanakan stroberi itu di luar sepengetahuanku. Begitu juga dengan mainan ular itu."
"Dara menyebut namaku untuk melindungi wanita itu. Aku ingin menerima tuduhan itu begitu saja dan membiarkanmu menghukumku. Tapi ... gadis itu ..."
Eli tersenyum mengingat kembali semua ucapan Ana sebelumnya.
"... sekarang aku mengerti mengapa kamu sangat mencintainya," kata Eli sambil menatap Marius.
"Aku menyerahkan benda ini padamu. Ada banyak rekaman percakapanku dengan wanita itu. Dan juga ... orang-orang yang menjadi kaki tangannya yang ada di rumah ini."
"Aku menyimpan ini agar bisa mengusir mereka suatu saat nanti jika aku sudah tidak membutuhkan mereka. Tidak kusangka, aku akan menggunakannya untuk membantumu dan juga ... Rain."
#
(flashback off)
......................
Marius terbangun dari tidurnya karena getaran pada ponselnya yang dia simpan di saku celananya. Dilihatnya Ana yang tertidur pulas di sampingnya di atas lengan tangannya.
"Hmm ... aku kesana sekarang," kata Marius menjawab panggilan teleponnya.
Marius melihat jam tangannya, masih jam setengah dua belas malam. Kembali dia menatap Ana yang sedang tertidur. Melihat Ana yang tertidur pulas di atas lengannya membuatnya tidak ingin pergi.
Tapi, dia harus pergi. Dia harus menyelesaikan semuanya.
Diciuminya kening gadis itu. "Aku akan segera kembali," bisik Marius.
Perlahan dia menarik tangannya, dan berdiri dari tempat tidurnya agar tidak membangunkan Ana.
Dirapikannya selimut untuk Ana, diciuminya kening gadis itu lagi, lalu Marius pergi meninggalkannya.
__ADS_1
......................
Di sebuah restoran mewah, Marius sedang duduk di sebuah bangku yang ada di bagian outdoor restoran itu. David dan anak buahnya, sedang berjaga di sekitar pintu untuk melarang orang yang tidak berkepentingan mendekati area itu. Lucas sendiri sedang bersama Marius dan berdiri agak jauh dari Marius.
Restoran itu seharusnya sudah tutup. Tapi khusus untuk malam itu, Marius memintanya untuk tetap buka, hanya untuk dirinya dan orang yang sedang dia tunggu kedatangannya.
Tak lama kemudian, seorang pengawal membukakan pintu untuk seorang gadis muda yang berpenampilan seksi dan terlihat mahal. Ya, dengan hanya sekali melihat, semua yang dikenakan gadis itu bukanlah barang-barang murahan.
Gadis itu terus berjalan dengan centilnya menghampiri Marius, dengan diikuti oleh beberapa pengawalnya.
"Hai, Sayang," kata seorang gadis yang sedang berdiri di depannya dengan senyumnya yang manja. "Kudengar kamu ingin bertemu denganku."
Marius memandangi gadis itu dengan tatapannya yang tajam sebelum dia memulai pembicaraan mereka.
"Katakan padaku, apa yang dilakukan Elainora Eugene Barnett, putri dari Tuan Harvey Barnett, presiden direktur ARK Group, berada di rumahku dan mengganggu orang-orangku?," tanya Marius.
Gadis itu tertawa dengan genitnya menanggapi pertanyaan Marius. "Untuk mendapatkan perhatianmu," jawab gadis santai sembari menarik bangku yang ada di depannya dan duduk menghadap Marius. Dia sama sekali tidak takut dengan tatapan Marius.
"Kamu tahu? Aku sudah mencoba banyak hal supaya kamu melihatku, tapi kamu selalu saja cuek," lanjut gadis itu dengan memainkan bibirnya.
"Aku sengaja datang ke acara yang kamu hadiri hanya untuk menyapamu, kamu tidak mau melihatku. Aku datang menyapamu saat bertemu di restoran, kamu juga tidak membalasnya. Padahal aku cuma pengen ngobrol sama kamu. Tapi, kenapa ya susaahh sekali?"
"Karena pelayanmu bisa membantuku, dan dia suka dengan uang, ya aku gunakan saja kesempatan itu."
"Tapi, meskipun aku melihatmu setiap hari, kamu tetap saja tidak melihatku. Kamu tahu, Marius? Bosan rasanya hanya bisa melihatmu dari kejauhan."
"Karena itu kamu meletakkan ular mainan itu, kan?," tanya Marius.
Gadis itu kembali tertawa, tapi tawanya itu terlihat sinis.
"Itu cuma mainan, Marius. Anak-anak menyukainya. Mengapa dia harus takut?"
"Kamu menyelidiki Ana, kan. Karena itu kamu tahu apa yang dia takuti," kata Marius sinis.
"Tuh, kan. Kamu bahkan memanggil namanya dengan manis begitu. Sedari tadi kita disini, kamu sama sekali tidak memanggil namaku. Nora. Namaku Nora, Marius. Ayo donk."
"Kamu adalah orang yang Ana temui waktu itu, kan?," tanya Marius mengabaikan permintaan Nora.
"Ya, itu aku. Tapi dia terlalu banyak tanya," jawab Nora sebal.
"Apa yang kamu lakukan pada Rain?"
"Hanya ... melakukan tugasku untuk membalas budiku pada kepala pelayanmu. Jika bukan karena dia, aku nggak mungkin bisa diijinkan ke rumahmu. Dia pasti mengusirku saat tahu aku bukan pelayan. Dia benar-benar hebat bisa menghafal semua pelayan yang ada di rumahmu," jawab Nora yang kembali bernada genit.
