Pengasuh Untuk Rain

Pengasuh Untuk Rain
BAB 49


__ADS_3

Marius duduk di sebuah sofa yang ada di sebuah ruangan. Matanya terus menatap tajam pada pintu yang ada di depannya. Dia sedang menunggu pintu itu dibuka oleh seseorang yang sedang dia tunggu saat ini.


Cukup lama Marius berada di sana. Dia sudah tidak tahan dengan bau parfum menyengat yang menyelimuti ruangan ini. Marius terus bertanya-tanya, kapan orang yang dia suruh untuk memanggil orang itu akan datang melewati pintu itu.


Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka. Terlihat seorang gadis muda masuk dengan wajahnya yang penuh rasa takut. Tentu saja dia takut, wajah Marius benar-benar menyeramkan saat ini.


"M-maaf menunggu terlalu lama. V-valerie akan tiba sebentar lagi," kata gadis itu yang terus menerus membungkukkan tubuhnya.


Tepat setelah itu, Valerie masuk dengan pakaian yang baru saja dia kenakan untuk rekaman sebuah acara menyanyi pada sebuah program TV.


"Asistenku bilang, kamu mencariku. Ada apa? Tumben, kamu bahkan menemuiku disini. Kamu tidak takut para wartawan menjadikanmu berita panas besok pagi?," tanya Valerie dengan santainya. Tangannya sibuk melepas semua aksesoris yang ada di tubuhnya. Dia hanya melihat Marius dari meja rias yang ada di depannya.


Marius tidak mengatakan apapun. Dia hanya berdiri, lalu berjalan menghampiri Valerie dengan tatapan kemarahannya. Valerie yang melihat ada sesuatu yang salah dengan Marius, segera membalikkan tubuhnya dan mendapati Marius sudah berdiri di hadapannya. Dia lalu memberi tanda pada asistennya untuk pergi meninggalkan mereka.


"A-ada apa? M-mengapa kamu t-terlihat sangat marah?," tanya Valerie yang sudah mulai gugup.


"Katakan padaku, apakah kamu mengenal Dylan?," tanya Marius yang masih menahan amarahnya.


Raut wajah Valerie ketika mendengar nama Dylan mendadak berubah menjadi panik. Terlihat jelas, Valerie sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kurasa kamu mengenalnya," tanya Marius. "Katakan padaku sekali lagi, apa yang kamu katakan pada Dylan tentang Rain?"


Valerie terlihat semakin panik. Dia tidak dapat menatap kedua mata Marius. Dia juga tidak tahu bagaimana dia akan mengatakannya pada Marius yang saat ini sudah terlihat sangat marah. Karena dia tahu, jika dia mengatakannya kemarahan Marius tidak akan mereda.


"Aku ... aku ..." Valerie semakin takut dan sudah mulai ingin menangis. Dia menggenggam kedua telapak tangannya dengan sangat keras.


Bug ... prank ...!


Kemarahan Marius yang sudah tidak dapat dia tahan mendorong tangannya untuk menghancurkan kaca meja rias yang ada di belakang Valerie. Darah mengalir dari kepalan tangannya membasahi kaca itu.


"D-dia, dia memang ayah anak itu ...," teriak Valerie yang sudah merasa terpojok dengan semua yang dilakukan Marius. Air matanya terus keluar karena rasa takutnya itu. Dengan semua keberaniannya akhirnya dia bisa mengeluarkan semua yang ada di pikirannya selama ini.


"Benarkah? Lalu, mengapa kamu biarkan kakakku memilikinya?"

__ADS_1


"Karena ... karena Dylan tidak mau mengakui anak itu. Adam ingin bertanggung jawab, maka aku biarkan Adam membawanya."


Marius tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. "Semudah itu kamu mengatakannya, Val? Tidakkah kamu tahu, Adam sangat percaya Rain adalah putrinya, darah dagingnya."


"A-adam sendiri yang ingin percaya anak itu adalah darah dagingnya. Tapi aku ibunya, aku yang lebih tahu siapa ayahnya."


Sekali lagi, Marius menghantam meja rias yang ada di belakang Valerie. Pecahan kacanya kali ini menyebabkan kucuran darah Marius semakin banyak.


"Apa yang kamu katakan pada Adam hingga dia mempercayai bahwa Rain adalah anaknya?"


"Aku, aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya bilang anak ini bukan darah dagingnya. Tapi, tapi dia terus bersikeras mengatakan anak ini adalah darah dagingnya. Dia terus mengatakan padaku tidak akan membiarkanku membawa anak itu pada Dylan."


"Aku sudah lelah berusaha meyakinkan Dylan jika itu adalah anaknya. Mendengar Adam mengatakan itu, bebanku seperti terangkat. Hanya Adam yang bisa menolongku saat itu."


"Umurku 23 tahun waktu itu, Marius. Karierku sedang di masa puncaknya. Jika media tahu aku memiliki seorang anak, karierku akan tamat. Tidak, tidak ... aku tidak bisa membiarkan anak itu menghancurkan hidupku. Aku sudah sangat menyesal melahirkan dia. Tapi, Adam ... dia terus yang meyakinkanku untuk melahirkan anak itu."


"Dan sekarang, setelah semua yang Adam lakukan untukmu, kamu masih berani mengatakan jika Rain adalah anak Dylan? Apa kamu tahu apa yang Dylan lakukan pada Rain?," kata Marius yang suaranya kini semakin meninggi. Untung saja, Marius sudah memerintahkan pengawalnya untuk berjaga di sekitar koridor agar melarang orang mendekati ruangan itu.


"A-apa yang dia lakukan?," tanya Valerie.


