
Ana terbangun dengan mata bengkaknya. Dia sudah berusaha mengompresnya dengan air hangat, tapi tetap saja bengkak di matanya tidak juga berkurang. Ana terpaksa turun dengan kondisi yang seperti itu.
Ana mengira Marius mungkin menyadari yang terjadi pada matanya. Karena dia sempat berhenti dan hampir menyentuh Ana saat melihatnya. Tapi sebelum tangan itu sampai di wajahnya, Ana segera menghindar dengan menyusul Rain yang sudah siap untuk sarapan di tempat duduknya.
Rain sendiri bangun dengan mood yang lebih baik daripada semalam. Ana sempat menggodanya saat dia akan mandi pagi, dan dia tersenyum. Tapi, Ana belum berani untuk bertanya apa yang terjadi semalam. Dia memilih untuk menunggu hingga Rain benar-benar siap untuk ditanyai lagi.
Meski demikian, Rain tetap semangat untuk ke sekolah pagi ini. Seperti biasanya, dia pasti akan bersenandung saat bersiap ke sekolah, atau melompat kecil saat akan masuk ke dalam mobilnya. Jika sudah begini, Rain seperti anak yang tidak mengalami kejadian buruk apapun. Karena itu juga, Ana tidak ingin merusak moodnya hari ini dengan menanyakan perihal semalam atau hari-hari sebelumnya.
......................
"Kamu pasti nanny nya Rain yang sedang dibicarakan akhir-akhir ini, ya?"
Ana langsung berbalik ke arah empunya suara yang sedang berdiri di belakangnya, dan ternyata seorang pria. Tapi Ana tidak pernah melihatnya sebelumnya.
"Apakah dia orang tua salah satu murid disini?," tanya Ana terheran dalam hatinya.
"Kenalkan, saya Noel, papanya Arsen," kata pria itu sambil menjulurkan tangannya pada Ana.
"Ah iya, Arsen, teman sekelasnya Rain," pikir Ana.
Segera Ana membalas juluran tangan Noel dan memperkenalkan namanya.
"Ternyata bener ya, nanny nya Rain cantik, terlalu cantik untuk jadi nanny," katanya lagi setelah dia duduk di sebelah Ana.
Ana hanya tertawa dengan canggungnya saat mendengar perkataan Noel. Ana tidak tahu bagaimana harus menanggapinya, karena dia juga tidak tahu apakah itu adalah pujian atau sindiran.
__ADS_1
"Jadi sebenarnya, kamu adalah nanny atau mommy nya Rain?"
Ana terkejut saat tiba-tiba dia ditanyai pertanyaan semacam itu. Dia teringat saat Marius datang ke sekolah Rain hanya untuk membuat keributan itu. Rasa kesalnya waktu itu masih melekat di hatinya.
"Ahaha ... Saya cuma nanny. Tuan Marius waktu itu hanya ... bercanda, iya bercanda, haha ...," jawab Ana dengan gugupnya. Alasan yang tidak masuk akal baginya, tapi hanya itu yang terpikirkan di kepalanya.
"Hmm ... bercanda, ya? ...," selidik Noel.
"Haha, iya ... Tuan Marius memang suka begitu."
"Kalau begitu ... saya bisa dong, minta nomer teleponnya."
Ana cukup terkejut dengan permintaan itu. Dia teringat Naomi pernah memasukkan tipe pria seperti ini ke dalam urutan nomer tiga. "Jangan pernah berikan kontak pribadimu dengan mudahnya kepada tipe pria nomer tiga," begitu pesan Naomi.
Ana hanya tertawa dengan gugupnya. Otaknya sedang berputar mencari alasan untuk menolak. Dan saat Ana akan mengatakannya, tiba-tiba ....
Ana tahu itu suara Ryu. Dia terlihat kesal karena berulang kali dia menyuruh anak itu untuk memanggilnya kakak, dan sekarang dengan kerasnya Ryu malah berteriak memanggilnya Aunty A.
Tapi, saat dia berbalik dan melihat ke arah Ryu, dia melihat Ryu sedang ngos-ngosan. Sepertinya dia baru saja berlari.
"Rain, Rain ..."
Ana langsung berlari menuju kelas Rain begitu Ryu menyebut namanya. Dia mulai cemas dan panik. Di kepalanya saat ini hanya ada pertanyaan, "Ada apa dengan Rain?"
Saat Ana tiba di kelas, dia melihat Rain terbaring di lantai. Dua orang guru kelasnya bersimpuh di dekatnya juga terlihat panik melihat kondisi Rain. Sedangkan seorang guru lainnya sedang menahan anak-anak lainnya untuk menjauh agar tidak berkerumun di dekat Rain. Meski demikian, Ana dapat mendengar beberapa anak memanggil nama Rain.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?," tanya Ana panik begitu dia mendekat pada Rain dan memegangi tangannya.
"Kami sedang makan bersama, lalu tiba-tiba Rain terbatuk, tidak lama kemudian dia terjatuh dan seperti ini," kata seorang guru yang ada di dekat Rain.
"Dari tadi dia terlihat kesulitan bernapas, dia juga tidak merespon panggilan kami," kata guru lainnya.
"Biar kulihat."
Ana melihat Noel, pria yang dikenalnya tadi, sudah berada di sampingnya, dan mulai memeriksa kondisi Rain. Dia terlihat panik sekaligus kebingungan dengan apa yang dilakukan Noel.
"Jangan khawatir, aku adalah dokter," jelasnya.
Ana memandangi guru Rain untuk meminta penjelasan. Dan mereka semua mengangguk membenarkan yang dikatakan Noel.
Noel segera memeriksa Rain yang saat ini bernapas dengan beratnya. Setiap dia menarik napasnya, terdengar bunyi yang membuat Ana semakin khawatir.
Noel sepertinya tahu apa yang harus dilakukannya. Dibukanya kedua mata Rain yang sedang tertutup. Noel juga memeriksa perut Rain yang tiba-tiba membuat Rain menjadi kesakitan karenanya. Secara perlahan Noel juga membuka mulut Rain.
"Ini reaksi alergi. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit."
Noel segera menggendong Rain dan membawanya keluar kelas. Ana sendiri masih terkejut dengan apa yang dikatakan Noel. Reaksi alergi? Bagaimana bisa?, pikir Ana.
"Ana!," teriak Noel untuk menyadarkan Ana. Karena dia melihat gadis itu sedang kebingungan dengan semua yang terjadi.
"Aku akan bawa Rain dengan mobilku. Kamu ikut denganku. Segera beritahu bodyguardnya di depan untuk mengikutiku."
__ADS_1
Ana segera melakukan apa yang diminta Noel. Setelah memberitahu pengawal yang sedang menunggu mereka di depan, Ana segera berlari mengejar Noel yang mobilnya terparkir tidak jauh dari sekolah.
Noel menyerahkan Rain dalam gendongan Ana sebelum akhirnya melajukan mobilnya menuju rumah sakit.