Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 44


__ADS_3

"Kak Ana, nanti siang jangan lupa, ya," tanya Rain saat dia bersiap akan berangkat sekolah.


"Iya. Nanti siang Kak Ana ke sekolah jemput Rain, ya," jawab Ana sambil menciumi pipi gadis kecil itu.


Rain pun menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat sebelum gadis kecil itu masuk ke dalam mobil.


"Nanti siang?," tanya Marius yang sedang berdiri di belakang Ana.


"Kemarin dia bilang dia mau jalan-jalan lagi sepulang sekolah. Jadi, nanti aku akan ke sekolah Rain lagi, ya."


"Ehm ... minta sopir untuk mengantarkanmu nanti," jawab Marius.


Ana bisa bernapas lega, ternyata apa yang terjadi kemarin tidak terlalu mempengaruhi Rain. Pagi ini, Rain bangun dengan mood yang baik. Dia banyak tersenyum dan bernyanyi seperti biasanya saat suasana hatinya sedang senang.


Meski demikian, pagi ini Ana tetap meyakinkan Rain kembali bahwa sudah tidak ada lagi yang harus Rain takutkan sekarang.


"Apapun yang terjadi, Rain cerita sama Kak Ana, ya. Jangan takut, Rain akan selalu aman bersama Daddy, Nunu, Kak Ana, dan yang lainnya," kata Ana dengan lembutnya saat dia sedang mendandani Rain sebelum berangkat sekolah tadi.


Rain kemudian menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan, seakan-akan dia sangat mempercayai apa yang dikatakan Ana. Lalu, dia memeluk Ana dengan eratnya.


"Semoga tidak ada orang yang akan merenggut kebahagiaannya, Ya Tuhan," batin Ana.


......................


"Jangan jauh-jauh dari David. Jangan dekati Nora apapun alasannya, lebih baik hindari saja. Jangan ...," kata Marius yang terlihat sangat khawatir.


Ana memotong ucapan Marius yang sedari tadi tidak berhenti memberinya peringatan.


"Iya, iya ... jangan khawatir. Jangan banyak-banyak pesannya, aku orangnya pelupa," jawab Ana yang sudah mulai merasa kesal.


Entah ada apa dengan Marius, sudah satu jam ini Marius terus menerus memberinya jangan ini jangan itu. Padahal tadi pagi dia terlihat tidak ada masalah saat Ana meminta ijin untuk mengajak Rain jalan-jalan.


"Atau batalkan saja acaranya hari ini. Nanti biar David yang akan mengantarkannya pulang," kata Marius tiba-tiba.


Ana terkejut dengan perubahan ini. Ada apa dengan Marius? Mengapa tiba-tiba keputusannya berubah?, pikir Ana.


"Tapi, aku sudah janji sama Rain. Nanti dia malah kecewa. Iya, iya ... aku ingat semua pesan kamu. Intinya jangan jauh-jauh dari David, kan?"


"Jangan bercanda, Ana. Aku serius," bentak Marius.


Rasa kaget Ana mendengar suara Marius yang keras menyebabkan Ana langsung merasa bersalah.


"Maaf ..." Kepalanya tertunduk cukup dalam.

__ADS_1


Melihat Ana seperti itu, kini gantian Marius yang merasa bersalah.


"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak membentakmu. Firasatku buruk dari tadi," jelas Marius dengan nada yang penuh dengan penyesalan.


Sekarang Ana bisa memahami mengapa Marius bertingkah seperti itu sedari tadi. Dia menjadi tidak tega jika terus menerus ngotot untuk tetap pergi. "Pantas saja. Seharusnya dia bilang dari tadi," batin Ana.


"Begini saja. Karena aku sudah janji sama Rain, aku akan tetap ke sekolah. Nanti kita akan langsung pulang. Aku akan jelaskan ke Rain dalam perjalanan pulang. Bagaimana?"


Kedua mata Marius memperlihatkan kelegaan. Setidaknya Ana dan Rain tidak jadi pergi hari ini. Seharusnya sudah tidak apa-apa, kan?


Meski Ana sudah mengatakan akan langsung pulang, tapi perasaan Marius tetap saja terasa tidak nyaman. Melihat mobil yang membawa Ana ke sekolah, perasaan Marius semakin tidak tenang. Jadi, aku harus bagaimana agar perasaan ini bisa tenang?, pikir Marius.


Seperti pesan Marius, sopir yang mengantarkan Ana langsung menyerahkan Ana pada David. Lalu, sopir itu pergi meninggalkan Ana untuk kembali ke rumah. Sedangkan Ana menunggu Rain di depan mobil tempat David dan pengawal lainnya berjaga.


Tidak lama setelah itu, Rain sudah keluar dari sekolah bersama Ryu. Setelah mereka mengucapkan selamat tinggal, Rain berlari menuju Ana lalu memeluknya.


Ana sedang memasangkan sabuk pengaman untuk Rain ketika gadis kecil itu kembali mengingatkan Ana tentang janji mereka.


"Ayo, kita pergi, Kak Ana," teriak Rain penuh semangat seperti biasanya.


Ana mendadak merasa gugup. Untuk pertama kalinya dia harus membatalkan janjinya pada Rain. Dia tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya pada Rain.


"Ehmm ... Rain ... Kak Ana minta ..."


"Nomor tidak dikenal? Siapa ya?," pikir Ana saat melihat layar ponselnya yang menampilkan identitas si penelpon.


"Bentar ya, Rain," kata Ana pada Rain yang dijawabnya dengan anggukkan kepalanya.