Valerie hanya bisa terdiam mendengar Marius membentaknya. Dia tidak punya pembelaan apa-apa untuk dirinya sendiri. Dia sudah menjadi ibu yang buruk selama bertahun-tahun, dan sekarang bertambah lagi 1 poin buruk yang dicapkan pada dirinya.


"Bahkan di saat-saat terakhirnya Adam terus memintaku untuk mempercayainya dan juga Rain ... Dan aku akan tetap mempercayai kakakku."


Suara Marius sudah mulai melemah. Dia marah, tapi dia sudah tidak ingin melakukan apa-apa lagi. Kebodohan Valerie sudah dia ketahui sejak dulu. Dan hari ini mungkin adalah yang terburuk, tapi tetap saja, jika itu Valerie seharusnya dia tidak heran.


"Mulai hari ini, kamu dilarang menginjakkan kakimu di rumahku. Aku melarangmu untuk bertemu dengan Rain. Aku tidak akan membiarkanmu merusak pikiran Rain dengan sikap egoismu itu. Rain adalah anak Adam. Titik. Dan itu yang akan aku jelaskan pada Rain suatu hari nanti."


"Seharusnya hal ini yang Adam lakukan sejak dulu. Begitu dia membawa pulang Rain, seharusnya dia tidak menaruh rasa kasihan padamu hanya karena kamu adalah ibunya. Adam seharusnya memutuskan hubungannya denganmu pada saat itu juga."


Marius pergi meninggalkan Valerie yang hanya bisa terduduk di atas kedua kakinya. Matanya terus terbuka lebar, meski air matanya terus mengalir. Valerie tidak mengatakan apapun saat Marius pergi. Tapi ketika Marius sudah berjalan melewati koridor, Valerie meraung dengan keras bersama tangisnya itu.


......................

__ADS_1


Marius baru saja tiba di rumah saat malam sudah terlalu larut. Setelah dia meninggalkan stasiun TV tempat Valerie berada, Lucas masih harus menyeretnya ke rumah sakit untuk mengobati luka di tangannya.


Dan sekarang, sisa-sisa energi yang dia miliki menyebabkan tubuhnya merasakan rasa lelah yang sangat hebat. Dia tidak tahu apakah rasa lelahnya itu disebabkan setelah dia menghajar Dylan atau setelah dia mendengarkan penjelasan Valerie.


Valerie ... jika dia mengingat nama itu, hanya ada kemarahan yang akan muncul menggerogoti hatinya. Wanita itu ... dia tidak pernah berubah. Keegoisannya menghancurkan orang-orang yang ada di sekitarnya.


Dulu, Valerie lah yang menghancurkan kakaknya. Wanita gila itu menjadikan kakaknya sebagai budak cintanya. Lalu dengan mudahnya dia mempermainkan kakaknya itu. Dan sekarang, ketika kakaknya telah tiada, Valerie bahkan ingin mencelakai anaknya sendiri.


Benar, Rain ... Marius sudah tidak tahu lagi siapa yang harus dia percayai sekarang. Dia masih ingat betul bagaimana dia terus melawan Adam karena meragukan anak itu. Jika seandainya Valerie dulu mengakuinya, Marius akan dengan mudahnya untuk percaya.


Dan sekarang, setelah Dylan mengatakannya, lalu dia memastikannya sendiri dari mulut Valerie, mengapa hatinya terasa sangat sakit sekali mendengarnya?


Saat dia sendiri ingin mempercayainya, lalu kemudian dia serasa dihukum oleh dirinya sendiri. Sebagian dirinya yang tidak mempercayainya seperti sedang membenci bagian dirinya yang lain yang mempercayai hal itu. Marius seperti sedang dihajar oleh dirinya sendiri dari berbagai sisi.


Dan malam ini, hanya minuman yang sedang dia pegang inilah yang bisa menemaninya.


"Jika kamu melihat hal ini, kamu pasti akan mengomeliku, Ana," ucap Marius lirih dengan senyumnya yang getir.


Kegetiran pada senyumnya muncul saat dia memikirkan saat terakhir kali dia melihat Ana di rumah sakit. "Bagaimana dia akan mengomeliku? Dia bahkan tidak ingin melihatku. Dia mungkin tidak peduli melihatku seperti ini."


Marius akan naik ke lantai atas, saat dia memutuskan untuk melihat keadaan Rain di kamarnya. Terlepas dari semua yang dia dengar hari ini, Marius masih mengkhawatirkan Rain. Dia ingin mengucapkan selamat tidur untuknya, seperti yang biasanya dulu dia lakukan setiap malam saat dia tidak sempat melihatnya seharian.


Perlahan Marius membuka pintu kamar Rain. Dilihatnya gadis kecil itu sedang berbaring di atas tempat tidurnya.


Dengan lembut, Marius membelai rambutnya yang halus, lalu menciumi keningnya. Rain sepertinya merasakan itu. Gadis kecil itu perlahan membuka kedua matanya.


"Daddy ...," panggil Rain sambil mengangkat tubuhnya lalu memeluk Marius. "I miss her ..."


Marius dapat merasakan rasa hangat yang membasahi bahunya. Dia yakin Rain saat ini sedang menangis. Dia pasti sangat merindukan Ana, pikir Marius.


Marius hanya bisa membalas pelukan Rain. Apa yang bisa dia lakukan? Bahkan dia sendiri juga merindukannya. Sangat merindukannya.


"I also miss her ...," ucap Marius lirih.

__ADS_1


Malam ini, Marius tertidur di samping Rain, saat dia sedang menidurkannya kembali. Dia juga sudah terlalu lelah untuk melangkahkan kakinya ke atas. Energi terakhirnya seakan-akan sudah terkuras habis hanya untuk merindukan Ana bersama dengan Rain.


__ADS_2