"Apa kamu tahu? Setiap kali aku ke rumahmu, aku pasti menemui Rain. Kami sudah biasa mengobrol. Bukankah seharusnya sekarang kami jadi lebih dekat?"
Marius yakin maksud pembicaraannya bukanlah sehangat yang dipikirkannya.
__ADS_1
"Gadis gila ini pasti sering mengintimidasi Rain. Karena itu, Rain menangis saat Ana menemukannya. Dia pasti sudah lama melakukan ini," pikir Marius geram.
"Tentang stroberi itu, aku bersumpah itu bukan ideku. Bukan aku yang merencanakannya," kata Nora yang untuk pertama kalinya menunjukkan keseriusannya.
"Lalu, siapa yang akan kamu salahkan?," tanya Marius yang sedari tadi sudah menahan emosinya.
"Jangan gitu, donk. Kamu bicara seakan-akan aku yang mengkambinghitamkan mereka. Padahal aku sudah tidak menyetujuinya."
"Hmm ... Salahkan saja pelayanmu yang sedang kamu tahan saat ini. Siapa namanya? Dana? Dasa? Dara! Ya Dara! Dia yang bekerja sama dengan salah satu pengawalmu. Aku rasa mereka punya hubungan spesial. Mereka selalu terlihat mesra. Aku jadi iri ..."
Ya, Marius mengetahui hal itu. Begitu Eli memberinya memory card itu, Marius mendapatkan bukti tentang hubungan Dara dan salah satu pengawalnya. Karena itu, sebelum Marius menemui Nora, dia meminta David untuk menangkap pengawalnya itu.
Itulah alasan mengapa Nora tidak terlihat dalam kamera CCTV. Karena pengawal itu memiliki akses untuk menghapus bagian-bagian terpenting. Dan tidak ada seorang pun yang mencurigainya, termasuk David.
Pengawal itu juga yang menyediakan alat-alat penyadap untuk Dara. Dan Dara yang memasangnya di tempat-tempat tertentu.
Lalu, Nora mulai berdiri menghampiri Marius dan duduk di atas meja menghadap tepat di depan Marius. Dia mengangkat jari tangannya dan menari di atas dada Marius hanya untuk menggodanya. Marius hanya menatapnya tajam, tapi gadis itu sama sekali tidak takut.
"Jadi, kamu jangan marah, ya. Aku kan melakukan ini untuk bisa bersamamu," kata Nora dengan suara yang menggoda.
Gerakan jemari Nora semakin mengarah ke bagian lain. Marius segera memegang pergelangan tangan Nora untuk menghentikannya, lalu menghempaskannya dengan kasar.
"Kamu tahu kamu tidak akan bisa menangkapku, kan? Kamu kenal ayahku, karena kalian sudah lama saling bersaing. Jadi, kamu tahu kan, ayahku akan melakukan apapun untuk membebaskanku."
"Aku tahu bagimu hukum adalah hal yang mudah. Tapi, aku bisa membuatmu merasakan penderitaan yang selayaknya," kata Marius dengan senyum seringainya.
Nora menegakkan tubuhnya dan mendengarkan Marius dengan serius.
"Aku tahu Tuan Barnett sangat menyayangi putri satu-satunya ini. Karena itu, tidak ada satupun media yang berani memuat semua kasus tentangmu. Kekerasan, dugaan pembunuhan, penculikan, dan juga .... narkoba."
Nora mulai menunjukkan reaksi kepanikannya, meski dia menyembunyikannya di balik senyumnya itu. Terutama ketika Marius menunjukkannya sebuah preview headline berita dari layar ipad yang diterima Marius dari Lucas yang sudah berdiri di dekatnya sedari tadi.
"Seperti yang kamu lihat, media ini adalah milik WINZ Group. Menurutmu, apa yang akan terjadi besok pagi saat berita ini mulai dinaikkan? Sudah pasti, tidak ada media yang cukup bodoh untuk tetap diam. Bahkan ayahmu tidak akan bisa menghentikannya. Siapa yang tidak suka nasi hangat?"
"Jadi, kusarankan sebaiknya kamu pulang, dan mulailah merayu ayahmu agar dia segera menghubungi CTO WINZ Group. Karena kudengar dia bukanlah orang yang mudah berubah pikiran."
Marius menunjukkan senyum kemenangannya. Nora yang melihat itu menjadi sangat kesal dan pergi meninggalkan Marius dengan kasar. Tapi, sebelum Nora mencapai pintu keluar, Marius menghentikannya.
"Tunggu!"
Perintah Marius diikuti dengan David yang merentangkan tangannya untuk menghentikan Nora.
"Ini adalah peringatan dariku untukmu. Jauhi rumahku dan juga keluargaku. Jika aku mendapatimu menyentuh mereka meski itu hanya seujung kukumu, maka balasanku bisa jadi lebih menyiksa daripada ini," ancam Marius untuk memperingati Nora.
Nora yang kesal segera pergi meninggalkan Marius. Sedangkan Marius terus memperhatikan Nora yang semakin menjauh.
"Menurutmu, itu akan berhasil?," tanya Lucas.
__ADS_1
"Setidaknya, untuk beberapa bulan ke depan, dia tidak akan punya waktu memikirkan hal lain," kata Marius yang masih menunjukkan senyum sinisnya.