"Halo, apakah benar ini dengan nanny nya Rain?"


Ana mendengar suara seorang pria yang tidak dia kenal dari ponselnya itu. "Iya, benar. Maaf, dengan siapa ya ini?"


"Oh, saya Pak Andi. Ini ada bukunya Rain yang tertinggal di kelas tadi. Anak saya baru saja memberi tahu saya. Rencananya akan saya titipkan anak saya besok agar dikembalikan ke Rain. Tapi ternyata kata anak saya, ada tugas yang harus Rain selesaikan. Jadi, apakah bisa kita bertemu agar saya bisa menyerahkan buku ini?," kata pria itu yang mengaku dirinya Pak Andi.


Ana memberikan isyarat pada David untuk menghentikan mobilnya. Beruntung, mobil mereka belum jauh dari sekolah.


"Oh benarkah? Kalau begitu saya akan kembali ke sekolah sekarang," kata Ana.


"Maaf, maaf. Tapi saya sudah keluar dari sekolah. Saya sekarang ada di ... dimana ya ini? Maaf, posisi kamu dimana ya sekarang? Apakah masih di sekolah? Atau mungkin sudah pergi dari sekolah?"


"Saya sudah keluar dari sekolah, tepatnya di depan minimarket," jawab Ana sambil melihat ke arah jendela mobil untuk memberinya petunjuk tentang posisinya sekarang.


"Oh, kalau begitu tidak jauh. Begini saja, kamu bawa teleponmu, nanti saya tuntun arahnya lewat telepon. Bagaimana? Apakah bisa? Atau mungkin bisa bersama dengan Rain, agar Rain bisa memastikan apakah buku ini miliknya atau bukan," tanya Pak Andi.

__ADS_1


Ana menatap Rain yang sedang bermain dengan boneka kesayangannya.


"Biar saya saja, Pak. Saya tahu semua buku-buku Rain. Tapi, tunggu sebentar ya, Pak," kata Ana.


"Baik kalau begitu."


Lalu, Ana menanyakan hal ini pada David. Dia meminta ijin pada David untuk turun sebentar agar bisa bertemu dengan Pak Andi. David ingin juga turun menemani Ana, tapi Ana melarangnya.


"Maaf, Nona Ana. Tapi Tuan Marius memerintahkan kami untuk tidak membiarkan Nona Ana sendirian," tolak David.


Ana tidak bisa membantahnya. Akhirnya, mereka berdua turun dari mobil. Sedangkan Rain tetap berada di dalam mobil bersama seorang sopir dan tiga pengawal lainnya.


"Iya pak, sekarang saya sedang menuju kesana," kata Ana.


"Oh baik, baik ... nanti jalan lurus saja ... lalu ..."


Ana mengikuti semua petunjuk yang diberikan Pak Andi melalui telepon. Dia terus berlari agar bisa cepat mengambil buku itu lalu kembali. Sedangkan David juga terus mengikutinya dari belakang. Dia terus mengejar Ana dan tidak memberikan jarak pada mereka agar dia bisa dengan sigap bergerak saat ada yang mencoba mendekati Ana.


Petunjuk demi petunjuk sudah Ana lewati. Tapi kini, Ana dan David dihadapkan pada sebuah dinding dari sebuah bangunan yang menjulang tinggi.


"Apa ini? Jalan buntu?," pikir Ana kebingungan.


Ana ingin bertanya pada Pak Andi kembali, tapi ternyata panggilan itu telah diputus. Sekarang, dia baru merasa ada sesuatu yang aneh.


"Tunggu ... dari mana dia tahu nomor teleponku?"


Bug ...


Tepat di saat Ana merasakan keanehan itu, suara pukulan benda tumpul terdengar oleh Ana. Saat Ana berbalik mencari asal suara itu, dia melihat seorang pria asing memegang tongkat kayu yang sepertinya baru saja memukul kepala David bagian belakang.


David memegangi lehernya yang terasa nyeri karena baru saja menerima pukulan dari tongkat kayu yang dipegang pria yang ada di hadapannya saat ini. Tapi, David terlalu kuat untuk dirobohkan. Kini David sudah memasang kuda-kudanya dan bersiap untuk menyerang pria penyerang itu.


"Awas David, belakangmu!," teriak Ana saat dia melihat seorang pria lainnya dengan tongkat kayu yang lebih besar dan baru saja berhasil mendaratkan pukulan pada punggung David.


Ana ingin bergerak maju untuk membantu David, tapi kemudian seseorang membekap mulut dan hidungnya dengan sebuah kain. Aroma manis yang tercium pada kain itu membuat Ana merasa berat membuka kedua matanya. Dalam hitungan detik, Ana tertidur dan seseorang sudah menangkapnya.


David melihat Ana yang sudah tidak sadarkan diri sedang dipapah oleh dua orang pria asing lainnya. Dia ingin mengejarnya, tapi kemudian bagian kepala belakangnya kembali menerima pukulan. Tidak sekali, tidak juga dua kali, tapi berkali-kali. Dan kali ini, David roboh.


Dua orang pria dengan tongkat kayu di tangan mereka, segera mengambil kesempatan itu untuk mengejar teman-temannya yang lain yang sudah lebih dulu kabur dengan Ana, target mereka.


Beberapa menit kemudian, dua orang pengawal, rekan David datang dan tentu saja mereka terkejut melihat David yang sudah tidak sadarkan diri, dan Ana sudah tidak terlihat lagi.


"SHHIITT!," teriak salah satu pengawal dengan mengeluarkan makiannya.

__ADS_1


__ADS_2